
Walaupun ia tidak merasa takut pada Sebastian karena mereka berdua sudah seperti adik beradik, berkat kebersamaan mereka selama 1 tahun ini, dan ia juga sudah terbiasa dengan kemarahannya Sebastian yang memang kadang-kadang akan ia dapatkan itu.
Tapi nyatanya keningnya selalu saja mulai berkeringat,jika rasa amarah Tuan Mudanya sudah berada ditingkat tinggi seperti ini.
"Hancurkan salah satu markas terbaik mereka,dan segera cari dan bawa ketua mereka ketempat biasa.Dan sisanya,kamu tahu kan,apa yang harus kamu lakukan..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya kembali,sambil melanjutkan langkahnya kembali,tanpa menunggu jawaban dari Billy lagi.
Sedangkan Jennifer,ia hanya terus memerhatikan secara bergantian ekspresi wajahnya Billy dan wajah tampan suaminya yang terlihat sangat berkharisma saat ini,dengan ekspresi bingung dan tidak percaya diwajahnya.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada tegasnya,sambil menghela napas lega dan juga menepis beberapa tetes keringat yang ada dikeningnya,untung saja amarah Tuan Mudanya masih manpu mereda.
Dan sedari tadi,Billy juga sudah memerintahkan pada yang lainnya melalui sebuah pesan singkat,untuk datang kesini dan membereskan sisa-sisa kedua mobil yang sudah hancur tersebut.
"Apakah kamu,pria yang telah menyelamatkan kami,pada saat kami berangkat dari bandara hari itu?" tanya Jennifer secara tiba-tiba,dengan suara yang sedikit berteriak pada Sebastian,setelah ia selesai memerhatikan ekspresi wajah suaminya dan Billy terhadap Sebastian sedari tadi.
Kepalanya mulai dipenuhi kejanggalan-kejanggalan yang telah ia abaikan pada sebelum- sebelumnya, dan sekarang ia baru bisa melihat jelas tentang kejanggalan-kejanggalan tersebut.
"Apakah aku harus menjawabnya,hm? Aku rasa,kali ini aku juga tidak perlu menjawabnya..." jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil menghentikan langkahnya,tanpa menolehkan kepalanya lagi.
"Apa kamu masih ingin berdiri diam disana terus, hm?" lanjut Sebastian dengan bertanya pada Jennifer, lalu ia langsung melanjutkan langkahnya kearah mobilnya yang hanya tersisa 2 langkah itu.
Sedangkan Jennifer,ia langsung mendengkus kesal,sambil menatap kesal kearah punggung lebarnya Sebastian yang telah menghilang dibalik pintu mobil tersebut.
"Kak,kenapa cara kamu memanggil dan berbicara dengan suamiku,terdengar begitu dekat? Dan kamu juga terlihat sangat takut sama Sebastian, hm?" tanya Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesal dan kedua mata yang menelisik tajam kearah Billy,sambil bersedekap dada.
Sedangkan Billy,ia langsung sibuk berpikir untuk menyusun kata-kata,untuk Nona Mudanya.Apa lagi,saat ia mendengar panggilan kak dikalimatnya Jennifer barusan.
"I itu,karena Tuan Sebastian telah menjadi suaminya Nona Muda sekarang.Nona muda, memangnya aku harus memanggil apa dan bersikap bagaimana terhadap Tuan Sebastian?" jawab Billy dan sekalian bertanya dengan nada pura-pura bingungnya,sambil mengarahkan anak buahnya yang baru saja sampai itu,dengan jari-jari tangannya,untuk membereskan 2 mobil yang sudah hancur tersebut.
'Benar juga ya...Tidak mungkin juga kan,kalau Billy harus bersikap kurang ajar terhadap Sebastian. Tapi tetap saja,kenapa perasaanku berkata,kalau mereka berdua memang memiliki hubungan yang sudah dekat...' batin Jennifer dengan posisi kedua tangan yang sama,tapi sebelah tangannya sedikit terangkat untuk menyangga dagunya,sambil berpikir.
"Hmm,kalau begitu...Apakah kakak sependapat denganku,kalau Sebastian adalah pria yang telah menyelamatkan kita pada hari itu?" tanya Jennifer, iapun memilih untuk membahas yang lain saja, sambil menatap curiga kearah Billy, tanpa mengalihkan penyangga tangannya.
