
Sedangkan Jennifer,ia bahkan tidak berpikir ingin menghindar atau apapun.Ia hanya perlu bersikap waspada,dan jika perlu,ia akan memberi pelajaran pada wanita yang telah berani menyebutnya dengan wanita j*l*ng ini.
"Sudah aku katakan,jangan berani-berani menyentuh calon istriku.Jika tidak,kamu akan tinggal nama sebentar lagi..." Irfan kembali memperingati Rebeeca dengan nada tegasnya yang lebih tinggi,tapi nyatanya Rebeeca malah tidak takut ataupun mau mendengarnya.
Karena ia sudah merasa sangat kesal dan marah sedari tadi malam, akhirnya tangannya Rebeecapun terangkat dan bersiap-siap akan menampar pipi mulusnya Jennifer,hingga...
"Auchk,auchk,auchk..." tapi bukan suara tamparan ataupun suara pekikan sakitnya Jennifer yang terdengar,tapi malah suara pekikan sakit dari mulutnya Rebeeca yang terdengar,hingga berhasil membuat Irfan langsung menghela napas lega karena ternyata wanita yang ia khawatirkan lebih mampu dari yang ia pikirkan tadi.
Sebenarnya ia juga merasa tidak suka dengan Rebeeca yang terlalu agresif dan menyebalkan baginya,tapi karena Rebeeca juga mengenal baik dengan ketua dari geng yang telah ia sewa tersebut.Bahkan Rebeecalah yang menawarkan sewaan geng tersebut padanya,hingga ia tidak mampu berbuat terlalu banyak untuk mengusir Rebeeca dari hadapannya saat ini.
"Auchk,auchk...Dasar wanita j*l*ng,cepat lepaskan tanganku..." ucap Rebeeca dengan nada marahnya dan ekspresi meringis kesakitan diwajahnya karena Jennifer tidak juga melepaskan tangannya,sambil berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang sedang dilipat kuat oleh Jennifer.
Ia tidak menyangka kalau Jennifer malah akan menangkap tangannya dan melipatnya hingga ia merasakan sakit yang sampai seperti ini,karena ia memang hanya mengenal Jennifer sebagai putri dari keluarga yang paling kaya saja.
"Apa kamu bilang? Wanita j*l*ng? Coba kamu katakan sekali lagi..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur marah,baru kali ini pertamanya ia mendengar ada yang berani mengatainya wanita j*l*ng.
"Auchk,auchk...Oke,oke,aku tidak akan mengulanginya lagi..." Rebeeca langsung menyerah saat ia merasakan kalau lipatan dipergelangan tangannya malah semakin melingkar kuat,setelah ia memekik lebih kuat karena terasa semakin sakit dari yang sebelumnya.
"Dasar...Aku merasa heran,kenapa zaman sekarang, banyak yang tidak sadar diri,tidak tahu malu,dan tidak mampu menilai diri sendiri dengan baik.Dasar wanita j*l*ng,tapi malah teriak j*l*ng..." ucap Jennifer dengan panjang lebar dan wajah memberengut kesalnya sambil melepaskan tangannya Rebeeca dengan gerakan kasar dan kesalnya, dikeluarganya bahkan tidak diajarkan untuk menghina ataupun hanya sekedar berkata kasar terhadap orang lain.
Tapi walaupun begitu,didalam hatinya ia merasa sangat puas karena ia telah berhasil memberi sedikit pelajaran kepada Rebeeca.
"Auchk,auchk,auchk...Dasar wanita........" Rebeeca kembali memekik sakit karena Jennifer melepaskan tangannya dengan tidak berperasaan, sambil mengelus-elus pergelangan tangannya yang terasa lumayan sakit dan juga telah memerah disekelilingnya, ia bahkan langsung menghentikan umpatan kasarnya tersebut saat ia melihat tatapan tajamnya Jennifer yang telah tertuju kearahnya.
Mau tidak mau,iapun terpaksa menerima semua kalimat kesalnya Jennifer untuknya barusan. Karena dengan melihat tatapan tajamnya dan merasakan kekuatan tangannya Jennifer tadi,ia langsung tidak memiliki begitu banyak keberanian lagi untuk melawan Jennifer.
