
Sedangkan Billy,ia terus saja mengikuti langkah Nona Mudanya dari belakang,sambil sibuk terus memberi kode pada setiap para karyawan yang sedang berjalan berpapasan dengan mereka berdua,karena ia takut akan ketahuan oleh Nona Mudanya kalau dirinya Asisten Tuan Mudanya.
"Dan semoga saja,Sebastian menyukai makan siang yang sudah aku buat dengan susah payah ini" lanjut Jennifer lagi,dengan senyum merekahnya,sambil terus berjalan kearah meja resepsionis sana.
"Dimana ruangan Tuan Presdir kalian?" tanya Jennifer dengan wajah ramahnya,sambil menatap kearah 2 wanita yang bertugas sebagai resepsionis tersebut yang langsung menelisik dirinya.
"Maaf Nona,apakah Nona sudah membuat janji sama Tuan Presdir?" tanya wanita tersebut dengan nada sopan dan wajah penasarannya,sambil terus menelisik wanita cantik yang ada dihadapannya yang terlihat hampir sempurna tersebut,hingga ia tidak memerhatikan Billy yang sedang memberi kode pada temannya yang memang sudah memerhatikan sedari jauh tadi.
Apa lagi,ditambahkan lagi dengan dress indah yang telah melekat ditubuh wanita cantik tersebut.
"Belum,tapi........"jawabannya Jennifer langsung disela dengan cepat oleh wanita yang satunya lagi.
"Nona,tidak masalah,kalau Nona belum membuat janji.Mari,aku akan membawa Nona Keruangan Tuan Presdir sekarang juga" sela wanita yang satunya lagi,dengan wajah ramahnya dan bersiap-siap ingin mengantar Nona tersebut keruangannya Tuan Presdir,sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Kita akan dimarahi nanti,kalau kita sembarangan mengizinkannya..." tanya temannya dengan wajah herannya sambil mengikuti kode mata temannya,saat ia melihat temannya yang begitu berani membawa tamu tanpa mendapatkan izin janji temu dulu.
"I iya,maafkan kami Nona.Sekarang juga,teman aku akan segera mengantar Nona keruangan Tuan Presdir" lanjut wanita tersebut dengan cepat dan nada gugupnya setelah ia mendapatkan tatapan tajam dari Billy yang baru saja ia sadari keberadaannya,sambil sedikit mendorong teman satunya lagi yang sedang menahan tawanya dan juga rasa takutnya.
"Baiklah,terima kasih" jawab Jennifer dengan nada bingungnya,tapi walaupun bingung,ia tetap mengikuti langkahnya wanita tersebut yang sedang berjalan pelan untuk membawanya keruangannya Sebastian.
Ia juga sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan resepsionis barusan,karena ia sangat mengerti tentang peraturan yang seperti itu.Lagi pula, tujuannya kesini hanya untuk menemui Sebastian,iapun juga langsung mengabaikan rasa bingungnya tadi.
Setelah sampai didepan ruangannya Sebastian...
"Tapi Nona,didalam ada seorang tamu yang sedang berbicara dengan Presdir..." ucap resepsionis tersebut dengan nada khawatirnya,sambil melirik sekilas kearah Billy ,karena sebenarnya pesan tersebut ia tujukan untuk Billy.
Walaupun mereka dilarang menguping dan bergosip didalam perusahaan tersebut,tapi sedikit banyak ia bisa menebak kalau wanita cantik yang bersama Billy saat ini pasti wanita yang penting bagi Tuan Presdirnya,karena Billy tidak akan bersikap sopan ataupun menjaganya dengan sebaik ini.
Dan yang jadi masalahnya,tadi ia melihat kalau ada wanita lain yang sudah masuk kedalam ruangannya Tuan Presdir mereka,dan masih belum keluar sedari hampir 30 menit yang lalu.
"Benarkah? Memangnya tamunya pria atau wanita?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,perasaan cemburunya lebih kuat dari pada perasaan penasarannya saat ia mendengar kata tamu dari resepsionis wanita tersebut.
