Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 86


__ADS_3

"Apa kamu tidak bisa pelan sedikit, Honey... Jantungku bisa meloncat keluar,kalau digituin terus..." ucap Jennifer dengan nada kesalnya, sambil kembali keduduknya dengan menahan rasa malunya,karena ia baru menyadari kalau tangannya telah menyentuh pahanya Sebastian.


Sebastian hanya kembali menggeleng-gelengkan pelan kepalanya karena ia sudah tidak memiliki waktu untuk berdebat dengan istrinya lagi,lalu ia kembali fokus pada 2 mobil yang berada dibelakang mereka tersebut,mereka bahkan semakin mendekat kemobilnya.


Belum sempat Jennifer kembali bertanya tentang kebingungannya,suara tembakan malah mulai terdengar ditelinga mereka...


"Dor dor dor..." terdengar suara beberapa tembakan yang telah mengenai beberapa badan mobilnya Sebastian.


"Ada apa ini? Siapa mereka?" tanya Jennifer dengan wajah kaget dan juga penasarannya,sambil memerhatikan 2 mobil yang sedang mengejar mereka, karena terlalu sibuk memikirkan tentang asisten rumahnya Sebastian tadi,ia sampai tidak begitu memerhatikan disekitarnya.


"Kamu pikir saja sendiri..." jawab Sebastian dengan nada malasnya sambil mengeluarkan pistol miliknya,ternyata kepintarannya Jennifer hanya akan muncul pada saat-saat tertentu saja.


Ya,walau ia akui kalau Jennifer,seorang wanita yang sangat pemberani.Memang pantas menjadi putri dari seorang Arka Septian Naava,karena sama sekali tidak ekspresi takut diwajahnya Jennifer saat ini,tidak seperti yang kebanyakan, yang pasti sedang histeris ketakutan saat ini.


"Dasar menyebalkan..." Jennifer hanya mampu menggerutu kesal saja,karena disaat situasi mereka sekarang,mereka tidak bisa terus berdebat.


"Nona Muda..." panggil Billy dengan nada bingungnya,saat pistol yang ia pegang ternyata sekarang sudah beralih ketangan Nona Mudanya.


"Percepatkan lajunya,jangan sampai mereka bisa mendekati kita..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil membuka jendela mobil dan bersiap-siap akan menembak,setelah ia sudah selesai melirik sekilas kearah Jennifer yang malah ikut-ikutan membuka jendela dengan pistol ditangannya.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat,sambil melakukan perintah dari Tuan Mudanya,dan juga mengabaikan perasaan bingungnya tadi.


Ia juga melirik sekilas kearah Tuan Muda dan Nona Mudanya,yang sedang mendongakkan kepala hingga keleher mereka keluar jendela.


Beberapa detik kemudian...


"Dor dor dor..." terdengar suara 3 tembakan yang meluncur dari pistolnya Sebastian,tembakan yang langsung tepat mengenai ban depan,ban belakang,dan si pengemudi mobil tersebut.


"Bomm..." hingga beberapa detik kemudian,langsung terdengar suara meledak dari mobil tersebut.


Karena laju mobil mereka yang tidak terkendali, akibat kedua ban mobil mereka yang meledak, ditambah lagi dengan nyawanya pengemudi tersebut yang tadi telah langsung melayang ditempat,dan terjadilah tabrakan yang sangat kuat hingga menyebabkan ledakan kuat dari mobil tersebut.


"Dor dor...Dor dor dor..." dan disusul dengan suara 2 tembakan yang meluncur dari pistolnya Jennifer berserta 3 tembakan dari para musuh.


Dan 3 tembakan para musuh hanya mengenai badan mobil saja,dengan 2 tembakannya Jennifer yang meleset mengenai penumpang disamping pengemudi dan kap mobil tersebut, padahal Jennifer sedang mengincar sipengemudinya.


"****..." umpat Jennifer dengan wajah kesalnya karena tembakannya tadi malah meleset, sambil melirik sekilas kearah mobil yang telah meledak tadi,mobil tersebut bahkan sudah hampir terbakar habis saat ini,dan sekarang kepala pintarnya menangkap sesuatu pada dirinya Sebastian.


Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum tipis saat mendengar samar umpatan kesalnya Jennifer barusan.Ternyata istrinya pintar mengumpat juga,baru ini kali pertamanya ia mendengar Jennifer mengumpat selama ia bersamanya.


