Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab.10


__ADS_3

"Sejak 2 bulan yang lalu,Tuan.Sebenarnya Siska juga jarang tinggal di kamar kostnya.Lebih tepatnya dia memang tidak pernah tidur di kamar kost yang dia sewa ini.Selama hampir satu tahun ini,dia juga hanya datang beberapa kali saja,itupun hanya untuk datang melihat-lihat sebentar saja.Kalau aku tidak salah mengingatnya,mungkin hanya 3 kali saja.Mungkin saja ia sudah tidak memerlukannya lagi,jadi ia sudah tidak mau menyewanya lagi" jawab Ibu kost tersebut dengan panjang lebar saat ia melihat wajah kagetnya pria muda tersebut.Ia juga mengira,mungkin saja pelanggannya yang bernama Siska itu hanya menyewa kamar kostnya untuk keperluan perkerjaan saja.


'Deg deg deg' jantungnya Sebastian langsung saja berdegup kencang,saat dirinya mendengar perkataan panjang lebarnya Ibu kost tersebut.


"Apa? Apa maksudnya Ibu? Bukankah Siska memang tinggal di sini sudah lama?" tanya Sebastian dengan wajah tidak percayanya,sambil mengingat kembali perkataannya Siska yang pernah mengatakan pada dirinya kalau kekasihnya itu sudah tinggal di kamar kost tersebut selama 2,3 tahun ini.


"Tidak Tuan,Siska hanya menyewa kamar kost ini selama hampir 1 tahun saja tanpa pernah tidur di kamar yang sudah di sewanya ini.Kalau Tuan tidak percaya,Tuan bisa bertanya pada yang lainnya" jawab Ibu kost tersebut dengan wajah seriusnya,sambil menatap bingung ke arah wajah pria muda tersebut yang sudah di penuhi ekspresi kecewa dan juga marah.


'Ternyata dia sedang membohongiku selama ini' batin Sebastian,masih dengan wajah tidak percayanya dan bercampur dengan ekspresi dan juga rasa yang bercampur aduk.


"Tuan,apa perlu aku memanggil beberapa penghuni yang ada di sini untuk bisa meyakinkanmu..." lanjut Ibu kost lagi,dengan nada pelannya.


"Tidak perlu,bu.Terima kasih atas waktumu.Aku akan pergi saja" jawab Sebastian dengan menahan rasa kecewa di balik wajah yang tersenyum paksa itu,ia juga sedikit menundukkan kepalanya ke arah Ibu kost tersebut.


Lalu ia langsung berjalan pergi dari hadapannya Ibu kost tersebut,sambil menahan rasa marahnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan rasa geram,dan meninggalkan Ibu kost tersebut yang sedang menatap dengan ekspresi wajah bingung ke arah punggungnya pria muda tersebut.


Setelah sampai di dekat motornya berada,Sebastian langsung naik ke atas motornya dan segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang tapi pikirannya sedang terombang-ambing saat ini karena kebohongan Siska yang baru saja ia ketahui itu.


Pantasan saja,waktu itu ia meminta untuk segera di perkenalkan kepada kedua orang tuanya Siska tapi Siska selalu saja mencari alasan.Dan ia juga heran,kenapa setiap kali ia mau berjumpa,Siska selalu membuat pertemuan mereka berdua di sebuah Cafe ataupun Restoran.


Dan satu lagi,tadi Ibu kost tersebut mengatakan kalau Siska hanya pernah datang ke rumah kostnya sebanyak 3 kali saja.Itu berarti 3 kali hanya sama dirinya saja,ketika dirinya berinisiatif mau mengantar Siska pulang,karena Siska tidak pernah meminta tolong padanya dengan alasan takut merepotkan.Itupun ia hanya di perbolehkan antar sampai di depan rumah kostnya saja oleh Siska.


Ia jadi sembarangan menebak sekarang,apakah Siska sedang menjebaknya.Atau Siska ingin menjadi kekasihnya,hanya untuk mendapatkan uangnya saja,karena kalau di hitung-hitung uang tunai dari gajinya untuk satu tahun itu sudah ia habiskan untuk Siska seorang.