Lagi pula,tidak ada gunanya juga ia memaksa,Billy adalah salah satu pengikut yang paling setia pada Tuannya,diantara semua pengikut yang ada.
Hanya saja,setahu dirinya Billy hanya memiliki Paman atau Daddynya sendiri yang sebagai majikannya,tapi kenapa sekarang malah berbalik kepada Sebastian.
Ntahlah ia sendiri masih berpikir keras tentang itu,tanpa ia tahu kalau Billy mengikuti 3 Tuan sekaligus saat ini,sampai kadang-kadang Billy jadi kebingungan sendiri karena perintah mereka yang berbeda-beda.
"Nona Muda,apakah Nona Muda lupa? Kalau pada hari itu,kita bahkan tidak bisa melihat wajahnya pria itu sepenuhnya.Bagaimana caranya aku bisa mengenalnya,Nona Muda..." jawab Billy dengan berusaha mempertahankan wajah tenangnya, sambil melirik sekilas kearah mobil Tuan Mudanya.
"Tapi tadi kakak sendiri juga melihatnya bukan? Lihatlah, tembakannya tadi bahkan tepat semua... Bukankah itu berarti......." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimatnya,suara tegas dan tingginya Sebastian langsung menyelanya dari mobil sana.
"Apa kalian ingin aku menyetirnya sendiri,dan meninggalkan kalian disini,hm?" tanya Sebastian dengan nada tingginya dan juga menahan rasa kesalnya,sambil menatap tajam kearah Billy dan juga Jennifer yang terlihat sangat senang berdiri disana.
Ia memang tidak begitu mendengar jelas obrolan antara istrinya dan Billy,tapi saat ia melihat ekspresi wajahnya Billy,ia bisa menebak apa yang sedang Jennifer perdebatkan disana.Tapi ia bukan bermaksud ingin membantu Billy,ia hanya merasa kesal karena menunggu lama didalam mobil.
__ADS_1
"Dasar pria yang sangat menyebalkan..." Jennifer langsung menggerutu kesal,sambil berjalan kearah mobil suaminya,dengan gerakan kesalnya,ia menghentak-hentakkan kakinya selama beberapa kali.
Sedangkan Billy,ia langsung menghela napas lega karena ia tidak perlu menjawab pertanyaan- pertanyaan Nona Mudanya lagi,walaupun ia tahu kalau Tuan mudanya bukan sedang membantunya. Ia juga menahan senyum dibalik wajah tenangnya karena tingkah lucu Nona Mudanya, sambil mengikuti langkah Nona Mudanya.
Begitu juga dengan Sebastian yang ikut menahan senyum,saat ia melihat wajah memberengut kesal dan hentakkan kakinya Jennifer tersebut,lalu ia kembali menatap lurus kedepan setelah Jennifer sudah sampai disamping mobilnya yang satunya lagi.
Beberapa menit kemudian...
"Drett drett drett..." terdengar suara getaran di HPnya Billy,yang menandakan kalau ada orang yang sedang meneleponnya saat ini.
Billy yang tadi sedang sibuk fokus menyetir sambil melirik kearah Tuan Muda dan Nona Mudanya itupun,langsung mengambil HPnya dari dalam sakunya dengan gerakan cepatnya,ia baru teringat dengan seseorang.
'Sekarang,aku harus memberi alasan apa sama Tuan besar...' batin Billy dengan wajah bingungnya, ia baru ingat kalau ia langsung mendiamkan suara nada HPnya karena Tuan Besarnya meneleponnya pada saat ia sedang fokus pada aksi kejar mengejar tadi.
Dan lihatlah,akibat perbuatannya tadi.Tuan Besarnya pasti sedang emosi saat ini,ternyata Tuan Besarnya telah meneleponnya begitu banyak kali,karena yang kali ini sudah termasuk yang ke 20 kalinya...
"Hal hallo,Tuan Besar..." jawab Billy dengan nada gugupnya,karena rasa takutnya,dan dirinya pasti akan kena bentakan dari Tuan Besarnya.
