Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 141


__ADS_3

"Brak..." terdengar suara pintu yang ditutup keras oleh Sebastian,karena rasa kesal dan marahnya tersebut.


Beberapa detik kemudian...


"Sebastian Sachdev Rendra? Jadi pria aneh itu, Sebastian?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,sambil terus menatap bingung kearah pintu yang telah tertutup itu.


Pertanyaan bingungnya Jennifer tersebutpun langsung berhasil mengalihkan semua tatapan mereka semua yang sedang sibuk menatap kearah pintu tadi.


"Kakak ipar? Jadi,sebenarnya kamu masih mengenal kakak atau tidak? Sebenarnya ada apa denganmu,kakak ipar" tanya Stella dengan nada dan wajah yang semakin bingung saja,saat ia mendengar pertanyaan bingungnya Jennifer tadi.


"Iya nak. Apa kamu baik-baik saja?" timpal Ibu dengan nada dan wajah yang sama bingungnya dengan Stella.


"Apakah kamu telah melupakan suamimu Sebastian,nak?" tanya Ayah dengan nada pelannya, untuk memastikan rasa khawatirnya tersebut.


"Iya,Nona Muda.Apakah Nona Muda masih bisa mengenali Tuan Muda?" timpal sang dokter yang tidak kalah bingungnya juga.


"Syukurlah..." kali ini gantian sang dokter yamg berucap syukur,saat ia melihat anggukan pelan dari Jennifer barusan,anggukan setelah tidak jadi menggeleng.Jadi,keselamatan nyawanya tidak akan terancam lagi.


"Tapi kenapa tadi,Nona Muda menyebut Tuan Muda dengan sebutan pria aneh?" tanya sang dokter lagi,dengan nada dan wajah bingungnya kembali.


"Iya.Apakah kakak ipar sengaja melakukannya, untuk membalas kakak?" tanya Jennifer,dengan tebakan yang ada dikepalanya saat ini.


"Ma maafkan aku,semuanya...Tapi,bukan begitu maksudku.Hanya saja,tadi itu kepalaku masih terasa agak pusing..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya karena merasa bersalah,sambil menggaruk-garukkan pelan punggung kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.


"Jadi,,tapi benarkah pria itu,Sebastian? Suamiku?" lanjut Jennifer lagi,dengan nada dan wajah seriusnya.


"Tapi kenapa wajahnya terlihat agak berbeda?" tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah bingungnya saat ia melihat anggukan pelan dari mereka semua,sambil menunjuk kesekitar wajahnya sendiri.


Sebenarnya bukan hanya wajahnya Sebastian saja yang terlihat aneh baginya,tapi panggilan sayang yang ntah sudah keberapa kalinya sedari tadi itupun terasa agak aneh dipendengarannya.Apa lagi,saat ia langsung mendapatkan kecupan diseluruh wajahnya saat ia baru tersadar tadi,ia sendiri bahkan tidak mengerti apa arti dari kecupan-kecupan tersebut karena selama ini Sebastian memang tidak pernah melakukan semua itu terhadapnya.


Bagaimana tidak aneh? Wajah tampannya Sebastian yang biasanya akan selalu bersih dari bulu-bulu halus,dan rambutnya yang juga akan selalu rapi tanpa pernah ia biarkan panjang sedikitpun.


Tapi apa yang ia lihat tadi agak berbeda,wajah tampannya Sebastian yang telah sedikit brewokan dan juga rambutnya yang agak sedikit berantakan. Walaupun tidak parah kali, tapi sudah berhasil membuat dirinya yang belum sepenuhnya sadar tadi itu sampai tidak mampu mengenali suaminya sendiri.


"Ya,Tuhan...Kakak ipar..." ucap Stella dengan nada pelannya dan wajah tidak percayanya,sambil menepuk pelan keningnya,dan diikuti oleh Ibu dan juga Ayah.


Sedangkan sang dokter,ia hanya mampu menghela napas pelan saja.Karena kesadaran Nona Mudanya yang belum sepenuhnya kembali tadi,dan juga penampilan Tuan Mudanya yang agak berbeda setelah beberapa hari ini,ia harus menjadi korban pelampiasan dari kemarahan Tuan Mudanya.


