Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 159


__ADS_3

Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menatap tidak percaya dan juga heran kearah Jennifer yang agak berbeda dari pada yang sebelum-sebelumnya.


Mungkin saja pengaruh dari kehamilannya, hingga membuat Jennifer mulai menampakkan sikap-sikap nakalnya tersebut.


"Memangnya,apa kamu yakin kalau kamu akan mampu membuat perusahaan kakakmu yang besar itu merugi?" Jenniferpun melanjutkan pembalasannya tadi,dengan nada dan wajah tersenyum santai,sambil memakan gudeg dan pisang keju yang dibawa oleh bawahannya Sebastian barusan.


"Perusahaan besar kakakmu itu,jika disetiap harinya harus merugipun tidak akan jadi masalah.Bukankah benar begitu,Honey?..." lanjut Jennifer dengan nada yakinnya sambil melirik sekilas kearah Sebastian,lalu kembali fokus pada makanannya,tanpa memperdulikan tatapan kesal dari Stella yang terus saja tertuju kearahnya.


"Iya.Apa yang kamu katakan memang benar, Sweety..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum santainya,sambil terus memerhatikan kedua wanita yang ia sayangi tersebut.


Sepertinya sekarang ia memang harus selalu berada disisinya Jennifer,karena perubahan sikapnya Jennifer tersebut,malah berhasil membuat dirinya merasa khawatir saja.


"Dasar menyebalkan..." ucap Stella dengan nada kesalnya sambil menatap kesal kearah Jennifer, tanpa menghentikan makannya tersebut.


'Semoga saja,keponakanku nanti tidak akan menyebalkan,sama seperti kedua orang tuanya ini...' lanjut Stella didalam hatinya,sambil melirik kesal kearah kakak dan kakak iparnya tersebut yang sedang tersenyum puas kearahnya.


Ia ingin terlalu membalas,tapi sayangnya yang dilawannya adalah kakak iparnya yang telah menjadi seorang wanita hamil.Belum lagi,kakaknya yang sudah pasti sama sekali tidak akan mampu ia lawan.


'Ntah bermimpi apa aku semalam,sampai aku harus menghadapi sepasang manusia kejam ini? Atau mungkin,keponakanku ini pasti berjenis kelamin wanita sama seperti Mommynya?...' batin Stella lagi,dengan wajah kesalnya yang tidak mau berkurang sedikitpun.


Bagaimana ia tidak merasa begitu kesal? Tadinya ia berniat ingin ikut bersama kakak dan kakak iparnya untuk bisa berjalan-jalan disaat liburan panjangnya ini,bukan bermaksud ingin menganggu bulan madu mereka.Tapi apa yang ia dapatkan,ia malah disuruh untuk membantu kak Billy.


Yang benar saja? ia saja sama sekali tidak mengerti tentang dokumen-dokumen bisnis tersebut,karena sekarang saja,ia sedang mengambil jurusan finansial dan ekonomi.Dan satu lagi,ia baru saja masuk kuliah,bahkan baru 1 tahun pas,jadi apa yang bisa ia bantu nantinya.


"Kakak ipar...Lagi pula,apakah kakak ipar masih akan mencintai kakak,jika perusahaan besarnya itu sampai merugi atau semacamnya?" tanya Stella balik,dengan nada kesalnya,sambil menetralkan wajah kesalnya tersebut.


"Apa kamu lupa,hm? Siapa kakak iparmu ini? Jadi walaupun mau kakakmu ini sampai bangkrut sekalipun,kami berdua juga tidak akan kelaparan..." jawab Jennifer dengan nada sombongnya dan wajah yang tersenyum santai tapi juga terlihat mengejek kearah Stella yang langsung mendengkus kesal.


"Iya,iya,kakak ipar memang yang terhebat dan yang terbaik..." ucap Stella dengan nada malasnya dan juga memutar kedua bola matanya dengan malas juga,ia benar-benar lupa kalau kakak iparnya itu kan memang seorang putri dari keluarga yang lebih kaya dari kakaknya sendiri.


"Terima kasih banyak,adik iparku yang tersayang..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,sambil menatap sebentar kearah wajah kesalnya Stella.


"Honey,aaa..." lanjut Jennifer dengan sesendok gudeg ditangannya,sambil mengarahkannya kebibirnya Sebastian.


Sebastian yang tadinya memang selalu memerhatikannya,iapun langsung membuka mulutnya dan memakan sendokannya Jennifer tersebut dengan wajah yang tersenyum senang.


"Cih..." Stella kembali berdecih kesal,saat ia melihat kakak iparnya yang malah semakin lama semakin sengaja membuatnya terus merasa kesal saja.


"Lebih baik aku duduk bersama yang lainnya saja,dari pada harus bersama kalian...Dasar menyebalkan..." lanjut Stella dengan nada dan wajah malasnya dan juga kesal,sambil berdiri dari duduknya dan juga membawa makanannya dan juga sisa es campurnya tadi.


