
Semua orang sudah berkumpul dan duduk dengan rapi didalam ruang meeting tersebut,mereka semuapun langsung berdiri hormat saat mereka melihat Jennifer yang sedang berjalan masuk kedalam ruangan tersebut dengan langkah tegasnya.
Kecuali,Sebastian yang tetap dengan posisi duduk tenangnya sedari tadi.Tapi tidak ada yang akan berani menegurnya,karena mereka semua sudah mengenal siapa Sebastian,dan mereka juga sudah tahu posisinya Sebastian di keluarganya Naava. Terutama Irfan,sedari tadi ia hanya mampu menahan rasa kesalnya saja,karena ia tidak menyangka kalau Sebastian akan berada disini saat ini.
Sedangkan Daddy dan Mommy,mereka berdua hanya bisa duduk dibelakang layar sambil menyaksikannya melalui camera CCTV saja,karena Jennifer memang harus belajar menghadapi situasi seperti ini,situasi-situasi yang kedepannya memang akan wajib untuk selalu Jennifer hadapi.
Lagi pula,mereka sudah tidak perlu merasa khawatir karena sudah ada menantu mereka yang bisa mereka andalkan sekarang.
"Duduklah..." perintah Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya sambil menahan rasa kesalnya terhadap suaminya yang saat ini terlihat sangat angkuh dimatanya itu,sambil duduk elegant dikursi miliknya.
Semuanya pun langsung duduk kembali,tanpa berkata apa-apa,sambil menelisik wajah cantiknya Presdir baru tersebut yang masih terlihat sangat muda dimata mereka semua.
"Nona...Apakah sebelum kita memulainya,saya boleh menanyakan 1 hal kepada Nona?" tanya salah satu dari beberapa pengusaha yang ada disana,dengan nada hati-hatinya.
Beberapa pengusaha tersebut diantara berada di no 12,10 dan dengan yang bertanya tersebut yang berada di no 5.Jadi mereka semua menjadi 6 pemilik perusahaan besar bergabung menjadi satu,termasuk Jennifer dan juga Sebastian.
"Silakan...Apa yang ingin anda tanyakan,Tuan?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada dan wajah tegasnya yang masih sama seperti tadi, tapi didalam hatinya ia juga merasa penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Tuan tersebut.
"Apakah Nona yakin,kalau Nona akan sanggup mengurus proyek yang sebesar ini nantinya?" tanya Tuan tersebut yang langsung keintinya,dengan menahan rasa takutnya,karena ia bisa merasakan dengan jelas kalau seorang pemuda yang setahunya adalah menantunya Tuan Naava itu terus saja menatap tajam kearahnya sedari ia mulai berbicara tadi.
Tapi untuk menghilangkan keraguan dihatinya dan juga yang lainnya,ia tetap harus menanyakan tentang yang ia pertanyakan barusan.
Karena ketika mereka semua menyepakati proyek tersebut,yang mereka andalkan dan yang membuat mereka semua tidak perlu merasa khawatir sedikitpun karena Tuan Naava sendiri.
Tapi kali ini,malah tiba-tiba saja digantikan oleh putrinya, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu untuk mereka semua,Mereka semua bahkan baru mengetahuinya saat mereka sampai tadi,itupun mereka mengetahuinya dari berita-berita terkini yang sedang masuk kedalam notifikasi HP mereka masing-masing tadi.
Dan setahu mereka, putrinya Tuan Naava tersebut baru pulang dari kuliahnya di Australia,dan belum pernah terbukti dan terlihat kalau Nona tersebut mampu mengurus atau memimpin sebuah perusahaan besar yang seperti ini.Jadi wajar saja,kalau saat ini mereka sedang meragukan kemampuan putrinya Tuan Naava tersebut.
Apa lagi,proyek yang harus mereka kerjakan saat ini adalah proyek besar,proyek kilang minyak B******.Kilang minyak B****** adalah proyek pembangunan kilang minyak baru (Grass Root Refinery) dengan kapasitas produksi bahan bakar minimal 300 ribu barel per hari yang akan dibangun di B******.
Perencanaan pembangunan Kilang Minyak B****** yang akan memakan biaya hampir Rp 200 triliun itu akan menggunakan konfigurasi yang mempertimbangkan sistem lain seperti sistem petrokimia. Selanjutnya, hasil produksi kilang minyak tersebut akan diutamakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.
__ADS_1
Maka dari itu,sekarang mereka jadi merasa ragu dan juga khawatir sekaligus terhadap pemimpin baru tersebut.Karena jika Nona Jennifer tidak mampu membantu mereka untuk mengurus proyek tersebut dengan baik,maka uang mereka akan terbenam disana tanpa mendapatkan keuntungan apapun,atau mungkin saja bahkan uang mereka tidak akan bisa kembali kepada mereka secara utuh nantinya.