Setelah melaju dengan arah yang tidak menentu,ia bingung ntah harus kemana.Hingga tidak sengaja ia melihat ada sebuah danau yang lumayan luas di depan sana.


Iapun segera menghentikan motornya,ia langsung turun dari motornya dan berjalan ke arah danau tersebut dengan ekspresi wajah yang sudah bercampur aduk.Emosi,kecewa,sedih,marah,kesal dan putus asa bercampur menjadi satu.


"Kenapa aku begitu bodoh?" tanya Sebastian pada dirinya sendiri dengan nada pelan dan wajah yang lebih banyak di hiasi ekspresi kecewa dari pada ekspresi yang lainnya,sambil menghentikan langkahnya tepat di depan danau tersebut.


"Apakah ini semua nyata dan benar-benar sedang terjadi pada diriku?" tanya Sebastian lagi,sambil mengambil sebongkah batu kecil,lalu ia lemparkan ke arah danau tersebut dengan sekuat tenaga dan perasaan kesal dan juga rasa emosi.


Ia berharap kalau semuar perasaan kecewanya atau yang lainnya akan ikut pergi bersama bongkahan batu kecil tersebut.


Ia merasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi sama dirinya saat ini,dirinya di bodohi dan juga di manfaatin oleh wanita yang selama 1 tahun kebelakangan ini dan juga yang sudah ia cintai dengan sepenuh hatinya.


"Harusnya kamu menjelaskan semuanya padaku dulu,sebelum kamu menghilang tanpa penjelasan seperti ini" gumam Sebastian lagi,ia masih merasa tidak percaya dengan kebodohannya selama ini.Tanpa menyadari kalau ada seorang wanita cantik yang sedang memerhatikannya dari kejauhan sana.


Bisa-bisanya ia di kelabui oleh wanita hingga seperti itu,pantasan saja kedua orang tuanya dan adiknya,bahkan sahabat-sahabatnya juga tidak menyukai Siska.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian,ntah sudah keberapa puluh kalinya Sebastian terus melempar bongkahan-bongkahan batu kecil itu ke arah danau.


Tapi suasana hatinya tidak juga membaik,malahan pakaiannya sudah berakhir dengan sedikit berantakan,dasi yang hampir terlepas dari tempatnya,Jas kerjanya yang sudah tergeletak di atas tanah,kemejanya yang sudah tidak begitu terlihat rapi lagi dan juga rambutnya yang sudah acak-acakan.


Karena ia juga tidak tahu harus mengatakan apa dan melakukan apa lagi,jadi ia hanya mampu melepaskan geram dan semua rasa tidak enaknya dengan terus merutuki kebodohannya sendiri sambil terus melempar bongkahan-bongkahan batu kecil tersebut.


Tiba-tiba saja...


"Apa kamu butuh teman bicara,hm?" terdengar suara lembut wanita dari belakangnya Sebastian,wanita tersebut terus berjalan mendekat ke arah Sebastian hingga wanita tersebut sudah berada di sampingnya Sebastian saat ini.


Sebastian yang pikiran dan hatinya sedang kacau itupun langsung menolehkan kepalanya ke samping dengan perlahan-lahan.


"Kamu" wanita tersebut.


"Kamu" Sebastian.


Ucap Sebastian dan wanita tersebut secara bersamaan dengan ekspresi kaget di wajah mereka masing-masing.


'Pria aneh' lanjut wanita tersebut di dalam hatinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya wanita tersebut dengan wajah penasarannya,sambil menatap ke arah wajah kagetnya pria yang pernah membuat dirinya merasa tidak percaya sama beberapa hal itu,beberapa hari yang lalu.


Kemudian iapun segera menyuruh sang supir untuk menghentikan mobil,lalu ia langsung keluar dari dalam mobilnya dan berjalan mendekat ke arah pria tersebut.Bahkan ia juga mengabaikan sang supir dan wanita paruh baya yang sedang memanggilnya.


