
Jennifer terlihat berpikir beberapa saat, kemudian ia langsung mengangguk pelan dengan ekspresi wajah senangnya.
"Ehmm,tidak buruk juga..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya, sambil terus menatap wajah tampannya Sebastian.
"Sejak kapan kamu pandai berkata manis dihadapannya wanita,Honey?" tanya Jennifer lagi,dengan nada dan wajah penasarannya, karena setahu dirinya selama ini Sebastian sangat jarang bicara dan tidak pandai dalam soal gombal-menggombal,tapi sedari tadi ia terus saja mendengar Sebastian mengatakan gombal-gombalan kecilnya tersebut.
"Sejak aku melihat kamu tidak sadarkan diri pada hari itu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum malunya,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Jennifer.
"Apakah kamu tahu? Pada saat kamu tidak sadarkan diri hari itu,aku begitu takut akan kehilangan dirimu.Tapi ternyata Tuhan mendengar semua doa-doaku,dan kamu ada dihadapanku saat ini,dalam keadaan sehat-sehat saja.Apakah kamu juga tahu? Betapa senang dan bahagianya aku,saat aku melihat kamu sudah sadarkan diri pada hari itu.Dan sekarang,aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku mengungkapkan segala rasa senang dan bahagianya dan juga beruntungnya aku karena ternyata kamu tidak pernah melupakan diriku sama sekali...Aku mencintaimu,Swetty..." lanjut Sebastian dengan panjang lebar dan wajah yang terus tersenyum bahagia,sambil mengangkat pinggulnya Jennifer sedikit keatas.
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya,walaupun Ibu dan Stella pernah menceritakannya padanya betapa kacaunya Sebastian saat ia belum sadarkan diri hari itu,tapi sekarang ia ingin memastikannya sendiri dari mulutnya Sebastian.
"Apakah kamu tidak mempercayaiku sekarang,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah malasnya,saat ia melihat wajah tdak percayanya Jennifer tersebut.
"Ehhmm,aku mempercayaimu.Tapi aku merasa heran dan juga bingung,kemana sikap-sikap menyebalkanmu pada sebelum-sebelumnya? Dan perubahan sikapmu juga terasa agak cepat bagiku,dan semua itu terasa seperti mimpi bagiku.Lihatlah sekarang,pria datar yang biasanya akan bersikap menyebalkan,cuek padaku,sekarang malah tidak mau kehilanganku..." jawab Jennifer dengan jujur dan nada mengejek candanya,karena pria yang ia sangka tidak mudah untuk ia gapai ini,sekarang malah terus saja menyatakan cinta padanya sedari tadi,ia bahkan lupa menghitung ntah sudah berapa kali.
"Bukankah memang sudah sejak lama,ini yang kamu inginkan,hm? Aku masih teringat sama wajah tidak tahu malumu itu,saat kamu sibuk mengejar cintaku hari itu" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya,tanpa melepaskan pelukan dipinggulnya Jennifer tersebut.
"Kalau begitu...Apakah aku harus berucap syukur saat ini,karena pria yang selama ini telah aku cintai,akhirnya telah membalas cintaku juga..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malunya,sambil menyembunyikan wajah malunya tersebut kepundak kokohnya Sebastian.
Sebastianpun langsung tertawa kecil,saat ia melihat tingkah malunya Jennifer tersebut,iapun ikut mendekatkan wajahnya keleher mulusnya Jennifer dan menghirupnya dalam- dalam, dengan kedua mata yang terpejam rapat.
"Sekali lagi,maafkan aku,aku yang terlalu bod*h sampai menyia-nyiakan dirimu begitu saja.Jika saja sebelum-sebelumnya aku tidak bersikap cuek dan bisa menjagamu dengan lebih baik lagi,pasti kejadian yang telah menimpa dirimu hari itu tidak akan pernah terjadi..." ucap Sebastian dengan nada pelannya dan wajah bersalahnya kembali,walaupun Jennifer tidak akan mempermasalahkan masalah tersebut,tapi tetap saja dirinya merasa begitu bersalah terhadap Jennifer.
Jika saja sampai saat ini,Jennifer tidak juga sadarkan diri,ntah apa yang akan ia lakukan dengan kepala yang hanya berisi kekacauan tersebut.
