
Sedangkan Sebastian,ia langsung mendengkus kesal,sambil duduk diatas motornya ,saat ia mendengar jawabannya Asisten tersebut.Rasa lelahnya sudah mulai tidak terbendung lagi saat ini,ditambah lagi dengan suasana hatinya yang tidak menentu sedari tadi.Jadi yang ada dibenaknya saat ini hanya kasur,bantal dan bantal gulingnya saja.
"Kalau bisa,aku juga akan membunuh Tuanmu itu saat ini juga" gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,tapi masih bisa didengar jelas sama Asisten tersebut.
"Bilang sama Tuan kalian,terima kasih untuk kemeja dan bantuannya" lanjut Sebastian lagi,dengan nada tulusnya yang agak sedikit tinggi sambil menahan rasa ngilu disudut bibirnya karena terkena bogeman mentahnya Irfan tadi.
Lalu iapun langsung menyalakan motornya dan melaju dengan melewati Asisten tersebut,tanpa mendengar jawaban dari Asisten tersebut lagi.
"Baik,Tuan Muda" jawab Asisten tersebut dengan cepat,walaupun ia tahu kalau suaranya akan menyatu dengan suara berisik motor butut calon Tuan Mudanya.
"Benar-benar calon Tuan Muda yang tepat.Aku rasa,kami semua akan menyukaimu dimasa depan nanti,Tuan Muda..." lanjut Asisten tersebut lagi, dengan jujur dan nada pelannya,sambil terus menatap punggungnya Sebastian yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.
Lalu iapun segera berjalan pergi dari sana dengan wajah tersenyum lucunya,saat ia kembali mengingat kata-kata dan tingkah-tingkah lucunya Sebastian sedari tadi.
Beberapa menit kemudian...
"Tuan,apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Asisten tersebut setelah ia sudah berada didalam mobil yang ditempati oleh Tuannya sedari tadi.
"Kita tunggu sampai besok lagi,baru akan aku pikirkan lagi harus bagaimana..." jawab Tuannya yang selalu Sebastian panggil dengan sebutan pak tua atau paman itu,sambil menyimpan earphone yang baru saja ia lepaskan dari kedua telinganya kedalam saku celananya.
Earphone yang berfungsi sebagai pendengarnya tentang apa saja yang sedang dibicarakan oleh Sebastian tadi.
"Baik,Tuan" jawab Asisten tersebut dengan cepat,saat ia sudah mengerti apa maksud dari Tuannya barusan.Lalu ia pun segera melajukan mobil,saat ia melihat Tuannya yang langsung memejamkan kedua matanya dengan posisi bersandar yang memang sudah sedari tadi.
'Kamu memang pria yang pantas untuk menjaga dan melindungi keponakan-keponakan cantikku itu.Mungkin,sebentar lagi,aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang keselamatan keponakan-keponakanku,karena sudah ada pria tangguh yang akan melindungi mereka berdua' batin Tuannya didalam hati dengan perasaan yang lega,tanpa membuka kedua matanya.
"Segera kirim video tadi kepada keponakanku..." perintah Pak tua tersebut lagi,dengan nada pelannya.
"Baik, Tuan" jawab asisten tersebut dengan cepat ,sambil menelepon salah satu anak buahnya untuk mengirim video yang telah mereka rekam tadi,ke Nona Mudanya mereka sekarang juga.
Dikediamannya Naava...
Seorang wanita cantik sedang tersenyum-senyum sendiri sambil menonton video yang baru saja masuk diHPnya ,video yang telah dikirimkan oleh pamannya dari seberang sana.
"Aku pasti akan segera mendapatkan hatimu ,setelah ini..." gumam wanita tersebut dengan nada pelan dan ekspresi yakin dan terus tersenyum senang yang sedang memenuhi wajahnya.
***
Besok paginya...
"Tok tok tok"
" Kakak,apa hari ini kamu tidak berkerja? Jangan salahkan aku kalau kamu akan terlambat berkerja lagi untuk ke 2 kalinya..." hari sudah siang,tapi malah terdengar suara ketukan pintu yang sedikit keras dan suara teriakan kesalnya Stella secara bergantian,karena sibuk memanggil kakaknya yang tidak mau bangun sedari 1 jam yang lalu ia memanggilnya.
