Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 57


__ADS_3

"Hmm,aku sendiri juga kurang pasti dengan kejadian sebenarnya.Jadi,bagaimana caranya aku harus menjelaskannya padamu,hm?" tanya Jennifer dengan nada malasnya,saat ia melihat wajah ingin tahunya Billy tersebut.


Lagi pula,ia memang tidak begitu tahu bagaimana kejadian sebenarnya.Ia hanya bisa menebak,dan belum tahu pasti mana satu tebakannya yang benar.Ntah prianya sedang berselingkuh atau sedang digoda sama wanita itu,tapi saat memikirkan tentang pergelangan tangan merahnya wanita tadi,hatinya yakin kalau pasti prianya yang telah digoda.


"Maafkan aku,Nona Muda.Tapi bolehkah aku tahu,dimana Tuan Sebastiannya,Nona Muda?" jawab Billy dan kembali bertanya dengan nada ragu-ragunya, sambil terus melirik kearah ruang pribadi Tuan Mudanya.


"Apakah aku harus menjawabnya juga? Apakah kamu lupa,kalau kamu harus mengunci mulut cerewetmu itu" tanya Jennifer balik dengan nada kesalnya,karena tiba-tiba saja hari ini ingin tahunya Billy sudah seperti wanita saja.


"Maaf,tidak,dan aku juga tidak lupa,Nona Muda" jawab Billy dengan cepat dan kepala yang sedikit menunduk pasrah,padahal ia hanya ingin tahu keberadaan0 Tuan Mudanya saja.


'Kenapa kemejanya Tuan Muda bisa berada disana,lalu dimana orangnya?' lanjut Billy didalam hatinya dengan pikiran yang ntah sudah berkelana kemana-mana,saat kedua matanya secara tidak sengaja melihat kemeja Tuan Mudanya yang tergeletak diatas sofa begitu saja.


"Hilangkan pikiran kotormu dari dalam kepalamu itu,kemejanya Sebastian hanya kotor saja,makanya Sebastian melepaskannya.Sekarang,kamu sudah boleh keluar,jangan masuk tanpa izin..." jawab Jennifer dengan nada semakin kesalnya,saat ia menyadari arah pandangnya Billy saat ini,dan ia langsung bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Billy saat ini.


"Aku tidak memikirkan yang aneh-aneh,Nona Muda.Baik,Nona Muda..." jawab Billy dengan nada pelannya sambil menahan tawanya,saat ia melihat wajah kesal Nona Mudanya.Lalu iapun segera berbalik badan,berniat ingin berjalan keluar.


"Tunggu..." panggil Jennifer dengan cepat,hingga mampu membuat Billy kembali berbalik badan kearah dirinya.


"Apa ada yang harus aku lakukan lagi,Nona Muda?" tanya Billy dengan wajah penasarannya,ia sudah bisa menebak pasti ada yang diinginkan oleh Nona Mudanya.


"Dapatkan rekaman CCTV yang ada diruangan ini,rekaman selama wanita itu berada didalam sini tadi..." perintah Jennifer dengan nada tegasnya dan wajah seriusnya,ia harus mencari tahu kebenarannya dengan caranya sendiri.


Apa lagi,melihat sikapnya Sebastian yang sudah banyak berubah sekarang,pasti pria datar itu tidak akan mau menjelaskan padanya dengan detail.


"Dalam 20 menit,kamu harus mendapatkannya,dan mengirimkannya padaku..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada seriusnya,sambil meletakkan makan siangnya tadi keatas meja tamu sana,tanpa ia tahu kalau Tuan Muda yang berada diruangan pribadinya tersebut,sedang tersenyum-senyum sendiri karena melihat tingkahnya dan mendengar apa saja yang ia katakan sedari tadi.


"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan kening mengernyit heran,sambil melirik camera CCTV yang terletak disudut sana,lalu langsung berbalik badan dan berjalan keluar dari sana dengan wajah tersenyum kecilnya.


Ternyata Nona Mudanya juga sama penasarannya dengan dirinya,pantasan saja ia mendapatkan jawaban kesal tadi.Dan Nona Mudanya tidak tahu saja,kalau perintah tersebut,perkerjaan yang sangat mudah baginya,dengan posisinya di Perusahaan tersebut.