Lalu,ia segera masuk ketempat duduknya kembali, saat ia melihat mobilnya yang satunya lagi sudah hampir berhasil sejajar dengan mobilnya,mobil tersebut bahkan mengincar bagian miliknya Jennifer.


Begitu juga dengan Jennifer yang segera ikut masuk kedalan,saat ia langsung menyadari akan bahaya yang sedang mendekatinya.


"Tuan Muda..." panggil Billy dengan nada dan wajah khawatirnya,saat ia melihat pengemudi yang tidak berhasil ditembak oleh Nona Mudanya tadi,sedang mengarahkan pistol kearah Nona Mudanya yang terlihat ikut mengarahkan pistol kearah musuh tersebut.


'Tuan Muda...' batin Jennifer dengan perasaan herannya saat ia mendengar panggilan dan nada akrab disuaranya Billy untuk Sebastian,sambil terus fokus membidik musuhnya.

__ADS_1


Bahkan untuk menutup jendela saja,mungkin ia tidak akan sempat.Dan jika ia menghindar,pasti peluru tersebut akan mengenai Sebastian.


"Dor..." tanpa menunggu lama ataupun ancang-ancang lagi,Sebastian langsung menembaki pengemudi tersebut,hingga tepat mengenai keningnya,sebelum dia sempat menekan pelatuknya.


Beberapa saat kemudian...


"Brakk..." terdengar suara tabrakan yang sangat kuat,dari mobilnya musuh tersebut,karena nyawa pengemudinya sudah melayang,hingga mobil mereka menabrak pembatas jalan dengan kuat.


Berbeda dengan Billy yang langsung menghela napas lega,karena Nona Mudanya tidak dalam bahaya lagi,saat ini.


Jennifer malah tercengang dengan kedua mata yang hanya menatap lurus kedepan,dan juga ekspresi kaget diwajah tercengangnya,bahkan detakan jantungnya meningkat dengan cepat.


Bagaimana tidak,tembakannya Sebastian barusan melewati tepat disamping pelipisnya,peluru tersebut bahkan menyentuh beberapa helai rambut yang ada dipelipisnya.


"Nona Muda,apa Nona Muda baik-baik saja?" tanya Billy dengan nada dan wajah bingungnya sambil menghentikan mobil,saat ia melihat Nona Mudanya yang malah duduk tercengang dibelakangnya.


"Apa aku terlihat baik-baik saja,hm?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil mengalihkan tatapan kesalnya kearah Billy.


"Maaf,Nona Muda..." jawab Billy dengan nada yang semakin bingung tapi ia tidak berniat ingin bertanya lagi,kenapa Nona Mudanya malah menjadi kesal saat ini,karena tadi ia tidak begitu memperhatikannya.


"Apakah kamu ingin membunuhku,hm?" tanya Jennifer sambil menatap kesal kearah wajah datarnya Sebastian,walaupun ia akui kalau perbuatannya Sebastian tadi memang harus dilakukan karena tadi nyawanya sedang terancam.


"Cepat bawa kita kesana,kita harus memeriksanya..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya,lalu ia langsung menatap santai kearah wajah kesalnya Jennifer.


Ia harus secepatnya mengetahui pelakunya,karena sepertinya,mereka semakin dibiarkan,Jennifer akan semakin dalam bahaya.Ia sangat yakin,kalau yang tadi itu,mereka sedang menargetkan Jennifer.


"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada tegasnya sambil segera memutarkan mobil tersebut dan melajukannya kearah mobilnya musuh tadi,yang hanya berjarak beberapa meter itu saja.


"Jika bukan aku yang menembaknya,apa kamu ingin dia yang menembakmu,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah malasnya,sambil mengambil pistol yang masih dipegang oleh Jennifer tersebut,lalu langsung ia lemparkan pelan kearah Billy yang langsung menangkapnya.


Ia bahkan sangat yakin,kalau saja tadi ia tidak menembak duluan,dan membiarkan Jennifer yang ambil alih.Sudah pasti Jennifer akan tertembak, walaupun tembakannya Jennifer akan tepat mengenai pengemudi tersebut.


Tapi tetap saja,didalam hatinya yang paling dalam,ia tidak ingin kalau Jennifer sampai terluka.Ia bahkan tidak yakin,apakah Jennifer akan baik-baik saja,setelah terkena tembakan tersebut.