"Bisakah kamu segera membawanya pergi dari sini? Supaya priaku itu tidak akan mampu lagi, menemukan wanita ini sampai kapanpun..." tanya Rebeeca dengan nada kesalnya dan wajah yang terlihat masih meringis karena rasa sakit ngilu dipergelangan tangannya tersebut,sambil menjauh dari Jennifer dan duduk dikursi sofa yang ada disana dengan gerakan kesalnya.
"Kamu tenang saja,aku pasti akan segera membawa Jennifer pergi dari sini setelah pernikahan kami selesai nanti..." jawab Irfan dengan nada tenang dan wajah yang tersenyum senang,sambil memerhatikan Rebeeca yang masih sibuk mengelus-elus pergelangan tangannya.
Tentu saja ia harus segera membawa Jennifer pergi dari sini,ia juga tidak akan mau kalau sampai Sebastian berhasil menemukan keberadaan mereka dan Jennifer akan segera direbut dari genggamannya saat itu juga.Ia bahkan telah selesai membayar lumayan banyak terhadap ketua geng tersebut,setelah mereka selesai membahas banyak hal tadi malam.
Tanpa ia tahu,kalau Sebastian sedang perjalanan kesini saat ini.Ia dan yang lainnya pasti akan selesai,saat Sebastian sampai nanti.
"Bagus,lebih cepat lebih bagus untukku..." ucap Jennifer dengan nada senangnya,sambil terus mengelus-elus pergelangan tangannya dan juga merutuki Jennifer didalam hatinya karena takut kalau Jennifer akan melukainya kembali.
__ADS_1
'Aku harus bagaimana sekarang?' batin Jennifer didalam hatinya,sambil terus berusaha untuk menenangkan perasaan kesal takutnya tersebut, dan juga memerhatikan ekspresi wajahnya Irfan dan Rebeeca yang terlihat begitu senang.
Ia bahkan harus berusaha untuk menahan pusing dikepalanya karena rasa mualnya tersebut,hanya saja,rasa pusingnya tidak begitu berat.Jika ia tidak segera atau berhasil mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini,ia pasti akan dipaksa untuk menikah dengan Irfan dengan cara apapun nantinya.
"Bisa kalian berdua keluar dari kamar ini,aku ingin segera bersiap-siap dan menikah... " ucap Jennifer dnegan nada dan wajah santainya,sambil berjalan malas kearah lemari gaun pengantinnya dengan perasaan kesalnya.
"Wah,aku tidak menyangka...Ternyata kamu begitu bersemangat untuk menikah dengan Irfan,hari ini..." ucap Rebeeca dengan nada tidak percayanya dan wajah tersenyum senangnya,sambil berdiri dari duduknya dan memerhatikan Jennifer yang sedang sibuk mengeluarkan gaun pengantinnya dari lemari kaca tersebut.
Walaupun merasa kaget karena setahunya Jennifer sangat mencintai Sebastian,tapi sekaligus ia juga merasa senang karena ternyata apa yang ia pikirkan itu tidak sama dengan kenyataan yang ia lihat saat ini.
'Tapi bukankah seperti ini,juga lebih bagus dan baik untukku...Jadi,aku akan lebih mudah untuk menaklukkan hatinya pria pujaan hatiku itu. Ya,akhirnya sainganku menyerah terlebih dahulu sebelum aku melawannya...' lanjut Rebeeca didalam hatinya dengan perasaan bangga dan senangnya,karena ia merasa kalau Jennifer adalah saingan terberatnya untuk bisa memiliki Sebastian.
Tapi sekarang,ia tidak perlu melakukan apa-apa, dan bersusah payah untuk mengalahkan Jennifer. Begitu juga dengan Irfan,ia juga merasa agak heran dengan reaksinya Jennifer tentang pernikahan yang telah ia tawarkan tadi pagi secara tiba-tiba.
Tapi walaupun begitu,ia juga merasa senang seperti Rebeeca.Karena baginya sekarang yang terpenting,ia bisa segera menikahi Jennifer dan mendapatkan keturunan dari Jennifer, dan ia juga bisa mengancam Daddynya Jennifer nantinya.
