
Setelah menarik napas panjang dan membuangkannya dengan pelan,Jenniferpun segera mulai memanjat pembatas balkon tersebut dan melangkah turun kebawah dengan hati-hati dan juga perlahan-lahan.
Sedangkan Sebastian,ia masih sibuk fokus menembak dan belum menyadari tingkah berbahayanya Jennifer tersebut.
Beberapa menit kemudian...
"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang terbuka dari luar,dan terlihat Irfan yang langsung berjalan masuk dengan langkah buru-burunya dan ekspresi wajah kacaunya, karena tiba-tiba saja mereka diserang sampai seperti ini.
Karena serangan tiba-tiba tersebut,bawahan yang ia sewa tersebut,hampir tidak bersisa dibawah sana.Siapa lagi,kalau bukan Sebastian pelakunya.
Hanya dalam 20 menit,sekarang 200 bawahannya tersebut hanya tersisa sekitar 50 orang saja. Semuanya sudah tergeletak tidak bernyawa dibawah sana,dan 50 orang yang masih tersisapun semakin kewalahan untuk menghadapi tembakan-tembakan yang beruntun tersebut.
"Dimana dia?" tanya Irfan dengan nada bingungnya saat ia tidak melihat keberadaannya Jennifer didalam kamar tersebut,sambil terus memerhatikan disetiap sudut kamar tersebut hingga kebalkon.
"****... Kenapa dia begitu nekad?" Irfan langsung mengumpat kesal dan juga marah sambil mengacak-ngacak kesal rambutnya,saat ia melihat kalau ternyata Jennifer sedang menuruni balkon tersebut dengan melewati setiap pembatas-pembatas kecil yang ada dibawah balkon tersebut saat ini.
Setelah selesai mengumpat kesal,Irfanpun segera mengalihkan pandangannya kearah disekitarnya, sepertinya ia harus melarikan diri saat ini juga.
"Dari mana dia bisa mengetahui tempat tersembunyi ini,dengan begitu cepat? Sebaiknya,aku harus pergi dari sini secepatnya,, sebelum aku dibunuh oleh pria angkuh itu nanti..." gumam Irfan dengan nada takutnya dan wajah khawatirnya tapi ia juga merasa sangat kesal,saat ia melihat Sebastian yang terlihat begitu membabi buta dalam menembak semua bawahannya sedari tadi.
Ia dan yang lainnya bahkan tidak mampu menembak Sebastian,karena Sebastian dilindungi oleh bawahannya dengan sangat baik.
"Dan tentang dia,nanti akan aku atur kembali rencana yang lainnya lagi..." gumam Irfan lagi, dengan nada dan wajah kesalnya sambil terus memerhatikan Jennifer yang masih sibuk menuruni beberapa pembatas dibawah sana.
Setelah selesai memerhatikan Jennifer,iapun segera berbalik badan dan berniat ingin melarikan diri dari sana.Tapi baru saja ia berbalik badan, ekspresi wajah kesalnya tadipun langsung menjadi takut sekaligus pucat saat ia melihat beberapa orang yang sedang mendobrak pintu kamar tersebut dan langsung mengarahkan pistol kearahnya.
Dibawah sana...
"Tuan Muda,Nona Muda ada disana..." lapor salah satu pengawal yang duluan melihat keberadaan Nona Muda mereka dengan ekspresi wajah khawatirnya,tanpa menghentikan tembakan mereka yang memang masih berlanjut tersebut.
Sebastian yang masih fokus menembak tadipun langsung mengalihkan fokusnya kearah tunjuknya pengawalnya tersebut.
"Apa yang sedang ia lakukan disana? Kenapa ia tidak menunggu diatas sana saja?" gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah khawatirnya,saat ia melihat Jennifer yang sedang meloncati setiap pembatas kecil yang ada didinding ruko tersebut.
"Ingat,jangan sampai pria br*ngs*k itu berhasil melarikan diri dari tempat ini..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,lalu ia langsung berlari kearah keberadaannya Jennifer sambil terus menembak satu persatu semua ahli penembak jitu dari pihak musuhnya tersebut.
"Baik,Tuan Muda..." jawab semuanya secara serentak,tanpa menghentikan tembakan-tembakan mereka.