"Aku harus melihatnya sendiri,dari pada aku harus bertanya sama pria yang sulit diajak bicara itu" gumam Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menatap sebentar kearah pungungnya Billy yang sudah menghilang dibalik pintu tersebut yang juga sudah langsung ditutup pelan oleh Billy.


Lalu iapun segera menata makan siangnya keatas meja tersebut,dan menunggu Sebastian yang mungkin sebentar lagi akan keluar.


Beberapa detik kemudian...


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka,dan terlihat Sebastian yang sedang berjalan keluar dari dalam ruangan pribadinya,dengan gaya khasnya dan rambut berserta pakaian yang sudah rapi kembali.


Sedangkan Jennifer yang tadi langsung menolehkan kepalanya itupun,terus menelisik wajah tampan hingga ketubuh kekarnya Sebastian dengan pelan.


"Auchk...Kenapa kamu malah menyentil keningku,sakit tahu..." terdengar suara pekikan sakit dan gerutuan kesalnya Jennifer sambil mengelus-elus keningnya,saat tiba-tiba saja ia merasakan ngilu dan juga sakit dikeningnya.


"Apa kamu tidak pernah melihat pria tampan,hm...?" tanya Sebastian dengan nada malasnya sambil duduk disofa tersebut tanpa memerhatikan apa yang sudah tersaji diatas meja tersebut.

__ADS_1


"Pernah..." jawab Jennifer dengan nada malunya,tanpa menghentikan elusan dikeningnya.


'Tapi aku belum pernah melihat yang setampan ini...' lanjut Jennifer didalam hatinya.


"Pernah? Lalu kenapa ekspresi wajahmu,seperti tidak pernah saja? Dan juga terlihat sangat menggelikan..." tanya Sebastian dengan nada herannya,sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,ia baru tahu kalau seorang putri kaya yang seperti jennifer juga memiliki sisi lain yang seperti ini.


"Mau tahu saja..." jawab Jennifer dengan singkat,sambil menurunkan elusannya dan menatap kesal kearah Sebastian yang juga sedang menatap dirinya.


"Apakah ekspresi wajahmu selalu seperti itu,kalau sedang melihat pria tampan?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,tanpa mengalihkan tatapannya.


"Apakah kamu mengira,kalau aku ini memang wanita yang seperti itu,hm? Apa aku sebegitu kurang kerjanya, harus menatap setiap pria tampan sampai segitunya? Memangnya ,aku wanita apaan..." tanya Jennifer balik,dengan wajah kesalnya.


Apakah Sebastian berpikir,kalau dirinya ini sangat mudah menyukai dan terpesona sama seorang pria,tanpa berpikir ulang kembali.Padahal tatapannya yang seperti tadi,hanya pada dia seorang saja.


"Mana aku tahu,aku kan tidak bisa melihat apa saja yang akan kamu lakukan dalam setiap waktu 24 jam sehari..." jawab Sebastian dengan wajah yang sedang menahan tawa,sambil melihat jam tangannya yang ternyata sudah jam 12 siang lewat 10 menit.


"Iya,aku tahu.Dan tidak lama lagi, kamu juga akan tahu dan bisa melihat apa saja yang akan aku lakukan dalam 24 jam disetiap harinya" ucap Jennifer dengan nada kesalnya dan juga seriusnya,sambil tersenyum kesal.


"Maksudmu?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya,sambil terus menatap senyum kesalnya Jennifer yang terlihat seperti musibah bagi dirinya.


"Pikir saja sendiri...Ayo,sekarang kita makan siang dulu.Aku sudah memasak makanan siang yang enak untukmu,kamu pasti sudah sangat lapar saat ini kan..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya dan nada senangnya dikalimat keduanya tersebut sambil menahan rasa malunya dan mengambil nasi kepiringnya dan juga miliknya Sebastian, karena ia sudah tidak sabar ingin mendengar tanggapannya Sebastian tentang masakan pertamanya ini.


Dan untung saja,tadi Mommy membantunya.Jika tidak,ia sendiri juga tidak yakin dengan rasa masakannya tersebut.


