
Malam ini,ia seperti sedang mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi dari wanita yang baru saja beberapa kali ia jumpai ini.Di tambah lagi dengan
Ntah ia harus merasa bahagia,senang atau sedih saat ia memikirkan kejutan-kejutan tersebut,tapi sayangnya kejutan-kejutan tersebut sangat menyebalkan menurutnya.Dan yang ia tahu pasti,kepalanya terasa sedikit pusing saat ini.
"Lagi-lagi kamu mengatakan aku sedang bermasalah...Apa kamu memang tidak punya hati?" tanya Jennifer balik dengan wajah kesalnya ,sambil menahan rasa malunya dan menatap kesal ke arah Sebastian yang masih sibuk memijit pangkal hidungnya.
Sebastianpun langsung menghentikan pijitannya dan menatap ke arah wajah kesalnya Jennifer dengan perasaan bersalahnya.Ia tidak bermaksud untuk membuat Jennifer tersinggung dengan perkataannya,tapi wanita tersebut memang sedang bermasalah menurut dirinya.
'Aku kan hanya ingin melampiaskan rasa kesalku saja,kenapa ia malah menanggapi dengan serius.Lagi pula,aku juga tidak akan mampu menghabiskan sebotol wine yang tadi itu' batin Jennifer dengan wajah kesalnya,padahal tadi itu ia hanya tanpa sadar meminta sebotol wine karena sedang merasa kesal.
"Sudah,sudah...Aku minta maaf atas perkataanku tadi,oke..." ucap Sebastian dengan cepat saat ia melihat kedua matanya Jennifer yang sudah mulai berembun.
"Tapi kamu tidak meminta maaf dengan tulus..." jawab Jennifer dengan wajah yang sengaja ia buat sesedih mungkin,sambil menepis tetesan palsu air mata pertamanya dengan pelan.
"Apa kamu tidak bisa melihat ketulusanku yang barusan,Nona?" tanya Sebastian dengan wajah tenangnya,sambil menahan rasa kesalnya.
Jarang-jarang ia meminta maaf,kalau tidak kepada kedua orang tuanya saja.Bahkan ia tidak pernah meminta maaf pada Siska,ataupun adiknya sendiri.
Sekarang ia refleks meminta maaf pada Jennifer karena merasa bersalah saat ia melihat air matanya Jennifer ,walaupun ia masih merasa kalau perkataannya tadi tidaklah begitu terdengar kasar ataupun buruk.Tapi apa yang ia dapatkan,permintaan maafnya malah di bilang tidak tulus oleh Jennifer.
"Tidak,dan aku tidak percaya kalau kamu memang tulus meminta maaf padaku tadi" jawab Jennifer,masih dengan wajah sedihnya,bahkan sudah hitung puluhan tetes air mata yang telah membasahi pipi mulusnya.
"Baiklah...Jadi katakan...Apa yang harus aku lakukan untukmu,supaya kamu bisa percaya pada permintaan maaf tulusku tadi?" tanya Sebastian dengan berusaha bernada tenang.
Ntah kenapa,ia tidak suka melihat air matanya Jennifer yang terus mengalir.Jadi,iapun memilih untuk mengalah saja,dari pada nanti ia harus mendengar suara tangisannya Jennifer karena saat ini air mata tersebut masih saja terus keluar tanpa suara.
'Nona Muda kami memang sangat pintar' puji anak buah tersebut di dalam hatinya dengan wajah yang tersenyum lucu dan juga senang.
"Apakah kamu akan melakukan apapun yang aku inginkan?" tanya Jennifer balik,dengan wajah seriusnya tanpa menghilangkan ekspresi sedih di wajahnya.
"I itu..." jawab Sebastian dengan wajah bingungnya,sambil terus menelisik wajah sedihnya Jennifer.
"Baiklah.Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan" lanjut Sebastian lagi,dengan cepat saat ia melihat kedua matanya Jennifer yang sudah mulai mengering tersebut kembali berembun dan mengalir..
