Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Sahabat Yang Berharga (lagi)


__ADS_3

Selamat membaca^_^


***


Empat sekawan ini sedang bertemu. Mereka ada di rumah Reyhan. Setelah masuk kuliah mereka memang belum pernah berjumpa lagi. Ini pertama kalinya. Beda dengan Kenzo dan Reyhan yang masih di kota S ini.


Mereka janjian untuk bertemu disini karna Reyhan baru buka bengkel motor disebelah rumahnya.


Bengkel Reyhan memang tidak luas. Ukurannya hanya 3X4meter. Sudah penuh dengan alat - alat bengkel yang berserakan dilantai. Ada pula yang ada dirak - rak pingir ruang bengkel ini.


Reyhan punya tiga saudara yang masih sekolah. Itu sebabnya ia tak melanjutkan pendidikannya. Apalagi otak bebalnya itu juga jadi masalah besar baginya. Sudah lulus SMA saja ia sudah bersyukur. Yang bisa ia kerjakan ya mengurus bengkel ini. Belajar otodidak dari Bapaknya.


Reyhan sedang sibuk dengan mesin motor didepannya. Rendra duduk disampingnya memperhatikan Reyhan yang berkutat dengan kerjaannya. Sedang Rahman membuka laptop membaca ulang tugas - tugas kampusnya. Kenzo duduk didepan Rahman. Di bangku rotan.


"Wah, keren lo Rey bisa jadi bos!" celetuk Rendra.


"Bos apaan? Bosnya tuh emak gue. Bos besar. Haha..." Reyhan tergelak.


"Apaan lo Rey? Ngatain emak lo ndiri?" Emak Reyhan berkacak pinggang dengan baju kebesaran emak - emak keluar dari rumah. Daster batik yang ukuran jumbo maksimal. Emak Reyhan emang lebar orangnya.


"Enggak Mak. Sensitif amat sih Mak. PMS ya?" jawab Reyhan sambil melirik Emaknya dibalik badan motor.


"Nih anak minta ditampol ya? Bapak lo kemana sih nggak pulang - pulang." Emak Reyhan jadi manyun.


"Ya elah Mak. Kayak anak ABG aja. Udah kangen aja sama Bapak." Reyhan.


"Eh lo kira Emak kasmaran apa? Enak saja. Udah kerjain tuh motor! Nanti mau diambil sama yang punya." kemudian Emak Reyhan masuk ke rumah.


"Biasa, emak gue emang rempong." Reyhan terkekeh.


"Mirip anaknya, haha..." celetuk Rendra.


"Apa kabar nih calon dokter?" goda Reyhan.


"Baiklah. Kalau nggak mana mungkin bisa mudik."


"Alah lo Ren paling juga pengen ketemu pacar." celetuk Rahman


"Masih sama Shinta? Serius LDR-an? Gue pikir kalian dah selesai." Reyhan.

__ADS_1


"Beberapa bulan ini gue nggak ngabarin dia. Dia pasti bingung sama gue." Rendra sedih.


 


"Kenapa lo nggak ngabarin dia?" tanya Kenzo yang dari tadi diam ikut bicara. Wajahnya tampak menegang. Pacar lo yang amat sangat lo cintai bahkan bahagia dibelakang lo! Kenzo.


"Ibukota keras. Pertama kali masuk kuliah gue naik busway dan gue kecopetan." cerita Rendra.


"Untung ya lo masih bisa minta nomer kita dari Nayla. Gimana kabarnya Nayla?" tanya Rahman.


"Dia baik. Dia juga ambil jurusan yang sama ama gue." Rendra.


"Kayaknya dia suka ya sama lo Ren. Lo tuh nggak peka atau gimana sih Ren?" Rahman.


"Ya, dia pernah bilang suka sih sama gue waktu itu." Rendra.


"Gila! Seriusan? Lo terima atau tolak Ren?" Reyhan.


"Waktu itu gue udah sama Shinta. Nggak mungkin lah gue terima." Rendra.


"Gue pikir lo lebih cocok deh sama Nayla Ren." Kenzo datar.


"Gue rasa lebih baik lo akhiri saja sama Shinta." Kenzo menatap Rendra tajam.


"Maksud lo apa sih Ken?" Rendra berdiri. Berkacak pinggang. Seperti ingin menantang. Menatap Kenzo lekat. Kenzo tak bergeming dari duduknya.


"Shinta nggak baik seperti yang lo pikirin!" Kenzo mulai meninggikan suaranya.


"Apa sih? Gue nggak paham sama lo!" Emosi Rendra meluap. Tidak paham apa yang dimaksud Kenzo.


"Eh kalian slow dong. Kenapa sih?" Rahman menengahi.


"Kalian udah lama nggak ketemu bukannya kangen - kangenan malah berantem." Reyhan.


"Lo kenapa sih Ken? Nggak biasanya begitu." Rahman bersiap berdiri diantara mereka.


"Ada apa sih Ken? Ngomong aja!" Rendra tak sabar. Ada sesuatu pada Kenzo. Atau Kenzo juga ada perasaan yang sama dengan Shinta?


"Shinta sudah menipu lo! Dia sudah menikah!" Kenzo dengan lantang.

__ADS_1


"Apa? Lo yang benar saja kalau bicara Ken! Jangan asal jeplak aja lo!" Rendra terbelalak. Semua juga ikut terkejut.


"Ken, yang bener lo?" Reyhan ikut berdiri.


"Gue nggak bohong. Lo tau Jonathan Smith? Dia itu suami Shinta." Kenzo.


"Lo kalau iri sama gue bilang aja Ken! Nggak usah bicara ngawur seperti itu." Rendra frustasi. Kenzo pasti sengaja. batinnya.


"Kalau Lo nggak percaya terserah!" Kenzo emosi. Dia begini karna Rendra sahabatnya. Tapi Rendra malah mengira ia iri. Sungguh melukai hatinya.


"Ayolah teman - teman. Persahabatan kita itu nggak setahun dua tahun. Kita udah lama temenan. Jangan seperti ini dong." Rahman.


"Betul. Palagi masalah perempuan. Udah gila ya kalian." Reyhan.


"Karna persahabatan kita berharga Ren. Gue bisa semarah ini. Gue nggak mau lo sakit hati." Kenzo menundukkan kepala dalam. Ia terlampau emosi. "Gue bukannya iri sama lo Ren." bisiknya kemudian.


"Lo kan bisa bicara baik - baik Ken. Nggak perlu ngegas seperti itu." Rendra masih penuh emosi.


"Udah - udah. Baikan ya? Sekarang tinggal lo Ren. Lebih baik tanyain langsung sama Shinta. Biar lo tenang." Rahman mengusap punggung Rendra yang bergetar.


Mereka sudah duduk bersebelahan. Sudah saling maaf - maafan. Yang lain hanya geleng - geleng kepala.


"Kalian mirip adek - adek gue deh! Berantem baikan, berantem lagi baikkan lagi. Haha..." Reyhan.


"Reyhan! Ajak teman - temanmu masuk. Makan siang bareng." teriak Emak Reyhan keras.


"Siap Mak! Ayolah makan. Emak gue bisa ngamuk kalau pada nggak makan."


Pertemuan ini penuh emosi harus ditutup dengan makan dan minum es agar emosi mereda.


***


Terima kasih sudah membaca^_^


Jangan lupa like komen tip dan vote ya


Nantikan kisah Joe dan Shinta selanjutnya


peluk cium DevaNurAna^_^

__ADS_1


__ADS_2