Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 116


__ADS_3

"Jadi aku harap, kalian semua bisa berkerja dengan baik bersama putriku untuk kedepannya nanti. Ingat,semua perintahnya adalah perintahku juga. Apa kalian semua sudah mengerti sekarang?" lanjut Daddy dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah tegasnya,bahkan tatapan tajamnya yang masih terarah kearah semua karyawannya itu semakin tajam dari pada saat ia masuk tadi.


"Kami sudah mengerti,Pak Presdir..." jawab semuanya secara serentak,sambil melirik takut kearah Daddy dan juga Jennifer.


Mereka semua juga sempat takut,terhadap pria berwajah datar dan kejam yang mereka tahu kalau pria tersebut adalah suami Nona Mudanya itu.Tapi wajah datarnya pria tersebut langsung berubah menjadi santai,saat melihat Pak Presdir mereka dan yang lainnya masuk tadi,jadi rasa takut merekapun sedikit mengurang walaupun hanya sebanyak ujung jari saja.


"Apakah kalian ada pertanyaan yang ingin ditanyakan,hm?" tanya Daddy dengan kedua matanya yang langsung menelisik semuanya satu persatu.


"Tidak ada,Pak Presdir" lagi-lagi mereka menjawabnya dengan cepat dan juga secara serentak.


Dan lagi pula,siapa juga yang akan berani protes tentang apapun kepada Pak Presdir mereka itu. Apa lagi,pengganti dari Pak Presdir mereka itu sangat cantik dan tidak terlihat bisa untuk diremehkan.Jadi,tidak ada alasan lagi untuk mereka bertanya ataupun protes.


"Baiklah...Sekarang,kalian semua sudah boleh keluar..." perintah Daddy dengan nada dan wajah tegas yang masih sama,sambil melirik sekilas kearah Jennifer yang malah sibuk terus menatap kearah Sebastian.


Lihatlah,bahkan ekspresi wajah tegas putrinya tadi itu langsung menghilang ntah kemana,hingga mampu membuat dirinya langsung menahan rasa kesalnya itu.


Maka dari itu,ia harus segera menyelesaikan peresmian Presdir yang konyol tersebut.Dan juga ingin mempertanyakan dengan jelas pada Sebastian,apa alasan sebenarnya sampai bisa berada disini secara tiba-tiba seperti ini.


Padahal ia masih ingin memberi beberapa peringatan pada semua karyawan-karyawannya tersebut,tapi rasa penasarannya lebih tinggi dari semua itu.


"Baik,Pak Presdir" jawab semuanya,dan panggilan tersebut juga untuk terakhir kalinya dari mereka semua,karena untuk kedepannya kata Presdirnya akan dihilangkan.


Setelah itu,mereka semuapun langsung berjalan keluar dengan teratur,sambil menghela napas lega dan juga menunduk hormat kearah Daddy,Mommy dan juga Jennifer.


'Apa lagi,yang harus aku jawab? Jika Daddy kembali membahas yang tadi...' batin Sebastian dengan berusaha mempertahankan wajah santainya,sambil memperhatikan satu persatu karyawan yang sedang sibuk menunduk hormat dan berjalan keluar dari sana tanpa keributan sedikitpun.


Permandangan yang sama seperti yang selalu terjadi diperusahaannya,jika akan ada pengumuman baru ataupun sedang rapat.Tapi bukan itu yang sedang ia pikirkan saat ini,karena sebenarnya ia sedang memikirkan untuk mengatakan jawaban yang tepat,jika setelah ini ia akan ditanya kembali oleh Daddy.


"Ehem ehem ehem..." dehem Daddy dengan nada tingginya,setelah semuanya sudah habis satu persatu berjalan keluar dari sana, juga pintu yang sudah ditutup rapat oleh Billy dan Aldy yang hanya mampu berdiam diri saja sedari ia ikut berjalan masuk kedalam tadi.


Dan Daddy juga,karena sekalian ingin menyadarkan tatapannya Jennifer yang masih saja belum berubah sedari tadi.


"Ehem ehem ehem..." Jennifer malah ikut berdehem dengan nada pelannya,sambil menetralkan wajah herannya tadi.


