
Jadi,bisa dikatakan kalau Sebastian memang tidak memiliki satupun sahabat wanita,kecuali Elisa. Itupun,dengan Elisa juga jarang ia ajak ngobrol, seperti yang dilakukan oleh Elvan bersama Jennifer selama beberapa hari ini.
Karena jika akan mengobrol,mereka hanya akan mengobrol,bercanda,saling menggoda,saat bersama yang lainnya saja,hingga akan ber 4 dan kadang ber 3.
"Auchk auchk..." baru saja Elvan menyelesaikan kalimat pertanyaannya,langsung kembali terdengar suara pekikan sakit yang kuat dari mulutnya,hingga membuat Jennifer dan juga Billy menjadi kaget tapi tidak sampai terlonjak kaget.
"Auchk,sakit sekali...Apa yang telah kamu lakukan pada lutut kakiku? Kenapa tiba-tiba saja,kamu menyerangku?" Elvan kembali mengaduh sakit karena walaupun tidak sebegitu sakit,tapi lumayan sakit untuk ia rasakan.
Iapun langsung bertanya dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengelus-elus lutut kakinya dengan gerakan cepatnya karena masih terasa lumayan sakit.
"Aku tidak melakukan apa-apa,sedari tadi... Memangnya,kamu melihat kalau aku telah melakukan sesuatu terhadap lutut kakimu itu,hm?" jawab Sebastian,ia juga bertanya balik dengan nada santainya dan tersenyum puas dibalik wajah datarnya.
Ia bahkan,menendang lutut kakinya Elvan dengan sepatu kulitnya dan hampir kekuatan penuh,karena rasa geram dan kesalnya itu.Jika saja tadi ia tidak menahan diri dan menendang dengan kekuatan penuhnya,mungkin saja kaki sahabat baiknya itu pasti akan retak atau mungkin akan patah tulang.
Sedangkan Elvan,ia hanya mampu langsung mendengkus kesal saja,sambil terus mengelus-elus lutut kakinya yang memang masih terasa berdenyut sakit itu.
"Elvan,apa yang telah terjadi dengan kakimu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah khawatirnya dan juga bingung,setelah ia sudah tersadar dari rasa kagetnya tadi,sambil berniat ingin berdiri dari duduknya,supaya ia bisa melihat keadaan kakinya Elvan lebih dekat lagi.
Tapi...
"Duduk...Atau aku akan membunuh sahabat dekatmu ini,sekarang juga..." ucap Sebastian dengan nada mengancamnya dan wajah tegasnya, sambil menahan rasa kesalnya dan juga lengannya Jennifer.
Apa lagi,saat ia melihat ekspresi wajah khawatirnya Jennifer tersebut.Tapi tentu saja,ancaman yang barusan itu hanya bohongan saja.Ia bahkan harus menatap lebih tajam kearah Jennifer,bukan seperti tatapan tajam santainya tadi lagi.
Sekesal apapun perasaannya terhadap Elvan saat ini,ia tidak mungkin akan sampai membunuh sahabat baiknya yang telah bersamanya dan selalu ada untuknya itu.Maka dari itu,hanya dengan memberi sedikit pelajaran seperti barusan saja, yang hanya bisa ia lakukan saat ini.Setidaknya,bisa untuk mengurangi segala rasa kesalnya tersebut.
Dan untuk Erik dan Elisa,mereka ber 3 sama berharganya untuknya,karena mereka tidak akan mungkin menghianatinya.Tapi untuk hal yang satu ini,ia akan memastikannya terlebih dahulu,baru ia akan bertindak untuk yang lebih seriusnya dan tegasnya lagi.
Jennifer yang baru saja ingin memberi kalimat keberatan itupun langsung terdiam dan menuruti katanya Sebastian barusan,karena selama ia bersama Sebastian,baru kali ini pertamanya ia melihat tatapan tajamnya Sebastian tersebut.
Sebenarnya ia ingin sekali tertawa didalam hatinya, tapi ia juga merasa bersalah terhadap Elvan,hingga iapun hanya mampu tetap mempertahankan wajah keberatan dan tenangnya yang dipenuhi akting tersebut.