Lalu iapun langsung berjalan pergi dari sana,dengan wajah kesalnya dan juga beberapa hentakan kakinya, tanpa menunggu jawaban dari sepasang manusia yang menurutnya begitu menyebalkan tersebut.


"Honey...Lihatlah adikmu,wajahnya terlihat begitu kesal..." ucap Jennifer dengan tawa kecilnya,sambil menatap punggungnya Stella yang telah menjauh dari pandangan mereka berdua.

__ADS_1


"Iya,aku melihatnya.Apa kamu menyukainya, Sweety?" jawab Sebastian dengan nada pelan dan wajah tersenyum lucunya.


"Aku sangat menyukainya,Honey...Siapa juga yang menyuruhnya membuat aku merasa kesal duluan,jadi rasakan akibatnya..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum puasnya.


"Lagi pula aku rasa,Stella sangat cocok dengan Billy...Honey,bagaimana kalau kita memaksa mereka untuk segera menikah..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum semangat, sambil menggoyang-goyangkan lengannya Sebastian.


"Sweety,Billy sama Stella tidak memiliki hubungan apa-apa.Jadi bagaimana caranya,kita bisa memaksa mereka untuk segera menikah?" jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang bingung,padahal ia baru saja menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh Jennifer tadi.


Sepertinya bukan hanya Stella saja yang dibuat kesal,tapi dirinya juga akan dibuat kerepotan oleh istrinya sendiri nantinya.Tadi saja dirinya bahkan telah dibuat kesal dan juga kewalahan oleh mood tidak menentunya Jennifer tadi.


"Tapi Honey,aku ingin melihat mereka bersama. Mereka berdua pasti akan sangat cocok dan menjadi sepasang pengantin yang penuh romantis nantinya. Lagi pula apa salahnya,jika kita mencoba untuk menjodohkan mereka berdua,Honey?" lanjut Jennifer lagi,dengan nada dan wajah manjanya yang telah ditempelkan manja dekat lengan atasnya Sebastian.


Sedangkan Sebastian,sedari tadi ia terus menghela napas pelan,lalu beberapa kali menghela napas berat,sebelum ia menjawab pertanyaan panjang lebarnya Jennifer tersebut.


"Apakah itu berarti kamu sedang mengatakan, kalau pernikahan kita tidak romantis,Sweety?" tanya Sebastian dengan tetap berusaha untuk terlihat santai,sambil menundukkan wajah tenangnya kearah wajah manjanya Jennifer yang masih setia berada dilengan kokohnya tersebut.


"Memangnya,apa menurutmu pernikahan kita ini terlihat romantis? Kamu saja, baru dalam seminggu ini,baru bersikap begitu manis terhadapku..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah manja yang langsung berubah menjadi kesal,ia juga langsung mengubah posisi manjanya kesemula kembali.


"Sweety,sebelum-sebelumnya aku hanya sedang tidak berpikir kesana.Maka dari itu,sekarang aku baru menyadari tentang betapa besarnya. perasaan cintaku padamu" jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum malunya,sambil kembali menarik Jennifer kepelukannya.


"Iya,iya,aku mengerti,Honey...Tapi walaupun bagaimanapun,aku tetap merasa bahagia karena cintaku akhirnya terbalas juga,Honey... "ucap Jennifer dengan nada dan wajah senyum bahagianya.


Iya,dan aku sangat mencintaimu,Sweety..." ucap Sebastian dengan nada senangnya,sambil membelai sayang pucuk kepalanya Jennifer.


"Baguslah...Cup..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum bahagia yang tidak mengurang sedikitpun.


"Lalu bagaimana dengan kak Billy dan Stella,honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah senyum seriusnya,sambil menelisik ekspresi wajahnya Sebastian.


"Itu...." Sebastian terlihat sedang berpikir keras, padahal tadinya ia berpikir kalau tadinya Jennifer telah berubah pikiran,dan ia tidak perlu menyibukkan diri untuk Billy ataupun Stella.


"Honey,apa kamu tidak merasa kasihan sama kak Billy.Kak Billy sudah berumur 28 tahun,dan dia sudah lama menjomblo.Dan dia memiliki beberapa buah apartemen dan uangnya juga banyak,jadi kamu tidak perlu takut kalau Stella akan kekurangan uang ataupun sampai kelaparan,Honey..." ucap Jennifer dengan panjang lebar saat ia melihat Sebastian yang malah diam saja.


"Baiklah.Tapi kamu harus berjanji padaku ya,Honey.Jika mereka pada akhirnya tetap tidak mau bersama,kita tidak boleh memaksanya lagi.Oke?" peringat Sebastian akhirnya,setelah ia sudah selesai berpikir keras selama beberapa detik.


"Oke..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah senang semnagat 45 nya tersebut,lalu ia segera menghabiskan makanannya dan sekali-kali menyuapi Sebastian yang langsung menerimanya dengan senang hati.