Dan juga berusaha menyembunyikan rasa kagetnya yang telah bercampur perasaan malunya itu karena ia jadi hilang fokus berkat kehadiran suaminya disana,dan ia juga baru menyadari, ternyata semua karyawan yang masih memenuhi ruangan tersebut,saat ini sudah menghilang dari pandangannya.


Sedangkan Sebastian,ia yang kesadarannya memang masih utuh itupun langsung mengalihkan tatapan santainya tadi kearah Daddy,dengan gerakan pelannya.


"Sekarang bisakah kamu mengatakannya pada kami,hm?" tanya Daddy dengan singkat dan nada malasnya kembali,sambil menelisik wajah tampan menantunya itu.


"Mengatakannya pada kalian? Memangnya apa yang harus aku katakan pada kalian,Dad?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah yang berpura-pura bingung.


"Cih..." Daddy langsung berdecih kesal,saat ia melihat akting menyebalkan menantunya itu.

__ADS_1


"Jangan berpura-pura lagi,pada kami.Disini sudah tidak ada orang lain,selain orang kita sendiri saja..." lanjut Daddy dengan nada kesalnya,sambil bersedekap dada.


Ia bukannya tidak tahu kalau Sebastian selalu lebih mengutamakan perkerjaannya dari pada yang lainnya,tapi kenapa pagi ini menantu keras kepalanya itu malah terlihat sangat berbeda,dan itu adalah hal yang aneh baginya dan juga yang lainnya.


Apa lagi saat ia ingin berjalan untuk mencari Jennifer tadi,ia juga bisa melihat dengan jelas kalau mobil menantunya itu sudah melaju pergi dan menghilang dari pandangannya begitu saja.


Tapi lihatlah,sekarang menantunya itu sudah seperti hantu saja,menghilang dan muncul begitu saja sesukanya.Dan itu,sangat menyebalkan baginya.


Tapi tidak begitu terlalu dengan Jennifer yang hanya mampu lebih banyak terheran-heran saja, dan juga Mommy yang sepertinya sangat menyukai dengan kehadiran menantunya itu. Karena setidaknya dengan begitu,berarti hubungan mereka berdua tidak separah yang telah ia duga tadi.


"Mom,lihatlah Daddy...Apa aku terlihat sedang berpura-pura sekarang? Bukankah,seorang suami wajib datang untuk menghadiri peresmian istrinya sebagai seorang Presdir dari perusahaan yang sebesar ini?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah yang berpura-pura kesal,tapi kali ini ia melibatkan Mommy,untuk melewati sesi-sesi pertanyaan dari Daddy yang selanjutnya.


Jadi ia tidak perlu memikirkan tentang kalimat-kalimat yang harus ia katakan untuk pertanyaan memaksanya Daddy,karena setelah ini sudah ada Mommy yang akan membantunya.


"Sayang,,,kenapa kamu suka sekali mempersulitkan putra kita ini? Jangan terlalu suka mempersulitkannya lagi.Lebih baik,sekarang kita semua keruanganmu yang sudah menjadi miliknya Jennifer tadi,untuk beristirahat dan juga mengobrol yang lebih berguna lagi..." jawab Mommy yang sedari tadi hanya terus setia menjadi pendengar saja,saat ia bisa langsung mengerti dengan apa maksudnya Sebastian barusan.


Sedangkan Daddy,ia langsung mendengkus kesal sambil menatap kesal kearah menantunya yang tidak tahu diri itu.


Sekarang panggilan Daddy untuknya itu terdengar sangat menggelikan dan menyebalkan dipendengarannya.Apa lagi,saat barusan ia mendengar kata "putra" dari mulut istrinya untuk Sebastian.


Jennifer dan yang lainnya hanya mampu menahan tawa saja,saat mereka melihat Daddy yang kali ini harus merasakan rasa kesal yang tidak bisa dilampiaskan.


Walaupun Jennifer juga merasa penasaran dengan alasannya Sebastian tersebut,tapi ia juga tidak ingin terlalu memperlihatkannya,karena ia sudah bertekad ingin membatasi setiap hubungan fisik maupun komunikasi mereka untuk kedepannya nanti.