Sang dokter bahkan hanya mampu tersenyum kecil saja,saat ia melihat Nona Stella dan kedua orang tua Tuan Mudanya yang saat ini sedang tertawa kecil karena ulah Nona Mudanya tersebut.


"Nak,itu semua karena Sebastian terlalu mengkhawatirkan dirimu.Apa tadi, kamu tidak mendengarnya? Suamimu itu,begitu takut akan kehilanganmu,nak..." ucap Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum lucu,saat tawa kecilnya tersebut sudah reda,begitu juga dengan yang lainnya.


Tapi sebenarnya didalam hati mereka,mereka juga ikut berucap syukur karena ternyata semuanya memang baik-baik saja,Jennifer bahkan tidak hilang ingatan seperti yang ada dipikiran mereka tadi.

__ADS_1


"Kakak ipar...Apa kakak ipar tahu? Kakak sampai kurang tidur dan nafsu makannya terus berkurang selama beberapa hari ini,itu semua karena kakak ipar..." timpal Stella dengan nada senangnya,sambil mengelap sisa-sisa air matanya karena tawanya tersebut.


"Kurang tidur? Kurang nafsu makan? Karena aku?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingung yang telah bercampur rasa tidak percayanya.


"Iya,nak...Kamu telah tidak sadarkan diri selama beberapa hari ini,dan Sebastianlah yang telah menjagamu,dan ia tidak pernah meninggalkan kamu sedetikpun.Ia sampai terus berjaga-jaga dimalam hari karena berharap kalau kamu akan segera sadarkan diri,ia bahkan selalu tidak menghabiskan makanannya karena terlalu mengkhawatirkan dirimu,ia takut kalau kamu tidak akan bangun lagi..." Ayahpun menjelaskan secara singkat dan detail,supaya menantu kesayangannya itu tidak akan merasa bingung lagi.


"Apakah kamu sudah lupa tentang kejadian yang telah menimpamu,pada beberapa hari yang lalu itu,hm?" tanya Ayah lagi,saat ia melihat Jennifer yang terlihat sedang berpikir.


"Iya,Yah.Aku baru mengingatnya,sekarang... Maafkan aku ya, karena telah merepotkan kalian semua..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah bersalahnya saat ia sudah mengerti apa penyebab dirinya bisa berada dirumah sakit dan tidak sadarkan diri selama beberapa hari ini,sambil sedikit menundukkan kepalanya kearah Ayah,Ibu dan juga Stella.


"Kakak ipar,kamu lupa lagi,padahal kami baru saja memberitahumu.Bukan kami yang telah kamu repotkan,tapi sebenarnya kakaklah yang telah kamu reporkan,kakak ipar..." ucap Stella dengan nada dan wajah tersenyum lucunya,dan Ibu yang terus sibuk membelai sayang wajahnya Jennifer.


"Kami juga sangat mengkhawatirkan kamu, sayang.Tapi sekarang,kami sudah lega dan tidak perlu merasa khawatir lagi,karena kamu sudah sadarkan diri dan baik-baik saja...Cup..." timpal Ibu dengan nada dan wajah yang tersenyum senang sambil mengecup sayang keningnya Jennifer,dan langsung dibalas dengan senyum senang oleh Jennifer.


"Kakak ipar,sepertinya aku memiliki sebuah ide yang sangat bagus sekarang..." ucap Stella dengan tiba-tiba,nada pelan dan wajah yang tersenyum penuh arti,sambil menaik-turunkan kedua alisnya kearah Ayah,Ibu dan juga Jennifer.


"Ide yang sangat bagus? Maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya, sambil duduk dari berbaringnya,dengan dibantu oleh Ibu dan juga Ayah.


"Dok,sekarang berhenti ditempatmu dan jangan pernah berani-berani mencoba untuk melarikan diri dari kami..." Stella bukan menjawab,tapi ia malah segera menghentikan langkah kakinya sang dokter tersebut terlebih dahulu,karena sang dokter juga harus terlibat untuk melancarkan idenya tersebut.


