Shinta Jonathan

Shinta Jonathan
Tamu Pengganggu


__ADS_3

Tok tok tok


Suara pintu diketuk dengan keras. Pintu kamar Joe dan Shinta terkunci, jadi Zoe tak bisa masuk ke kamar itu. Biasanya Zoe akan langsung masuk jika pintu tak dikunci. Kadang mendapati Daddy dan mommy nya sedang berselimut berdua dengan posisi selimut sampai menutup dada. Bahkan Zoe sering melihat Joe hanya memakai celana pendek tanpa baju.


"Daddy sedang olahraga." Alasan yang Joe berikan jika anak kecil itu bertanya.


"Apa mommy juga?" Tanya Zoe penasaran.


"Iya."


"Kenapa tidak di ruang olahraga Daddy dibawah." Kata Zoe tidak mengerti apa olahraga yang Joe maksudkan. Yang akhirnya membuat Joe bingung sendiri menjawab rasa penasaran anak itu.


"Daddy mommy!" Teriak Zoe, ia kembali menggedor pintu kamar Daddy dan mommy nya berulang kali.


Pintu terbuka lebar. Joe masih bertelanjang dada dengan celana kantor tadi sore.


"Kenapa Zoe?" Tanya Joe saat menemukan anaknya didepan pintu kamar.


"Ada nyonya dan tuan besar dibawah tuan muda." Kata Rachel yang sengaja menemani tuan muda kecilnya itu naik ke atas.


"Mommy mana dad?" Tanya Zoe sambil melongok ke dalam kamar Daddy nya.


"Orang tua itu lagi!" Ketus Joe. "Mommy sedang mandi. Tunggu ya, nanti Daddy dan mommy turun." Sambung Joe menyuruh anaknya turun lagi ke bawah bersama Rachel.


Joe merasa terganggu, pasalnya ia sedang ngadon adik Zoe tapi orang tuanya datang.


"Kemarin baru dari sini, sekarang kesini lagi. Nggak punya kesibukan lain apa. Perusahaan sudah aku yang pegang sekarang mereka jadi ongkang-ongkang. Terus saja ganggu hidupku!" Joe misuh misuh tidak jelas. Shinta yang mendengar itu tidak paham apa yang dimaksud suaminya.


"Ada apa sayang?" Tanya Shinta.


"Turun, ada tamu." Ketus Joe.


"Grandpa and granpa nya Zoe?" Tanya Shinta dengan semangat. Ia sungguh senang mertuanya tak pernah absen untuk berkunjung ke rumahnya. Membuat Shinta punya teman untuk ngobrol dan bercengkrama. Sejak dia di Amerika ia sama sekali tidak punya teman. Jangan kan melewati pagar rumah, sampai pintu utama pun harus diawasi. Selain menjemput Zoe atau main ke kantor suaminya, Shinta tak punya kesempatan untuk keluar dari mansion keluarga Smith itu.


"Kau senang sekali? Bukannya kita akan membuat adik untuk Zoe?" Keluh Joe, ia tidak suka rencana nya terganggu. Nanti Zoe tak segera punya adik.


"Lanjut nanti ya sayang, aku mau ketemu mommy Rania." Lirih Shinta sambil mencium pipi Joe.


"Sekarang kau lebih berani menggodaku ya."


"Nanti aku kasih lebih." Bisik Shinta dengan mesra.


Seperti itu saja Joe bisa meleleh bagai jeli. Apalagi kalau sudah Shinta mulai menciumi lehernya yang membuat bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


"Sudah sana turun! Jangan membangunkan juniorku lagi. Awas saja nanti lupa janjimu dan tidur bersama Zoe!" Titah Joe penuh penekanan.


Shinta mengangguk pelan. Ia tidak akan melupakan itu, karena ia memang sudah menyiapkan diri untuk mempunyai anak lagi. Zoe memang butuh adik, menurutnya Zoe sudah besar dan membutuhkan teman.


"Mommy." Panggil Shinta pada Rania yang sedang bermain dengan Zoe.


Shinta merapatkan pelukan. Cipika cipiki seperti biasa. Joe yang melihat itu memutar bola matanya jengah. Setiap hari bertemu apa tidak bosan? Begitu pikiran posesif Joe muncul.


"Jangan peluk terus mom. Honey ku bisa sesak nafas." Ujar Joe dengan tegas.


"Cemburu? Sini biar mommy peluk kamu." Tukas Rania dengan senyum lebar. Anak kesayangan nya sudah berkeluarga tapi dia masih menginginkan pelukan.


"Bukan itu! Jangan peluk-peluk honeyku! Hanya aku yang boleh peluk." Cicit Joe tanpa malu didepan orangtuanya dan anak laki-lakinya. Para maid yang mendengar itu pun takjub dengan sifat posesif tuannya.


"Daddy terlalu sayang pada mommy sampai tidak mau membiarkanku tidur dengan mommy." Jujur Zoe pada grandpa dan grandma nya.


"Kelewatan! Cemburu pada anak sendiri?" Ketus Andrew menyindir Joe yang kekanakan.


"Memangnya Daddy nggak mau punya cucu lagi? Aku sedang ngadon lagi tau!" Balas Joe membusungkan dada. Ia percaya diri kalau bibitnya akan tumbuh untuk kedua kalinya di rahim istrinya.


"Kau belajar kata ngadon dari mana? Ya ampun." Kekeh Rania mencubit lengan Shinta yang wajahnya sudah memerah malu. Suaminya itu kalau sudah didepan Daddy dan mommy tidak pernah menjadi dewasa. Atau paling tidak rahasiakan sesuatu yang tidak boleh didengar orang lain. Sekarang Shinta jadi malu sendiri didepan mertuanya itu.