"Ayo,sekarang kita keluar dari sini,dan keruangan lamamu itu..." lanjut Mommy,ia mengajak dengan nada dan wajah manjanya,sambil berdiri dari duduknya dan juga menarik pelan lengannya Daddy yang terpaksa mengikuti kemauan istrinya itu.


Dari pada wajah manja istrinya itu nanti berubah menjadi kesal,dan malamnya ia tidak akan bisa mendapatkan jatah sedikitpun.


Setelah itu,Jenniferpun langsung mengikuti langkah kedua orang tuanya dengan langkah santainya,dan juga melirik sekilas kearah suaminya yang juga sedang menatapnya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum senang dan juga puas karena berhasil melewati sesi-sesi pertanyaannya Daddy tadi,dan juga berhasil sekalian membuat Daddy merasa kesal.


"Tuan Muda,bagaimana dengan meetingnya? Kita harus segera berangkat sekarang dan menghadiri meetingnya,jika tidak..." pertanyaannya Billypun langsung terhenti,karena telah disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Biarkan saja...Sekarang,kamu hanya perlu ikuti aku dan diam saja..." sela Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan tegas untuk mengikuti langkah-langkahnya mereka yang sudah duluan melangkah tadi.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat,nada dan wajah pasrahnya,lalu ia langsung mengikuti langkah tegas Tuan Mudanya itu,dengan langkah tidak bersemangatnya.


Padahal meeting tersebut akan menghasilkan untung yang banyak,hitung miliyaran rupiah untuk perusahaannya,tapi Tuan Mudanya malah menyia-nyiakannya,hanya karena mendengar laporannya tadi.


Jika saja ia bisa menggantikan posisi Tuan Mudanya, ia sudah pasti akan langsung melakukannya,tapi sayangnya mereka hanya menginginkan kehadiran Tuan Mudanya saja.


Dan sekarang,mereka semuapun sudah berada didalam ruang kantornya Jennifer,untuk bisa mengobrol lebih santai dan juga tenang.

__ADS_1


"Aldy...Apakah kamu sudah memeriksa 2 karyawan baru yang ada didalam ruangan tadi?..." tanya Daddy dengan nada tegasnya setelah ia diam selama beberapa menit,sambil menelisik wajah tenangnya Sebastian yang memang sedang duduk berhadapan dengannya.


Iapun sengaja membuat Sebastian berbicara sendiri mengenai tentang beberapa orang yang sedang ia curigai tadi.Dan melupakan sejenak, tentang yang telah ia debatkan dan pertanyakan tadi.


"2 karyawan? 2 karyawan yang mana,Tuan Besar?" dan yang membuatnya menjadi semakin parah, karena yang ditanya malah menjadi kebingungan, karena Tuan besarnya tidak berbicara detail hingga menyebut nama kedua orang karyawan tersebut.


Daddypun langsung menghela napas berat dengan panjang,saat ia baru mengingat kalau Aldy masih sangat kurang mahir dalam melakukan hal yang lebih serius ataupun yang darurat.Sedangkan Asisten pribadinya,dia sedang merayakan ulang tahun cucunya,jadi hari ini Asistennya tidak mengikutinya


Lagi pula Asistennya itu sudah sama-sama tua seperti dirinya,walaupun masih selalu bisa diandalkan olehnya,tapi tetap saja saat ini memang sudah waktunya beristirahat kerja atau pensiun untuk sisa hidupnya.


Sedangkan Jennifer dan Mommy,mereka berdua sudah mengambil tempat duduk tersendiri disudut sofa sana sedari mereka masuk tadi,supaya obrolan ringan anak Ibu mereka tidak akan terganggu dengan wajah-wajah datar atau dinginnya kedua pria tersebut,tapi pendengarannya mereka berdua tetap berfungsi dengan baik disepanjang obrolan mereka itu.


"Salah satu dari mereka berdua,latar belakangnya wajib dicurigai karena ada yang tidak beres dengan surat lamarannya pada hari itu.Dan yang satunya lagi,latar belakangnya tidak terlihat mencurigakan, tapi aku tetap memiliki pandangan yang tidak baik terhadapnya.Dan disetiap penilaianku ini,mau terhadap siapapun,tidak pernah meleset sediÄ·itpun..." timpal sebastian yang sedari tadi hanya diam saja,dengan nada dan wajah seriusnya,dan nada sombong diakhir kalimatnya.