Karena ia bukan hanya mencintai Jennifer saja,tapi ia juga sedang mengincar harta keluarganya Jennifer.Maka dari itu,ia rela mengeluarkan banyak uang untuk melakukan semua ini,supaya bisa mendapatkan Jennifer dan menggapai tujuan utamanya tersebut.
"Bukankah itu yang sedang kamu inginkan,hm? Tapi aku akan memperingatimu,kalau suamiku itu tidak akan mampu ditaklukkan oleh wanita manapun.Apa lagi,wanita yang sepertimu..." tanya Jennifer balik,dengan nada menyindirnya,sambil menatap malas sekilas kearah Rebeeca yang langsung berubah menjadi kesal.
"Sudah,sudah...Lebih baik,sekarang kita keluar dan biarkan calon istriku bersiap-siap terlebih dahulu..." sela Irfan dengan cepat,saat ia melihat Rebeeca yang kembali ingin berdebat dengan Jennifer.
Setelah itu,ia langsung berjalan keluar dari sana,karena ia terus mendapatkan tatapan kesalnya Irfan sedari tadi.Sebenarnya ia sama sekali tidak takut terhadap Irfan,hanya saja,ia ingin pernikahan mereka cepat selesai.
Dan Irfan akan segera membawa Jennifer pergi dari sini sejauh-jauhnya,setelah itu, ia akan melanjutkan rencananya yang belum sempat ia mulai itu.
"Cih..." Jennifer hanya mampu berdecih kesal saja,saat ia mendengar dan melihat ekspresi wajah sombongnya Rebeeca tersebut.
Setelah melihat Rebeeca sudah keluar dari sana,Irfanpun segera berjalan mendekati Jennifer dengan wajah yang tersenyum senangnya kembali.
"Sayang,poleskanlah wajah cantikmu ini secantik-cantiknya supaya saat pernikahan kita berlangsung nanti,aku tidak akan mampu melupakan wajah cantikmu ini sampai kapanpun. Baiklah.Kalau begitu aku akan keluar terlebih dahulu,dan aku akan datang sebentar lagi" Irfan langsung berbisik pelan dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya dibalik telinganya Jennifer,saat ia sudah berjalan sampai didekatnya Jennifer.
Setelah ia selesai berbicara dan menggoda Jennifer,Irfan segera berbalik badan dan berjalan keluar dari sana.Ia bahkan tidak lupa untuk mengunci pintu kamar itu karena takut kalau Jennifer akan melarikan diri dari sana,dan pernikahannya juga akan gagal,sebelum ia berhasil menguasai harta kekayaannya keluarga Naava.
"Dasar pria br*ngs*k..." umpat Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya setelah ia melihat Irfan sudah menghilang dari balik pintu kamar tersebut, sambil mengelap-ngelap pelan sisa uap napasnya Irfan yang masih tersisa ditelinganya itu dengan gerakan kesalnya.
__ADS_1
Setelah itu,ia langsung terduduk kasar diatas kasur tersebut sambil menghela napas berat dengan panjang.
"Wanita itu,benar-benar tidak tahu malu.Rasanya aku ingin sekali menjambak-jambakkan rambutnya, dan mencakar-cakar wajah tidak tahu malunya itu, sampai tidak bisa dikenali oleh siapapun lagi..." Jenniferpun menggerutu kesal dengan wajah memberengut kesalnya,sambil memukul-mukul pelan bantal yang ada diatas kasur tersebut untuk melampiaskan segala rasa kesalnya terhadap Rebeeca dan termasuk Irfan.
Untung saja,Rebeeca tidak mengetahui kalau sebelumnya dirinya sedang berencana ingin meninggalkan suaminya karena ia tidak mampu mendapatkan cintanya Sebastian.Jika tidak, Rebeeca pasti akan mengejeknya habis-habisan tadi.Apa lagi,jika Rebeeca sampai benar-benar telah berhasil menaklukkan hati dingin suaminya itu nantinya.
"Bagaimana kabarmu disana? Apa kamu sedang memikirkan diriku saat ini,atau bahkan kamu tidak akan merasa khawatir sedikitpun terhadapku?" lanjut Jennifer dengan gumaman pelannya dan ekspresi wajah sedihnya,sambil menatap sedih kearah balkonnya kamar tersebut.
