
'Bukankah,wanita menyebalkan itu memang sudah tidak waras sejak awal bertemu denganku.Kenapa sekarang,malah aku yang dikatain oleh Ibuku sendiri...' Sebastian hanya mampu menahan rasa kesalnya dibalik wajah santainya,karena ia tidak mungkin berdebat panjanng lebar sama Ibunya sendiri.
Lagi pula,jikapun ia ingin,ia juga tidak akan menjadi pemenang diakhir perdebatan mereka nanti.
"Kakak,kalau aku yang menjadi kakak ipar,aku juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang kakak ipar lakukan sekarang... Dari pada aku harus disuruh berdiam diri didalam rumah saja,seperti pelayan tapi tidak digaji,bahkan diabaikan oleh suaminya sendiri. Kalau aku yang menjadi kakak ipar,aku pasti tidak akan sebod*h itu sampai ingin tergila-gila dan mencintai pria yang sama sekali tidak menginginkan kita..." timpal Stella dengan nada santainya dan sekalian menyindir tentang kakaknya yang sengaja membuat kakak iparnya sampai mengurus rumah sampai 2 minggu lamanya.
Ia bahkan juga berbicara dengan panjang lebar sambil membersihkan kedua sudut bibirnya dengan pelan,ia malah semakin sengaja ingin memanas-manaskan kepala keras kepala kakaknya itu.
"Kamu ini masih anak-anak,jadi jangan sok tahu tentang masalahnya orang dewasa...Atau apakah kamu ingin aku memindahkan kuliahmu,kenegara sebelah sana,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil terus menatap tajam kearah Stella, tatapan tajam yang telah ia arahkan kearah Stella sedari kalimat keduanya Stella tadi.
"Tidak,aku tidak mau.Oke,oke,aku minta maaf,kak. Akan aku tarik kembali semua kata-kataku tadi... Kalau begitu,aku akan berangkat kekampus dulu,karena sekarang aku sudah hampir terlambat...Da da Ibu,da da kakak... Emmuach,emmuach..." ucap Stella dengan cepat saat ia mendengar perkataan dan baru menyadari tatapan tajam kakaknya tersebut,sambil memberi tanda cinta bentuk korea,melalui 2 jari telunjuk dan jempolnya kearah Ibu dan kakaknya.
Setelah itu,Stella segera mengambil tas belajarnya dan juga sepotong roti dari sisa buatan Ibu, yang telah dioles selai strawberry tadi.Lalu ia langsung berjalan pergi dari sana,dan mengabaikan kakaknya yang masih saja menatap tajam kearahnya.
Hari itu ia sudah bersusah payah membujuk kakaknya untuk tidak mengkuliahkannya dinegara lain,dan sekarang ia tidak mau kakaknya sampai berubah pikiran.
Tapi bukan berarti rasa takutnya lebih banyak,dari pada tingkah nakalnya.Lihatlah,beberapa detik lagi,ia akan kembali membuat kakaknya merasa kesal lagi...Padahal,barusan ia baru saja meminta maaf dan mengatakan kalau ia akan menarik kembali semua kata-katanya...
"Kakak,aku sarankan,belajarlah untuk menghargai seorang wanita...Jangan sampai kakak ipar akan merasa nyaman sama kak Elvan atau pria yang lainnya nanti,aku takut kalau nanti kakak yang akan menjadi patah hati lagi...Aku hanya menyarankan dan memikirkan untuk kebaikannya kakak saja, sisanya terserah kakak saja..." lanjut Stella dengan suara yang sedikit berteriak dan wajah tersenyum senangnya,karena ia kembali berhasil membuat kakaknya merasa kesal.
Dan ia juga berbicara panjang lebar tanpa menghentikan langkahnya supaya ia tidak akan mendapatkan amukan dari kakaknya, jadi langkahnya pun semakin lama semakin menjauh.
Walaupun suaranya Stella juga ikut semakin mengecil tapi masih tetap bisa didengar oleh Sebastian,Ibu dan yang lainnya.
"Stella...." teriak Sebastian sambil berdiri dari duduknya,ia bahkan berteriak dengan nada tinggi dan kesal yang mampu menggemparkan ruangan makan tersebut, bahkan Ayah yang sedang duduk diruang tamupun langsung terlonjak kaget karena teriakan putranya itu.
