
'Sebenarnya ada apa dengannya? Apa yang sedang dikhawatirkan oleh Sebastian,kenapa dia bisa sebegitunya tidak ingin memberi Jennifer berkerja?' Ayah hanya mampu membatin sendiri saja,sambil memikirkan tentang ekspresi khawatir diwajahnya Sebastian yang tertangkap sekilas olehnya tadi.
"Kakak ipar,lebih baik kamu tinggalkan kakak dan cari penggan .........." kalimat lanjutannya Stellapun langsung terhenti,ia juga segera menangkap sebuah bantal yang tiba-tiba saja melayang kearahnya,saat Ibu menyelanya dengan cepat dan melemparkan bantal tepat kearah wajahnya.
"Sepertinya,kamu juga sudah ikut-ikutan menyebalkan seperti kakakmu itu... Enak saja, kamu menyuruh kakak iparmu mencari pria yang lain.Ibu hanya akan mengaku menantunya Ibu yang satu ini saja,tidak akan ada wanita yang lain,yang bisa menggantikan posisi kakak iparmu ini didaftar menantunya Ibu. Apa kamu mengerti,hm?" ucap Ibu dengan nada tegas,serius dan penuh peringatannya,sambil menatap kesal kearah Stella yang langsung menanggapinya dengan senyuman cenges-ngesan.
"Aku kan hanya bercanda saja,Bu.Kenapa sekarang, malah Ibu yang menjadi sensi seperti ini...Aku juga,tidak mungkin akan membiarkan kakak ipar cantikku ini sampai meninggalkan kita,karena kakak iparku ini telah berhasil mengambil hatiku inj.Bukankah benar begitu,kakak ipar?" jawab Stella dan sekalian bertanya pada Jennifer,dengan nada canda diakhir kalimatnya.
"Iya,iya,terserah padamu saja,adik iparku yang cantik..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum gelinya,setidaknya perdebatan antara adik ipar dan Ibu mertuanya tersebut mampu membuat dirinya sedikit terhibur,dan juga melupakan masalahnya untuk sejenak.
"Cih...Bukankah itu terdengar sangat menggelikan, nak?" tanya Ibu dengan ekspresi geli diwajah tuanya yang masih terlihat cantik itu.
"Iya,memang terdengar sangat menggelikan Bu..." jawab Jennifer dengan nada candanya tapi memang itu yang ia pikirkan saat ini,sambil menahan tawanya.
Stellapun berpura-pura langsung menampilkan wajah memberengut kesalnya,dan Jennifer tahu itu.
Sedangkan Ibu,ia langsung tertawa kecil saat ia melihat putrinya yang sedang berpura-pura itu,dan diikuti oleh Jennifer,lalu Stella.Akhirnya,mereka ber 3 pun,menjadi tertawa bersama selama sekitar 15 detik.
"Baiklah,sudah candanya.Sekarang, kita akan membahas tentang perkerjaanmu nanti..." ucap Ibu dengan nada dan wajah seriusnya,setelah ia sudah meredakan tawanya,yang langsung diikut oleh Jennifer dan juga Stella.
"Apakah kamu serius dan benar-benar ingin pergi berkerja diperusahaan Daddymu,nak?" lanjut ibu,ia bertanya dengan nada tidak relanya.
Walaupun mereka baru dekat selama beberapa minggu saja,tapi rasa sayangnya terhadap Jennifer,sama seperti rasa sayangnya pada Stella.
Jadi ia lebih suka Jennifer berada didalam rumah bersama mereka saja,dari pada harus pergi berkerja.Lagi pula,ia juga akan selalu memiliki teman bicara dan bercanda disetiap harinya,berkat putri dan menantu kesayangannya yang juga telah ia anggap sebagai putrinya itu.
Dan ia juga berpikir,kalau Jennifer lebih baik fokus menjaga kesehatan tubuh dan waktu istirahatnya saja,supaya ia bisa segera mengendong cucu nanti.
"Iya.Aku serius Bu...Sebenarnya sudah dari seminggu yang lalu,Daddy menyuruhku untuk menggantikan posisinya disana.Hanya saja,aku yang terus menundanya.Jadi aku pikir,sekarang ada baiknya juga,kalau aku mulai belajar mengurus perusahaannya Daddy..." jawab Jennifer dengan jujur dan wajah yang tersenyum seriusnya,sambil mengelus pelan tangan Ibu mertuanya yang sedari tadi masih tetap memegang tangannya itu.
