Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab.151


__ADS_3

Dikediamannya Rendra...


Semua pelayan langsung berjejer rapi dan juga menunduk hormat seperti biasanya,saat mereka semua melihat kepulangan majikan mereka.


"Dimana Nona Muda kalian?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,tanpa menghentikan langkah lebarnya tersebut.


"Nona Muda sedang berada dilantai atas,Tuan Muda..." jawab salah satu pelayan dengan cepat dan posisi kepala yang tetap menunduk hormat.


Sedangkan Sebastian,ia langsung berjalan naik kelantai atas,sambil memerhatikan disekitarnya.Ia jadi bertanya-tanya kemana semua orang pergi? Kenapa Ibu dan adiknya tidak terlihat dimana-mana?...


'Apa yang sedang mereka lakukan disana?' batin Sebastian didalam hatinya,sambil menajamkan pendengarannya saat ia mendengar suara berisik yang ada disalah satu ruangan dilantai kedua tersebut.


Sebastianpun melangkah lebar dengan gerakan perlahan-lahannya kearah ruangan tersebut, ruangan dimana terletaknya kamarnya Stella.


Keningnya mulai mengernyit heran dan juga penasaran,saat ia melihat ke 3 wanita beda usia itu malah sibuk melihat sesuatu sambil mengobrol asyik didalam kamarnya Stella tersebut.


"Lihatlah kak...Bukankah kakakku terlihat sangat tampan disini?" tanya Stella dengan nada semangat dan wajah tersenyum bangganya, sambil menunjukkan salah satu foto yang ada dialbum tersebut pada Jennifer.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu terus mengangguk-ngangguk pelan sambil tersenyum senang karena bisa terus fokus melihat foto-fotonya Sebastian disaat usia-usianya sedari bayi hingga usianya sampai sekarang itu.


Karena sedari tadi Ibu dan Stella terus saja berbicara tanpa henti,hingga membuat dirinya tidak sempat berbicara apapun lagi,selain hanya memerhatikan wajah-wajah tampannya Sebastian disetiap foto-foto yang ada didalam beberapa album sedang tersebut.


"Kamu juga harus melihat yang ini,nak..." timpal Ibu dengan wajah tersenyum lucunya,sambil memperlihatkan fotonya Sebastian yang masih berumur 2 tahun dan ada beberapa gigi yang juga telah menghilang disana.


Dan hal tersebutpun mampu membuat mereka ber 3 langsung tertawa kecil,padahal album-album tersebut ntah sudah keberapa kalinya mereka melihatnya,tapi tetap saja selalu mampu membuat mereka ber 3 tertawa.


"Bukankah ini fotonya kamu,Stella?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum penasarannya,sambil menunjuk salah satu fotonya seorang anak cewek yang berusia sekitar 6 tahun,yang sedang berulang tahun disana.


Foto yang baru saja ia lihat,setelah ia hanya melihat foto-fotonya Sebastian saja,karena foto-foto yang ada disetiap album tersebut lumayan banyak.


"Iya.Ini aku kak,fofo itu diambil saat aku sedang berulang tahun yang ke 6 tahunnya..." jawab Stella dengan nada senangnya juga,sambil menelisik wajah imutnya dulu.


"Lalu,apakah ini tanggal ulang tahunnya kamu,hm?" tanya Jennifer dengan nada pelannya,sambil terus memerhatikan sederet angka ulang tahun disudut fotonya Stella tersebut.


Tapi baru saja Stella ingin menjawabnya,sebuah suara berat langsung terdengar dan mampu menghentikan niatnya tersebut.


"Ehem ehem ehem..." dehem Sebastian dengan nada tingginya dan wajah yang berusaha tetap tenang,sambil berjalan mendekati Jennifer yang langsung terlonjak kaget,begitu juga dengan Ibu dan Stella.


"Ya,Tuhan.Ternyata kamu,apa kamu tidak bisa kalau tidak mengejutkan kami?" tanya Ibu dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menatap kesal kearah Sebastian.


"Iya,apa kakak tidak bisa pelan sedikit.Dasar..." timpal Stella dengan nada dan wajah tidak kalah kesalnya dengan Ibu,sambil mengelus-elus dadanya karena sisa kagetnya tersebut.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini,Tante? Bukankah Jennifer harus beristirahat?" tanya Sebastian balik,dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya,sambil mengambil pelan album foto yang ada ditangannya Jennifer dan memberikannya pada Stella.