Kopi yang telah diantar oleh pelayan,dan baru saja ingin ia minum itupun,hampir saja tertumpah kekemejanya, jika saja ia tidak lebih waspada dan bergerak cepat tadi.Dan akhirnya kopi tersebutpun tumpah keatas lantai,dan langsung dibersihkan oleh pelayan tanpa menunggu diperintahkan lagi.
"Awas kamu,Stella..." lanjut Sebastian dengan geraman kesalnya,sambil menatap kearah larinya Stella yang ntah sudah menghilang kemana ,dan juga mengepalkan erat kedua tangannya,karena rasa kesalnya itu.
Bisa-bisanya Stella mengatakan yang tidak-tidak padanya,dan ia tidak menyukai semua kata-katanya Stella tadi.Ingin sekali ia menjewer telinganya Stella sebisa mungkin,saat ini juga,tapi ternyata Stella lebih cepat berpikir sekarang. Menghilang,sebelum ia sempat melakukan apapun terhadap adik menyebalkannya itu.
"Kamu ini apa-apaan sih,nak? Apa kamu tidak waras? Apa rumahnya kita ini,terlihat seperti hutan bagimu?" tanya ibu dengan nada dan wajah kesalnya tapi tersenyum senang didalam hatinya,sambil mengambil piring kotor yang terakhir.
Dan langsung berjalan pergi kearah dapur,dengan bawaan piring-piring kotornya,yang langsung dibantu oleh 2 orang asisten rumah.
Sedangkan asisten-asisten atau pelayan-pelayan yang lainnya,mereka hanya mampu menunduk hormat saja,sambil menetralkan rasa kaget dan juga rasa takutnya mereka.
Dan Sebastian,ia hanya mampu mendengkus kesal saja,saat ia mendengar Ibu malah menyebutnya tidak waras.Padahal sedari tadi,ia sudah berusaha untuk menjaga kewarasannya supaya tetap normal,tapi adik nakalnya itu malah sengaja memanas-manasinnya.
"Semua ini salahnya Ibu...Jika saja Ibu tidak mengembalikan semua asisten rumah ini,istriku pasti tidak akan ada waktu untuk bisa sarapan dan makan siang diluar rumah.Dan aku juga belum puas,melihat kegigihannya untuk menjadi seorang istri yang baik untukku...Sekarang istriku bahkan telah menghabiskan waktu setengah hari diluar rumah,bersama pria lain..." gumam Sebastian dengan panjang lebar, nada dan wajah kesalnya, tanpa sadar kalau dirinya telah menyebut nama Jennifer dengan kata istri 2 kali pagi ini,sambil berniat berjalan keluar rumah,karena sudah waktunya ia berangkat kerja saat ini.
Tapi tiba-tiba saja suara tegasnya Ayah,malah berhasil mengagetkan dirinya,karena dirinya yang sedang tidak fokus dan juga merasa kesal.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu pakai teriak-teriak segala,sepagi ini? " tanya Ayah yang tiba-tiba saja,sudah berada dihadapannya Sebastian, dengan nada dan wajah kesalnya,sambil membawa beberapa lembar koran hari ini.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mengelus-elus dadanya karena ia baru saja terlonjak kaget,sambil menatap kesal kearah Ayahnya.
"Cih...Ayah,kalian semua sama saja..." jawab Sebastian sambil berdecih kesal karena menurutnya,semuanya berpihak kepada istrinya,termasuk Ayah.
Walaupun ia tahu kalau Ayah selalu bersikap netral,tapi tetap saja,Ayah bahkan tidak berusaha untuk membantunya dalam beberapa hari ini.
Setelah ia selesai mengatakan kalimat kesal pendeknya itu,Sebastian langsung berjalan keluar rumah dengan langkah kesalnya,menuju kearah mobilnya yang memang sudah ada Billy yang sedang menunggunya disana sedari tadi.
Sedangkan Ayah,ia langsung terdiam dengan wajah tegas yang telah berubah menjadi bingung karena Sebastian malah melibatkan dirinya. Padahal ia tidak melakukan atau berbicara apapun selama 4 hari ini,lalu wajahnya pun menjadi tersenyum kecil.