"Apa kamu sudah bosan hidup,hah?" tanya Daddynya Jennifer dari seberang sana,dengan nada tingginya yang terdengar seperti bentakan, tapi wajah khawatirnya tetap terlihat.
Begitu juga dengan istrinya yang sedari tadi terus saja berjalan mondar-mandir sepertinya dan juga menampilkan wajah khawatirnya,sedari mereka mendapatkan laporan dari anak buah suaminya tadi,padahal mereka baru saja sampai di Mansion mereka sedari 10 menit yang lalu.
Tadinya ia berniat ingin pergi menyusul Jennifer, tapi suaminya malah melarangnya.Dan suaminya mengatakan padanya kalau mereka harus mempercayai Sebastian,tapi lihatlah,ekspresi khawatir diwajah suaminya tidak kalah parah dari pada wajahnya.
Suaminya bahkan akan menyusul Jennifer,tapi untung saja,kali ini Billy akhirnya mengangkat teleponnya juga.
Daddy dan Mommypun langsung menghela napas lega secara bersamaan,saat ia mendengar kabar baik dari Billy barusan.Ternyata Sebastian memang benar-benar bisa mereka andalkan,Mommy dan Daddypun segera duduk disofa,dengan Mommy yang langsung memijit pelan kakinya yang baru terasa lelahnya saat ini,setelah kakinya sibuk mondar-mandir selama hampir 20 menit tadi.
"Siapa pelakunya?" tanya Daddy yang langsung keintinya,tapi nadanya sudah tidak begitu tinggi lagi,hanya saja amarahnya masih terlihat diwajahnya.
"Geng Eagle Black,Tuan Besar.Tapi dalang yang sebenarnya,kami masih sedang berusaha mencari tahunya, Tuan Besar..." jawab Billy dengan cepat,sambil menghela napas lega dengan pelan,saat ia mendengar nada tinggi Tuan Besarnya yang sudah mengurang.
"Segera beritahu aku,jika kalian sudah mengetahuinya..." perintah Daddy dengan nada tegasnya,sambil menetralkan amarahnya yang kembali ingin berkobar.
Ia pernah mendengar tentang Geng Eagle Black,dan setahunya keluarganya tidak pernah berhubungan dengan geng mereka.
Begitu juga dengan menantunya Sebastian yang hampir tidak pernah mencari masalah dengan siapapun,kecuali mereka yang duluan menganggunya.
Dan dari yang ia dengar,kalau Geng tersebut adalah kelompok orang yang akan melakukan sesuatu,jika ada yang akan membayar mereka dengan harga mahal.
Jadi ia sangat yakin, pasti ada yang sengaja membayar Geng tersebut untuk membunuh putrinya.Sepertinya,ia sudah bisa menebak siapa dalang yang sebenarnya,dan ia rasa Sebastian pasti juga memiliki tebakan yang sama dengannya.
"Baik,Tuan Besar..." jawab Billy,sambil melirik sekilas kebelakangnya.
"Ingat...Jika lain kali kamu mengabaikan telepon dariku lagi,aku pasti akan membuat kepalamu tidak berada ditempatnya lagi..." peringat Daddy dengan nada tegasnya yang sedang menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
Baru kali ini,ia diabaikan oleh anak buahnya. Walaupun Billy sudah seperti anaknya sendiri,tapi ia tidak suka diabaikan.Apa lagi,pada situasi darurat yang seperti ini.
Ia jadi berpikir,pasti karena Sebastian,makanya Billy jadi berani mengabaikannya.Ternyata kharisma menantunya itu tidak kalah hebat dari pada dirinya.
"Baik,Tuan Besar..." jawab Billy dengan nada dan wajah seriusnya.
Billy yang masih menempelkan HPnya ketelinganya itu,ia langsung menghela napas berat dengan nada pelannya. Tuan Besarnya memang selalu mematikan telepon mereka,sebelum ia selesai berbicara.Bahkan Tuan Mudanya juga selalu bersikap yang sama dengan Tuan Besarnya tersebut.
Dan ia juga harus menambahkan stok kesabarannya lagi,karena sedari kemaren ia terus berada disituasi yang tidak menguntungkan bagi dirinya.Apa lagi,untuk kedepan-depannya nanti.