"Apakah kamu tidak bosan terus mengatakan maaf padaku?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malasnya,sambil mengangkat kepalanya dan menghadapkan ekspresi wajah tidak sukanya kewajah tampannya Sebastian.
"Kamu memang tidak akan merasa bosan,tapi aku yang akan merasakan bosan,karena terus mendengar kata maaf darimu.Jangan pernah mengatakan kata maaf lagi,tidak ada kata maaf ataupun terima kasih diantara kita,hanya ada kata cinta dan cinta diantara kita.Apakah kamu sudah mengerti sekarang? Lagi pula,aku juga bersalah dalam kejadian yang telah menimpa diriku hari itu" tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya dan ekspresi wajah bersalah diakhir kalimatnya,saat ia melihat gelengan pelan kepalanya Sebastian yang mengatakan kalau Sebastian tidak akan merasa bosan untuk terus mengatakan kata maaf tersebut.
Sebastianpun kembali tertawa kecil saat ia mendengar gerutuan kesalnya Jennifer tersebut, sambil memposisikan kedua pahanya Jennifer tepat disamping kiri kanan pinggangnya,supaya Jennifer bisa menjepit pinggangnya dan kedua tangannya bisa bebas memegang apapun,karena ia ingin membelai rambut ikalnya Jennifer.
"Oke,oke,aku tidak akan mengatakan kata maaf padamu lagi.Aku hanya akan mengatakan,kalau aku mencintaimu,aku sangat,sangat,sangat mencintaimu,Swetty...Apakah kamu masih akan merasa bosan sekarang?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil membelai pelan rambut panjang,hitamnya Jennifer.
"Kalau yang satu ini,aku tidak akan pernah merasa bosan,Honey..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum bahagia,ia bahkan langsung menjepit erat pinggangnya Sebastian,saat ia bisa langsung mengerti apa maksudnya Sebastian tersebut.
Sedangkan yang lainnya,yang berada disana,mereka semua bahkan sedari tadi sudah langsung berbalik badan kearah lain,mereka tidak mau kalau kepala mereka akan dilubangi oleh Tuan Muda mereka nantinya.Mereka semua bahkan telah berbalik badan,sebelum Tuan Muda dan Nona Muda mereka berubah menjadi seperti seekor koala yang sedang bermanjaan dengan majikannya.
"Dan aku juga mencintaimu,sangat,sangat mencintaimu.Cup..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum jujurnya,sambil mengecup sekilas bibir tebalnya Sebastian,dan segera menyembunyikan wajah malunya tersebut kepundak kokohnya Sebastian kembali.
__ADS_1
"Apakah sekarang kamu sedang menggodaku, hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum menggodanya kembali.
"Kalau iya,kenapa?" tanya Jennifer balik,nada suaranya terdengar begitu menantang,padahal wajahnya terlihat begitu malu dibalik pundak kokohnya Sebastian tersebut.
"Kalau iya,aku menginginkannya lagi,karena aku telah tergoda sekarang.Jadi,kamu harus bertanggung jawab sekarang..." jawab Sebastian dengan nada dan ekspresi wajah yang masih sama,sambil melangkah pelan masuk kedalam rumah,karena sepertinya benda bawahnya sudah mulai terbangun akibat gerakan-gerakan bokongnya Jennifer yang tidak sengaja tersebut.
"Dasar mesum... " ucap Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum malu yang bercampur kesal,sambil mempererat jepitan kedua kakinya dan juga rangkulan tangannya dileher kokohnya Sebastian saat ia merasakan Sebastian yang mulai melangkah pergi dari halaman tersebut.
Apa lagi Sebastian hanya memegang tubuhnya yang bagian atasnya saja,hingga membuatnya bersikap seperti koala karena takut akan terjatuh kebawah begitu saja.
"Apa salahnya mesum bersama istri sendiri? Apakah kamu pernah membaca sebuah larangan,untuk suami istri yang seperti kita ini tidak boleh bersikap mesum,hm?" tanya Sebastian dengan suara beratnya tapi ekspresi wajah bahagianya terus terpancar sedari tadi,ia bahkan berjalan sambil menyesap pelan leher mulusnya Jennifer.