Tapi tidak dengan Billy,yang langsung tertawa lucu didalam hatinya,saat ia melihat Elvan yang baru saja mendapatkan akibat dari mencoba bermain-main dengan Tuan Mudanya.
"Dan kamu,Elvan...Apa kamu lupa,kalau aku ini siapa? Jika aku ingin,tanpa sahabat wanita satupun,aku akan tetap dengan mudah untuk mendapatkan wanita manapun yang bisa aku bawa untuk sarapan dan makan siang seperti yang kalian lakukan ini..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah Elvan.
Dan tatapan tajam yang sama untuk Jennifer itupun mampu membuat Elvan menelan lud*h dengan susah payah,bahkan wajah kesalnya tadi langsung berubah menjadi waspada,mana tahu saja Sebastian kembali menyerangnya dengan tiba-tiba seperti tadi.
"Bahkan jika aku memang ingin,mereka pasti akan dengan senang hati melaya............." lanjut Sebastian dengan nada angkuhnya,tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya,Jennifer sudah duluan menyelanya dengan cepat.
"Apa maksudmu,sekarang kamu sedang kekurangan istri atau wanita,hm?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang memberengut kesal, sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangannya Sebastian tadi yang memang masih belum melepaskan tangannya.
__ADS_1
Tapi genggaman tersebut bukan malah terlepas, karena nyatanya genggaman tersebut, semakin ingin melepaskannya,malah semakin erat.
"Cepat lepaskan tanganku..." pinta Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin kesal,karena Sebastian tetap tidak mau melepaskan tangannya.
Rasa kesalnya semakin menjadi-jadi,saat ia memikirkan tentang apa isi lanjutan suaminya barusan.Ia bahkan,melupakan akting dari misinya mereka tersebut.
"Maka dari itu,kamu harus mendengar apa yang telah aku katakan tadi dengan baik.Bukankah,tadi aku telah mengatakan,kalau aku memang ingin saja..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,tapi tatapan tajamnya masih saja tidak mengurang sedikitpun.
"Apa sekarang kamu masih ingin mencari perhatian dari pria lain lagi,hm?" lanjut Sebastian,ia bertanya dengan nada pelannya dan kedua mata tajam yang menelisik kearah wajah kesalnya Jennifer.
"Tentu saja,aku masih ingin.Lagi pula,aku tidak masalah kamu ingin menikahi berapa istri.Jadi silakan saja,jika kamu memang menginginkan yang seperti kamu katakan tadi..." jawab Jennifer dengan cepat saat ia baru saja tersadar dengan kesalahannya tersebut,sambil menetralkan rasa kesalnya.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal,lalu kembali keekspresi sebelumnya,karena ia tidak mau terus berdebat dengan Jennifer, dihadapannya Elvan.
"Ini baru peringatan kecil untukmu,karena kamu telah berani tersenyum dan merasa khawatir untuk pria lain.Sekarang kamu dengar baik-baik,aku akan katakan padamu untuk pertama dan terakhir kalinya saja...Siapa yang telah berani masuk kedalam hidupku,aku tidak akan pernah melepaskannya untuk seumur hidupnya.Dan jika kamu tetap memaksa,untuk terlepas dariku. Jangan salahkan aku,kalau kamu akan kehilangan tanganmu ini nanti..." lanjut Sebastian dengan nada mengancamnya,pelan,tegas dan seriusnya,tapi masih bisa didengar oleh Jennifer,Elvan,dan juga Billy.
Pagi ini Sebastian seperti orang bod*h,karena sedari tadi ia terus melontarkan ancaman yang tidak akan benar-benar ia lakukan. Padahal biasanya,setiap ancamannya akan ia lakukan tanpa ada yang kurang sedikitpun.
Jennifer yang memang tidak sanggup melepaskan genggaman tersebutpun,mau tidak mau ia harus memilih untuk menyerah saja,dari pada pergelangan tangannya menjadi lecet nanti.Dan lagi pula,yang mengenggamnya juga suaminya sendiri,jadi tidak akan jadi masalah buatnya.