"Ibu...Aku rasa,seperti itu juga ada bagusnya. Supaya kakak akan merasa kehilangan dan sadar kalau betapa berharganya kakak ipar cantikku ini..." timpal Stella dengan nada dan wajah tersenyum semangatnya.
"Tapi nak,Ibu pasti akan merasa kesepian nanti,jika kamu jarang berada dirumah nanti..." ucap Ibu yang masih tidak rela kalau Jennifer akan pergi berkerja,ia bahkan mengabaikan perkataannya Stella barusan.
Sedangkan Stella,ia langsung mendengkus kesal.Kenapa Ibunya menjadi seperti anak kecil saja,padahal walaupun kakak iparnya akan jarang berada dirumah,bukankah masih ada dirinya.
Sekarang wajahnya benar-benar memberengut kesal,karena sekarang Ibunya malah lebih menyayangi kakak ipar dari pada dirinya.Ya,tapi itu bukan berarti ia akan mempermasalahkannya.
"Kenapa sekarang,aku malah merasa seperti anak pungut yang tidak diinginkan..." Stellapun langsung mengeluarkan kalimat kesalnya tersebut,dengan nada kesalnya.
"Jika kamu memang sudah merasa,itu lebih bagus untukmu.Jadi Ibu tidak perlu mengatakan untuk kedua kalinya,padamu..." jawab Ibu dengan nada santainya dan wajah tidak bersalahnya,hingga membuat wajah memberengut kesalnya Stella menjadi semakin jelek saja.
Dan juga mampu membuat Jennifer kembali tersenyum lucu,tapi hanya untuk beberapa detik saja,karena ia kembali memikirkan tentang hubungannya dengan Sebastian yang masih belum ada kata "Lebih baik" itu.
__ADS_1
"Tapi sebenarnya aku juga sempat berpikir seperti yang Stella katakan tadi, Bu...Tapi sekarang, sepertinya aku hanya mampu terus berdoa saja, supaya Sebastian bisa secepatnya mencintaiku. Atau,,,mungkin saja Sebastian tidak akan pernah mencintaiku.Jadi,jika kesabaranku sudah habis nanti,dan Sebastian benar-benar masih belum......" Jennifer berbicara dengan nada pelan,ekspresi sedih,kecewa dan tidak bersemangatnya yang telah bercampur menjadi satu diwajahnya.
Tapi belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat akhirnya,Ibu sudah langsung menyelanya karena tidak suka mendengarnya.
"Kamu jangan terlalu memilkirkan tentang itu,nak. Putra datar kami itu pasti akan secepatnya berubah dan juga mencintaimu..." sela Ibu dengan cepat dan nada yakinnya,ia bisa mengerti dan ikut merasakan perasaan sedihnya Jennifer tersebut, tapi ia juga benar-benar tidak ingin kalau ia akan sampai kehilangan menantu kesayangannya ini.
Lagi pula,ia juga bisa melihat dengan jelas.Kalau adanya Jennifer bersama mereka,putra datarnya itu sudah mulai memperlihatkan sedikit perubahan. Contohnya,seperti yang tadi,dan hal itu memang sangat langka untuk bisa mereka tonton.
Biasanya Sebastian selalu saja cuek dan tidak akan memperdulikan hal-hal yang sedang terjadi disekitarnya,atau yang berkaitan dengan dirinya sekalipun,tapi tatapannya Sebastian untuk Jennifer tadi sudah mampu membuatnya merasa yakin.
Jika perlu,ia akan mencoret namanya Sebastian dari daftar keluarganya,jika nanti Sebastian tidak juga mencintai Jennifer.
Dan karena idenya hari itu tidak berhasil dengan baik,sekarang ia hanya mampu mendukung dan memberi semangat pada menantu kesayangannya itu.
"Ayah,bagaimana kalau menurutmu?" lanjut Ibu dengan nada dan wajah tersenyum semangatnya dan juga masih tersisa sedikit rasa tidak relanya, sambil mengalihkan tatapannya kearah suaminya yang ternyata hanya terus menatap kearah TV saja.
"Hah!" jawab Ayah dengan nada dan wajah bingungnya,sambil mengalihkan tatapannya kearah istrinya yang tidak mengetahui kalau dirinya sedang memikirkan sesuatu sedari tadi.
"Apakah yang barusan itu,Ayah benar-benar sedang menonton?" tanya Stella dengan nada dan wajah bingung dan tidak percayanya,sambil menelisik wajah bingung Ayahnya itu.