Lagi pula mereka semua sudah tidak perlu mengkhawatirkan tentang Irfan,karena sudah ada beberapa diantara mereka yang mengurusnya diatas sana.Kali ini,mereka tidak akan ingin mendapatkan amukan dari Tuan Mudanya lagi. Setelah tadi malam Tuan Muda mereka memukul beberapa dari mereka,untuk melampiaskan segala rasa kesal dan marahnya tersebut karena belum berhasil menemukan Nona Muda mereka.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian,ia terus menembak hingga tidak ada ahli penembak yang tersisa lagi,tapi mata jelinya menangkap sesuatu dibalik tembok sana.
"Jennifer,hati-hati..." teriak Sebastian dengan nada tingginya dan wajah khawatirnya,saat ia melihat kalau dibalik tembok tersebut ada Rebeeca yang sedang sibuk mengarahkan pistolnya kearah Jennifer.
Padahal jaraknya dengan Jennifer hanya tinggal sekitar 10 langkah saja,tapi ia harus mengurus Rebeeca terlebih dahulu.Jika tidak,Jennifer pasti akan terkena tembakan dari Rebeeca nantinya.
"Hah!!" Jennifer hanya mampu menampilkan wajah bingungnya saja,saat ia mendengar teriakannya Sebastian barusan karena ia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya Sebastian tersebut.
Beberapa detik kemudian...
"Bagaimana ini? Sepertinya aku harus meloncat sekarang juga..." gumam Jennifer dengan nada pelannya dan wajah bingungnya saat ia baru menyadari apa maksud dari perkataannya Sebastian tadi,sambil menyeimbangkan tubuhnya diatas pembatas terakhirnya yang sempit tersebut.
Sedangkan Sebastian,ia harus menghentikan langkahnya dan segera membidik Rebeeca,karena jarak mereka yang jauh dan Rebeeca yang bahkan hanya menampakkan tangannya saja.
Beberapa detik kemudian...
"Dor dor..." terdengar suara 2 kali tembakan dari arah yang berlawanan,dan bertepatan dengan Jennifer yang baru saja melompat dari pembatas kecil tersebut.
1 tembakan dari Sebastian berhasil mengenai pergelangan tangannya Rebeeca,sehingga membuat tembakannya Rebeeca meleset jauh dari targetnya karena tembakannya langsung meleset jauh keudara sana.Tapi sayangnya,kecelakaan yang tidak terduga malah tetap terjadi.
"Arghh..." terdengar suara kagetnya Jennifer dan dilanjutkan dengan tubuhnya yang tidak seimbang karena rasa kagetnya terhadap suara tembakan tersebut,hingga membuat pendaratannya tidak sempurna,dan akhirnya kepalanya langsung membentur batu sedang yang ada diatas tanah tersebut dengan kuat.
"Buk..." terdengar suara benturan kepalanya Jennifer,dan bertepatan dengan Sebastian yang baru saja sampai dihadapannya,Sebastian bahkan tidak sempat mencegah benturan tersebut.
"Jennifer,sayang,sayang..." Sebastian langsung mengendong Jennifer dan membawanya kearah mobilnya sana,sambil terus memanggil Jennifer.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menatap wajah panik dan khawatirnya Sebastian dalam diam,dengan penglihatan yang semakin lama semakin kabur hingga kedua matanya menutup sempurna.
"Tangkap wanita j*l*ng itu,dan kurung dia dibawah tanah..." perintah Sebastian dengan nada marahnya dan wajah panik yang tidak berkurang sedikitpun,tanpa menghentikan langkah cepatnya tersebut.
"Baik,Tuan Muda..." jawab semuanya secara serentak,mereka yang hampir berjumlah 100 orang itu,sudah sanggup melawan musuh-musuh mereka yang berjumlah 200 orang itu,tapi tentu saja juga berkat Tuan Muda nereka yang ikut turun tangan.
Setelah itu,mereka semuapun segera melakukan tugas-tugas yang telah diperintahkan oleh Tuan Muda mereka tadi,dan mengurus sisa musuh-musuh mereka tersebut.
"Kerumah sakit sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tinggi dan ekspresi wajah tegas yang telah bercampur aduk,setelah ia sudah berada didalam mobil.
"Baik,Tuan Muda..." jawab sang supir tersebut dengan cepat,lalu ia langsung melajukan mobil tersebut,setelah melirik sekilas kearah wajah Nona Mudanya yang terlihat agak pucat.
"Sayang,jangan tinggalkan aku...Aku mohon, bangunlah..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah paniknya,sambil menepuk-nepuk pelan pipinya Jennifer.
__ADS_1
"Sayang,aku mohon,bangunlah.." lanjut Sebastian lagi,dengan ekspresi wajah yang semakin panik, saat ia melihat Jennifer yang masih setia dengan kedua mata terpejamnya.
