Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 156


__ADS_3

"Apakah kamu serius,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil menatap tajam kearah sang dokter.


"Se serius,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan nada gugupnya dan wajah takutnya.


"Honey..." panggil Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menahan segala rasa kesalnya tersebut.


Sedangkan Sebastian,iapun segera mengubah tatapan tajamnya tersebut menjadi agak santai kembali,ia bahkan langsung mengubah ekspresi wajah datarnya menjadi santai juga.


"Sekarang,kamu sudah boleh pergi..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya, tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang sedang duduk disampingnya Jennifer tersebut.


Sepertinya ia sedang berpikir kalau perkataannya sang dokter memang ada benarnya juga,karena sedari tadi Jennifer memang tidak melakukan hal-hal yang berat atau yang bisa membahayakan janinnya mereka,selain bergelut panas dengan dirinya.


"Baik,Tuan Muda..." jawab sang dokter dengan cepat dan menunduk hormat kearah Tuan Mudanya dan juga Nona Mudanya,lalu ia langsung berjalan pergi dari sana dengan helaan napas lega.


Sang dokter bahkan hanya hanya mampu terus menggerutu kesal disepanjang perjalanannya kembali kerumah sakit,karena mau merutuki kedua majikannya tersebutpun ia tidak berani.


"Sweety..." panggil Sebastian dengan nada dan wajah bersalahnya,sambil memeluk sayang Jennifer,setelah sang dokter sudah telah menghilang dibalik pintu kamarnya mereka.


Sedangkan Jennifer,ia langsung membalas pelukan sayang dari Sebastian,walaupun ia juga merasa agak bingung dengan sikap membingungkan Sebastian yang terlihat agak lebay saat ini.


"Apakah pinggangmu masih terasa sakit,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah bersalah dan juga khawatir,sambil memberi tatapan menelisik kearah Jennifer yang juga mengangkat kepala kearahnya,setelah ia sudah selesai menghela napas lega sekaligus helaan pelan karena saat ini istri dan janin mereka baik-baik saja.


"Sudah tidak,Honey.Jadi kamu tidak perlu khawatir sampai segitunya,ya.." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya,ia jadi merasa tidak tega dengan wajah bersalahnya Sebastian tersebut, sambil memikirkan pembahasan yang bisa mengalihkan rasa bersalahnya Sebastian,dan kebetulan dirinya memang sedang memikirkan sesuatu saat ini.


"Honey,sepertinya sekarang aku sedang ingin makan sesuatu...Bagaimana kalau ....." belum sempat Jennifer mengutarakan isi hatinya tersebut, Sebastian sudah langsung menyelanya dengan cepat,karena Sebastian sudah tahu apa yang akan diutarakan oleh Jennifer saat ini.


"Katakan saja,apa yang sedang ingin kamu makan, Sweety? Aku akan segera mencarikannya untukmu,sekarang juga..." sela Sebastian dengan cepat dan wajah yang tersenyum kecil, ternyata rasa bersalahnya tersebut berhasil sedikit mengurang,sambil memikirkan apa saja makanan yang akan diinginkan oleh Jennifer kali ini.


"Baiklah.Kali ini aku menginginkan Bakso sapi,es krim,pisang keju,gudeg,soto ayam,bebek goreng,dan,,,,es campur... Sudah,gitu aja..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,sambil memikirkan apa saja makanan enak yang sedang terlintas dibenaknya saat ini.


'Gitu aja...' Sebastian hanya mampu membatin dengan perasaan malasnya dan tetap mempertahankan wajah senyum kecilnya tersebut,saat ia mendengar perkataannya Jennifer yang terdengar seperti mudah tersebut.


Padahal ia harus mencari semua nama-nama deretan makanan tersebut diberbagai tempat,dan tentunya juga ia harus singgah dibanyak tempat.


"Baiklah.Aku akan pergi mencarinya sekarang juga,kamu tunggu disini dulu,ya..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum tulusnya,walaupun ia merasa agak malas.


Lagi pula sudah 3 hari ini ia terus pergi keluar,hanya untuk membeli semua makanan yang diinginkan oleh Jennifer,jadi ia sudah mulai terbiasa dengan hal tersebut.Dan yang terutama,ia melakukan semua itu hanya demi istri dan bayi tercintanya mereka tersebut.


"Honey..." panggil Jennifer dengan nada dan wajah manjanya,sambil bersandar dilengan kokohnya Sebastian,sebelum Sebastian sempat berjalan pergi dari tempat duduknya saat ini.


Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran,sambil menelisik wajah kesalnya Jennifer yang telah berubah menjadi manja saat ini.


Sebastian hanya bisa menebak-nebak tentang apa lagi,yang sedang diinginkan oleh istri tercintanya ini,karena biasanya wanita selalu ada maunya jika sudah bersikap manja seperti ini.


"Apa,hm?" tanya Sebastian dengan singkat dan suara lembutnya,sambil memerhatikan sikap manjanya Jennifer yang terlihat begitu menggemaskan tersebut.

__ADS_1


"Aku boleh ikut bersamamu,ya?..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin manja saja,kedua alis matanya bahkan terlihat turun naik kearah Sebastian yang langsung merubah ekspresi wajah herannya menjadi tegas.


"Tidak, kamu tidak boleh ikut,Sweety..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya, karena keadaan kesehatannya Jennifer sekarang juga tidak memungkinkan untuknya membawa Jennifer keluar rumah.


"Kamu tunggu disini saja,ya...Aku hanya pergi sebentar saja..." lanjut Sebastian dengan merendahkan nada tegasnya tersebut,saat ia melihat wajah memberengut kesalnya Jennifer yang telah kembali tersebut,bahkan Jennifer langsung menjauhkan tubuh manjanya tadi.


"Sweety,nurut ya...Aku hanya tidak mau kalau kamu dan bayi kita,akan kenapa-kenapa nantinya..." lanjut Sebastian lagi,dengan suara lembutnya dan wajah seriusnya,sambil membelai pelan rambutnya Jennifer.


Sebastian langsung menghela napas lega,saat ia melihat wajah memberengut kesalnya Jennifer yang mulai mengurang.


"Baiklah.Tapi semua yang telah aku sebutkan tadi,tidak boleh ada kurang,ya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum pasrah,sambil menatap tajam kearah Sebastian.


"Oke,Nona Muda,akan segera saya lakukan tanpa ada satu macampun yang tertinggal..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,Sebastian bahkan memberi hormat seperti seorang polisi kearah Jennifer, dan hal tersebutpun berhasil membuat Jennifer kembali tersenyum ceria karena merasa lucu dengan sikap konyolnya tersebut.


"Baiklah, Sweety,sekarang kamu tunggu disini dulu,ya...Aku akan pergi,dan segera pulang dalam 30 menit lagi... Cup..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum senangnya saat ia melihat wajah senyum cerianya Jennifer tersebut,sambil mengecup sekilas pipinya Jennifer,lalu ia segera berdiri dari duduknya dan berjalan tegas pergi dari sana setelah ia melihat anggukan pelan dari Jennifer barusan.


Jenniferpun menurut dan benar-benar menunggu kepulangannya Sebastian didalam kamarnya mereka saja,dengan wajah yang terus tersenyum senang karena sibuk memikirkan tentang semua makanan enak yang telah ia sebutkan tadi.


Sedangkan Sebastian,ia terus berjalan hingga keluar rumah dan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya tepat dihalaman rumahnya, sepertinya ia telah memiliki ide yang lebih bagus untuk istri tercintanya itu.


Sebastian pun segera mengeluarkan HPnya,dan mencari nama seorang pria yang tepat untuk melakukan ide apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Siapa lagi,kalau bukan Billy yang saat ini sedang sibuk memeriksa setumpuk kertas putih yang isinya harus ia periksa teliti disetiap kalimat, titik,koma dan yang lainnya.Sedangkan Tuan Mudanya,ia hanya menerima email dari rumahnya saja.


"Dring dring dring...." terdengar suara nada dering panggilan yang sudah hitungan ke 6 kalinya, hingga mampu membuat sebastian berdiri dengan ekspresi wajah kesalnya,karena sikap tidak sabarannya tersebut.


"Iya,dan kamu harus melakukannya hanya dalam waktu 30 menit saja,dimulai dari sekarang..." jawab Sebastian dengan nada tegasnya.


"30 menit?" Billy mulai merasakan hal-hal yang tidak baik,yang akan terjadi pada dirinya saat ini,ia bahkan belum sempat bertanya lebih karena Tuan mudanya telah menyelanya terlebih dahulu.,dengan cepat.


"Carikan aku,penjual bakso sapi,es krim,pisang keju,gudeg,soto ayam,bebek goreng,dan es campur.Lalu kamu bawa semua penjualnya berserta tempat penjualnya kerumahku, sekarang juga...Apakah kamu mengerti?" sela Sebastian dengan nada tegasnya tersebut.


