
Karena terlalu sibuk dengan obrolannya yang hampir semua tentang Sebastian itu,Jennifer sampai melupakan waktu.
"Baiklah,sepertinya kita memang akan terus bertemu untuk kedepannya" ucap Erik dengan nada senangnya,sambil memeluk Elisa dari samping.
"Iya,aku juga berharap begitu" timpal Elvan dengan nada sungguh-sungguhnya,sambil tersenyum kecil kearah Jennifer,tapi tatapan cintanya hari itu sudah tidak ada lagi,hanya tatapan sahabat antara mereka saja, karena dalam 1 tahun ini ia benar-benar sudah berusaha menghilangkan rasa cintanya itu dengan baik.
"Dan aku berharap kalau untuk pertemuan kita selanjutnya,kamu akan membawa pria berwajah datar itu bersamamu" timpal Elisa dengan nada tulus dan candanya,sambil tersenyum senang.
"Itu sudah pasti,aku pasti akan membawanya bersamaku dan membuatnya tidak bisa menolakku lagi" ucap Jennifer dengan nada yakinnya.
"Dan sepertinya aku harus rajin-rajin untuk terus berterima kasih sama kalian,karena kalian terus saja mendoakan yang baik-baik untukku" ucap Jennifer dengan nada candanya,sambil terus tersenyum lebar dengan perasaan senangnya.
Elisa,Erik dan Elvan pun langsung tertawa kecil saat mereka ber 3 mendengar candaannya Jennifer barusan.
Setelah sedikit bercanda tawa dan selesai berpamitan,Jenniferpun segera pergi dari sana dengan wajah yang terus tersenyum senang dan juga bahagia karena hari ini ia telah mendapatkan 3 sahabat baru,walaupun pria pujaan hatinya masih belum bisa ia temui.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu terus mengikuti langkahnya Jennifer dengan langkah malas dan kesalnya, HP miliknya malah tertinggal didalam Restoran tersebut karena saat ia mau menyimpannya tadi,Nona Mudanya terus saja memperhatikan dirinya.
Hingga mampu membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa,HP miliknya tertinggal begitu saja,dan ia juga hanya mampu memberi pesan pada ke 3 sahabat Tuan mudanya itu melalui isyarat mulutnya tapi tanpa suara.
Didalam Restoran...
"Sayang,apa kamu bisa mengerti tentang bahasa isyaratnya pria tadi? Apa sebenarnya maksud dari pria yang tadi itu?" tanya Erik dengan wajah bingungnya,setelah mereka ber 3 sudah terdiam selama 10 menit lamanya,karena sibuk memikirkan arti dari isyaratnya Billy tadi,hingga mobil miliknya Jenniferpun ntah sudah menghilang kemana.
"Mana aku tahu,Kamu ini seperti aku pernah menekuni hal seperti itu saja..." jawab Elisa dengan wajah malasnya,dan langsung dipeluk oleh Erik lebih erat lagi.
"Tapi kenapa pria itu seperti sedang mengatakan kalau kita harus menyimpan HP miliknya yang ada disana itu" lanjut Elisa dengan nada bingungnya,sambil berusaha mengingat-ngingat isyarat bibir yang dilakukan oleh Billy tadi dan menatap HP milik pria tadi yang masih bertengger rapi diatas meja yang hanya berjarak beberapa langkah sana.
"Dan sepertinya,nanti dia akan kembali kesini lagi untuk mengambilnya..." timpal Elvan dengan nada pelannya karena ia juga memerhatikannya.
"Benarkah? Tapi aku juga penasaran sama apa yang dilakukan oleh pria tadi,sama HP miliknya itu..." ucap Erik dengan wajah penasarannya,sambil berjalan mendekati HP yang masih bersandar dengan baik tersebut,dan diikuti oleh Elisa dan juga Elvan dari belakangnya.
Sedangkan para karyawan,mereka semua hanya mampu memerhatikan ke 3 nya dari jauh karena mereka melihat kalau ke 3 nya sudah mengabaikan perkerjaan mereka selama 1 jam kebelakang.Untung saja saat 1 jam tersebut,mereka semua tidak sedang mengalami hal yang akan memerlukan bantuan dari ke 3 nya.