"Memangnya apa lagi yang bisa Ayah lakukan, jika Ayah tidak menonton,hm?" tanya Ayah balik, dengan nada dan wajah malasnya,putrinya itu memang selalu suka bertanya yang menurutnya tidak penting.
Lagi pula,perkataannya itu memang benar adanya.Hanya drama korea saja yang bisa ia tonton,karena ia tidak mungkin sampai harus berdebat dengan istrinya karena berebut dengan istrinya tentang pilihan tontonan mereka yang berbeda itu.
Ia sangat yakin kalau Ayah pasti bukan sedang sibuk menonton TV tadi,walaupun tatapannya Ayah hanya tertuju kearah TV.Tapi walaupun begitu,ia tidak mau terlalu repot-repot untuk memikirkan tentang itu.
"Barusan,kamu bertanya apa?" tanya Ayah dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menatap santai kearah istrinya yang ternyata sedang menampilkan wajah kesal untuknya.
"Ibu hanya ingin bertanya,bagaimana pendapatnya Ayah... Bagaimana kalau menurut Ayah,tentang Jennifer yang akan berkerja diperusahaan Daddynya?" tanya Ibu dengan nada kesalnya, walaupun masih merasa kesal karena wajah bingungnya Daddy tadi,tapi ia tetap bertanya.
Sedangkan Jennifer,ia nasih tetap dengan diamnya sedari tadi,sambil menelisik wajah tenangnya Ayah yang tampak sedang berpikir itu.Begitu juga,dengan Ibu dan juga Stella.
"Menurut Ayah,ada bagusnya juga untuk Jennifer. Tapi kamu harus ingat,jika kamu berada diluar nanti,kamu harus bisa lebih berhati-hati dari pada sebelumnya..." jawab Ayah dengan nada dan wajah tersenyum seriusnya,sambil menatap secara bergantian kearah istrinya dan juga Jennifer.
Ia tidak tahu pasti apa penyebab ekspresi khawatir yang terdapat diwajah putranya tadi,tapi ntah kenapa,perasaannya seperti bisa ikut merasakan hal yang sama seperti Sebastian.Ntahlah,ia hanya tidak ingin kalau nanti akan sampai terjadi apa-apa sama menantunya ini.
"Kalau begitu,baiklah.Tapi katanya Ayah barusan, ada benarnya juga.Ingat,kamu juga harus bisa menjaga kesehatanmu ya,nak..." timpal Ibu dengan nada dan wajah seriusnya,suaminya tidak terlihat merasa keberatan,iapun hanya bisa menurutinya saja.
"Baik,Yah,Bu..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,karena ternyata keluarga suaminya juga mendukung keputusannya ini.
Setelah itu merekapun melanjutkan bicaranya mereka,dengan disertai obrolan kecil yang lainnya dan juga canda tawa disela-sela obrolan emreka jtu.Kecuali,Ayah yang memang biasanya hanya banyak diam saja,dari pada yang lainnya.
***
__ADS_1
Dihalaman belakang sana,Sebastian masih sibuk berbicara dengan Daddynya Jennifer sedari 5 menit yang lalu.
"Dad,aku rasa,kamu perlu memikirkan ulang keputusanmu itu..." ucap Sebastian yang untuk kedua kalinya,dengan nada santainya sambil menahan rasa kesalnya.
Dan panggilan Daddy yang memang telah ditetapkan oleh Mommy sedari pernikahan mereka hari itu,jadi mau tidak mau Sebastian hanya mampu menurutinya saja.
"Aku sudah memikirkannya berkali-kali,dan aku rasa memang itulah yang terbaik.Dan kenapa hari ini,kamu cerewet sekali seperti wanita,hm?" jawab Daddy dan bertanya kembali dengan nada malasnya,dari seberang sana.
Karena tidak biasanya menantunya ini bersikap cerewet seperti ini,padahal ia sudah mengatakan dengan jelas sedari ia mulai mengangkat teleponnya tadi.
"Apakah Daddy tidak memikirkan tentang keselamatan putrimu itu,hm?" tanya Sebastian balik,dengan nada santai yang masih sibuk menahan rasa kesalnya.
"Bukankah ada kamu,hm? Jadi,apa gunanya ada kamu sebagai suaminya Jennifer sekarang?" tanya Daddy balik,dengan nada santainya,iapun mulai mengerti dengan penyebabnya dari sikap cerewetnya Sebastian siang ini.