Dan lihatlah,tatapan matanya yang terus terarah kearah istrinya itu,bahkan sedari ia masuk tadi hingga saat ini masih tidak beralih sedikitpun


Terlihat istrinya yang sedang memeriksa dokumen-dokumen dari Aldy tadi,sambil mengobrol bersama Mommy,diujung sofa sana.


Sepertinya istrinya itu memang sengaja mencari tempat duduk tersendiri yang seperti itu,supaya bisa menghindari kontak mata atau apapun yang berkaitan dengannya.


"Cih..." Daddypun langsung berdecih kesal,saat ia mendengar nada sombong dan melihat tingkah menggelikan menantunya itu.


"Mereka berdua memang sudah berkerja disini sedari 4 bulan yang lalu,dan mendaftar masuk kerja dihari yang berlainan pada hari itu,dan juga masih belum ada pergerakan-pergerakan mereka yang terlihat mencurigakan selama 4 bulan ini.Tapi tatapan mata mereka sangat berbeda dengan yang lainnya..." lanjut sebastian dengan nada dan wajah yang masih serius.


Sedangkan Daddy,ia hanya tetap dengan diamnya, sambil melihat dan mendengar Sebastian yang sedang berbicara,dengan ekspresi wajah seriusnya juga.


Dan berbeda dengan Billy yang masih berdiri dengan posisi tenang dan santainya,tapi Aldy malah hanya mampu menganga tidak percaya saat ia mendengar Tuan Muda mereka yang terlihat sangat memahami apa yang sedang dipertanyakan oleh Tuan Besar mereka tadi.Padahal seharusnya ia yang menjawabnya,tapi nyatanya tadi ia malah menjadi kebingungan duluan.


"Dan aku rasa,Daddy juga bisa melihatnya bukan?" lanjut Sebastian lagi,ia bertanya pada Daddy dengan nada santainya kembali,sambil mengalihkan tatapannya kearah Daddy.


"Iya,aku memang sudah melihatnya.Aku rasa, mereka berdua berasal dari tempat yang sudah terlatih,hingga bisa melakukannya dengan begitu baik,santai dan normal seperti itu..." jawab Daddy dengan nada dan wajah seriusnya,karena ia memang sepemikiran dengan sebastian.


Hanya saja,ia tidak mengatakan kalau ia baru saja memperhatikan mereka berdua pada saat ia melakukan peresmiannya Jennifer tadi,karena terlalu sibuk dengan perkerjaan dan juga bermesraan bersama istrinya.


"Dan apa Daddy juga melihatnya? Sedikitpun tidak ada ekspresi takut diwajah mereka berdua.Dan aku yakin,kalau mereka pasti akan melakukan apapun atas perintah Tuan mereka,tanpa memikirkan nyawa mereka sedikitpun..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya yang telah bercampur seriusnya itu,tanpa mengalihkan tatapannya dari Daddy yang terlihat langsung mengangguk-nganggukkan pelan kepalanya.


Dengan melihat tatapan mata mereka saja,ia bisa langsung tahu,kalau mereka berdua akan rela berkorban nyawa demi Tuan mereka.


"Bukankah hari ini,baru hari pertamanya kamu datang kesini?" tanya Daddy dengan nada dan wajah herannya,karena ternyata Sebastian begitu teliti dalam memeriksa ataupun melihat sesuatu.


"Dad,bukankah diperusahaan ini selalu memiliki mata disetiap sudut dan sisinya perusahaan ini? Jadi,hal yang seperti itu tidak akan jadi masalah untukku..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah santainya,sambil menunjuk kearah beberapa camera yang tergantung rapi disudut-sudut ruangan tersebut dengan ekor matanya.


Daddypun langsung mendengkus kesal saat ia mendengar nada santainya Sebastian yang terdengar sombong dipendengarannya itu,setelah ia sudah melirik sekilas kearah tunjukkan ekor matanya Sebastian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2