"Apa ini?" tanya Erik dengan wajah bingungnya setelah ia sudah mengambil HP tersebut dan menelisik layar HP tersebut yang ternyata sedang dalam video call.
Di Perusahaan Sachdev J Group...
Sebastian yang sedari tadi memang sedang menunggu laporan dari Billypun,segera membuka pesan dari Billy dengan kening yang mengernyit heran saat ia membaca pesan dari Billy yang mengatakan kalau Jennifer sedang berada di Restoran tempat lamanya berkerja dulu.
Tidak berapa lama kemudian,terdengar nada panggilan video call dari Billy,iapun langsung menerimanya dengan wajah penasarannya.
Dan terlihatlah Jennifer bersama Erik yang baru saja mulai bertanya jawab sebelum ia sempat bertanya pada Billy,lalu Elisa, Elvan dan juga Billy.Bahkan suara mereka terdengar sangat jelas ditelinganya Sebastian,ia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Jennifer sedang mencarinya,dan ia seperti sedang menonton siaran langsung saat ini.
Sebastianpun terus fokus pada layar HP miliknya dan mempertajamkan pendengarannya hingga mereka selesai berbicara,dan selama itu jugalah Sebastian terus saja tersenyum karena tingkah menggemaskan Jennifer,hanya sekali-kali menampilkan wajah kesalnya saat ia mendengar kata-kata menyebalkan yang tertuju untuknya dari ke 3 sahabatnya itu.
__ADS_1
Hingga suara seorang pria yang sangat ia kenal itu,langsung membuat senyumnya memudar dengan cepat...
"Bastian,apa itu benar-benar kamu? Elvan,Sayang...Lihatlah, Sebastian sedang tersenyum disana..." panggil Erik dengan wajah tidak percayanya,sambil terus menelisik senyuman lebar yang terpancar diwajah tampannya Sebastian yang ada dilayar HP miliknya Billy tadi,begitu juga dengan Elisa dan Elvan.
Mereka ber 3 baru saja menyadari kalau wajah tampan yang sedang tersenyum tersebut adalah Sebastian.
"Bukan..." jawab Sebastian dengan nada malasnya saat ia mendengar pertanyaan bod*hnya Erik barusan,sambil menyembunyikan rasa malunya karena telah ketahuan senyum-senyum sendiri.
"Pantasan saja,tadi pria itu bertingkah aneh" ucap Erik dengan nada pelannya saat ia mengingat kembali tingkah anehnya Billy tadi,dan mengabaikan jawabannya Sebastian barusan.
"Apa kamu tersenyum sendiri karena Nona Jennifer,Bas...?" tanya Elvan dengan wajah yang tersenyum menggoda,dan langsung diikuti oleh Elisa dan juga Erik.
Dan senyuman menggodanya merekapun mampu membuat Sebastian langsung mendengkus kesal,dan berniat ingin mematikan sambungan video call mereka.
"Hei,hei,tunggu bro,jangan matikan dulu.Masih ada banyak lagi yang ingin kami bicara dan tanyakan padamu..." seru Erik dengan cepat dan dianggukin cepat oleh Elisa dan juga Elvan yang sedang berdiri disamping kiri kanannya Erik.
Mereka ber 3 langsung tersenyum senang saat mereka melihat Sebastian yang mau mendengarkan mereka dan tidak jadi mematikan sambungan video call tersebut.
"Apakah Jennifer adalah wanita yang telah menjadi penyemangatmu untuk terus berkerja dan meraih kesuksesan yang telah kamu raih saat ini?" tanya Elisa dengan nada semangatnya dan wajah yang tersenyum senang
"Apa Jennifer juga yang telah membuatmu gila berkerja dan menjadi anti wanita?" lanjut Erik dengan nada menggodanya,saat Sebastian tidak juga menjawab pertanyaan dari Elisa.
"Oh iya,kita lupa mengatakan pada Jennifer kalau prianya ini sudah gila berkerja sekarang" lanjut Elisa dengan wajah yang dipenuhi rasa penyesalan.