"Kenapa aku malah memikirkan pria menyebalkan itu...Jika ia benar-benar akan merasa khawatir terhadap keadaanku,ia pasti sudah berada dihadapanku sedari tadi.Tapi lihatlah,bahkan sampai sekarang,sedikitpun ia masih belum ada menampakkan diri dihadapanku ataupun disekitar tempat ini..." Jennifer kembali menggerutu kesal dengan ekspresi wajah yang masih sama,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan kearah meja hias yang telah disediakan oleh Irfan untuknya.
Kemudian Jenniferpun hanya mampu terus menghela napas berat dengan panjang karena ia sudah lelah terus menggerutu kesal sedari tadi malam ia dibawa kesini.
"Kenapa kepalaku terus merasakan pusing, sekarang bahkan terasa semakin parah saja..." gumam Jennifer dengan nada bingung dan wajah yang sedang menahan pusing,sambil memijit pelan pelipisnya.
Padahal selama ini ia tidak pernah merasakan pusing kepala yang seperti ini,dan sekarang,rasa pusing kepalanya malah semakin lama semakin kuat.
Mungkin saja karena ia kurang tidur dan hanya memakan sedikit saja makanan yang telah disediakan oleh Irfan sedari tadi malam hingga tadi pagi,ia tidak memiliki nafsu makan karena ia harus berada ditempat yang bukan ia inginkan ini.
Setelah rasa pusing dikepalanya sudah agak berkurang,iapun menatap kesal kearah gaun pengantin yang telah ia keluarkan sendiri dari lemari kaca tadi.
Padahal ia hanya ingin Rebeeca segera menghilang dari hadapannya saja,karena saat ini ia tidak ada mood untuk berdebat banyak dengan Rebeeca.Tapi sepertinya,sekarang ia harus berpura-pura memakainya,untuk bisa mengelabui Irfan dan bisa segera mendapatksn cara untuk melarikan diri dari sini.
Tapi belum sempat ia memakainya,sebuah suara yang kuat dan berturut-turut yang terdengar secara tiba-tiba itu,langsung berhasil menghentikan gerakan tangannya Jennier yang berniat ingin mengambil gaun pengantin tersebut.
"Dor dor dor dor dor dor......" Jennifer langsung segera berjalan cepat hingga kebalkonnya kamar tersebut,untuk melihat apa sebenarnya yang telah terjadi diluar sana.
Terlihat diluar sana,puluhan pengawal yang sangat ia kenal sedang saling menembak dengan orang-orangnya Irfan.
"Ternyata,akhirnya kamu datang juga..." gumam Jennifer dengan nada pelan dan wajah yang tersenyum senang,saat ia melihat kalau ada Sebastian diantara puluhan pengawalnya Sebastian yang terlihat begitu sibuk menembak.
Tapi kemudian senyum senang diwajah cantiknya tersebut langsung sirna saat ia mengingat kembali tentang Sebastian yang telah mengatakan kalau hubungan mereka berdua hanya sebatas suami istri saja.
"Lebih baik aku segera pergi dari sini,sebelum Irfan datang kesini dan malah membawaku ntah kemana lagi.Dan dari pada,aku kembali berharap banyak padanya..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menatap waspada sebentar kearah pintu kamar yang mungkin saja akan muncul Irfan dari balik pintu sana.
Lalu ia langsung mengalihkan tatapan waspadanya kearah disekitar balkon tersebut,dan mencari cara bagaimana caranya ia bisa turun dari atas balkon tersebut.
__ADS_1
"Baiklah.Aku akan mencoba untuk turun dari sini saja,sebelum pria br*ngs*k itu kembali berhasil menangkapku..." gumam Jennifer lagi,sambil turun dari balkon tersebut dengan gerakan perlahan-lahannya,karena saat ini ia sama sekali tidak memiliki pistol atau apapun untuk melawan bisa Irfan.
Apa lagi,rasa pusing dikepalanya tersebut sangat menganggunya,jadi keahlian bela dirinya pun pasti tidak akan begitu bagus nantinya.