'Sepertinya,saat sudah sampai dirumah Tuan Muda nanti,aku harus segera merendamkan seluruh tubuh hingga kepalaku kedalam air dingin ,dan dengan beberapa cairan pengharum badan...' batin Billy dengan wajah yang tersenyum senang,saat ia memikirkan tubuhnya yang akan berendam lama didalam bathup yang dipenuhi air dingin berserta aroma wangi-wangian ,untuk mengurangi rasa lelahnya.
Tapi senyum senangnya langsung berubah menjadi kesal karena sepertinya,ia harus membuang jauh-jauh lamunan indahnya tersebut, karena sebentar lagi ia harus segera melacak keberadaanya Ketua dari Geng Eagle Black tersebut.
'Apa yang telah terjadi pada mereka? Bukankah tadi,mereka berdua baik-baik saja.Ada-ada saja, dasar pengantin baru yang aneh......' lanjut Billy didalam hatinya lagi,ia baru saja kembali melirik kebelakangnya,dimana Tuan muda dan Nona Mudanya yang sedang bertingkah aneh.
Ia hanya mampu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saja,saat ia melihat permandangan aneh dibelakangnya tersebut.
Lalu iapun mengabaikan permandangan aneh tersebut karena ia tidak ingin energinya akan terbuang sia-sia kalau ia sibuk mengkhawatirkan atau memikirkan tentang mereka berdua,lalu iapun langsung kembali fokus keperjalanan mereka yang hanya tersisa sekitar 20 menit itu.
Sedangkan Sebastian dan Jennifer,sedari masuk kedalam mobil tadi,mereka berdua sama-sama setia dengan mode diam mereka.
Berbeda dengan Sebastian yang memang tidak begitu suka banyak bicara,ia lebih memilih untuk menyimpan tenaganya dan beristirahat dengan menyandarkan kepalanya kebelakang dan juga memejamkan kedua matanya.
Tapi Jennifer malah menampilkan ekspresi kesal diwajah cantiknya,walaupun ia memejamkan kedua matanya dan posisinya,sama seperti Sebastian.
Sedari masuk kedalam mobil tadi,ia langsung memakai jurus diam seribu bahasa,karena ia masih merasa kesal dengan perkataan dan juga sikap menyebalkannya Sebastian tadi.
20 menit kemudian...
Mobilnya Sebastian sudah terlihat dari kejauhan hingga masuk kehalaman rumahnya,di pintu utama rumahnya sudah ada Ayah,Ibu,dan Stella yang sedari tadi sedang menunggu kedatangan pengantin baru tersebut.
Jadi saat salah satu pengawal melapor kalau Tuan Muda mereka sudah sampai,mereka semuapun langsung bersiap-siap dipintu utama.Bahkan senyum senang dan juga bahagia terus saja terpancar diwajah mereka,kecuali Ayah yang ekspresi bahagianya tidak begitu terlihat,ia hanya tersenyum kecil saja.
Tapi nyatanya Ayah memang merasa sangat bahagia seperti istri dan putrinya,hanya saja ekspresinya memang begitu adanya,untung saja ia tidak seperti putranya itu
Setelah mobil tersebut sudah berhenti tidak jauh dihadapan mereka,terlihat Sebastian yang duluan keluar dari dalam mobil tersebut,lalu disusul dengan Jennifer.
Sedangkan Billy,ia langsung membawa mobil Tuan mudanya pergi dari sana,untuk melaksanakan tugas dari Tuan mudanya tadi.
'Kenapa mereka berlebihan sekali...' batin Sebastian dengan wajah malasnya,sambil terus melangkah kearah keluarganya.
Sedangkan Jennifer,ia masih saja menampilkan wajah kesalnya sambil terus melangkah dengan mengikuti langkah suaminya,tanpa menyadari tatapan bahagia yang berubah menjadi tatapan bingungnya beberapa pasang mata tersebut.
Beberapa detik kemudian...
__ADS_1
"Auchk...Kenapa kamu malah berhenti,hm?" terdengar pekikan sakitnya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus keningnya yang terasa ngilu karena tertabrak punggung keras suaminya barusan,ia bahkan bertanya dengan wajah kesalnya.
"Apa menurutmu,aku harus berjalan terus,hm?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah malasnya,sambil menunjuk keluarganya melalui ekor matanya.