Ia juga baru menyadari kalau betapa pucatnya wajahnya Jennifer saat ini,dan hal tersebutpun mampu membuat dirinya menjadi semakin kacau dan tidak menentu.
"Lebih cepat lagi...Apa kamu ingin mati,hah?!" perintah Sebastian dengan nada dan wajah yang sudah dipenuhi amarah,disertai dengan ekspresi yang campur aduk sedari tadi.
"Ba baik,Tuan Muda..." jawab sang supir dengan cepat dan nada gugupnya sambil terus berusaha melajukan mobil tersebut secepat mungkin, ekspresi wajah Tuan Mudanya kali ini bahkan lebih menakutkan dari pada yang sebelumnya.
'Kenapa wajahmu bisa sampai sepucat ini?' tanya Sebastian didalam hatinya,sambil terus mengelus-elus pelan pelipisnya Jennifer yang telah mengeluarkan darah disana.
'Apa mereka berdua telah menperlakukan kamu dengan sangat buruk,selama kamu disini?' batin Sebastian lagi,dengan nada dan wajah marahnya, sambil terus memerhatikan wajah pucatnya Jennifer.
'Aku mohon,bangunlah...Bukankah kamu ingin menaklukkan hatiku? Sekarang bangunlah,aku akan menyerah dan aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan.Dan apa kamu tahu,ternyata selama ini aku telah mencintaimu tanpa aku sadari...' batin Sebastian lagi,dengan nada dan wajah panik dan khawatirnya yang telah dipenuhi dengan perasaan penuh penyesalan.
Ia juga terus merutuki dirinya sendiri,karena tadi ia telah terlambat menyelamatkan Jennifer.Jika saja tadi malam ia langsung bergerak kesini,mungkin saja hal seperti ini tidak akan terjadi sama Jennifer saat ini.
Selama diperjalanan,Sebastian terus saja memanggil Jennifer tapi usahanya tersebut hanya sia-sia saja,karena Jennifer tidak juga terbangun.
30 menit kemudian...
Karena sang supir melaju dengan kecepatan tinggi,waktu yang harus ditempuh dengan 1 jam itupun hanya memerlukan 30 menit saja.
Setelah sampai dihalaman rumah sakit miliknya keluarga Naava tersebut,Sebastian segera mengendong Jennifer keluar dari dalam mobil dan membawanya masuk kedalam rumah sakit,dengan langkah lebar dan cepatnya.
"Dimana dokternya? Cepat panggil dokternya sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tingginya,sambil terus melangkah masuk kedalam dengan ekspresi wajah yang semakin tidak menentu saja.
"Tu Tuan Muda..." panggil sang dokter yang langsung segera mendekat dengan ekspresi wajah takutnya,saat ia tahu siapa yang sedang memanggilnya.
"Cepat selamatkan istriku..." perintah Sebastian dengan nada tingginya,sambil meletakkan pelan tubuh tidak berdayanya Jennifer keatas brankar yang baru saja dibawa oleh perawat kehadapannya.
"Ingat...Jika istriku sampai kenapa-kenapa,kamu juga tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari rumah sakit ini..." Sebastian langsung memperingati dokter tersebut dengan nada tinggi dan tatapan tajamnya,sebelum dokter tersebut sempat menjawabnya,sambil sedikit mengangkat kerah kemejanya dokter tersebut.
"Ba baik,Tuan Muda..." jawab dokter tersebut dengan nada gugup dan wajah takutnya.
Setelah itu,Sebastianpun segera melepaskan kerah kemejanya dokter tersebut,lalu mereka semuapun segera membawa Jennifer keruang IGD.Karena tidak ada satupun yang mampu membujuk Sebastian,akhinya merekapun memeriksa dan menangani Nona Muda mereka,dengan terus diawasi oleh Tuan Muda mereka sampai selesai.
Walaupun harus merasa gugup dan juga hati-hati dalam menangani Nona Muda mereka,tapi mereka semua tetap harus melakukan perkerjaan mereka dengan baik.Jika tidak,kepalanya mereka semua akan menjadi taruhannya,jika Nona Muda mereka sampai kenapa-kenapa nantinya.
Sedangkan yang lainnya,ada beberapa yang berjaga-jaga diluar rumah sakit dan juga didalam rumah sakit.Mereka juga tidak lupa,untuk segera menjemput keluarganya Tuan Muda mereka,untuk dibawa kerumah sakit ini.
__ADS_1