Awalnya ia tidak mau perduli,karena mau kakaknya pergi berkerja ataupun tidak,itu bukan urusannya.Tapi Ayah dan Ibunya selalu saja memerintahkan dirinya untuk memanggil kakaknya,hingga mau tidak mau,ia harus bolak balik antara dapur dan kamar kakaknya untuk beberapa kali selama 1 jam kebelakang tadi.
Beberapa detik kemudian...
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang telah terbuka dati dalam,tepat dihadapan wajah kesalnya Stella yang sedang menatap kesal kearah kakaknya yang sedang menampilkan wajah ngantuknya yang kedua matanya masih belum terbuka dengan sempurna dan rambut yang masih berantakan,dengan kepala yang sedang bersandar didaun pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kakak...Apa kamu tidak tahu malu? Dan kenapa kamu sangat jorok..." teriak Stella dengan nada yang lebih tinggi dari yang sebelumnya.Ia langsung menutup kedua matanya dengan kedua tangannya yang masih menyisakan sedikit celah diarea matanya,saat kedua matanya beralih pada dada dan perut sixpack kakaknya yang tidak memakai kain apapun.
"Apa kamu tidak bisa lihat,kalau masih jam 4 subuh lewat begini...Kenapa sedari tadi,kamu terus berisik didepan kamarku? Apa kamu tahu,kalau kamu sangat menganggu waktu tidurku?" tanya Sebastian bertubi-tubi dengan nada kesalnya,sambil mengucek pelan kedua matanya yang masih dikuasai oleh rasa ngantuknya.
Dan ia mengabaikan umpat-umpatan kecilnya Stella tadi,ia sudah terbiasa bertelanjang dada disetiap saat bangun tidur ataupun ketika mau tidur.Dan ia selalu memakai bajunya dulu baru akan keluar dari dalam kamarnya,tapi kali ini ia terlalu ngantuk untuk mampu memikirkan tentang dadanya yang tanpa kain apapun itu
Lagi pula,ia tidak masalah kalau tubuhnya yang bertelanj*ng dada tersebut akan dilihat oleh adiknya,Ibunya dan Ayahnya saja.
"Subuh?" tanya Stella balik dengan wajah bingungnya,sambil menatap tidak percaya kearah wajah ngantuk kakaknya,melalui celah-celah dijarinya.
"Iya.Apa kamu masih tidak mengerti tentang angka-angka,sampai harus menganggu tidurku seperti ini?" tanya Sebastian lagi,dengan nada kesalnya,dan masih dengan posisi tubuh dan tangan yang sama seperti tadi.
"Kakak,aku rasa kamu sendiri yang tidak mengerti tentang angka-angka.Apa kamu tidak bisa melihat dengan jelas terik matahari disana yang sudah meninggi itu.Sudah siang,tapi kakak malah bilang masih jam 4 subuh.Ya,Tuhan.Apa yang sebenarnya,yang telah terjadi sama kakak? "jawab Stella dengan nada kesalnya yang bercampur dengan perasaan heran dan juga penasaran,tanpa menjauhkan kedua tangannya dari wajahnya.
Walaupun tubuh kekar yang dipenuhi bentuk-bentuk dadu itu milik kakaknya sendiri,tapi tetap saja ia bisa merasa malu.Apa lagi,kakaknya memang sangat jarang berdiri diambang pintu dengan tubuh tanpa pakaian seperti ini.
"Apa kamu sedang mengerjaiku,hm?" tanya Sebastian dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil berbalik badan dan berjalan masuk beberapa langkah kedalam kamarnya dengan pintu yang terbuka semakin lebar dan gerakan yang perlahan-lahan,karena ia mengira kalau adik perempuannya memang sedang ingin mengerjai dirinya saja.
Sedangkan Stella yang sibuk menutup wajahnya tadi,ia segera beralih menutup kedua telingannya dengan kedua mata yang terpejam rapat,dan tetap dengan posisi tadi yang sedang berdiri didepan pintu kamar kakaknya.
