Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Rendra kembali


__ADS_3

Selamat membaca


***


Di sebuah rumah sakit, di ruang serba putih, dengan tirai berwarna putih, setelan jas putih. Semua nampak putih. Seorang laki-laki duduk dengan senyum berkembang disana. Melihat orang-orang yang sedang berkeluh kesah tentang penyakit yang ia derita. Ia mendengar dengan tenang. Menjelaskan diaknosa yang mereka katakan dengan lembut dan mengakhiri semua kalimatnya dengan senyum hangat.


Kemudian mempersilahkan pasien yang selanjutnya masuk. Dengan keluhan yang berbeda, namun dokter laki-laki itu menjawab lagi-lagi dengan tenang dan lembut. Memberi rasa nyaman pada setiap pasien yang datang.


Waktu makan siang telah tiba. Ia pun mulai memijat kepalanya pening. Sebagai dokter baru, pekerjaan hari ini sungguh sibuk. Banyak sekali pasien yang datang. Entah masalah besar atau kecil, ia selesaikan dengan sangat terampil.


Dialah laki-laki muda yang meraih gelar dokter yang pertama. Mengalahkan teman-teman seangkatannya. Sungguh pencapaian yang luar biasa.


Dialah Rendra Mahardika. Garis wajahnya tak sedikit pun berubah, hanya sedikit kumis dan brewok tipis menghiasi wajahnya. Kacamata bening itu menambah kesan dewasa pada Rendra.


Ia menghela nafas lega. Ia melangkahkan kaki keluar dari ruang kerjanya, tersenyum pada suster yang mendampinginya. Bermaksud pamit untuk makan siang.


Kini Rendra sudah mencapai cita-citanya. Menjadi seorang dokter muda, dengan lulusan terbaik. Rumah sakit manapun takkan menolak dirinya untuk bergabung. Tapi entah apa yang dipikirkannya, ia malah memilih untuk kembali ke kota S. Kota dimana ia dilahirkan. Ia ingin mengabdikan diri dirumah sakit ini.


Rendra menuju kantin. Memilih makanan yang ingin ia makan. Ia tersenyum pada penjaga kantin. Berterima kasih atas makanan yang sudah tersedia di depannya. Ia melihat bola bakso itu. Menatap sendu. Ingat akan sesuatu.


Rendra mendesah. Ingatan lima tahun lalu masih membekas sekali dalam ingatan. Berkelebat tiada henti. Membuatnya terus frustasi. Dimana ia duduk berdua dengan seorang gadis yang ia cintai makan di kedai bakso. Kemudian dengan bahagia, Rendra mengajak gadis itu ke taman bunga setelah menghabiskan waktu membeli buku.


Kenangan yang indah namun ditutup dengan kenangan buruk. Kenangan dimana gadis itu menghancurkan kepercayaannya. Menghancurkan hubungan mereka dengan sebuah kebohongan dan penghianatan.


Rendra menancapkan garpu ke bakso dengan geram. Bila ingat kejadian itu ia sangat marah dan sedih. Bukannya selama ini ia tak mencoba untuk move on. Tapi kenyataannya dalam pikirannya masih ada rasa sakit yang teramat. Tak mudah melupakan itu, apalagi itulah cinta pertamanya.

__ADS_1


***


Rendra meletakkan jas putih itu di kursi belakang. Ia tarik dasi bergaris itu pelan. Ia meninju setir itu, gusar. Kenapa ia harus mengingat mantan pacarnya yang menyakiti hatinya. Ia merasa bodoh tidak bisa melupakan gadis itu. Sudah sekian lama perasaanya sama sekali belum berubah.


Ia menelungkupkan wajahnya diatas setir. Ia hampir menangis. Tak lama kemudian ia mengusapnya kasar. Untuk apa menangisi orang yang sudah pergi dan menghilang dari kehidupannya. Bodoh!


Ia melihat seorang gadis dengan langkah ceria mendekati mobilnya. Mengetuk pelan kaca mobil.