Sedangkan Sebastian,mau tidak mau ia juga terpaksa berusaha menghilangkan semua ekspresi dan rasa yang menderanya tadi,lalu ia segera menampilkan wajah datarnya.


Kemudian ia langsung menolehkan kepalanya ke arah danau kembali dengan mempertahankan wajah datarnya dan rasa malasnya setelah ia selesai melirik sekilas ke arah wanita paruh baya yang sedang berlari kecil dari belakang sana.Lalu di susul dengan beberapa pria tegap lainnya.


Bahkan ia tidak berniat ingin menjawab pertanyaan dari pemilik suara lembut tadi,yang ternyata adalah wanita yang telah membuat dirinya merasa kesal, seminggu yang lalu.


"Apakah Tuan sedang ada masalah?" tanya Jennifer dengan nada pelannya,sambil terus menelisik penampilan pria aneh tersebut yang terlihat agak berantakan tapi di matanya pria aneh tersebut tetap saja terlihat tampan.


"Tuan,apakah kamu sedang kalah lotre?" tanya Jennifer lagi,dengan nada kesalnya karena pria aneh itu hanya diam saja.


"Atau kamu sedang memiliki banyak hutang,lalu pemilik uang yang kamu pinjam itu sedang mengejarmu.Makanya kamu sedang bersembunyi di sini sekarang?" tanya Jennifer lagi,dengan asal karena pria aneh tersebut tidak juga menjawabnya,sambil bersedekap dada dan berjalan mengelilingi tubuhnya pria aneh tersebut dengan langkah pelannya.


"Atau....." ucap Jennifer lagi,dengan nada lambatnya sambil mengisyaratkan pada sang supir, anak buah dan tantenya itu untuk tidak bersuara sebelum dirinya selesai.


"Atau kamu sedang patah hati karena cintamu di tolak oleh wanita yang kamu cintai?" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum malasnya.Karena ia sangat tidak menyukai tipe pria atau orang yang seperti itu,pria yang selalu suka patah hati hanya karena wanita,lalu ujung-ujungnya melukai dirinya sendiri dengan berbagai cara konyol.

__ADS_1


"Tapi kalau kamu patah hati,kenapa kamu malah memilih danau yang dangkal ini.Bukankah pantai yang luas atau jurang yang dalam lebih bagus?" tanya Jennifer lagi,dengan wajah herannya sambil menghadap dan juga menatap ke arah danau,ia juga menopang dagunya dengan menggunakan jari jempol berserta jari telunjuknya.


Dan kali ini,pertanyaannya mampu membuat tatapan lurus ke depannya Sebastian tadi,langsung menatap kesal ke arah dirinya.


"Apakah niat kamu menghampiriku ke sini,hanya untuk menyarankan padaku untuk segera mengakhiri hidupku sendiri?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap Jennifer yang langsung berbalik badan untuk menatap dirinya.


Ia menjadi kesal karena pertanyaan-pertanyaan dari wanita tersebut yang menurutnya terdengar sangat konyol,walaupun pertanyaan yang ke 3 tadi hampir-hampir tepat,dan mungkin saja bisa di katakan tepat.Cara dirinya di tinggalkan oleh wanita yang ia cintai memang berbeda tapi tetap saja dari awal cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja walaupun Siska yang duluan menjebak dirinya dengan berbagai rayuan dan sikap manis.


"Ya,,,bukan begitu juga maksudku sih.Hanya saja,banyak pria ataupun wanita yang akan melakukan hal bodoh kalau sedang patah hati.Dan mungkin seperti kamu contohnya..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum lucu sambil menatap rambut acak-acakannya pria aneh tersebut.


Padahal tadi itu ia hanya merasa penasaran saja,makanya ia nekad menghentikan mobilnya dan berjalan hingga ke sini.Tapi ia tidak menyangka kalau pria tersebut adalah pria aneh itu.