"****..." umpat Sebastian dengan nada tingginya dan wajah kagetnya,saat ia melihat jam dinding miliknya yang sudah menunjukkan jam 9 pagi lewat.Ternyata angka 4 yang ia kira jam 4 subuh lewat tadi,berada dijarum panjang,bukan dijarum pendek.Karena terlalu ngantuk,ia sampai tidak bisa membedakan mana jarum pendek dan mana yang jarum panjang.
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekaramg?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,lalu ia kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil baju gantinya.
"Sudah siang begini,baru kamu mau membangunkanku.Kalian para wanita memang sangat menyebalkan"
"Brak"
Tanpa sadar,kata menyebalkan itu sebenarnya tertuju untuk Jennifer secara tidak langsung.
Lalu ia langsung berjalan kearah kamar mandi dengan langkah buru-burunya,tanpa menunggu jawaban dari Stella lagi.
"Kakak,kamu itu yang menyebalkan" ucap Stella dengan nada tingginya dan wajah kesalnya,sambil terus menatap kesal kearah punggung lebar kakaknya hingga menghilang dibalik pintu kamar mandi tersebut.
"Apanya yang baru...Padahal aku sudah bolak balik selama 1 jam,dan aku juga berteriak,mengetuk sebanyak 6 kali didepan sini,tapi kakak tidak juga bangun-bangun.Sekarang,kakak malah mengatakan kalau para wanita memang sangat menyebalkan.Kakak sendiri yang menyebalkan..." lanjut Stella lagi,dengan menggerutu kesal dan mulai berjalan kearah tempat kedua orang tuanya berada.
"Para wanita? Kenapa nada bicara dan kata-kata kakak seperti sedang memiliki dendam sama wanita saja.Tapi kenapa malah aku yang kena...Padahal gara-gara kakak,aku juga harus ikut-ikutan terburu-buru kekampus sekarang...Dasar,pria menyebalkan..." sepanjang ia berjalan kedapur,Stella tidak berhenti-henti menggerutu kesal.
"Ibu,Ayah,sebenarnya apa yang sedang terjadi sama kakak? Hari ini,kakak sangat aneh...Dan sangat menyebalkan..." tanya Stella dengan wajah yang masih saja kesal,setelah ia sudah duduk dimeja dapur dengan kedua orang tuanya yang masih duduk santai disana.
Ibu dan Ayahpun langsung tersenyum lucu saat mereka berdua melihat putri mereka yang sedang memberengut kesal sambil meminum sisa susu yang dia buat sendiri tadi,karena terlalu sibuk memanggil kakaknya,susu yang putri mereka buatpun sampai tidak habis-habis.
"Ntahlah,Ibu juga tidak tahu" jawab Ibu dengan jujur dan nada bingungnya karena ia dan suaminya juga memang benar-benar tidak tahu.
Apa lagi,tadi malam Sebastian pulang saat mereka ber 3 sudah tertidur pulas.Jadi,mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah terjadi pada putra mereka itu.
Sedangkan Ayah,ia hanya mengedikkan kedua bahunya saja, saat putri mereka beralih menatap kearah dirinya,pertanda kalau ia juga tidak tahu.
"Ibu,Ayah,aku pergi dulu ya..." pamit Sebastian dari belakang mereka, dengan suara yang terdengar sedikit kewalahan,karena sedari tadi ia mandi,memakai kemeja dan yang lainnya dengan cepat.
__ADS_1
"Nak,tadi Ibu ada masak sedikit nasi goreng.Ini bawalah,dan makanlah saat sudah sampai ditempat kerjamu nanti" panggil Ibu dengan cepat sambil membawa bekal yang sudah ia siapkan tadi,dan berjalan pelan kearah Sebastian yang menghentikan langkah buru-burunya tadi.
Ibu sudah menyiapkan bekal untuk Sebastian sedari tadi,karena sudah tahu pasti akan seperti ini.
"Baik,Bu.Cup..." jawab Sebastian dengan cepat,sambil mengecup sekilas pipi chubby Ibunya dan mengambil bekal sarapan yang sedang disodorkan oleh Ibunya.