"Ta tapi,Tuan Muda...... " lagi-lagi belum sempat Billy mengutarakan kalimat keberatannya tersebut,ia harus disela oleh Tuan Mudanya terlebih dahulu,dengan cepat.


"Tidak ada tapi-tapian dalam kamusku,Billy.Jika mereka tidak mau,paksa mereka hingga mau..." sela Sebastian dengan nada yang lebih tegas lagi.


"Dan satu lagi... Bawakan alat USG dari rumah sakit,berserta dokternya tapi harus yang wanita.Ingat,mulai sekarang aku tidak ingin dokter pria lagi yang akan menangani istriku.Jika dalam 30 menit ini kamu tidak mampu mendatangkan semuanya kehadapanku, kamu akan tahu apa akibatnya nanti..." lanjut Sebastian dengan nada yang dipenuh peringatan,lalu ia langsung mematikan telepon mereka secara sepihak,tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Apakah dia sudah gil*,sekarang?" Billy yang berada diseberang sana,ia hanya mampu mengumpat kesal sambil menatap tidak percaya dan juga kesal kearah layar HPnya yang telah berubah menjadi gelap tersebut.


"Dan sepertinya,aku juga akan segera menyusul kegil*annya nantinya..." lanjut Billy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil berdiri dari kursi panasnya itu karena ia telah duduk disana terlalu lama,untuk mengerjakan semua perkerjaannya tersebut.


Setelah itu,iapun segera berjalan keluar dari ruangannya tersebut,dengan wajah kesalnya dan mau tidak mau ia terpaksa meninggalkan setumpuk perkerjaannya yang masih belum selesai tersebut.


Sedangkan dihalaman rumahnya Rendra, Sebastian terlihat sedang tersenyum puas.Billy bukan hanya mampu melakukan setiap tugasnya dengan baik,tapi juga mampu meringankan bebannya saat ini.Lagi pula,Billy memang masih memiliki hutang kekesalan terhadapnya yang masih belum dibayar habis.

__ADS_1


Dan sekarang,ia hanya perlu menunggu sekitar hampir 30 menit lagi,karena hitungannya dimulai dari ia berjalan keluar dari dalam kamarnya mereka tadi.


"Sebaiknya,aku akan pergi keruang kerjaku saja..." gumam Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum lega karena telah ada Billy yang akan melakukan apa yang harus ia lakukan sedari tadi.


Setelah selesai bergumam pelan,iapun segera berjalan masuk kembali dengan berjalan kearah ruang kerjanya yang ada dilantai bawah tersebut.


Dan ia juga memiliki puluhan email yang harus ia lihat-lihat kembali,ia bahkan harus mengorbankan beberapa meeting penting selama beberapa hari ini,karena ia memilih untuk berada disisinya Jennifer disetiap waktu yang ada.


Berbeda dengan Sebastian yang terlihat begitu santai diruang kerjanya sendiri,tapi Billy malah terlihat kocar-kacir,karena harus mencari, membawa,dan melakukan semua perintah dari Tuan Mudanya barusan,hanya dalam waktu 30 menit saja.


Untung saja,semua penjual yang ia cari tersebut malah dengan senang hati akan mengikutinya untuk kerumah Tuan mudanya,yang terkenal dengan kekayaannya tersebut.


Memangnya,siapa yang akan begitu bod*hnya ingin menolak rejeki nomplok yang langka ini. Dan tidak lupa juga,ia memeriksa teliti semua identitas sang penjual dan lain sebagainya, karena ia tidak mau kejadian berbahaya yang lalu akan kembali terjadi terhadap Nona Mudanya.


30 menit kemudianpun berlalu dengan cepat,dan ternyata Billypun berhasil melakukan perintah dari Sebastian tersebut.Sebastianpun tersenyum senang dan segera mengendong Jennifer untuk turun kebawah,untuk memberi kejutan kecil tersebut pada istri tercintanya.


Sedangkan Billy,ia mau tidak mau terpaksa harus segera menghilang dari rumah Tuan Mudanya,karena perintah dari Tuan Mudanya dan Tuan Mudanya yang takut akan ketahuan oleh Nona Mudanya.


"Kamu mau membawaku kemana,Honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya, saat ia melihat Sebastian yang malah mengendongnya dan membawanya turun kelantai bawah,ia juga merasa sangat bingung karena kedua tangannya Sebastian tidak terlihat membawa satupun kantong makanan yang telah ia pesankan tadi.