'Ya,Tuhan...Apa lagi ini? Mudah-mudahan saja, nyawaku akan terus utuh diragaku,setelah ini ' batin sang dokter dengan perasaan tidak enaknya,sambil menghentikan langkahnya yang baru saja sempat melangkah kelangkah 3 nya itu.


"Stella,maksudmu apaan sih?" Jenniferpun kembali mengulangi pertanyaannya tadi,dengan nada tidak sabarannya.


"Bagaimana,hm?" tanya Stella lagi,sambil tersenyum dan kembali menaik-turunkan kedua alisnya kearah ayah,Ibu dan juga Jennifer.


Kemudian Ibu dan Jenniferpun terlihat sedang berpikir,lalu mereka berduapun langsung tersenyum senang dan disertai anggukan pelannya mereka,setelah berpikir selama beberapa menit.


Termasuk Ayah yang sangat jarang mencampuri atau ikut menyetujui urusan yang seperti ini, sekarang ia ikut tersenyum dan juga bahkan ikut mengangguk pelan.


Sedangkan Stella,senyum senangnya tadipun semakin lebar,iapun memberi kode mata pada Jennifer untuk memerintahkan sebuah tugas penting pada sang dokter tersebut.


"Ehem ehem ehem..." Jennifer yang langsung bisa mengertipun, segera berdehem untuk mengendalikan rasa senangnya tadi.


Walaupun ia sama sekali belum pernah mendengar ungkapan cinta dari Sebastian,tapi setidaknya, permandangan dan panggilan sayang yang tulus tadi telah memberinya harapan yang lebih pada Sebastian.


"Dokter..." panggil Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya.


"Iya,Nona Muda...Apa ada yang perlu aku bantu,Nona Muda..." jawab sang dokter dan sekalian bertanya sambil berusaha menormalkan perasaan tidak enaknya tersebut,padahal ia sudah tahu apa yang akan diperintahkan oleh Nona Mudanya padanya sebentar lagi.


"Jika Tuan Mudamu bertanya tentang keadaanku nanti,kamu harus menjawab,kalau aku sedang hilang ingatan... " perintah Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya yang telah bercampur tegas.


"Tapi Nona Muda......." kalimat keberatan sang dokterpun harus terhenti,karena langsung disela oleh Jennifer dengan cepat.

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengar bantahan apapun dari mu,Dok...Sekarang lakukan saja,apa yang telah aku katakan tadi..." sela Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menatap tajam kearah sang dokter yang hanya mampu menunduk pasrah saja.


"Tapi bagaimana caranya aku harus menjelaskannya pada Tuan Muda nanti,Nona Muda? Aku takut,kalau nanti Tuan Muda akan langsung membunuhku...Apa lagi,jika sampai Tuan Muda mengetahui kalau aku sedang berbohong padanya nanti..." tanya sang dokter,mana tahu saja Nona Mudanya akan berubah pikiran,tapi nyatanya Nona Mudanya telah menetapkan keputusannya tersebut.


"Kalau masalah itu,kamu tidak perlu mengkhawatirkannya,Dok....Karena jika nanti Tuan Mudamu itu marah,nanti akan ada Ayah yang selalu membelamu...Bukankah benar begitu,Yah?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada santai dan wajah tidak bersalahnya,sambil menaik-turunkan kedua alisnya kearah Ayah yang langsung menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan ekspresi wajah tidak percaya karena dirinya yang kali ini ikut terlibat.


"Iya.Dokter,kamu tenang saja,aku akan memastikan kalau Tuan Mudamu itu tidak akan mampu mempersulitkan dirimu..." jawab Ayah dengan nada dan wajah yang tersenyum meyakinkan,untuk menenangkan sang dokter tersebut.


"Dan lagi pula,bukankah kamu adalah salah satu Dokter terbaik disini,Dok? Jadi aku rasa,Dokter lebih tahu bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Tuan Mudamu itu nantinya.Dan kalian...Jangan pernah berani-berani untuk membicarakannya pada siapapun,termasuk Tuan Muda kalian sendiri.Jika tidak,kalian semua hanya akan tinggal nama saja,setelah itu. Apa sekarang kalian semua sudah mengerti,hm?..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada dan wajah tegasnya, sambil menatap tajam kearah semua perawat dan sang dokter satu persatu.