'Awas saja,jika kamu memang benar-benar ingin menikahi banyak istri nanti.Aku pasti akan langsung menghilangkan benda bawah milikmu itu,dengan cara apapun...' Jennifer hanya mampu membatin saja,karena ia juga merasa takut dengan tatapan tajamnya Sebastian tersebut.
Sedangkan Elvan,ia hanya mampu terdiam saja,sambil mengurangi cepat gerakan elusannya pada lutut kakinya karena rasa sakitnya sudah lumayan mendingan.
Lagi pula perkataannya Sebastian itu memang benar adanya,dan ia juga tidak mau kalau dirinya kembali terkena masalah,kalau-kalau dirinya akan salah bicara nanti.
Tapi Elvan juga langsung tersenyum senang dan puas,karena dari perkataan panjang lebarnya Sebastian barusan,sepertinya Sebastian sudah mulai menyadari perasaannya terhadap Jennifer,sedikit demi sedikit.
Begitu juga dengan Billy yang sedari tadi hanya menampilkan wajah tenangnya saja itupun,ia langsung tersenyum senang selama beberapa detik.
Apa lagi,saat ia mendengar kalau barusan Tuan Mudanya baru saja mengakui Nona Muda sebagai miliknya secara tidak langsung.Lalu iapun melanjutkan senyum senangnya didalam hatinya lagi,karena takut ketahuan oleh Tuan Mudanya.
Tapi sayangnya,tidak dengan Jennifer yang hanya fokus pada perasaan kesalnya saja.Walaupun ia juga tetap mencoba untuk mencerna kalimat panjang lebar suaminya tersebut,tapi nyatanya ia hanya menemukan jawaban yang buntu.
"Dan kamu...Apa kamu masih berniat ingin mendekati istriku lagi,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil meminum pelan milk shake miliknya tadi,dan juga mengalihkan tatapan tajamnya kearah Elvan yang langsung menjadi kebingungan..
Jika saja Elvan memiliki orang terdekat atau tersayang yang bisa ia gunakan sebagai ancaman, pasti sudah ia lakukan sedari tadi,karena nyatanya Elvan adalah anak tunggal.
Terlebih lagi,Elvan sama sekali tidak pernah memiliki kekasih selama hidupnya hingga sekarang.Kedua orang tuanya,apa lagi.Karena kedua orang tuanya telah lama resmi bercerai,dan tidak pernah begitu memperdulikan hidupnya lagi, dan Ayahnya hanya akan sebatas mengirim uang saja.
Itupun sudah 1 tahun ini Ayahnya tidak mengirim uang untuknya lagi,dengan alasan kalau sekarang dirinya sudah bisa mencari uang sendiri dengan baik.Jadi berkat semua itu,rasa sayang dan perdulinya Elvan terhadap mereka sebagai anakpun,semakin lama semakin mengurang hingga sekarang hampir tidak tersisa sedikitpun lagi.
__ADS_1
"Mungkin tidak,mungkin juga iya..." jawab Elvan dengan nada dan wajah yang berusaha tetap tenang,sambil membalas tatapan tajamnya Sebastian dengan tatapan santainya.
Ia tidak mungkin tidak melanjutkan apa yang telah menjadi tugasnya tersebut,karena misinya Jennifer yang telah menjadi misi mereka itu,mungkin saja sedikit lagi akan berhasil.
Dan ia benar-benar berdoa dan berharap didalam hatinya,kalau setelah ini,sahabatnya Sebastian akan segera membelah durian,supaya ia tidak akan menderita seperti ini lagi.Begitu juga dengan Billy, yang sepemikiran sama Elvan.Mereka berdua, hanya mampu terus berdoa didalam hati mereka saja.
"Cih...Aku baru tahu,ternyata kamu seorang pria yang pemberani juga,ya...Sekarang,aku menjadi penasaran... Apakah sampai sekarang,kamu masih takut dengan ulat bulu,hm?" tanya Sebastian dengan nada menyindirnya,lalu disusul dengan wajah tersenyum mengejeknya.