Apa lagi dengan kesuksesan yang telah diraih oleh Sebastian saat ini,dan karena isi kepalanya hanya berisi tentang Sebastian semua,jadi ia baru tahu dari Billy 30 menit yang lalu didalam perjalanan tadi kalau kesuksesannya Sebastian sudah berhasil berada diperingkat ke 2 saat ini.Dan ia sangat yakin,dengan hal tersebut,pasti banyak wanita yang akan mencoba untuk mendekati Sebastian dengan berbagai alasan.
"Wa wanita,Nona..." jawab resepsionis tersebut dengan nada gugup yang bercampur bingung sambil menatap Billy dan Jennifer secara bergantian,karena ia sama sekali tidak mengerti sama kode mata dari Tuan Billy.
Lagi pula,ia tidak pernah belajar tentang kode-kode mata yang seperti itu,jadi ia hanya mengerti sedikit saja.
'Bagaimana ini,siapa wanita yang ada didalam ruangan Tuan Muda? Bukankah Tuan Muda tidak pernah mau berbicara dengan klien ataupun rekan kerja wanita? Dimana Aldy? Tuan Muda,
__ADS_1
bersiap-siaplah.Aku harap,kamu tidak melakukan hal yang b*d*h didalam ruangan sana' batin Billy dengan panjang lebar dan perasaan kesalnya,karena resepsionis tersebut malah tidak mengerti dengan kode matanya yang berarti harus menjawab pria,sambil mencari keberadaannya Sekretaris kepercayaannya itu yang ternyata tidak terlihat ada disekitarnya.
"Wanita?" tanya Jennifer dengan perasaan cemburu yang mulai berpikir yang tidak-tidak,sambil terus menatap pintu ruangan tersebut yang masih tertutup.
"Iya,Nona.Wanita itu,salah satu rekan kerjanya Presdir,Nona" jawab Resepsionis tersebut dengan jujur dan nada takutnya,saat ia malah mendapatkan tatapan tajam dari Billy saat ini.
"Nona Muda,bagaimana kalau sebaiknya kita tunggu diruang tunggu sana saja.Mungkin sebentar lagi,mereka akan segera keluar..." panggil Billy dengan nada bingungnya,saat ia melihat Nona Mudanya yang berniat ingin membuka pintunya ruangan tersebut.
'Nona Muda? Apakah wanita ini,adiknya Tuan Presdir,atau kekasihnya Tuan Presdir?' batin resepsionis tersebut dengan wajah kagetnya dan perasaan khawatirnya karena takut kalau mana tahu saja Tuan Billy dan Presdirnya akan memarahinya,atau akan memecatnya setelah ini.
"Billy,bisakah kamu diam saja? Dan jangan coba-coba untuk menghalangi langkahku,apa kamu mengerti,hm?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil berbalik badan dan menatap tajam kearah Billy yang langsung menundukkan kepalanya.
"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan wajah pasrahnya tanpa menaikkan kepalanya,bukan apa-apa tapi ia hanya mengkhawatirkan Tuan Mudanya saja.
Ia bahkan tidak mampu menebak ntah apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Mudanya didalam sana bersama seorang wanita,dan ia sangat berharap kalau Aldy Sekretaris tersebut juga berada didalam ruangan.
Karena hal seperti ini memang tidak pernah terjadi,walaupun ia sangat yakin kalau Tuan Mudanya sangat anti wanita dan mampu mengatasinya,hanya saja saat ini berbeda situasi.
"Pegang ini,kunci mulutmu dan tunggu diluar sini,sebelum aku menyuruhmu untuk membukanya dan masuk kedalam.Dan satu lagi,jangan berani mencoba untuk mengintip..." perintah Jennifer dengan nada tegasnya,sambil memberi paper bag yang berisi makan siang itu pada Billy.
"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan cepat,lagi-lagi ia harus pasrah dan mengambil paper bag tersebut dengan perasaan khawatirnya.
Sementara yang terjadi didalam ruangan tersebut...
"Lalu,apa yang kamu ingin kami lakukan?" tanya Sebastian dengan nada tenangnya dan pura-pura bertanya dan juga mengabaikan panggilan dari Sekretaris tersebut,sambil menelisik wajahnya Rebeeca,apakah wanita tersebut sedang membodohinya atau tidak.