"Iya,aku sendiri yang menyiapkannya untukmu,sedari pagi tadi.Ayo,sekarang kita makan..." jawab Jennifer dengan wajah tersenyum kecilnya,sambil memberi sendok dan garpu kepada Sebastian yang hanya terus menatap 2 macam makan siang tersebut.


"Ayo,kita makan...Kenapa kamu malah hanya menatapnya saja?" tanya Jennifer dengan wajah bingungnya,saat ia melihat Sebastian yang hanya menatap dalam diam saja,makan siang tersebut.


"Apa kamu serius? Menyuruhku memakan makan siang seperti ini?" tanya Sebastian dengan nada tidak percayanya,saat ia melihat salah satu makan siang tersebut yang bercampur dengan makanan yang paling tidak ia sukai,yaitu petai.


"Seperti ini? Memangnya kenapa dengan makan siang ini?" tanya Jennifer dengan nada herannya,sambil menelisik wajah datarnya Sebastian yang terlihat seperti tidak menyukai makan siang tersebut.


"Karena aku tidak suka makan petai..." jawab Sebastian dengan jujur,sambil menghela napas dengan pelan saat ia melihat wajah herannya Jennifer yang langsung berubah menjadi kecewa dan juga sedih.


"Benarkah? Sayang sekali...Padahal,aku sudah memasaknya dengan susah payah..." ucap Jennifer dengan nada kecewanya,saat ia melihat Sebastian yang ternyata terlalu jujur dan tidak mau mencoba untuk sekedar menghargai ataupun sekedar mencicipinya saja,walaupun ia tahu kalau kejujuran itu kadang-kadang memang menyakitkan.


Padahal sedari tadi dirinya sudah rela mencoba untuk belajar memasak untuk pertama kalinya,bahkan kedua belah jari telunjuknya harus menjadi korban sedikit sayatan pisau karena kecerobohannya saat ia sedang memasak tadi pagi.


Sedangkan Sebastian,ia hanya diam saja,dan terus memerhatikan ekspresi wajahnya Jennifer dan makan siang tersebut secara bergantian.


"Kalau begitu,kamu bisa? keluar makan saja.Makan siangnya,biar aku bawa pulang saja" lanjut Jennifer dengan nada sedihnya,sambil berdiri dari duduknya dan berniat ingin menyimpan makan siang tersebut kembali kedalam paper bag.


"Tidak perlu,aku akan memakannya..." ucap Sebastian dengan nada seriusnya dan wajah pasrahnya saat ia sudah memilih apa yang akan ia lakukan,sambil menahan pelan pergelangan tangannya Jennifer.

__ADS_1


Rasanya ia ingin sekali membiarkan Jennifer untuk membawa pulang saja,makan siang tersebut.Tapi,ia malah merasa tidak tega saat ia melihat wajah kecewa dan sedihnya Jennifer tadi.Apa lagi,saat ia mendengar kalau Jennifer sendiri yang memasakannya dengan susah payah.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan wajah tidak percayanya,sambil menelisik wajah datarnya Sebastian.


"Iya.Jika kamu masih tetap ingin membawa pulang,aku tidak akan menahannya lagi..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,saat ia melihat Jennifer yang sama sekali tidak berniat untuk menarik tangannya kembali.


"Tidak,aku tidak akan membawa pulang" ucap Jennifer dengan cepat dan wajah yang tersenyum senang,sambil menarik tangannya dengan cepat karena pegangannya Sebastian tidak begitu erat.


"Kalau begitu,sekarang kita makan.Kamu harus mencobanya,dan memberitahuku apa rasanya..." lanjut Jennifer dengan nada senangnya,sambil mengambil 2 macam masakannya tersebut secara bergantian,dan meletakkannya kepiringnya Sebastian.


'Wanita ini,seperti tidak ada bahan makanan yang lain saja.Yang benar saja,aku harus memakan ini' batin Sebastian dengan wajah pasrahnya,sambil menatap tenang kearah piringnya yang sudah dipenuhi dengan nasi dan juga 2 makanan yang dimasakkan oleh Jennifer tersebut.