"Apakah kamu tidak pernah berpikir? Bagaimana kalau seandainya tadi,tembakannya mengenai kepalamu?" tanya Sebastian lagi,wajah malasnya telah menjadi kesal saat ini,saat ia masih melihat Jennifer yang masih saja menampilkan wajah kesalnya.


Sedangkan Jennifer,ia langsung merubah wajah kesalnya menjadi bersalah,sambil menekukkan wajahnya dan juga melirik kearah wajah kesalnya Sebastian,karena apa yang dikatakan oleh Sebastian memang benar adanya.


"Dan sepertinya,cara membidikmu harus kamu tingkatkan lagi,supaya tembakanmu tidak akan meleset seperti tadi..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menetralkan rasa kesalnya.


Sedangkan Jennifer yang sedang menekuk wajah bersalahnya tadi,ia langsung berusaha menahan rasa kesalnya yang mulai kembali lagi.


"Bagaimana kamu bisa begitu pintar menembak, hm?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah penasarannya,sekalian untuk mengusir rasa kesalnya barusan,tiba-tiba saja ia malah memikirkan tentang seseorang.


"Aku rasa,aku tidak perlu memberitahunya padamu bukan..." jawab Sebastian dan bertanya kembali dengan nada santainya,sambil membuka pintu mobilnya karena mereka sudah sampai dipembatas jalan tersebut,dimana pengemudi tersebut telah menabrakkan mobilnya disana.


"Dasar menyebalkan..." lagi-lagi Jennifer hanya mampu menggerutu kesal saja,sambil menatap kesal kearah punggung lebarnya Sebastian yang sudah keluar dari dalam mobil,hingga mampu membuat Billy terus saja menahan senyumnya sedari tadi.

__ADS_1


Kemudian Jenniferpun ikut keluar karena ia juga merasa penasaran dengan pelakunya,lalu disusul dengan Billy,mereka berdua langsung sedikit berlari untuk mengejar langkahnya Sebastian yang sudah sampai dilokasi tabrakan tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia langsung berjongkok dengan gerakan hati-hatinya dan pistol yang masih bertengger digenggamannya,dan ia langsung bisa melihat kalau masih ada 1 musuh yang selamat dari tabrakan tersebut,walaupun sudah sekarat.


Sebastian segera menarik paksa pria tersebut dari dalam mobil yang sudah hampir hancur semuanya itu,untung saja posisinya pria tersebut tidak sulit untuk ditarik paksa.


"Cepat katakan,siapa yang telah memerintahkan kalian untuk membunuh kami?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,sambil memegang pundak dan mengarahkan pistolnya kearah pria tersebut.


"To tolong am ampuni aku,Tuan..." pinta pria tersebut dengan nada serak,takut,gugup,pelannya dan wajahnya yang hampir dipenuhi darah,karena benturan keras dikepalanya saat tabrakan tadi.


"Kalau begitu,cepat katakan padaku,siapa yang telah memerintahkan kalian untuk melakukan semua ini,hah?" tanya Sebastian dengan nada tingginya sambil memerhatikan leher dan dadanya pria tersebut yang pakaiannya memang telah sedikit tersingkap, tanpa mengalihkan pistolnya dari keningnya pria tersebut.


Hari ini,ia sudah lelah dengan aktivitas pernikahan mereka tadi,dan ia hanya ingin pulang untuk beristirahat sebentar,tapi ia malah harus melayani beberapa pengacau ini.Dan bagaimana kalau tadi dirinya tidak bersama Jennifer,kemungkinan besar Jennifer akan berada dirumah sakit saat ini.


Sedangkan Jennifer,ia kembali tercengang sambil terus memerhatikan wajah marahnya Sebastian, baru ini pertama kalinya ia melihat sisi lainnya dan sikap kejamnya Sebastian.


'Nona Muda,ini baru yang biasa,dan Nona Muda pasti akan melihat sisi-sisi kejamnya Tuan Muda yang lainnya lagi,satu persatu nanti...' batin Billy dengan senyum bangga diwajahnya,lalu berubah menjadi khawatir,karena sebentar lagi Tuan Mudanya pasti akan memarahinya karena kecerobohannya tersebut.