Joe melirik Shinta dengan penuh cinta. Istrinya terlihat jauh menggemaskan kalau sudah malu-malu begitu.


"Sayang hentikan! Mom, dad ayo makan malam bersama." Ajak Shinta mengusir rasa malu.


Semua masakan indo western itu bersandingan di meja. Mereka mempunyai selera berbeda. Andrew lebih suka masakan western nya dan yang lain lebih suka masakan indo. Tapi semuanya bukan pemilih makanan. Mereka bisa makan apa saja kok. Hanya saja Rachel memang menyiapkan dua pilihan menu di meja. Rachel sudah tau selera tuan besar.


"Zoe makan yang banyak ya biar cepat besar." Ucap Rania dengan mengusap kepala anak enam tahun itu.


"Yes grandma." Kata Zoe patuh. Ia tak berisik saat makan. Ia duduk di mejanya dan makan dengan tenang.


Dengan telaten, Shinta mengambilkan makan untuk mertua dan suaminya. Meski dengan lirikan pedas sang suami, Shinta tetap melakukan itu. Joe suka cemburu pada waktu yang tidak tepat. Apa-apa dicemburui.


"Mom, Minggu depan kita akan liburan ke Indonesia. Apa Daddy dan mommy mau ikut?" Tanya Shinta disela makan malam keluarga.


"Wah, mau sayang. Mommy ikut. Gimana dad? Mau ikut tidak?" Rania sangat bersemangat. Sejak Shinta ada di Amerika, Rania tak pernah menjejakkan kaki lagi di Indonesia.


"Jangan! Tidak boleh!" Sergah Joe. Tatapannya sudah mengintimidasi terutama untuk shinta. Untuk apa ajak kedua orang penganggu ini? Kita mau honeymoon! Begitu Shinta mengartikan tatapan itu.


"Sayang, mommy dan Daddy kan juga butuh liburan. Kita bisa liburan bersama. Kita hampir tidak pernah liburan keluarga, iya kan mom?"


"Shinta benar Joe. Kenapa kami tidak boleh ikut." Rania mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Sudahlah jangan ganggu mereka. Darling, lebih baik ajari suamimu itu sopan santun." Kata Andrew lembut. Bukan maksud memarahi, tapi lebih tepatnya menyindir anaknya sendiri yang kelewat kurang ajar pada dirinya.


"Apa? Daddy yang nggak punya sopan santun. Kenapa menganggu waktu anaknya yang sedang bercocok tanam?"


"Haish! Sudah, ada Zoe mas. Ngapain sih ngomongin yang begitu dimeja makan." Shinta lebih kesal pada Joe.


Setelah itu makan malam mereka kembali di ruang tengah. Andrew dan Rania bermain lagi dengan cucu kesayangan mereka. Sedang Shinta dan Joe duduk disofa. Joe memeluk Shinta erat. Tidak membiarkan Shinta untuk bergabung dengan mertuanya.


"Biarkan mereka, fokus saja padaku. Nanti malam kita lanjutkan yang tadi ya honey." Bisik Joe ditelinga Shinta.


Shinta hanya mencebikkan bibirnya. Tidak mau melihat suaminya yang mode manja-manja seperti ini. Apalagi didepan orangtuanya, ia merasa malu. Mereka sudah menikah sepuluh tahun tapi Joe selalu menyangka kalau mereka baru menikah. Ada-ada saja memang kelakuan bule Amerika ini.


Joe melilit-lilit rambut Shinta di jari-jari nya menggulung kemudian ia tarik dan cium-cium. Harum, batinnya. Joe sangat betah melakukan itu. Kemudian meletakkan kepalanya di pundak Shinta. Menciumi leher Shinta berulang kali.


"Sayang hentikan! Ada Zoe, kau nggak ingat cerita dia tadi siang?"


"Oh iya aku lupa. Dia berani ya! Sama sepertiku."


"Ya, sama keras kepalanya. Baru sadar?"


"Kau mau anak kita yang kedua seperti ku atau kau? Lebih baik seperti kau ya sayang."


"Kalau yang ke dua seperti mu lagi aku bisa sakit kepala setiap hari." Kekeh Shinta, sekarang mood nya kembali up. Kecupan singkat mendarat di pipi Joe.


"Kau memancing juniorku bangun! Tanggung jawab!"


"Nanti!"


"Sekarang!"


"Ada apa mommy? Daddy mencium mommy tanpa ijin?" Tanya Zoe dengan mimik wajah polos. Tidak mengerti perdebatan mereka yang sampai mengubah antensi anaknya sekarang tertuju pada mereka.


"Abaikan orang tuamu. Mereka memang aneh. Apalagi Daddy mu."


"Daddy! Jangan racuni anakku!"


"Tuh kan kau lihat dia sedang marah-marah lagi dengan grandpa mu ini."


"Daddy jangan marah pada grandpa. Jangan marah pada mommy. Lebih baik daddy minta ijin dulu sebelum mencium mommy." Terang anak enam tahun itu berkacak pinggang didepan daddynya.


Berhasil membuat seisi rumah keluarga Smith itu tertawa dengan tingkah polos Zoe yang menggemaskan.


"Benar-benar anakmu." Kekeh Shinta.

__ADS_1


"Kita kan buat bersama." Lirih Joe sambil mengeratkan pelukannya ditubuh Shinta.


***


__ADS_2