"Lihat dulu siapa lawanmu,nak? Ayah bukan tidak ingin membantumu,tapi Ayah tidak mau menyulitkan diri Ayah sendiri dengan urusan yang ribet seperti itu... Lagi pula,masalahnya kamu sendiri yang memulainya.Jadi,kamu sendiri juga yang harus menyelesaikannya..." gumam Ayah dengan nada pelannya dan wajah yang tersenyum lucu,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dan juga menatap punggung lebarnya Sebastian yang sudah menghilang dari pandangannya itu.
"Kenapa juga aku menegurnya,tadi? Lebih baik,aku kembali membaca koran saja..." gumam Ayah lagi,sambil menghela napas pelan,lalu iapun berjalan kearah ruang tamu kembali.
Apa lagi,ada istrinya yang akan menjadi pawang untuk Jennifer dalam masalah yang sedang dihadapi oleh putranya itu.Jadi,ia tidak akan mau menyulitkan dirinya dengan semua itu.
Lagi pula,siapa yang bisa mengalahkan singa betina,walaupun ia harus menjadi singa jantan sekalipun.Sudah dipastikan,ia akan lebih banyak mengalah dari pada harus berdebat dengan istri tercintanya itu.
***
Dimobil miliknya Sebastian...
Sedari masuk kedalam mobilnya tadi,ia hanya sibuk menormalkan segala rasa kesalnya tadi, hingga sekarang sudah kembali kewajah normalnya tapi perasaan kesalnya masih saja tersisa sedikit disana.
"Di Kongkow Cafe , Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat,sambil fokus menyetir dan juga melirik wajah tegas Tuan Mudanya.
Salah satu Cafe yang terlihat elegant dari luar dan dalam, dan juga terbaik...Cafe tersebut bukan hanya menyediakan minuman saja,tapi juga menyediakan makanan ringan dan juga sarapan.
"Cih..." Sebastian langsung berdecih kesal,rasa kesalnya kembali tidak bisa ia kontrol,tapi hanya sebentar saja.
Karena dalam beberapa detik saja,wajah kesalnya kembali kewajah tegasnya lagi.Dan sudah dipastikan,kalau istrinya itu hanya sarapan berdua dengan Elvan saja.
Karena kalau sarapan bersama yang lainnya,mereka pasti hanya akan sarapan di Restoran tempatnya dulu berkerja saja.
"Bersama siapa?" tanya Sebastian,walaupun ia sudah bisa menebak,tapi tetap saja ia harus memastikannya dulu.
"Bersama Tuan Elvan berdua saja,Tuan Muda..." jawab Billy,dengan nada santainya.
Sedangkan Tuan Mudanya,ia tidak berkata apa-apa lagi,karena sibuk mengontrol rasa kesalnya yang ingin kembali menampakkan diri.
"Apakah Tuan Muda ingin melihat videonya yang ?" tanya Billy dengan nada pelannya,sambil menahan tawa tapi ia juga harus menahan tawa,karena tingkah Tuan Mudanya selama beberapaa hari ini,ternyata juga memang sangat merepotkan dirinya.
__ADS_1
"Tidak..." jawab Sebastian dengan cepat,nada dan wajah tegasnya,tanpa mengalihkan tatapan lurusnya sedikitpun.
"Apakah Tuan Muda ingin langsung ke Kongkow Cafenya saja?" tanya Billy lagi,mana tahu saja Tuan Mudanya memang ingin kesana,tapi hanya sedang merasa gengsi saja untuk memerintahkannya.
"Tidak perlu...Apa kamu sudah berubah menjadi wanita sekarang,hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya tapi wajahnya masih belum terlihat begitu kesal,sambil menatap punggung kepalanya Billy yang tidak bergerak ataupun menoleh sedikitpun kearahnya.
"Cih..." kali ini Billy yang berdecih kesal,saat ia mendengar perkataan Tuan Mudanya barusan, padahal ia hanya ingin menyalurkan sedikit rasa perdulinya saja.
