
"Jika kamu tidak ingin mengangkat telepon dariku,setidaknya kamu bisa membalas pesanku saja bukan,,,walaupun hanya balasan pesan singkat saja..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada lambat dan juga kesal.
Karena sedari ia tidak melihat keberadaan suaminya didalam dan diluar rumah tadi,iapun mulai terus mengirim pesan,ia bahkan menelepon ntah sudah belasan kali,tapi nyatanya Sebastian sama sekali tidak mengangkat ataupun membalas pesannya.Bukan hanya tidak mengangkat dan membalas saja,sedari tadi pesannya bahkan masih centang 1 disana.
Sedangkan Sebastian yang tadinya hanya menampilkan wajah malasnya itu,iapun langsung mengeluarkan pelan HPnya dan membuka HPnya dengan gerakan santainya.
'Kenapa aku malah mengsilent HPku,tadi...' batin Sebastian dengan perasaan bersalahnya dibalik wajah datarnya itu,saat ia melihat beberapa pesan masuk dan belasan panggilan tidak terjawab yang ada diHPnya.
Ia lupa,kalau sebelum ia turun dari dalam mobil ketempatnya Billy tadi,ia telah mengsilent HPnya.Ia hanya tidak mau kalau akan ada yang meneleponnya,dan hal tersebut akan menganggu pernyerangannya tadi.
"Apakah urusanmu itu lebih penting,dari pada makan malam bersama kami atau makan malam bersamaku,hm?" tanya Jennifer lagi,dengan wajah kesalnya,sambil memerhatikan Sebastian yang sedang menyimpan HPnya kembali.
Mana tahu saja,karena keberadaan dirinya,makanya Sebastian sampai tidak mau pulang makan malam bersamanya dan yang lainnya.
"Aku sudah berbaik hati dengan memanaskan makan malamnya untukmu,jadi bisakah kau duduk dan makan dengan tenang sekarang..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,dan hal itu mampu membuat Jennifer langsung mendengkus kesal.
Ia memang merasa bersalah dan ingin meminta maaf,tapi nyatanya lidahnya terasa sangat kelu saat ingin mengatakan kata maaf tersebut.Hingga ia lebih memilih untuk menghentikan gerutuan kesalnya Jennifer saja,dari pada ia harus ikut-ikutan merasa kesal nanti.
Lalu mereka berduapun sama-sama melanjutkan makan malam tertunda mereka itu dengan tenang dan tanpa suara sedikitpun,tapi juga disertai dengan ekspresi kesal diwajah cantiknya Jennifer.
Sedangkan Sebastian,ia hanya terus menahan senyum dibalik wajah datarnya tersebut,ia baru menyadari kalau wajah kesalnya Jennifer terlihat menggemaskan juga.
10 menit kemudian...
Mereka berduapun sudah selesai makan,Jennifer yang masih merasa kesal itu,iapun hanya duduk malas saja dikursinya dan membuang wajah kesalnya kesamping,seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Tapi berbeda dengan Sebastian yang malah mengabaikan sikap merajuknya Jennifer,ia langsung membersihkan meja makan dan membawa piring-piring kotor tersebut kebak cuci piring dan juga mencucinya,hingga membuat wajah kesalnya Jennifer tadi langsung berubah menjadi tidak percaya.
Sepertinya hanya dengan cara itu saja,yang mampu Sebastian lakukan,untuk mengganti kata maafnya tadi yang sulit untuk ia keluarkan dari mulut emasnya itu.
'Ternyata suamiku ini,bukan hanya bisa perhatian saja,tapi juga pandai mengerjakan perkerjaan dapur...' batin Jennifer dengan wajah tersenyum senangnya,sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya yang berada diatas meja tersebut.
Lihatlah,tatapan yang dipenuhi binar-binar bahagia dan bangganya terus saja mengarah kearah Sebastian yang sedang sibuk mencuci piring, hingga selesaipun,tatapannya masih saja berada diposisi yang sama seperti tadi.
Bagaimana tidak,tubuh tegapnya Sebastian yang sedang memakai celemek dan mencuci piring itu,kadar ketampanannya semakin bertambah dan juga terlihat sangat seksi dikedua matanya Jennifer.Ya,walaupun suami tampannya itu hanya mencuci beberapa piring saja...