"Lagi pula,jika mereka berdua telah bersama,Jennifer pasti akan tahu juga kan..." lanjut Erik dengan nada yakinnya.
Kemudian mereka berdua menatap malas kearah Elisa yang terlihat sedang berekspresi berlebihan,lalu mereka ber 3 kembali menatap kearah Sebastian yang masih saja tetap diam dengan wajah datarnya.
"Bastian,apa kamu mencintai Jennifer?" tanya Elisa yang memang sudah penasaran tentang hal ini sedari tadi,sambil menelisik wajahnya Sebastian yang malah mulai menjadi kesal.
"Atau jangan-jangan,kalian berdua memang sudah menjalin hubungan sedari pertemuan kalian saat acara ulang tahunnya Jennifer hari itu..." timpal Erik dengan wajah yakinnya,sambil terus berpikir.
"Aku rasa,kalian semua ikut gila seperti wanita yang menyebalkan itu..." jawab Sebastian dengan nada dan juga wajah kesalnya,lalu ia langsung mematikan sambungan video call mereka tanpa menunggu tanggapan ke 3 sahabatnya lagi.
"Hei,Bas,Bastian...Apa yang kamu lakukan,kami masih belum mendapatkan jawaban apapun dari kamu..." ucap Erik dengan nada kesalnya,saat ia melihat sambungan video call mereka sudah terputus begitu saja tanpa ada penjelasan apapun dari Sebastian.
"Gila? Wanita yang menyebalkan itu? Apa maksudnya Sebastian mengatakan begitu pada kita?" tanya Elisa dengan wajah kesal yang sudah bercampur bingung.
"Aku rasa,mungkin saja Jennifer yang dimaksudkan oleh Sebastian" jawab Elvan dengan wajah yang tampak berpikir.
"Aku rasa juga begitu..." timpal Erik dengan nada tidak bersemangatnya sambil menyimpan HP miliknya Billy kedalam saku celananya,karena ia kembali gagal untuk mendapatkan semua penjelasan dari Sebastian.
"Ayo, kita lanjutkan perkerjaan kita saja" lanjut Erik lagi,sambil berjalan pergi dengan merengkuh pinggulnya Elisa yang memang sedang berada dipelukannya itu,dan langsung diikuti oleh Elvan dari belakang mereka.
Mereka ber 3 pun kembali melanjutkan perkerjaan mereka masing-masing,walaupun mereka ber 3 masih merasakan kesal pada Sebastian.Dan menepikan duluan, tentang hubungan tidak jelas antara Sebastian dan Jennifer tersebut.
__ADS_1
Didalam mobilnya Jennifer.
"Ingat,pesanku tadi.Dalam waktu dekat ini,kamu harus segera mendapatkan informasi tentang nama Perusahaan miliknya Sebastian" perintah Jennifer dengan nada tegasnya,sambil menyandarkan kepalanya kebelakang dengan gerakan pelan.
'Kenapa pada hari itu,aku tidak meminta no HPnya saja.Sekarang,harus kemana aku mencarinya...' lanjut Jennifer didalam hatinya,sambil menghela napas pelan,dan wajah tidak bersemangatnya.
Pada hari itu ia tidak memikirkan No HPnya Sebastian karena ia tidak mau kalau ia sampai tidak fokus sama belajarnya dan malah sibuk menelepon atau menganggu Sebastian,dan semakin lama untuk membuatnya menyelesaikan kuliahnya.Tapi sekarang,ia malah bingung tentang caranya menemui keberadaannya Sebastian saat ini.
"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan nada malasnya,perintah tersebut sudah hitungan ke 3 kalinya,Nona Mudanya terus saja memperingatinya sedari ia mulai melajukan mobil tadi.
"Dan 1 lagi,jangan memberitahu pamanku tentang Sebastian dan apa yang sedang aku lakukan hari ini..." peringat Jennifer dengan nada tegas dan wajah seriusnya,tanpa membuka kedua matanya.