"Apakah Tuan muda tidak takut,kalau Nona Muda akan merasa nyaman bersama dengan Tuan Elvan? Jika hal itu memang benar-benar sudah terjadi,aku harap Tuan Muda tidak akan menyesal... Karena jika Nona Muda sudah merasa nyaman bersama Tuan Elvan,Nona Muda pasti akan segera melupakan dan meninggalkan yang lama... Ya,walaupun yang lama itu cinta pertamanya Nona Muda..." ucap Billy dengan nada serius dan panjang lebarnya,ia juga mengabaikan pertanyaan kesal Tuan Mudanya tadi.
"Kamu,,,berani sekali kamu menasihatiku...Apa kamu tidak mau hidup lagi,hah?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,bahkan tatapan tajamnya tadi semakin tajam sekarang.
Sejak kapan,Billy menjadi cerewet seperti ini,tanpa ditanya terlebih dahulu.Apa lagi,cerewetnya Billy tentang perasaan dan cinta,seperti dirinya sendiri sudah pernah memiliki kekasih saja.
Dan ditambah lagi,dengan kata "Nyaman" yang ada diantara kalimat-kalimatnya Billy tadi sama dengan apa yang telah dikatakan oleh adik nakalnya itu.
Walaupun cara mereka mengatakannya berbeda,tapi intinya tetap sama.
"Tuan Muda, bisakah Tuan Muda memikirkan kalimat-kalimatku tadi,dengan baik terlebih dahulu...Setelah itu,jika Tuan Muda menginginkan nyawaku,aku bersedia untuk menyerahkan diri kapan saja.Dan juga,dengan senang hati..." jawab Billy dengan nada dan wajah seriusnya dan juga kesal,ia sudah bingung dan malas melayani sikap menyebalkan Tuan Mudanya ini sedari 4 hari yang lalu hingga pagi ini.
"Cih..." Sebastian hanya mampu kembali berdecih kesal sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah lurus kedepan kembali,saat ia melihat Billy yang sedang bersikap sebagai sahabat terhadapnya saat ini,karena sikap sahabatnya Billy tersebut jarang sekali ditunjukkan oleh Billy padanya.
Lalu mereka berduapun, sama-sama terdiam dengan rasa kesalnya mereka masing-masing. Hingga beberapa menit kemudian...
"Kita ke kongkow Cafe,sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya dan wajah tidak bersalahnya,karena jalan menuju ke Cafe tersebut baru saja atau telah terlewat sejauh 2 menit lamanya.
"Dasar..." umpat Billy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil langsung memutarkan arah mobilnya,dan melajukan mobil tersebut menuju kearah tempat,dimana Nona Mudanya berada saat ini.
Ntah umpatan yang seperti apa, yang pantas untuk ia berikan lada Tuan Mudanya ini.Padahal sedari awal tadi,ia sudah bertanya dengan sisa stok kesabarannya.
Sekarang,ntah ia harus merasa bahagia,sedih, atau senang,dengan sikap yang sangat menyebalkan Tuan Mudanya selama 4 hari ini.
15 menit kemudian...
Mobilnya Sebastian sudah sampai,dan berhenti tepat didepannya Kongkow Cafe.Sebastianpun langsung keluar dari dalam mobil,tanpa menunggu Billy yang akan membuka pintu mobilnya lagi.
Kemudian Sebastian berjalan masuk kedalam Cafe tersebut,dengan langkah dan wajah tegasnya,dan diikuti oleh langkah tegasnya Billy juga dari belakangnya.
Semua karyawan yang ada disana,terutama yang wanita,mata mereka seperti tidak mau berkedip saat mereka melihat wajah tampannya Sebastian yang baru mereka lihat diantara semua pengunjung Cafe yang pernah mereka lihat.
Berbeda dengan sang pemilik Cafe tersebut yang langsung menampilkan wajah takutnya,tapi tetap saja ia harus memberanikan diri untuk menyapa Tuan Muda yang selalu ia dengar kabar kejamnya itu.Dan juga pernah ia lihat sekali,saat pernah sekali Sebastian datang ke Cafenya ini untuk duduk bersantai saja.
Baru saja sang pemilik Cafe berjalan mendekat dan ingin menyapa Sebastian,tapi suara tegasnya Billy mampu menghentikan niatnya.
__ADS_1