"Sebentar lagi,kamu lihat sendiri saja,Sweety..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil memerhatikan setiap langkahnya karena takut kalau mereka akan terjatuh diantara anak-anak tangga tersebut.


Sedangkan Jennifer,iapun mau tidak mau hanya mampu terus menampilkan ekspresi wajah bingungnya saja,dan bersabar untuk menunggu dan melihat apa yang sedang disiapkan oleh Sebastian untuknya sebentar lagi.


"Bagaimana,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum kecil sambil memerhatikan ekspresi wajah kagetnya Jennifer,setelah ia sudah mengendong Jennife hingga kehalaman rumahnya tersebut.


Sedangkan Ibu,Stella,dan yang lainnya,tentunya mereka tidak akan protes apapun untuk masalah yang satu ini.Mereka semua bahkan merasa sangat senang,karena bisa menikmati makanan enak tersebut,dengan hanya berjalan beberapa langkah saja dari pintu utama tersebut.


Kecuali,Ayah yang hanya mampu berdiri dengan ekspresi wajah tenangnya saja.Tapi sebenarnya Ayah hanya mampu mengeluh malas didalam hatinya saja,terbukti dari helaan napas pelan yang terus keluar dari hidung mancungnya tersebut sedari 10 menit yang lalu,saat halaman rumahnya yang luas tersebut terus berdatangan barang-barang dan orang-orang yang sama sekali tidak dikenali itu.


"Ke kenapa? Kenapa ada begitu banyak orang dihalaman rumah kita,Honey? Dan,,,,,,," tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya yang masih terlihat kaget,dan menjeda perkataannya diakhir kalimatnya saat ia melihat kalau telah terdapat banyak makanan yang telah berjejer rapi dihadapannya mereka saat ini.


"Apakah sekarang kamu telah berganti profesi dari seorang pengusaha besar menjadi penjual kaki lima,Honey?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang masih saja terlihat bingung dan juga kaget,sambil memerhatikan semua yang ada dihadapannya,lalu beralih kewajah senyum senangnya Sebastian yang telah berubah menjadi kesal.


"Sweety...Apakah sekarang kamu sedang berpikir kalau suami cerdasmu ini akan bangkrut dengan begitu mudahnya,hm?" tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah tersenyum kesalnya,sambil mengendalikan rasa kesalnya tersebut.


"Tapi....." Jennifer yang masih merasa bingung tersebut langsung disela oleh Sebastian dengan cepat,walaupun rasa kagetnya telah menghilang saat ini.


"Bukankah tadi kamu sendiri yang ingin memakan semua ini,Sweety.Lihatlah,aku telah menyediakan semua ini untukmu.Mulai sekarang,aku akan memenuhi halaman luas kita ini,dengan semua penjual makanan apa saja yang ingin kamu makan,Sweety.Kamu lihatlah,tidak ada satu macampun makanan yang kurang dari semua makanan yang telah kamu pesan tadi..." sela Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum puas karena kinerjanya Billy yang benar-benar sangat baik dan 30 menitnya tadi juga begitu tepat.


Sebastian juga berbicara panjang lebar,sambil mengendong Jennifer untuk mengelilingi halaman luasnya yang hampir telah dipenuhi penjual kaki lima, ada juga dari Restoran berserta penjual,dan tendanya.Mungkin beberapa hari lagi,halaman yang begitu luas tersebut benar-benar akan penuh,dalam waktu yang belum bisa ditentukan oleh pemiliknya sendiri.


Hingga berhasil membuat setiap matanya pria maupun wanita yang sedang memerhatikan atau memandang kearah kedua orang terkaya tersebut,langsung terpesona dengan kecantikan dan ketampanan sang idolanya mereka tersebut.


Tapi walaupun begitu,mereka semua tidak berani sampai berbuat macam-macam dan bahkan tidak berani bersikap berlebihan karena tatapan tajam yang diberikan oleh semua pengawal yang ada disana,sedari mereka semua mulai masuk kehalaman yang begitu luas tersebut tadi.

__ADS_1


Kadang-kadang termasuk tatapan tajam dari Tuan Muda yang terkenal dengan kekejamannya tersebut tapi nyatanya hari ini mereka semua termasuk orang-orang yang sangat beruntung, dan mereka semua memang benar-benar sudah merasa sangat cukup,beruntunng dan juga bersyukur atas hal baik yang telah menimpa mereka semua pada sore hari ini.


__ADS_2