"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan wajah yang tersenyum lucu tapi sayangnya tidak bisa dilihat oleh Nona Mudanya karena sedang memejamkan kedua matanya.
Padahal tanpa Nona Mudanya tahu,paman dan Daddynya sudah mengetahui semuanya tentang Sebastian dan dirinya,kecuali Mommynya dan Syivia saja yang belum mengetahuinya.
'Apa kecerdasannya Nona Muda sudah mulai mengurang,semenjak mengenal cinta.Mungkin lebih tepatnya,semenjak mengenal Tuan Muda' lanjut Billy didalam hatinya,tapi Tuan Mudanya memang selalu mampu membuat semua wanita menjadi hilang *k*l dan juga b*d*h.
Hanya saja,beda dengan Nona Mudanya yang tidak sampai hilang *k*l.Tapi ya,sedikit menjadi b*d*h.Untung saja,Nona Mudanya masih sanggup bersabar dan menyelesaikan kuliahnya disana.
Di Perusahaan Sachdev J Group...
Sebastian yang masih merasa kesal sama ke 3 sahabatnya itupun langsung melanjutkan perkerjaannya kembali,setelah ia memutuskan sambungan video call tersebut.
"****..." umpat Sebastian dengan wajah kesalnya,saat ia tidak bisa fokus pada apa yang sedang ia kerjakan saat ini,karena isi kepalanya terus memikirkan Jennifer.
"Wanita itu benar-benar menyebalkan,kenapa masih saja terus menganggu pikiranku..." gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah kesalnya,sambil berdiri dari duduknya dan melonggarkan dasinya yang terasa agak sedikit sesak.
"****..." Sebastian kembali mengumpat,saat ia merasakan kalau didalam kepalanya seperti sedang dipenuhi tentang Jennifer semua dan bayangan wajahnya Jennifer saja.
Apa lagi,saat ia mengingat apa saja yang dikatakan dan dilakukan oleh Jennifer tadi.Belum lagi,tentang pertanyaan-pertanyaan dari ke 3 sahabatnya tadi.Tapi sebenarnya ia berkerja keras dan bertekad ingin menjadi pria yang sukses seperti sekarang ini,alasannya karena perkataan "Lemah"nya Jennifer yang disampaikan oleh Pak tua hari itu,walaupun ia masih belum sekaya Daddynya Jennifer.
Lagi pula,ia hanya ingin membuktikan kalau dirinya memang mampu,bisa sukses seperti yang lainnya,dan ia juga bisa sekalian membungkam mulut hinanya Siska padanya hari itu.Dan sekarang semua tekad kuat dan kerja kerasnya tersebut sudah terbayarkan dengan sangat baik.
Tapi ntah kenapa,sekarang ia jadi ragu dengan alasan tersebut,karena biasanya kalau ada orang yang merendahkan dirinya,ia hanya santai saja.
Tapi saat ia mendengar kata lemah tersebut,ia malah semakin membulatkan tekadnya untuk memperlihatkan kalau dirinya juga memang benar-benar bisa sukses.
Tapi lagi-lagi,ia juga merasa bingung,ntah ingin memperlihatkan pada siapa,hasil dari kerja kerasnya tersebut.Karena dirinya tidak ahli dalam menyombongkan diri,bahkan ia hanya berpakaian rapi saat berada di Perusahaannya saja.Dirumah dan ditempat lain,ia hanya akan memakai pakaian biasa dan santai saja,tapi yang jelas tidak terlalu biasa juga.
Dan 1 lagi,ia merasa senang karena ternyata ia bisa membuat keluarganya merasa bangga pada dirinya.
"****,penyakit gil*ku sudah kambuh lagi.Lebih baik,aku fokus saja pada perkerjaanku saat ini" gumam Sebastian lagi,dengan nada pelannya dan berusaha mengusir rasa kesal tersebut dan memaksa untuk kembali melanjutkan sisa perkerjaannya tadi.
Sebastianpun melanjutkan perkerjaannya dengan perasaan kacau dan fokusnya yang sekali-kali menghilang,tapi akhirnya ia juga dapat menyelesaikannya dengan baik.
__ADS_1