"Hai Rendra. Aku datang." sapanya dengan wajah semanis mungkin. Suara lembut itu keluar dari seorang gadis cantik dari luar mobil Rendra. Sedang membungkuk untuk melihat Rendra yang sedang didalam mobil.


"Hmmm." jawab Rendra sekenanya. Ia sama sekali tak melihat gadis itu setelah membuka kaca mobil.


Gadis itu masuk ke dalam mobil. Melirik laki-laki tampan disampingnya dengan wajah merindu.


"Aku sudah membatalkan semua jadwalku sore ini untuk bertemu denganmu. Tapi kelihatannya kau tak senang ya?" suara itu sedikit kecewa dengan respon Rendra yang dingin.


"Ya setidaknya ajak aku makan bareng dong. Nggak peka banget sih jadi cowok." Gadis itu mencebikkan bibir sebal.


"Aku lelah. Aku mau pulang." Rendra datar.


"Kamu marah sama aku karna aku datang kesini?" tanya gadis itu, mendekat. Meraih tangan Rendra dan menggenggam erat. Tapi Rendra menarik tangan itu kasar.


"Tidak Risya. Tapi tolong jangan kesini lagi. Aku tidak suka, menganggu pegawai lain." kata Rendra masih dengan wajah datarnya. Sama sekali tak merasa bersalah telah menolak Risya. Risya tak bergeming. Bila ingin mendapatkan hati Rendra, ia harus berhati baja. Laki-laki dingin ini harus ia taklukkan bagaimanpun caranya.


"Ya elah Ren. Mereka kan tau kalau aku tunangan kamu. Ngapain sih mikirin mereka, nggak guna." Risya melengos, sedikit kesal. Sama sekali bukan alasan yang akan membuatnya menyerah untuk tidak mendatangi Rendra esok hari. Ia sudah melangkah sejauh ini, mana mungkin ia akan melepas Rendra begitu saja. Tidak akan! Pertunangan itu sudah menjadi jembatan, tinggal Risya bagaimana mendapatkan hati laki-laki sedingin es ini.

__ADS_1


"Risya, jangan bertingkah kelewat batas. Ini bukan rumah sakit Papamu, jadi jaga sikapmu."


"Apanya yang kelewat batas? Aku hanya menemui mu diwaktu senggang mu. Dimananya yang kelewat batas dokter Rendra Mahardika?" suara Risya kesal.


"Aku tidak suka. Itu artinya jangan kesini lagi. Apa kurang jelas?" Rendra menatap tajam pada Risya. Agar dia tau, Rendra benar-benar tidak suka akan kehadirannya.


"Sejak kita tunangan kau tak pernah menyukaiku. Kenapa sih Ren? Apa aku bukan tipe perempuan yang kau inginkan? Apa? Katakan apa yang harus aku instrospeksi dari diriku?" Risya sedikit mengiba, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.


"Risya dengar, perasaan tidak bisa dipaksa. Jadi tolong, hormati sajalah keputusanku untuk pembatalan pertunangan kita."


"Kau kejam Ren. Siapa sih perempuan yang kamu sukai? Katakan saja biar semua jelas dan aku tidak berharap padamu."


"Bukan siapa-siapa. Pergilah. Aku ingin sendiri."


"Kau jahat Ren. Hiks." Risya tersedu-sedu, seolah Rendra telah melakukan sesuatu. Tangisnya tambah mengiba. Kalau kau tak goyah, berarti kau benar-benar laki-laki kejam. Ayo merasa bersalah padaku, batin Risya. Memainkan peran menangisnya yang begitu dramatis.


"Aku akan mengantarmu pulang." Rendra mengalah juga akhirnya. Menyalakan mobilnya, dan keluar dari parkiran rumah sakit.


Hati Risya bersorak. Rendra luluh juga dengan tangis Risya yang dibuat-buat itu. Ayo Risya, kau pasti bisa mendapatkan hati Rendra.


***


terima kasih sudah membaca


jangan lupa like komen tip dan vote ya yang buanyyyaaakkkk... hehehe

__ADS_1


nantikan terus kisah selanjutnya


peluk cium DevaNurAna


__ADS_2