"Honey...Bukan itu yang jadi masalahnya sekarang,tapi tempatnya yang salah... "Jennifer hanya mampu memanggil dan menggerutu kesal dengan nada pelannya saja,saat Sebastian mulai memberinya sensasi-sensasi ringan tersebut.
"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,karena sibuk fokus pada leher mulusnya Jennifer,dan mengabaikan gerutuan kesalnya Jennifer tersebut.
"Honey,perhatikan jalannya,kita akan terjatuh kalau kamu terus bersikap mesum seperti ini..." peringat Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya yang telah bercampur malu,sambil memerhatikan keadaan disekitar mereka dan juga berusaha untuk mendorong kepalanya Sebastian dari lehernya tapi nyatanya tetap tidak mau terpisah dari lehernya.
Iapun langsung menghela napas lega,saat ia hanya melihat punggungnya semua para pengawal,pelayan yang ada diluar dan didalam rumah suaminya tersebut.Walaupun masih merasa malu,tapi setidaknya tidak ada satupun yang berani menonton apa yang sedang suaminya lakukan tersebut.
"Swetty,tenanglah,diamlah,dan jangan terus bergerak.Jangan sampai temanku bangun disaat yang belum tepat seperti ini,dan aku pasti tidak akan mampu mengendalikannya lagi..." peringat Sebastian dengan suara yang semakin berat sambil terus melangkah pelan masuk kedalam, karena ia juga harus mempertahankan temannya dan sekaligus g**r*hnya yang semakin lama semakin meninggi tersebut.
"Ibu,apakah mereka berdua begitu tidak tahu tempat? Menyebalkan..." ucap Stella dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat adegan mesra kakaknya bersama kakak iparnya barusan.
"Iya.Mereka berdua memang sudah keterlaluan,bertingkah mesum ditempat umum seperti itu.Apakah mereka berdua benar-benar sudah tidak punya rasa malu lagi?" jawab Ibu dengan nada dan wajah kesalnya juga,sambil segera menutup jendela kaca tersebut dengan gorden jendela,supaya mata mereka berdua tidak tercemar terlalu lama lagi.
"Ehem ehem ehem..." dehem Ayah dari belakang mereka dengan nada tingginya dan wajah malasnya,sambil bersedekap dada.
"Ya,Tuhan..." Ibu dan Stella langsung terlonjak kaget dan juga menyebut nama Tuhan secara bersamaan,saat mereka tiba-tiba saja mendengar deheman yang bernada tinggi tersebut.
"Sayang,apa yang sedang kamu lakukan dibelakang kami?" tanya Ibu dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengelus-elus dadanya yang masih terasa kaget.
"Ayah,apa Ayah tidak bisa pelan sedikit? Dan kenapa tiba-tiba saja Ayah ada dibelakang kami?" timpal Stella dengan nada dan wajah yang tidak kalah kesalnya dengan Ibu,ia juga ikut mengelus-elus dadanya karena rasa kagetnya yang masih tersisa tersebut.
"Lalu apa yang kalian perbuat disini,hm? " tanya Ayah dengan nada dan wajah malasnya,ia juga mengabaikan pertanyaan-pertanyaan kesalnya Ibu dan Stella,sambil menatap intimidasi kearah istri dan putri nakalnya tersebut.
Istri dan putri bungsunya itu bahkan tidak menyadari kehadirannya dibelakang mereka, karena terlalu sibuk menonton adegan mesra sepasang manusia yang berada dihalaman belakang tersebut,hingga mampu membuat dirinya geleng-geleng kepala karena tingkah konyolnya kedua wanita yang ia sayangi tersebut.
Sedangkan Ibu dan Stella,mereka berdua langsung menggaruk-garukkan pelan punggung kepala mereka yang tidak gatal itu,sambil tersenyum cenges-ngesan.
__ADS_1
"Dasar...Bukannya memasak atau belajar,malah mengintip orang yang sedang bermesraan.Apa kalian begitu tidak punya perkerjaan,hah?..." lanjut Ayah dengan nada dan wajah tidak sukanya,sambil memintil pelan telinganya Stella dan menarik pelan tangannya Ibu pergi dari sana.
"A Ayah,sakit...Ibu,tolong aku..." Stellapun hanya mampu memekik sakit dan juga menggerutu kesal disepanjang jalan Ayah memintil telinganya,hingga masuk kedalam ruang dapur, barulah ayah benar-benar melepaskannya.