Bukan apa-apa,ia hanya tidak begitu suka dengan baunya petai,dan harus butuh 24 jam baru bau petainya akan menghilang,itupun kadang masih belum menghilang sepenuhnya.


"Apa kamu masih ingin menatapnya saja,lalu sebentar lagi kamu akan berubah pikiran?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,saat ia melihat Sebastian yang kembali hanya menatap saja,makan siang tersebut.


"Baiklah,aku akan mencobanya..." jawab Sebastian dengan nada pelannya,sambil menyendok nasi berserta petainya setelah ia sudah selesai menarik napas dalam-dalam.


"Bagaimana?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,sambil terus menatap ekspresi wajah datarnya Sebastian yang sedikit berubah menjadi seperti kecut-kecut gitu,tapi hanya sekilas saja.


"Enak..." jawab Sebastian dengan nada pelannya,sambil terus mengunyah Bukannya ia sengaja ingin berbohong,rasanya memang tidak begitu buruk,tapi dirinya memang tidak begitu menyukai petai,belum lagi rasa yang lainnya.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan kedua mata yang semakin menelisik.


"Benar.Apa kamu hanya ingin menatapku saja,dan melewatkan makan siangmu?" jawab Sebastian dan sekalian bertanya,saat ia melihat tatapannya Jennifer yang terus tertuju untuknya.


"Kalau saja,perutku tidak akan bisa merasakan lapar,aku pasti lebih memilih untuk terus menatapmu saja..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,karena Sebastian kembali memuji masakannya,walaupun harus ia tanyakan terlebih dahulu.


Sedangkan Sebastian,ia hanya tersenyum didalam hatinya saat ia mendengar leluconnya Jennifer barusan,sambil terus menyendok makan siangnya tersebut,begitu juga dengan Jennifer.


'Untung saja,masih ada pelengkap yang lainnya lagi...Jika tidak,ntah aku harus makan berapa banyak petai untuk menyenangkan hatinya' batin Sebastian dengan wajah santainya,saat ia melihat kalau Jennifer juga memasak daging sapi asam manis.


Ia memang sering memerhatikan apa saja yang dimasak oleh Ibunya,tapi hanya 1 macam petai saja yang hampir tidak pernah ia makan,setelah pernah ia makan 1 kali hari itu,dan ia sangat tidak menyukai rasa petainya.


"Yang ini lebih enak..." puji Sebastian tiba-tiba dengan nada santai dan wajah seriusnya,sambil terus menyendok tanpa menatap kearah Jennifer yang langsung tersenyum lebar karena merasa terlalu senang.


Karena rasanya daging sapi asam manis tersebut memang lebih lumayan enak karena rasanya yang lumayan pas,beda dengan rasanya petai yang agak pahit dan juga agak asin tadi,hanya saja ia tidak mau mengatakan yang lebih jujur lagi pada Jennifer,supaya Jennifer tidak menampilkan wajah sedihnya lagi.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada senangnya,sambil menghentikan makannya dan menatap Sebastian yang sedang menyendok daging sapi asam manis tersebut.


"Hm... jawab Sebastian dengan singkat,tanpa menghentikan makannya,dan bertepatan dengan suara nada pesan masuk diHPnya Jennifer.Tapi Sebastian hanya cuek saja,karena ia sudah bisa menebak siapa pengirim tersebut.


"Apakah kamu tahu,kalau aku sangat senang mendengarnya.Aku pasti bisa menjadi seorang Ibu rumah tangga yang baik nanti..." ucap jennifer dengan nada seriusnya dan wajah tersenyum yakinnya,sambil melanjutkan makan siangnya dan mengabaikan pesan masuk tersebut yang ia sudah tahu dari siapa karena ia memang selalu menyimpan berbeda suara pada nada pesan masuk masing-masing kontak yang ada didalam Hpnya.

__ADS_1


'Seorang Ibu rumah tangga?' batin Sebastian didalam hatinya dengan kening yang mengernyit heran,sambil melirik ekspresi yakin diwajahnya Jennifer,tapi secara tidak sengaja ekor matanya malah melihat kedua telunjuknya Jennifer yang sedang ditempel dengan plester luka.


__ADS_2