"Ternyata bukan hanya kedua mata dan pendengaranmu saja yang sedang bermasalah,tapi kepalamu juga sedang bermasalah" ucap Sebastian dengan nada yang semakin kesal karena pikiran konyol wanita tersebut yang di tujukan untuk dirinya.


"Lihat saja penampilanmu sendiri,sudah seperti orang yang sedang banyak beban saja...Aku rasa,beberapa orang yang memiliki banyak bebanpun,juga tidak akan seperti dirimu" ucap Jennifer dengan nada kesalnya karena pria aneh itu kembali mengatai dirinya.


'Bermasalah apanya,nilai-nilai kuliahku selalu berada teratas.Bahkan sekecil apapun bunyi suara itu,pendengaranku pasti akan mampu menangkapnya.Dan kedua mataku,sepertinya memang ada sedikit bermasalah setiap saat aku melihatmu' batin Jennifer dengan wajah kesalnya.


"Apa kamu tidak memiliki perkerjaan lain,selain menilai penampilan orang lain?" tanya Sebastian sambil menahan rasa malunya,masih dengan nada kesalnya sambil menatap penampilan wanita tersebut yang masih saja tetap terlihat anggun,cantik,sopan, dan di tambah lagi dengan beberapa pria tegap yang sedang berada di belakang sana yang terlihat seperti bodyguard.


Ternyata kekuasaan orang tuanya wanita tersebut tidak main-main juga,selalu ada yang menjaga putrinya.Pantasan saja,hari itu Elvan tidak memiliki kepercayaan diri.


Ia memang tidak peduli sama perkataan panjang lebarnya kasir wanita hari itu,tapi Elvan kembali mengulangnya ketika berada di dalam mobil hari itu hingga membuat dirinya mau tidak mau harus memasang pendengarannya.


"Tidak.Aku jadi penasaran,apa sebenarnya penyebab yang telah membuat dirimu menjadi seperti ini?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan wajah yang tersenyum mengejek,sambil menatap kemeja pria aneh tersebut yang sudah keluar atau tidak berada di selipan dalam celananya lagi.


'Perkerjaanku akan berat saat setelah satu tahun nanti' batin Jennifer dengan rasa malasnya,saat ia mengingat kembali perintah dari Daddynya setelah satu tahun nanti.


"Bukan urusanmu" jawab Sebastian dengan nada yang semakin kesal,sambil berusaha menetralkan rasa kesal dan juga malunya karena tidak mungkin ia meluapkan rasa kesalnya pada seorang wanita.Lalu ia segera berjalan untuk mengambil Jas yang telah ia lempar tadi,tanpa menyadari kalau ada sesuatu yang telah terjatuh dari dalam Jas kerjanya barusan.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu mendengkus kesal saat ia mendengar jawabannya pria aneh tersebut yang tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya tadi.


"Hei,Tuan kamu mau kemana?" teriak Jennifer dengan wajah yang memberengut kesal,saat ia melihat pria aneh tersebut berlalu pergi dari hadapannya begitu saja tanpa mengatakan apa-apa padanya.Bahkan pria aneh itu hanya terus berjalan sambil memperbaiki penampilan berantakannya tadi.


"Dasar pria aneh..." umpat Jennifer dengan wajah yang masih memberengut kesal.


"Tapi buat apa juga aku ingin tahu pria aneh itu akan kemana? Sepertinya aku sudah ikut-ikutan aneh seperti pria aneh itu" gumam Jennifer dengan nada pelannya,sambil terus menatap punggung lebarnya pria aneh tersebut yang sudah berada di atas motornya.


Lalu tanpa sadar ia tersenyum tanpa sebab,sambil terus menatap punggung lebarnya pria aneh tersebut yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Ternyata aku bukan aneh saja,tapi aku sepertinya sudah mulai gila" gumam Jennifer lagi,dengan wajah bingungnya,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya untuk mengusir tingkah anehnya tadi.


__ADS_2