'Apa mungkin mereka berdua akan bersama? Apa jadinya mereka,jika mereka sudah bersama nanti?' Sebastian hanya mampu bertanya-tanya didalam hatinya saja,saat ia memikirkan tentang saran konyolnya Jennifer tadi.


Karena setahunya Billy tidak pernah ingin berpikir tentang berkeluarga sedikitpun,ia bahkan pernah mendengar kalau Billy selalu menolak tawaran baik dari pamannya Jennifer tentang wanita-wanita yang untuk dinikahkan olehnya.


Dan adiknya Stella,menurutnya Stella masih begitu polos.Begitu hanya tahu tentang jalan-jalan dan menghabiskan uangnya saja.


***

__ADS_1


Seminggu kemudian...


1 minggu telah berlalu,dan halaman rumahnya keluarga Rendra bukan hanya dipenuhi oleh penjual-penjual makanan dan minuman khas daerah saja,tapi juga dipenuhi oleh makanan internasional.


Semua pelayan dan pengawalpun langsung menyambut mereka dengan hati yang senang,karena mereka semua juga mendapatkan berkahnya dari semua itu.


Mereka semua bahkan terus berdoa untuk keselamatan dan kesehatannya semua majikannya mereka dengan tulus,karena selama hampir 2 minggu ini,mereka semua selalu diberikan bonus dan juga makanan-makanan yang enak.


Dikejauhan sana terlihat beberapa mobil yang datang dengan mobil mewah dan jejeran rapi mereka,satpampun segera membuka pintu besi besar tersebut saat ia melihat mobil-mobil majikannya sudah mendekat.


Beberapa menit kemudian...


"Tuan Besar,Nyonya Besar,Tuan Muda,Nona Muda..." semuanya langsung menyambut kedatangan semua majikan mereka dengan menunduk hormat.


Terlihat kedua orang tuanya Jennifer,Jennifer dan juga Sebastian yang baru saja keluar dari dalam mobil tersebut,dengan langkah tegas mereka dan berjalan memasuki rumah besar tersebut.


Sedangkan Kedua orang tuanya Sebastian, mereka berdua sedang menunggu dipintu utama sana dengan wajah yang terus tersenyum senang.


"Sudah lama kami tidak melihat kalian berdua. Bagaimana kabarnya kalian sekarang?" tanya Ibu dengan nada ramahnya,sambil memeluk sayang Mommynya Jennifer yang juga membalasnya.


"Baik,sangat baik..." Jawab Mommy dengan nada dan wajah tersenyum senang,sambil membalas pelukan sayang juga.


"Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" kali ini gantian Ayah yang bertanya kepada Daddy yang baru saja berjalan mendekat kearahnya,sama seperi Mommy yang langsung berjalan mendekat kearah istrinya.


"Baik..." jawab Daddy dengan singkat,sambil menampilkan senyum kecil khasnya dirinya.


Setelah mereka semua sudah saling berpelukan dan juga berbicara tentang beberapa kalimat penyambutan untuk sepasang manusia berumur tersebut,mereka semuapun segera masuk kedalam rumh dengan langkah santai mereka.


"Apakah kamu ada menjaganya dengan baik,sayang?" tanya Mommy dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil mengelus-elus perut datarnya Jennifer tersebut.


Ia dan suaminya baru saja tahu dari Billy tentang kehamilannya Jennifer,sedari semalam.Dan betapa bahagianya perasaannya saat ia mendengar kabar bahagia tersebut,ia dan suaminya bahkan langsung bergegas pulang untuk melihat keadaannya Jennifer.


"Baik Mom.Mommy tidak pelru merasa khawatir begitu ,sekarang aku sudah baik-baik saja..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,sambil melirik sekilas kearah Sebastian yang sedang duduk disampingnya.


"Bagaimana dengan perjalananan kalian berdua? Sepertinya terlihat begitu menyenangkan..." tanya Ibu dengan nada dan wajah senyum santainya,sambil menuangkan kopi hangat kebeberapa gelas untuk kedua orang tuanya Jennifer.


"Ya,begitulah... " jawab Mommy dengan nada dan wajah tersenyum malunya,walaupun ia tahu kalau maksud dari Ibunya Sebastian berbeda dengan apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Ntah apa yang harus ia katakan pada Ibunya Sebastian,mereka berdua bahkan sering berada didalam hotel dari pada diluar hotel,karena suaminya terus saja menggempurnya tiap malam.


Umur suaminya memang sudah lumayan berumur,tapi anehnya suaminya seperti tidak pernah bosan saja.Dan untungnya,ia selalu mampu menyeimbangkannya.


Setelah itu merekapun sibuk mengobrol panjang lebar tentang yang lainnya,sedangkan Sebastian dan Jennifer,mereka berdua mulai menyingkir dari sana karena merasa bosan dengan obrolan ke 4 orang tua mereka tersebut.

__ADS_1


Sebastian bahkan mengabaikan tatapan tajamnya Daddy,sepertinya Daddy telah mengetahui semuanya tanpa ada yang bisa ia lewatkan sedikitpun.


__ADS_2