"Apakah kalian sedang meragukan kemampuan istriku,sekarang?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya sebelum Jennifer sempat menjawab pertanyaan tersebut,sambil menatap tajam kearah mereka satu persatu hingga berhenti tepat kearah Tuan yang sedang bertanya tadi.
Bahkan ada terselip kemarahan dinada tegasnya dan tatapan tajamnya itu,saat ia melihat dengan jelas ekspresi wajah beberapa pengusaha tersebut yang terlihat sedang meragukan dan juga meremehkan kemampuan istrinya yang dirinya sendiri tidak pernah meragukannya,hanya saja ia selalu merasa kesal saja dengan setiap tingkah istrinya itu.
"Bu bukan begitu maksudnya kami,Tuan..." jawab Tuan tersebut dengan nada gugupnya,saat ia melihat tatapan tajamnya Tuan Muda tersebut yang tertuju kearahnya malah menjadi semakin tajam saja.
"Lalu,seperti apa yang sedang kalian maksudkan tadi, hm?" tanya Sebastian dengan nada,ekspresi dan tatapan yang masih saja sama seperti sebelumnya.
"Mak maksud ka.........." perkataan gugupnya Tuan tersebutpun langsung terselamatkan,berkat Jennifer yang langsung menyelanya dengan cepat.
"Tuan Sebastian Sachdev Rendra,bisakah anda diam terlebih dahulu dan mendengarkan dulu apa yang akan aku jawab untuk pertanyaan yang telah diajukan untukku tadi? Karena aku paling tidak suka,jika ada pembicaraanku yang disela oleh orang lain..." sela Jennifer dengan perasaan kesal dibalik nada dan wajah tegasnya dan tenangnya tersebut.
Karena segala rasa kesalnya itu,ia sampai menyebut nama lengkap suaminya dengan nada yang sedikit tinggi.Padahal ia masih bisa mengatasi yang satu ini,dan hal tersebut juga bukan masalah besar baginya.Lagi pula,ia masih mampu memaklumi hal tersebut.
Sedangkan Sebastian,iapun langsung mengalihkan tatapan tajamnya yang telah berubah menjadi datar itu kearah istrinya,sambil menahan rasa kesalnya itu.
Ia merasa kesal,bukan karena Jennifer telah berkata panjang lebar seperti itu didepan semua pengusaha-pengusaha hebat tersebut.
Padahal yang barusan itu,karena ia merasa tidak suka dengan tatapan remehnya mereka terhadap Jennifer.Tadinya bahkan ia rela melewatkan meetingnya yang akan mendapatkan keuntungan besar baginya,saat ia mendengar laporan dari Billy yang sempat ia lupakan itu,untuk bisa menghadiri meeting bersama istrinya saat ini.
Dan tentunya juga karena kehadirannya Irfan yang ikut serta didalam meeting ini,ntah kenapa ia merasa sangat tidak menyukai kehadirannya Irfan yang didalam pertemuannya ada istrinya.
'Jadi,sekarang ia menganggapku sebagai orang lain...' Sebastianpun hanya mampu menggerutu kesal didalam hatinya,tanpa mengalihkan tatapannya yang telah menjadi datar tadi kearah Jennifer.
Ia juga sambil melirik sekilas kearah Irfan yang terlihat tersenyum mengejek kearahnya,disaat yang lainnya bahkan tidak berani,walaupun hanya sekedar untuk menatapnya saja.
Bukan apa-apa,tapi ia tidak mungkin berdebat dengan Jennifer didepan banyak orang seperti ini,dan membiarkan Irfan semakin menertawainya nantinya.
'Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar? Aku rasa untuk kedepannya nanti,aku akan semakin mudah untuk memiliki Jennifer.Dan jika saat itu tiba,aku akan segera melaksanakan pernikahan kami nantinya...' batin Irfan dengan tersenyum licik didalam hatinya,sambil memerhatikan Jennifer dan Sebastian yang terlihat sama-sama sedang menahan rasa kesal mereka.
__ADS_1
"Tuan,Tuan,kalian semua tidak perlu merasa khawatir karena saya berani menjamin kalau saya akan mampu sama seperti Daddyku sendiri.Dan kalau Tuan-Tuan semuanya ingin bersabar dan menunggu,mungkin saja saya akan lebih mampu dari Daddynya saya sendiri..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah tegasnya yang bercampur serius,dan juga penuh keyakinan disana, sambil menatap satu persatu kearah beberapa pengusaha hebat tersebut yang langsung mengangguk-ngangguk pelan kepalanya mereka.