"Baik,Nona Muda..." jawab sang dokter dan beberapa perawat tersebut secara serentak,sambil menunduk hormat kearah Jennifer dengan wajah pasrahnya mereka, terutama sang dokter yang hanya mampu menghela napas berat dengan panjang.


"Bagus..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sepertinya ide adik iparnya tersebut akan sangat menyenangkan nantinya.


"Baiklah.Sekarang kita akan menunggu pria datar itu masuk,dan selanjutnya kita akan............" mereke ber 4 pun sibuk mengobrol tentang bagaimana caranya mereka akan berakting dihadapannya Sebastian nanti,dengan dimulai dari Stella.


Sedangkan sang dokter dan beberapa perawat tersebut,mereka semua hanya mampu berdiri dalam diam,tanpa berani menyela sedikitpun.


Sedangkan diluar ruangan,Sebastian masih sibuk duduk sambil terus memijit pangkal hidungnya, tempat duduknya juga tidak jauh dari ruangan istrinya sana.


"Yang benar saja..." gumam Sebastian dengan nada pelan dan wajah frustasinya,sambil mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar.


Ia sudah duduk disana selama 30 menit lamanya,untuk mengendalikan segala rasa marah,kesal,kecewa,khawatir dan juga takut yang telah bercampur menjadi 1 tersebut.


Tapi nyatanya sudah 30 menit berlalu,semua rasa yang cukup menyiksanya itu masih tersisa banyak dan berhasil membuat dirinya seperti orang gil* disana.


"Lama-lama aku benar-benar bisa gil*, jika aku seperti ini terus..." gumam Sebastian lagi,sambil berdiri dari duduknya,tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengacak rambutnya tersebut.


Kemudian ia menghentikan gerakannya dan mengalihkan padangannya kearah pintu ruangan istrinya yang masih tertutup tersebut,lalu ia kembali menghela napas berat dengan panjang.


Ia bahkan sudah lupa,ntah telah hitungan keberapa puluh kalinya helaan berat darinya tersebut,karena ia merasa tidak percaya kalau istrinya terbangun dalam keadaan tidak mengenali dirinya saat ini.


Sedangkan bawahannya yang ada disana,mereka semua hanya mampu berdiam diri dengan jejeran mereka masing-masing dan sekali-kali melirik Tuan Muda mereka,saat mereka sempat meliriknya.


"Lebih baik,aku masuk kedalam kembali.Aku harus bisa bersabar sebisa mungkin, menahannya dan menghadapi apapun yang akan terjadi didepan sana.Jika tidak,aku pasti benar-benar akan kehilangan dirinya nantinya..." gumam Sebastian dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil berjalan kearah ruangan tersebut,dengan langkah tidak bersemangatnya,tapi wajahnya telah dipenuhi oleh tekad yang pasti.


Tadinya ia sangat berharap kalau Jennifer akan langsung menanggapi segala rasa khawatirnya dan panggilan cintanya tersebut,dengan tanggapan cinta juga.Tapi sekarang,sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi.


Sedari tadi ia terus memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan besar penyebab dari istrinya yang tidak mengenali dirinya tadi, sepertinya ia bisa menebak kalau Jennifer telah hilang ingatan tentang bagian dirinya.Karena walaupun dirinya adalah orang yang sangat sibuk,tapi sedikit banyak,ia pernah mendengar tentang kondisi pasien yang seperti ini.


Dan ia tidak ingin kalau hal tersebut sampai terjadi padanya,ia bahkan terus berdoa disetiap tarikan napasnya dan juga disetiap langkahnya.Apa lagi hal tersebut terasa sangat tidak adil baginya,karena Jennifer hanya melupakan dirinya seorang saja.


Hingga sampai didepan pintu ruangan tersebutpun,Sebastian masih terus menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, untuk bisa mengendalikan segala perasaan campur aduknya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2