Lalu ia langsung berjalan keluar dari dalam rumah dengan langkah lebarnya,karena ia sudah sangat terlambat dengan jam yang sudah menunjukkan hampir jam 10 pagi saat ini.
Sedangkan Ibu,ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang tersenyum heran sambil melihat punggung lebarnya Sebastian.
Dan gerakan kepala dan senyumannya Ibupun langsung diikuti oleh Ayah dari meja makan sana.Berbeda dengan Stella yang hanya terus menampilkan wajah kesalnya saja.
40 menit kemudian...
Setelah melajukan motornya selama kurang lebih 40 menit,Sebastianpun sampai juga di Restoran tempat ia berkerja.
Sebastian segera berjalan masuk kedalam Restoran tersebut dengan langkah tegasnya,dan mengabaikan tatapan heran yang bercampur penasarannya semua Staf ataupun para karyawan Restoran tersebut.
Ia hanya menatap datar sebentar kearah Erik,Elvan dan Elisa yang sedang berdiri rapi disudut meja bar sana dengan kepala yang sedikit menunduk,tanpa menghentikan langkahnya yang menuju kearah ruangan istirahat pribadinya.
"Apakah telah terjadi sesuatu tadi malam?" tanya Erik dengan wajah penasarannya,sambil terus menatap punggung lebarnya Sebastian yang sudah menghilang dibalik pintu ruangan tersebut,begitu juga dengan Elvan dan Elisa.
"Aku rasa,memang telah terjadi sesuatu..." jawab Elisa dengan nada pelannya.
Bahkan semua Staf yang ada disana tidak mampu memberi mereka jawaban,karena percakapan dan kebersamaannya Sebastian dan Jennifer tadi malam,terhalang oleh beberapa pria tegap.Begitulah jawabannya mereka tadi,saat Erik bertanya.
Dan mereka heran dan juga penasaran sekaligus,karena mereka mengira kalau mereka akan mendapatkan amukan ataupun hukuman dari Sebastian.Tapi nyatanya...
Ditambah lagi,dengan keterlambatannya Sebastian untuk kedua kalinya...
"Aku rasa juga begitu..." timpal Elvan,sambil bertanya-tanya didalam hatinya,tentang apa sebenarnya yang telah terjadi sama sahabat mereka itu.
"Ntahlah..." ucap mereka ber 3 lagi,secara bersamaan.Karena tadi malam mereka ber 3 langsung pulang tanpa menatap kebelakang lagi,bahkan hanya sekedar untuk berpamitan saja,mereka tidak berani.
Hingga membuat mereka sama sekali tidak tahu apa-apa,dan hanya mampu terus bertanya-tanya didalam hati mereka.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menyantap bekal yang diberikan oleh Ibunya tadi dengan lahap.Setelah itu,ia langsung mengerjakan tugasnya seperti biasanya.
Beberapa jam kemudian...
"Kira-kira,apa yang sedang dilakukan oleh Sebastian didalam sana?" tanya Elisa yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya yang sudah tidak berujung itu.
Ia sedang duduk bersama Erik dan Elvan dimeja bar tersebut sedari tadi,dan ekspresi wajah mereka ber 3 tetap seperti 2 jam yang lalu.
Setelah selesai makan siang tadi,Sebastian langsung masuk kedalam ruangannya dan sampai sekarang Sebastian masih belum keluar.
Padahal sudah 3 jam lamanya Sebastian terus berada didalam sana dan belum keluar-keluar,mereka ber 3 tidak pernah melihat tingkah Sebastian yang seperti ini.
Dan yang lebih parahnya lagi,sedari datang tadi,Sebastian tidak mengatakan sepatah katapun pada mereka.Bahkan,untuk sedikit senyuman saja,sama sekali tidak terlihat diwajahnya Sebastian tadi.
__ADS_1
Hanya saja mereka ber 3 merasa aneh dengan mata pandanya Sebastian yang lumayan terlihat jelas dan juga dengan sudut bibirnya Sebastian yang sedikit membiru,tapi mereka tidak berani bertanya saat mereka ber 3 melihat wajah datarnya Sebastian tadi.Bahkan mereka ber 3 baru berani mengangkat kepala,saat Sebastian sudah berjalan melewati mereka tadi.