"Apakah kamu yakin?" tanya Jennifer dengan nada seraķnya,sambil terus menatap penuh harap ke arah Sebastian.
"Iya.Apapun yang kamu inginkan,kecuali kalau hal yang kamu inginkan itu di luar kemampuanku" jawab Sebastian dengan jujur dan wajah seriusnya yang bercampur dengan perasaan ragu,sambil berusaha menetralkan rasa kesalnya.
Ia berpikir,mana tahu saja Jennifer akan meminta uang yang dalam hitungan banyak padanya,atau mungkin saja Jennifer akan menyuruhnya untuk melakukan yang aneh-aneh.
"Baiklah,kalau begitu kita sepakat.Ingat,pegang janjimu,kamu tidak boleh mengingkarinya..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,sambil mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajahnya Sebastian.
__ADS_1
'Kamu tenang saja,karena aku hanya menginginkan cinta tulusmu saja' batin Jennifer tanpa mengurangkan senyum senang di wajahnya.
"Kamu tenang saja,aku tidak akan mengingkari janjiku" jawab Sebastian dengan nada ragu-ragunya dan sedikit mengernyitkan keningnya dengan heran,sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingnya Jennifer dengan gerakan pelan.
Walaupun ia masih merasa ragu dan merasa heran dengan wajahnya Jennifer yang sedang tersenyum senang,tapi ia tetap pada pendiriannya.Kalau ia sudah berjanji,ia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa menepati janjinya tersebut.Bahkan ia tidak menyadari kalau dirinya sudah terjebak dengan perangkap cintanya Jennifer.
'Bagus...Yes,aku sudah berhasil.Sekarang,sedikit lagi kamu pasti akan terus memikirkan diriku' batin Jennifer dengan penuh percaya diri,sambil berpura-pura mengelap sisa air mata palsunya setelah tautan jari mereka sudah terlepas.
Mereka berduapun kembali menyesap sisa wine milik mereka tadi,dengan ekspresi berbeda di wajahnya mereka masing-masing.
"Apa kamu sudah bisa mengatakan padaku sekarang,kenapa tadi kamu bisa tiba-tiba saja datang dan sampai......" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya dan menjeda perkataannya di akhir kalimatnya karena bingung harus menggunakan susunan kata mana yang bagus untuk di dengar supaya Jennifer tidak akan merasa malu dan juga tidak akan kembali merasa kesal lagi,lalu akan membuat dirinya harus meminta maaf seperti tadi lagi.
"Aku hanya ingin menolongmu saja" jawab Jennifer dengan cepat karena ia tidak mau kalau Sebastian akan mengatakan hal-hal yang akan membuat dirinya menjadi semakin malu.
'Dan karena aku mencintaimu' lanjut Jennifer di dalam hatinya,sambil mencoba untuk menyembunyikan rasa malunya tapi nyatanya tetap saja terlihat
"Hanya begitu saja?" tanya Sebastian dengan wajah tidak percayanya sambil terus menelisik wajah malunya Jennifer,ia merasa tidak mungkin kalau Jennifer melakukan semua itu tanpa ada maksud apa-apa.Apa lagi,dramanya Jennifer tadi terlihat sangat nyata dan serius,hingga membuat dirinya menjadi semakin bingung untuk bisa menebak apa yang sedang direncanakan oleh Jennifer untuknya.
"Iya.Memangnya,apa yang kamu harapkan? Apa kamu berharap akan ada maksud atau sesuatu yang lain begitu? " jawab Jennifer dan sekalian bertanya,sambil tersenyum menggoda ke arah Sebastian.
"Hah! Ti tidak,tidak ada" jawab Sebastian dengan nada gugupnya dan wajah bingungnya saat ia melihat senyuman menggodanya Jennifer dan mendengar pertanyaannya Jennifer barusan,sambil memalingkan wajahnya ke depan dan kembali menyesap winenya untuk mengusir rasa gugupnya barusan.
"Pria yang bernama Irfan tadi,siapanya kamu?" lanjut Sebastian lagi,dengan mencoba untuk tetap santai dan juga tenang sambil berusaha mengusir rasa gugupnya.