"Apa kamu tidak melihatnya,hm? " tanya Ibu balik, dengan nada dan wajah malasnya,sambil menyimpan kembali semua album foto tersebut ketempatnya.


"Kakak ini menganggu saja..." timpal Stella dengan nada dan wajah kesalnya,sambil membantu Ibu dan juga menahan tawanya saat ia tahu apa alasan kakaknya berdehem kuat tadi.


"Bukankah kamu ada urusan yang harus dilakukan? Kenapa kamu sudah kembali sekarang?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya juga,sambil bersedekap dada.


"Urusanku tadi hanya sebentar saja,jadi sudah selesai.Sekarang,ayo,aku akan membawamu beristirahat..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,sambil merengkuh pinggulnya Jennifer.


"Nak,kamu mau bawa Jennifer kemana?" tanya Ibu dengan nada dan wajah yang berpura-pura bingung,saat ia melihat Sebastian yang ingin membawa Jennifer pergi dari sana.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin membawanya ke,,,,," Sebastian terlihat menjeda kalimatnya,saat ia mengingat kembali tentang Jennifer yang sedang mengalami amnesia.


"Untuk sementara,Jennifer akan tidur bersama Stella.Apa kamu sudah lupa,hm?" tanya Ibu dengan nada santainya,sambil menahan tawa saat ia melihat sisi bod*hnya sebastian tersebut.


"Kakak,aku rasa kakak sendiri yang sedang kurang beristirahat ... " timpal Stella dengan nada dan wajah yang tersenyum mengejeknya, sambil berjalan mendekati Sebastian.


"Cih..." Sebastian langsung berdecih kesal,tanpa melepaskan rengkuhannya tersebut.


"Baiklah.Kalau begitu,apa kamu mau beristirahat atau ikut bersamaku sekarang? Karena aku ingin duduk bersantai sebentar dihalaman belakang sana..." tanya Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum manisnya,sambil memerhatikan ekspresi wajah kesalnya Jennifer yang mulai mengurang.


"Cih..." kali ini Stella yang berdecih kesal karena merasa geli dengan senyum manis kakaknya tersebut.


"Ayo,kita kehalaman belakang sebentar saja... " ajak Sebastian dengan nada pelannya,sambil membawa Jennifer keluar dari kamar tersebut, sebelum Jennifer sempat berbicara apapun.


Jennifer yang dibawa begitu saja,langsung menghela napas kesal dan hanya mampu menampilkan wajah memberengut kesalnya saja,disepanjang jalan kehalaman belakang sana.


Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berdua langsung menggeleng-gelengkan pelan kepala mereka dengan ekspresi wajah tidak percaya karena tingkah barunya Sebastian tersebut.


Dihalaman belakang...


"Ayo,kita duduk disini... " ajak Sebastian dengan suara lembutnya,sambil mendudukkan Jennifer dikursi kayu yang ada dihalaman belakang tersebut.


"Apakah kepalamu terbentur oleh sesuatu lagi?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,saat ia melihat sikapnya Sebastian yang kembali terlihat berlebihan dan juga agak aneh.


Kenapa juga Sebastian membawanya kehalaman belakang dijam-jam 10 pagi, seperti ini.Untung saja dikursi tersebut ada sedikit atap yang menutupinya,jadi terik sinar mataharinya tidak mengenainya dan juga Sebastian.


Sedangkan Sebastian,ia hanya menanggapinya dengan senyum kecilnya saja,sambil duduk disampingnya Jennifer.


"Ehem ehem ehem..." Sebastian kembali berdehem pelan,untuk menetralkan degupan jantungnya tersebut.


Ia tidak mau terus berada dalam keadaan seperti ini,jadi ia berpikir untuk mulai mengingatkan Jennifer tentangnya,tapi ntah kenapa degupan jantungnya semakin lama malah semakin berdegup kencang.


"Tidak... " jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang berpura-pura bingung sambil menahan tawanya,saat ia melihat wajahnya Sebastian yang terlihat sedang menahan gugup.


Sebastian langsung menghela napas berat dengan panjang,saat ia mendengar jawabannya Jennifer tersebut.Sepertinya,Jennifer juga melupakan tentang pernikahan mereka,tapi kenapa Jennifer malah mengingat keluarganya dengan baik.Dan ia juga tidak mau,kalau malam ini ia akan tidur sendirian.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya Sebastian yang tiba-tiba saja bingung mau mengatakan apa,sambil mengambil pelan tangannya Jennifer.