Tapi keputusannya itu sudah sulit untuk ia rubah karena memang sudah sedari dulu ia menantikannya, dan sekarang Jennifer sudah menawarkan diri dengan sendirinya.
Lagi pula,ia yakin kalau adanya Sebastian yang berada disampingnya Jennifer,semuanya akan baik-baik saja.Ya,ia sangat berharap kalau kedepannya akan terjadi seperti yang ia pikirkan tersebut.
"Apa kamu pikir,aku ini Tuhan,hm? Yang akan mampu memprediksi keadaan untuk kedepannya nanti dan mampu menyelamatkan Jennifer, dimanapun dan kapanpun begitu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya yang sedang ia tahan sedari tadi.
'Katanya orang terkaya,terkejam,dan terhebat,tapi apa ini? Kenapa pak tua ini tidak bisa mengerti, dengan apa yang sedang aku pikirkan dan aku khawatirkan saat ini...' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil duduk dibangku kayu panjang yang ada disana dengan gerakan kesalnya.
"Aku juga berharap seperti itu,nak.Tapi tidak masalah,aku sudah bisa sedikit tenang,walaupun dengan kemampuanmu yang sedikit itu saja..." jawab Daddy dengan nada santainya,sambil menahan senyumnya.
Apa lagi,saat ia mendengar Sebastian yang langsung mendengkus kesal dari seberang sana. Tapi ia merasa aneh sama keputusan tiba-tiba putrinya tadi siang,saat mengiriminya pesan tadi, tapi untuk sekarang ia tidak akan mempertanyakannya terlebih dahulu.
"Lagi pula,apa kamu tidak merasa kasihan padaku, hm? Aku sudah tua,dan cepat atau lambat, perusahaanku itu memang akan memerlukan seorang pemimpin.Jadi mau sekarang ataupun nanti,Jennifer akan tetap harus menggantikan posisiku...Kecuali..." lanjut Daddy dengan nada dan wajah seriusnya kembali,ia juga menjeda perkataannya diakhir kalimatnya.
"Kecuali apa?" tanya Sebastian dengan cepat dan nada penasarannya,jika ia bisa,ia akan berusaha supaya Jennifer tidak perlu keperusahaan lagi.
"Kecuali,jika kamu mau menggantikan posisinya Jennifer nanti..." jawab Daddy dengan nada seriusnya,lagi-lagi ia kembali menahan senyum saat ia mendengar Sebastian yang kembali langsung mendengkus kesal.
"Apa kamu sedang tidak waras,Dad? Apa kamu pikir,tubuhku ini memiliki tenaga super? Untuk mengurus perusahaanku saja,aku harus membutuhkan puluhan bahkan ratusan karyawan, dan juga beberapa orang asisten kepercayaanku. Dan sekarang,kamu malah menyuruhku untuk mengurus 2 perusahaan besar sekaligus..." jawab Sebastian dengan nada yang semakin kesal saja,padahal tadinya ia mengira kalau jawaban dari Daddynya Jennifer akan mudah untuk ia lakukan, tapi nyatanya hal itu diluar kemampuannya.
Walaupun memang mampupun,tapi ia harus bisa mengerahkan seluruh tenaganya dan pikirannya, untuk kedua perusahaan tersebut.
"Aku tidak menyuruhmu,aku hanya menyarankan padamu saja,nak? Apakah kamu sudah tidak mampu membedakan keduanya,hm?" tanya Daddy balik dengan perasaan kesal dibalik nada tenangnya,karena ia mendengar kata tidak waras dari menantunya barusan.
Sedari tadi ia sudah bisa menebak,kalau Sebastian pasti tidak akan mau menggantikan posisinya Jennifer,tapi ia masih sangat berharap kalau nantinya menantunya yang keras kepala itu akan mau menggantikan posisinya Jennifer tersebut. Karena sebenarnya,ia juga tidak tega dan merasa khawatir dengan putrinya itu.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu kembali mendengkus kesal,saat ia mendengar perkataannya Daddy barusan,dari seberang sana.
Kemudian iapun langsung menyandarkan kepalanya kebelakang,dan menghela napas dengan berat dan juga panjang sebanyak beberapa kali.
__ADS_1
Dan Daddy bisa mendengarkannya dengan jelas,tapi Daddy hanya membiarkannya saja. Bahkan Daddy ikut melakukan hal yang sama seperti Sebastian,sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh menantunya untuk selanjutnya.