'Kenapa aku malah menjadi tidak tahu harus menjawab apa,bertanya apa dan gugup seperti ini' batin Sebastian dengan wajah tenangnya,sambil terus merutuki dirinya sendiri karena ia telah melontarkan pertanyaan yang menurutnya salah.
Tapi sebenarnya ia memang masih merasa penasaran tentang banyak hal dan ia juga masih memiliki banyak pertanyaan untuk Jennifer,hanya saja ia tidak bisa mempertanyakan semuanya,ia tidak mau kalau sampai Jennifer kembali menangis dan membuat dirinya kembali harus berjanji hal yang lainnya lagi.
"Apa kamu sedang cemburu,Hubby?" tanya Jennifer balik tanpa menjawab pertanyaannya Sebastian dan juga tanpa mengurangi senyum menggodanya untuk Sebastian.
"Hah! Tidak.Aku ini bukan siapa-siapamu,kenapa pula aku harus cemburu? Kamu ini ada-ada saja" jawab Sebastian dengan mempertahankan wajah tenangnya,sambil menatap sebentar ke arah Jennifer lalu ia kembali menyesap sisa winenya.
"Benarkah begitu,Hubby? Lalu,kenapa kamu malah bertanya tentang Irfan?" tanya Jennifer sambil menahan tawanya saat ia melihat Sebastian yang sedikit kebingungan dan sedikit salah tingkah,terlihat dari kedua kakinya Sebastian yang terus saja bergoyang pelan di bawah meja sana.
Sebastian tidak tahu harus menjawab apa,ia sendiri juga tidak tahu kenapa malah pertanyaan itu yang duluan terlintas di benaknya.Sepertinya dirinya juga ikutan jadi bermasalah sama seperti Jennifer.
"Lebih baik kamu pulang saja dan pergi tidur,dari pada berada di sini dengan meminum wine seperti ini..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya tanpa menjawab pertanyaannya Jennifer barusan.
"Dan berhenti memanggilku dengan panggilan Hubby,aku bukan siapa-siapamu " lanjut Sebastian lagi,dengan menampilkan ekspresi geli di wajahnya tanpa menatap ke arah Jennifer.Padahal drama mereka tadi sudah usai,tapi Jennifer masih saja memanggilnya dengan panggilan Hubby.
'Bahkan aku sendiri tidak mengerti,apakah kita ini sedang berteman atau malah bermusuhan' lanjut Sebastian lagi didalam hatinya,karena mereka berdua selalu suka beradu mulut,tapi semuanya terlihat baik-baik saja,tidak ada pertengkaran yang serius.
__ADS_1
"Baiklah,baiklah,aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.Irfan itu hanyalah pria yang tergila-gila sama aku,sudah sedari aku sekolah menengah pertama dulu,dia sudah mulai mengikutiku dan terus mengungkapkan rasa cintanya padaku.Hingga akhirnya Daddy dan pamanku memukulnya habìs-habisan karena dia telah melewati batas" jawab Jennifer dengan cepat dan mengatakan yang intinya saja,karena tidak mau Sebastian kembali mengusirnya,sambil mengingat-ngingat apa saja yang telah di lakukan oleh Irfan dulu.
Sedangkan Sebastian,ia masih saja terus menatap ke depan dengan wajah kesalnya yang sudah mulai mengurang.
"Apa maksudmu dengan melewati batas?" tanya Sebastian setelah ia diam untuk beberapa detik,masih tetap dengan tatapan kedepan.
"Dia berniat ingin menculikku,untung saja pamanku berhasil menggagalkan rencananya hari itu" jawab Jennifer dengan wajah seriusnya.
"Lalu,apa yang dimaksudkan dengan penawaran yang dia katakan tadi?" tanya Sebastian tanpa sadar,sambil menolehkan kepalanya ke arah Jennifer dengan pelan.