"Ka kami tidak tahu apa-apa,kami hanya melakukan perintah dari Tuan kami saja,Tuan..." jawab pria tersebut,dengan nada dan wajah takutnya,saat ia mendengar suara tingginya Sebastian barusan.


Ternyata mereka telah mengincar target yang salah,dan alangkah bod*hnya mereka,mereka bahkan tidak menyelidik target mereka terlebih dahulu,sebelum mereka menyerang.


Dan lihatlah kecerobohan mereka sendiri,nyawa mereka hampir tidak tersisa sekarang,bahkan dirinya sebentar lagi,mungkin saja akan senasib seperti teman-temannya.


"Kami dari Geng Eagle Black,Tuan.Pria itu memiliki wajah yang sedikit tua,dia menemui Tuan kami, pada 2 hari yang lalu.Aku hanya mengetahui sebanyak itu saja,Tuan.Aku tidak mengetahui sisanya lagi, karena kami hanya memerhatikan mereka dari jauh saja,kami bahkan tidak mengetahui siapa nama pria itu..." lanjut pria tersebut,dengan jujur dan nada yang semakin lemah saat ia mendapatkan tatapan tajam dari Sebastian,bahkan darahnya terus saja mengalir sedari tadi,dan suaranya juga semakin melemah.


Sedangkan Sebastian,ia tidak berbicara lagi,ia hanya sibuk mengontrol amarahnya.Tanpa pria tersebut mengatakannya pun,ia sudah bisa tahu,karena sebelum pria tersebut mengatakannya, ia telah melihat dengan jelas gambar Elang yang berukuran kecil didada atasnya pria tersebut.


"Cih...Berani sekali,dia mengangguku..." ucap Sebastian dengan nada marahnya,sambil melepaskan kesal,genggaman tangannya pada pundaknya pria tersebut,lalu ia langsung berdiri dari jongkoknya.


Kemudian...


"Dor..." terdengar suara tembakan dari pistolnya Sebastian dan suara pekikan sakit sesaat dari mulutnya pria tersebut,karena Sebastian langsung menembaki keningnya pria tersebut,tanpa berpikir panjang lagi,hingga membuat pria tersebut langsung menghembuskan napas terakhirnya begitu saja.


Sedangkan Jennifer,ntah sudah keberapa kalinya ia terperanjat kaget hari ini,karena Sebastian menembaki pria tersebut secara tiba-tiba.


"Penjahat tetap penjahat,tidak ada kata ampun untuk mereka...Lagi pula,dia sudah sekarat,hanya tinggal menunggu waktu saja. Aku hanya mempermudahkan penderitaannya saja..." ucap Sebastian dengan nada tegasnya,sambil memerhatikan wajah tercengangnya Jennifer yang baru saja ia sadari.


Lalu Sebastianpun langsung melangkah tegas kearah mobilnya kembali,sambil menyimpan pistolnya dengan gerakan santainya.


Sedangkan Jennifer,ia langsung tersadar dari rasa tercengangnya,saat ia mendengar suara tegasnya Sebastian barusan,iapun hanya mampu mendengkus kesal saja.


'Bukankah itu pepatahnya Paman,kenapa Sebastian bisa mengatakan pepatah yang sama dengan miliknya Paman? Tapi bukankah......' Jennifer menghentikan batinnya,saat ia baru saja mengingat tentang permintaannya pada Pamannya pada tahun lalu.


Bukankah dirinya sendiri yang meminta pada sang Paman untuk menjaga Sebastian selama ia pergi,jadi mereka berdua pasti sudah akrab dan berbagi pengalaman dan yang lain-lainnya bukan...


Jika tidak,bagaimana Sebastian bisa mendapatkan pepatah tersebut.Tapi ia tidak berniat ingin bertanya pada Sebastian,karena ia sudah memutuskan untuk bertanya langsung pada Pamannya saja.

__ADS_1


"Apakah perkerjaan kalian hanya berdiri diam saja,sedari tadi? Sampai kalian berhasil dikelabui oleh mereka..." tanya Sebastian dengan nada tinggi dan wajah kesalnya,sambil menatap tajam kearah Billy dan juga menghentikan langkahnya tepat disampingnya Billy.


"Maafkan kami,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada pelannya dan wajah bersalahnya,sambil sedikit menundukkan kepalanya kearah Sebastian.


__ADS_2