"Bukan hanya kalian,Tuan.Tapi kita,karena kita harus langsung turun kelapangan bersama-sama untuk mengecek ulang keadaan disana.Kalau Tuan tidak keberatan,aku rasa cukup kita berdua saja kesana,itu sudah cukup untuk bisa mengecek keadaan yang ada disana..." jawab Rebeeca dengan suara lembutnya,sambil tersipu-sipu malu karena terus ditatap intens oleh Sebastian.
"Jadi,kamu ingin aku pergi bersamamu kesana untuk memeriksanya?" tanya Sebastian dengan nada tegasnya dan perasaan kesalnya saat tebakannya tadi benar kalau wanita tersebut hanya mencari alasan saja untuk bisa menggodanya, sambil menegakkan tubuh bersandarnya tadi dengan kedua tangannya yang masih tetap berada diatas kedua pahanya.
"Iya Tuan,jika kita berdua pergi bersama dan memeriksanya bersama,kita bisa saling mengerti tentang apa sebenarnya yang telah terjadi disana.Dan aku rasa,Tuan tidak akan merasa keberatan kalau pergi bersama wanita cantik sepertiku.Bukankah begitu,Tuan?" jawab Rebeeca dengan panjang lebar,sambil menatap malu kearah Sebastian yang menurutnya terus saja menatap kagum kearahnya,tanpa ia tahu kalau itu tatapan kesal dibalik tatapan jijik.
'Percaya diri sekali wanita penggoda ini.Cih,apa katanya? Saling mengerti...' batin Sekretaris tersebut dengan perasaan kesalnya,dan berusaha mempertahankan wajah tenangnya.
"Tapi sayangnya,aku sangat keberatan Nona.Jika kamu memang ingin memeriksa langsung kelapangan,aku bisa membiarkan Sekretarisku untuk pergi bersamamu..." jawab Sebastian dengan nada tegas dan tatapan tajamnya kembali.
"Tapi Tuan..." Rebeeca yang ingin menolak tawarannya Sebastian barusan dan juga ingin membujuk Sebastian,harus terhenti karena disela oleh Sebastian dengan cepat.
"Nona,dengar...Aku tidak mau mendengar bantahan apapun darimu,atau kamu lebih memilih untuk membahayakan Perusahaan milik Ayahmu sendiri? Kalau memang itu yang kamu maukan,aku akan dengan senang hati membuat Ayahmu berada dalam kesulitan hingga tidak mampu berdiri tegak lagi" sela Sebastian dengan bertanya tegas dan nada seriusnya yang sedikit lebih tinggi,tatapan tajamnya juga semakin tajam.
__ADS_1
"Ma maafkan aku,Tuan...Baiklah,aku akan pergi bersama Sekretarismu saja..." jawab Rebeeca dengan nada gugupnya karena merasa takut dengan suara tegas,seriusnya Sebastian yang terdengar lumayan tinggi.
Tapi walaupun ia merasa takut,ia masih tetap berniat ingin mencari ide untuk bisa menaklukkan Tuan Presdir tampan tersebut,ia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Tuan,bolehkah aku minum air atau yang lainnya mungkin? Tenggorokanku mulai terasa kering,karena sedari sampai disini tadi,aku masih belum meminum apapun..." tanya Rebeeca dengan nada pelannya,sambil menyentuh lehernya dengan berpura-pura seperti orang yang benar-benar sedang kehausan.
'Wanita ini...Apa lagi yang ingin dia rencanakan...' batin Sekretaris tersebut dengan perasaan kesal yang sama seperti tadi.
"Tentu saja boleh,Nona...Nona,didepanmu ada teh hangat,biar aku menuangkanmu minum,supaya tenggorokanmu tidak akan terasa kering lagi ..." ucap Sekretaris tersebut,sambil berniat melangkah mendekat kearah meja yang berada diantara Tuan Mudanya dan Rebeeca,meja yang memang sudah tersedia teh hangat setiap harinya,dan mungkin setiap kali kalau teh hangat tersebut sudah dingin.