"Saya juga akan menanggung semuanya,jika gara-gara kesalahannya saya sendiri,proyek ini akan mengalami kegagalan nantinya..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada dan wajah yang benar-benar serius,tapi ia menekankan kata " Kesalahannya saya sendiri" itu,supaya mereka semua mengerti kalau nantinya ia tidak akan bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan darinya sendiri.
'Cih...' Sebastian langsung berdevih kesal,saat ia mendengar Jennifer yang sedang meyakinkan beberapa pengusaha tersebut.
Jika saja itu dirinya,ia tidak perlu berbicara panjang lebar seperti itu.Karena hanya dengan 1 kalimatnya saja,semua orang pasti tidak akan berani berkata apapun ataupun membantah perkataannya sedikitpun.
"Baiklah.Kalau begitu,saya akan mempercayai Nona" ucap Tuan tersebut dengan nada dan wajah yang terlihat tersenyum lega yang telah bercampur ekspresi tegang diwajahnya karena rasa takutnya terhadap sebastian yang masih saja belum mengurang itu.
"Nona,kami juga akan mempercayai Nona..." timpal kedua yang laimnya dengan nada dan ekspresi wajah yang sama seperti temannya barusan.
Walaupun mereka sempat merasa ragu tadi tapi dengan perkataan meyakinkannya Nona Jennifer tadi,itu sudah mampu membuat rasa khawatir mereka mengurang dengan perlahan-lahan.
Apa lagi,sekali-kali mereka ber 3 juga akan mendapatkan tatapan tajam dari Tuan Sebastian, yang menurut mereka kalau tatapan tajam itu bagaikan akhir dari kejayaan perusahaan mereka masing-masing.
"Baiklah.Kalau begitu,sekarang kita akan mulai membahas yang seharusnya kita bahas sedari tadi..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah serius yang bercampur tegas itu,setelah ia sudah selesai menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan-lahan.
Ia juga sempat melirik sekilas kearah Sebastian yang masih saja menatap datar kearahnya,tapi ia abaikan saja.Lagi pula,saat ini bukan waktunya ia untuk memperdulikan arti tatapan datar dari suaminya itu.
"Sekarang,kita akan mulai dari......................" pembahasan dalam meeting tersebutpun dimulai dari Jennifer,hingga beberapa pengusaha tersebut juga ikut memberi pendapat dan juga saran,termasuk Irfan.
Kecuali,hanya 1 orang saja yang sedari tadi masih tetap setia dengan diamnya.Orang itu adalah sebastian,ia hanya terus menelisik wajah cantik istrinya yang sedang sibuk membahas tentang proyek tersebut dengan nada dan wajah tegas yang bercampur serius itu.
Berkat kecerdasan yang ia miliki itu,Jennifer juga berbicara seperti orang yang sudah sangat memahami tentang proyek tersebut secara detail, padahal dokumennya tadi ia hanya membacanya sekali saja.
Lihatlah,bahkan Jennifer tidak terpengaruh sedikitpun dengan keberadaannya disana.Berbeda dengan Daddy dan Mommy yang merasa bangga dan juga senang saat melihat putrinya melalui CCTV tersebut,tapi hal tersebut malah berhasil membuat Sebastian harus menahan segala rasa kesalnya itu,karena merasa telah diabaikan sedari tadi.
Sebastian juga sekali-kali melirik dan juga menatap menelisik kearah beberapa pengusaha tersebut dan Irfan,tapi hanya Irfanlah orang yang membuatnya harus lebih waspada lagi, diantara mereka semua.Tapi walaupun begitu,ia tetap menajamkan pendengarannya terhadap pembicaraan mereka itu.
Dirinya sendiri bahkan tidak menyadari kalau dirinya telah rela menahan segala rasa kesal dan rasa bosannya terhadap meeting yang menurutnya terasa sangat membosankan baginya.Karena biasanya ia hanya akan meeting 1 jam paling lama,tapi lihatlah istrinya ini,sekarang sudah hampir 2 jam mereka semua berada didalam ruangan meeting tersebut.
__ADS_1
Tapi sampai saat ini,ia masih mampu memgontrol emosinya,dan juga tanpa ia sadari, ia sama sekali tidak merasa bosan dengan terus melihat wajah cantik istrinya itu sedari tadi.
Sedangkan Billy dan Aldy,Billy yang hanya mampu terus menggerutu kesal didalam hatinya,dan Aldy yang tetap dengan wajah tenang dan santainya.Karena diposisinya saat ini memang tidak memiliki tekanan apapun,kalau ingin dibandingkan dengan posisinya Billy.