"Apa yang,,, kenapa kamu......" Jennifer bahkan belum sempat menjawabnya,tapi Sebastian sudah langsung memasangkan cincin tersebut kejari manisnya.


"Ingat...Apapun yang terjadi,jangan melepasnya lagi..." peringat Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil mengenggam lembut tangannya Jennifer.


"Tapi cincin ini bukan milikku,kenapa kamu......" belum sempat Jennifer menyelesaikan keberatan pura-puranya tersebut,Sebastian sudah duluan menyelanya dengan cepat.


"Cincin ini tetap milikmu,sebelum ini ataupun nanti setelah kamu mengingatiku.Tapi lagi pula aku tidak perduli kamu akan mengingati aku atau tidak nantinya,aku tetap akan memberikan cincin pernikahan kita ini padamu..." sela Sebastian dengan nada seriusnya,sambil terus menatap matanya Jennifer yang mulai menjadi salah tingkah.


"Pernikahan?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang berpura-pura kaget dan juga bingung,sambil menetralkan rasa gugupnya tersebut.


"Iya,pernikahan yang awalnya aku tidak menginginkannya,karena wanita yang akan aku nikahi hari itu terlihat begitu menyebalkan dan juga begitu tidak tahu malu..." jawab Sebastian dengan wajah yang tersenyum kesal,saat ia mengingat kembali tingkah-tingkah memaksanya Jennifer terhadapnya pada sebelum-sebelumnya.


"Wanita bod*h yang selalu mengejar cintaku tanpa henti,dan tidak memikirkan dirinya sendiri lagi.Saat itu,aku terlihat seperti pria yang sangat beruntung karena telah dicintai wanita bod*h sepertinya..." lanjut Sebastian.


"Tapi,,," lanjut Sebastian dan menjedanya dengan wajah yang tersenyum lucu,sambil menahan tangannya Jennifer yang berniat menjauh darinya.

__ADS_1


Apa lagi saat ia melihat Jennifer yang langsung menampilkan wajah memberengut kesalnya tersebut,senyum lucunya pun menjadi semakin lebar.


"Tapi sekarang wanita bod*h itu telah berhasil membuat aku menjadi seperti pria yang bod*h,karena sekarang aku tidak lagi mampu memikirkan yang lainnya selain dirinya saja" lanjut Sebastian dengan jujur,tanpa melepaskan genggamannya pada tangannya Jennifer.


"Apa kamu sedang tidak waras?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil terus berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggamannya Sebastian.Apa lagi,saat ia mendengar kata bod*h dari Sebastian tadi.


"Tidak,malahan aku sedang sangat waras saat ini..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Jennifer sedikitpun.


"Iya.Dan aku rasa,mungkin saja kamu sedang panas dalam saat ini..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum kesal,sambil memalingkan wajah senyum kesalnya kesamping.


"Tapi walaupun wanita itu telah berhasil menganggu hidupku yang penuh ketenangan itu, aku sama sekali tidak pernah menyalahknnya,aku juga tidak berniat ingin mengusirnya dari hidupku..." ucap Sebastian dengan nada seriusnya dan mengabaikan gerutuan kesalnya Jennifer tersebut.


"Karena sekarang aku telah menyadari sesuatu, kalau ternyata aku telah jatuh cinta pada wanita itu selama ini..." lanjut Sebastian dengan perasaan gugup diekspresi wajah tenangnya,dan perkataannya barusan berhasil membuat Jennifer merasa bingung sekaligus tidak percaya.


"Wanita itu? maksudmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,sambil memalingkan wajahnya kearah Sebastian kembali.


"Iya,dan wanita itu adalah kamu sendiri.Selama ini aku terlalu sibuk berkerja,dan aku juga terus berusaha menghindari untuk terlibat dalam percintaan apapun,karena aku tidak mau kejadian percintaan payahku yang telah menimpaku pada tahun lalu itu kembali menimpaku.Tapi sekarang aku sudah sadar, kalau betapa pentingnya dirimu dalam hidupku..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang semakin serius,dan terlihat sedikit gugup.


Sedangkan Jennifer,ia masih menampilkan wajah bingung dan tidak percayanya tersebut, dan masih setia menunggu lanjutan dari Sebastian.