Ia bahkan harus menyembunyikan rasa tidak sukanya pada minuman milk shake tersebut,dibalik wajah tersenyum mengejeknya itu.Padahal biasanya,ia hanya akan meminum minuman seperti,Flavoured Tea, Fruit Tea, atau kopi saja,jika dipagi hari seperti ini.Tapi lihatlah,ia harus meminum Milk Shake pagi ini,berkat Asisten kurang ajarnya itu.
"Cih..." kali ini gantian Elvan yang langsung berdecih kesal,sambil menahan malu karena ada Jennifer yang bersama mereka saat ini.
Ia tidak menyangka,kalau ternyata Sebastian masih mengingat jelas tentang phobia menyebalkannya itu.Padahal sudah sangat lama,sejak ia bercerita pada 2 tahun yang lalu.
Sedangkan phobia ulatnya ini,hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya,termasuk Erik,Elisa dan juga Sebastian dan mungkin juga Billy.Tapi sekarang,bertambah satu lagi orang yang sudah mengetahuinya.
"What? Apakah yang dikatakan oleh Sebastian barusan,benaran?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil mengalihkan tatapan kesalnya tadi kearah Elvan.
"Iya..." Elvan hanya mampu menjawab singkat saja,karena hanya fokus untuk menyembunyikan rasa malunya saja ,walaupun masih tetap saja sedikit terlihat.
Dan hal tersebut,mampu membuat Jennifer dan Billy menahan senyum,kecuali Sebastian yang masih tetap dengan wajah datarnya dan tajamnya itu.
"Sudah.Sekarang, lebih baik kita pulang saja..." ajak Sebastian dengan nada tegasnya,sambil berdiri dari duduknya dan menarik pelan tangan istrinya, sebelum Jennifer sempat berkata apapun pada Elvan lagi.
Ntah kenapa,sekarang ia malah menjadi tidak suka melihat,kalau Jennifer berbicara panjang lebar dengan Elvan atau pria lain.Padahal sebelum- sebelumnya,ia hanya akan biasa-biasa saja.
"Tapi......." Jennifer tidak melanjutkan perkataannya lagi,karena tangannya ditarik paksa oleh suaminya,walaupun dengan genggaman pelannya.
Setelah sudah melangkah beberapa langkah, Sebastian menghentikan langkahnya dan berbalik badan kearah Elvan yang masih menampilkan wajah kesalnya sedari tadi.
"Dan untuk kamu,satu lagi...Jangan pernah,aku melihat atau mendengar kalau kamu berani menggombal istriku lagi.Jika tidak, aku pasti akan dengan senang hati membuatmu tidak bisa berbicara lagi..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya dan juga tegas,sambil menelisik wajah kesalnya Elvan yang tidak ada merasa takut padanya sedikitpun.
Ya,walaupun ia juga tahu kalau Elvan memang sangat jarang takut padanya.Tapi menurutnya, Elvan tidak mungkin juga,sampai sebegitu berani ingin merebut istrinya dari genggamannya bukan...
Setelah ia selesai memberi peringatan dan ancaman tidak bergunanya itu,Sebastian kembali berbalik badan dan langsung berjalan pergi dari sana dengan langkah lebarnya,tanpa memperdulikan wajah kesalnya Elvan lagi.
Ia juga meninggalkan setengah gelas minumannya,Milk Shake yang memang tidak pernah ia sukai.
Jennifer yang harus mengikuti langkah lebar suaminya itupun,hanya mampu memberi isyarat minta maaf dan disertai ekspresi bersalah,dengan menunduk pelan sebanyak beberapa kali kearah Elvan yang langsung menanggapinya,dengan senyuman kecil dan gelengan kepala yang menandakan tidak masalah.
Tapi didalam lubuk hatinya yang paling dalam,pagi ini Jennifer merasa sangat bahagia dan juga senang,karena suaminya datang membawanya pulang dengan terang-terangan pagi ini,ditambah lagi dengan kata "istriku" yang jarang ia dengar itu.
__ADS_1