Sebenarnya biasanya ia selalu menuangkan teh hangat tersebut sebelum para tamu mengeluh duluan,tapi untuk wanita penggoda seperti ini,sedikitpun ia tidak suka menuangkan teh hangat tersebut.
Tapi baru saja ia mau melangkah,Rebeeca sudah menghentikan langkahnya dengan cepat,hingga mampu membuat dirinya langsung mendengkus kesal.
"Tuan,tidak apa-apa.Aku bisa melakukannya sendiri..." ucap Rebeeca dengan nada lembutnya sebelum Sekretaris tersebut sempat melangkah, sambil berdiri dari duduknya dan segera membungkukkan punggungnya dengan gaya menggodanya.
Belum lagi dengan kedua gunung kembarnya yang semakin hampir terlihat jelas,dan tepat berada dihadapannya Sebastian karena hanya berjarak sekitar 60 cm saja.
'Apakah aku harus menyarankan pada wanita penggoda ini,untuk tidak mencoba menggoda Tuan Muda...' batin Sekretaris tersebut dengan wajah herannya,saat ia melihat Rebeeca yang mulai kembali berulah,dan ia memiliki firasat buruk untuk Rebeeca setelah ini.
"Tuan,aku juga sudah menuangkannya untukmu.Aku rasa,Tuan pasti juga sedang merasa haus.Ini minumlah..." lanjut Rebeeca lagi,sambil menuangkan teh hangat tersebut kegelas ke 2,dan membawanya kearah Sebastian.
Sedangkan Sebastian,ia terus menatap kearah wajahnya Rebeeca dengan tatapan tajam yang sudah bercampur waspada,sepertinya ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.Apa lagi,saat ia mendengar nada lembut,melihat gaya menggodanya dan wajah polosnya Rebeeca yang terlihat jelas kalau Rebeeca sengaja menampilkan wajah polos tersebut.
Beberapa detik kemudian...
"Byarrr" terdengar suara tumpahan air teh hangat yang tepat mengenai dadanya Sebastian,hingga mampu membuat kemejanya Sebastian langsung basah hampir semua dibagian atasnya.
Sebastian yang tidak sempat menghindar tadipun,langsung menampilkan wajah marahnya dan memejamkan kedua matanya untuk sekitar 2 detik,tanpa bergerak sedikitpun.
"Maaf,maafkan kecerobohanku Tuan.Aku tidak sengaja,aku akan segera membersihkannya..." ucap Rebeeca dengan berpura-pura menampilkan wajah bersalahnya,sambil mengambil tisu dan berniat ingin mengelap kemeja atasnya Sebastian.
'Ternyata ini yang direncanakan oleh wanita penggoda ini sedari tadi...Apakah wanita ini tidak pernah mendengar tentang jati dirinya Tuan Muda yang sebenarnya, diluar sana? Lihatlah,apa yang akan terjadi setelah ini,1 2 3...' batin Sekretaris tersebut dengan wajah penasarannya sambil terus memerhatikan tangannya Rebeeca yang sudah hampir mendekat kearah kemeja Tuan Mudanya,karena ia memang jarang melihat Tuan Mudanya murka.
Tapi sekali murka,Tuan Mudanya tidak akan memaafkan siapa saja yang telah menganggunya.
"Auchk,,,Tuan,lepaskan.Ini sangat sakit,auchk..." pekik Rebeeca dengan ekspresi takut yang sungguh-sungguh diwajahnya sambil meringis kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkramannya Sebastian,saat ia merasakan kalau pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh Sebastian,dan rasanya sangat sakit seperti sedang dipelintir.
"Ceklek..." sebelum Sebastian sempat bersuara,langsung disusul dengan suara pintu yang telah dibuka dari luar,hingga membuat semua yang ada didalam ruangan tersebut langsung menatap penasaran kearah pintu tersebut,kecuali Sebastian yang masih sedang menampilkan ekspresi marah diwajahnya.
__ADS_1
"Nona,siapa kamu? Kenapa kamu berani masuk kedalam sini, tanpa izin?" tanya Sekretaris tersebut dengan wajah kagetnya yang sudah mulai berkurang,sambil terus menatap penasaran kearah wanita cantik yang baru saja masuk tanpa izin tersebut.