"Ia menawarkan padaku untuk menikah dengan dia" jawab Jennifer dengan jujur dan tersenyum senang di balik wajah santainya,karena sepertinya perangkap cinta yang baru saja ia pasang itu sudah berhasil menjerat pria pujaan hatinya ini secara perlahan-lahan.
"Jadi,kenapa kamu tidak mau menerima tawarannya?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Jennifer.
"Karena aku tidak menyukai pria playboy dan pemain wanita seperti dia.Lagi pula,aku memang tidak mencintai dia.Dia saja yang suka memaksa..." jawab Jennifer dengan jujur dan nada kesalnya,karena pertanyaannya Sebastian barusan terdengar seperti sedang menyuruhnya untuk menerima tawaran tersebut.
"Apakah kamu berharap kalau aku akan menerima tawaran dari pria brengsek itu?" lanjut Jennifer dengan nada kesalnya,ia ingin memastikan apakah Sebastian memang bermaksud seperti yang ia pikirkan tadi.
"Kamu ini aneh sekali...Kamu mau menerima atau tidak,itu kan hak kamu sendiri.Dan itu bukan urusanku.Bahkan kalaupun kamu akan menikah sama pria brengsek itu,itu juga sama sekali tidak ada kaitannya sama aku" jawab Sebastian dengan panjang lebar,sambil menatap kesal ke arah Jennifer.
Apa lagi saat ia memikirkan tentang Irfan dan Siska yang sudah terlebih dahulu menjalin hubungan kekasih dan juga hubungan yang intim,sebelum Siska menguras uangnya.
"Maaf,tapi pertanyaanmu tadi terdengar menyebalkan " ucap Jennifer dengan ekspresi bersalah di wajahnya sambil sedikit menundukkan kepalanya dan sekali-kali melirik ke arah tatapan kesalnya Sebastian yang masih sama,dan ia bisa melihat kalau masih ada sedikit luka lagi di tatapan kesalnya Sebastian.
Ia lupa kalau disini,Sebastian yang sedang di sakiti,sedangkan dirinya malah jatuh cinta sama pria yang baru tidak lama sedang patah hati.
"Aku hanya bertanya saja bukan menyuruhmu..." ucap Sebastian setelah ia sudah selesai menghela napas pelan saat ia melihat wajah bersalahnya Jennifer.
'Tidak mungkin aku menyuruh seorang wanita untuk menikahi seorang pria yang aku tahu kalau pria tersebut adalah pria brengsek' lanjut Sebastian didalam hatinya,ia tidak habis pikir sama sikapnya Jennifer yang malam ini sangat sensi menurutnya.
"Kenapa malam ini kamu sangat mudah kesal? Apa mungkin kamu sedang itu...?" tanya Sebastian dengan wajah tenangnya yang sedang menahan rasa malunya,sambil menjeda perkataannya dan berpikir keras akan melanjutkan perkataannya atau tidak.
"Sedang apa?" tanya Jennifer balik dengan wajah yang penasaran,sambil menelisik wajah tenangnya Sebastian.
"Sudahlah,lupakan saja" jawab Sebastian dengan nada malasnya,sambil kembali menyesap winenya,ia lupa kalau wanita yang sedang bersamanya saat ini bukan adik perempuannya.
"Nona Muda,bolehkah aku bantu menjawabnya?" tanya anak buah tersebut dengan nada pelannya,sambil menatap Nona Mudanya yang sedang menampilkan wajah kesal karena rasa penasarannya tadi.
"Silakan..." jawab Jennifer dengan nada tegasnya,sambil menatap penasaran ke arah anak buah tersebut.
"Maksud dari Tuan Muda tadi,mungkin saja Nona Muda sedang datang bulan..." ucap anak buah tersebut dengan nada santainya, ia sangat yakin sama tebakannya tadi karena ia juga sependapat sama Sebastian,walaupun sebenarnya ia hanya asal menebak saja.
__ADS_1
"What?" tanya Jennifer dengan wajah kagetnya,sambil mengalihkan pandangannya ke Sebastian yang sedang mengelap sudut bibirnya karena barusan terkena sedikit tumpahan wine dari dalam mulutnya Sebastian.