"Sekarang aku sudah sadar,kalau ternyata aku telah mencintaimu selama ini.Dan aku akan tetap mencintaimu,walaupun sekarang kamu tidak mengingatiku atau mengenaliku lagi.Jika perlu,aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cintamu lagi..." lanjut Sebastian dengan satu tarikan napas,sambil terus menetralkan degupan jantungnya tersebut.


"Apa kamu serius?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil terus menelisik kedua matanya Sebastian yang terlihat jujur dan penuh cinta untuknya.


Tapi semua itu terlihat seperti bohongan saja, saat ia memikirkan tentang sikap cueknya Sebastian terhadapnya beberapa waktu yang lalu.Menurutnya tidak mungkin,kalau Sebastian bisa berubah secepat itu bukan...


"Dengan apa atau aku harus melakukan apa, supaya kamu bisa mempercayai kata-kataku,hm ?"tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya.


"Apa aku harus membelah hatiku sekarang, supaya kamu bisa melihat isi hatiku yang sebenarnya...Dan kamu juga pasti akan melihat,kalau didalam hatiku telah tertulis namamu disana..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah bingungnya,saat ia melihat ekspresi wajahnya Jennifer yang tidak berubah sama sekali.


"Apa kamu sedang menggombal sekarang,hm?" tanya Jennifer dengan nada santainya,sambil menahan tawanya,karena ekspresi bingungnya Sebastian saat menggombal terlihat sangat lucu.


"Bukan begitu maksudku,tapi aku benar-benar telah mencintaimu sekarang.Coba kamu rasakan disini,kamu bisa merasakan betapa aku begitu mencintaimu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya kembali tapi juga bercampur bingung,sambil mengangkat tangannya Jennifer dan mendekatkannya kedada kekarnya tersebut.


Lagi-lagi Sebastian menghela napas berat dengan panjang,saat ia melihat Jennifer yang hanya terus diam dengan ekspresi tidak percayanya tersebut.


"Tidak masalah kalau kamu masih belum mengingat tentang diriku,tapi kamu harus mempercayai cintaku padamu..." lanjut Sebastian dengan nada yang lebih serius,tapi Jennifer masih saja tidak memberinya reaksi apapun.


"Jika tidak,kamu katakan saja...Apa yang harus aku lakukan untukmu,supaya kamu bisa mempercayai kata-kataku?" tanya Sebastian lagi,dengan nada dan wajah bingungnya kembali,karena Jennifer tidak juga memberinya reaksi apapun selain hanya terus menatapnya saja.


"Apakah sekarang kamu benar-benar sedang dalam keadaan baik-baik saja?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya,sambil mendekatkan punggung tangannya kekeningnya Sebastian, untuk memastikan semua yang ia dengar barusan.


Mana tahu saja,sekarang Sebastian sedang demam atau sakit apapun itu,sampai membuat Sebastian berbicara yang mustahil-mustahil seperti yang barusan.


Sedangkan Sebastian,wajah bingung dan seriusnya tadi langsung berubah menjadi malas dan juga kesal,karena reaksi yang diberikan oleh Jennifer barusan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan tadi.


"Aku baik-baik saja,sedari tadi..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum malasnya,sambil menurunkan tangannya Jennifer yang masih berada dikeningnya tersebut.


'Dan sekarang aku tidak tahu,apakah masih baik-baik saja...' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil berusaha untuk mengendalikan segala rasa kesalnya tersebut.


"Baiklah.Sekarang,sebaiknya kita masuk kedalam,supaya kamu bisa benar-benar beristirahat didalam..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum tapi rasa kesalnya tetap terlihat,sambil berdiri dari duduknya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangannya Jennifer.


Sedangkan Jennifer,ia masih terus menahan tawanya dan perasaan bahagianya tersebut sedari ia melihat senyum malasnya Sebastian tadi.

__ADS_1


Saat ia sudah selesai mencerna apa saja yang telah dikatakan oleh Sebastian sedari mereka duduk disana tadi,dan ia juga bisa melihat jelas tatapan cintanya Sebastian untuknya tadi.Ia bahkan sama sekali tidak merasa bosan dengan ungkapan cintanya Sebastian terhadapnya,yang ntah sudah keberapa kalinya ia dengar sedari tadi.


Apa lagi,saat ia melihat senyum kesalnya Sebastian barusan,hingga mampu membuat tawanya tidak bisa bertahan lama lagi didalam sana.


__ADS_2