Kembali ke Sebastian dan Jennifer...
"Teman? Maksudmu?" tanya Jennifer yang sama sekali tidak mengerti apa maksudnya Sebastian barusan.
"Iya.Teman seperjuanganku,jangan sampai temanku itu terbangun sepenuhnya.Dan aku takut,kalau aku tidak mampu menahannya lagi" jawab Sebastian dengan suara yang semakin berat saja,sambil berusaha terus berjalan menaiki anak tangga,selangkah demi selangkah.
"Teman seperjuanganmu? Teman seperjuanganmu yang mana satu? Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Jennifer yang malah semakin bingung saja,sambil memerhatikan wajah tampannya Sebastian yang telah hampir memerah seluruhnya.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas berat dengan panjang karena sibuk menahan segala gejolak anehnya itu.Iapun langsung menghentikan langkahnya tepat dianak tangga terakhir,dan menunjuk kearah benda bawahnya kepada Jennifer,melalui kode matanya.
"Maksudmu,,,,,," Jennifer langsung menjeda pertanyaannya tersebut dengan ,saat kepala kecilnya tersebut langsung berhasil menangkap apa yang dimaksudkan oleh Sebastian barusan.
"Jadi aku sarankan,supaya kamu jangan terlalu banyak bergerak,aku takut tidak bisa menahannya lebih lama lagi.Aku rasa,kamu juga tahu apa yang akan terjadi,jika kamu tetap ingin terus bergerak disana..." Sebastianpun langsung menjawab tanpa ditanya terlebih dahulu,dengan nada dan wajah yang tersenyum menggoda,tapi wajah memerah dan suara beratnya tetap terlihat dan juga terdengar.
"Atau,apakah kamu ingin kita melakukannya secara siaran langsung disini? Aku mungkin tidak akan merasa keberatan..." goda Sebastian lagi,sambil melanjutkan langkahnya pelannya tersebut.
"Dasar mesum... "Jennifer hanya mampu mengumpat kesal saja,lalu ia segera menyembunyikan wajah malunya dibalik pundak kokohnya Sebastian kembali.
"Dasar tidak tahu malu... " lanjut Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya yang masih sama.
Walaupun sikapnya Sebastian telah berubah banyak terhadap dirinya,tapi ternyata kepala dan sikap mesumnya tersebut masih tetap ada,dan bahkan semakin lama semakin meningkat saja.
"Aku mesum dan tidak tahu malunya hanya padamu saja,Honey..." ucap Sebastian dengan suara beratnya tersebut,sambil terus berjalan hingga sampai kepintu kamarnya mereka.
"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang dibuka pelan oleh Sebastian dengan sebelah tangannya,ia juga kembali mengunci pintu kamarnya tersebut,setelah mereka berdua sudah berada didalam kamar.
"Honey,,,ehhmmmmmm" Jennifer hanya mampu memanggil dan mengeluarkan suara khasnya tersebut,saat Sebastian malah terus menyentuh bagian-bagian sensitifnya hingga membungkam mulutnya,tanpa banyak berkata lagi.
Sebastianpun kemudian meletakkan Jennifer keatas kasur empuk tersebut,dan terus melakukan apa yang ingin ia lakukan sedari mereka berada dirumah sakit hari itu.
Sekarang ia tidak perlu menahannya lagi,akhirnya iapun bisa melepaskan segala rasa rindunya dan juga cintanya terhadap Jennifer,melalui adegan mesum tersebut. Sebastian terus menelusuri keseluruhnya,sambil melepaskan satu persatu benang yang menghalanginya,
Sedangkan Jennifer,ia yang sebenarnya memang menginginkannya,iapun menerimanya dengan senang hati.Apa lagi hormon dari kehamilan yang masih belum ia sadari tersebut terus saja berubah-ubah,dan sekarang ia memang sangat menginginkan Sebastian.
Dan kamar tersebutpun berakhir dan dipenuhi dengan suara-suara merdunya mereka berdua tanpa henti,selama hampir 1 jam.Untung saja kamar mereka kedap suara,hingga tidak perlu menganggu ketenangan atau kenyamanan para pelayan yang sedang lalu lalang didepan kamar mereka sekarang.
__ADS_1