Hingga...
"Auchk...Sakit tahu..." terdengar pekikan sakit yang terdengar kesal dari mulutnya Jennifer,karena lagi-lagi keningnya kembai disentil oleh suami tampannya itu.
"Apa yang sedang kamu perhatikan,hm?" tanya Sebastian dengan tersenyum geli dibalik wajah datarnya, sedari tadi ia sudah menatap secara bergantian kearah bak cuci piring sana dan wajahnya Jennifer yang sedang senyum-senyum sendiri,selama beberapa menit.
__ADS_1
"Hah! Ti tidak ada,aku tidak ada memerhatikan apa-apa..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya sambil menahan rasa malunya, karena dirinya telah ketahuan sedang memerhatikan Sebastian sedari tadi,lalu iapun segera berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan suaminya begitu saja.
"Kamu mau kemana?" tanya Sebastian yang pura-pura bertanya,padahal ia tahu kalau Jennifer sedang menahan rasa malunya.
"Aku ingin kekamar,dan tidur.Memangnya apa yang bisa aku lakukan lagi, dilarut malam seperti ini?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan nada kesalnya,tanpa menghentikan langkahnya ataupun menolehkan kepalanya.
Disaat ia sedang menahan malu dan juga sudah larut malam seperti ini,suaminya malah bertanya yang tidak-tidak saja.
Sedangkan Sebastian,ia langsung tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. Lalu ia segera melangkah lebar dengan jalan santainya,untuk mengikuti langkahnya Jennifer masuk kekamarnya yang sudah menjadi milik bersama itu.
Karena sudah larut malam dan juga memang sudah mengantuk,mereka berduapun langsung terlelap dalam 15 menit saja,setelah sama-sama berada diatas tempat tidur mereka masing-masing.
Karena Sebastian yang tetap memilih untuk tidur disofa saja,ia tidak mau lagi,kalau sampai benda bawah miliknya tiba-tiba saja terbangun,dan ia harus sampai kewalahan untuk menidurkannya kembali.
Lagi pula,ia belum terbiasa tidur seranjang dengan wanita.Apa lagi,pernikahan mereka sangat mendadak baginya,tapi tidak bagi Jennifer.
***
2 minggu kemudian...
Sudah 2 minggu berlalu,pernikahannya Sebastian dan Jennifer,tapi hubungan mereka berdua tidak ada perkembangan sedikitpun,hanya ada keributan saja diantara mereka selama 2 minggu itu.
Ya,tapi pastinya bukan keributan yang serius, mereka hanya sekedar saling melempar wajah kesal seperti biasanya saja,dan juga saling mengumpat didalam hati mereka masing-masing.
Dari hari kehari,istrinya itu selalu saja membuat dirinya kesal dan juga membuat kesalahan dan hampir membuat dirinya celaka.Sebenarnya bukan Sebastian saja,tapi keluarganya juga jadi korban satu persatu
Bagaimana tidak? Lantai yang akan ia dan yang lainnya pijak pada saat pagi dan sore hari itu,selalu saja basah.Belum lagi,dimakan siang dan malam mereka,pasti akan selalu ada saja salah satu makanan yang dimasaknya yang terlalu asin ataupun tawar.
Ditambah lagi,dengan dapur yang hampir saja terbakar sebanyak 3 kali dalam 2 minggu ini. Bahkan ruang tempat cuci baju juga mendapatkan bagiannya, karena selalu saja hampir dipenuhi busa-busa dari sabun cuci bajunya,dan itu selalu terjadi dari hari pertama hingga hari ke 7 nya.Dan itu semua,berkat istrinya Jennifer.
Semua hal itupun mampu membuat mereka semua hampir terjatuh,juga menghela napas berat dan juga pelan,tapi pada akhirnya mereka hanya mampu terus bersabar dan menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing dengan heran dan juga tidak percaya.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau seorang putri yang sudah biasa tinggal diistana, hasilnya akan menjadi seperti itu,setelah statusnya berubah jadi seorang menantu.Mereka bahkan tidak berniat ingin memberitahu pada kedua orang tuanya Jennifer,pasti akan sia-sia saja.
Karena sedikit banyak,Jennifer yang seperti itu,pasti berkat dari kedua orang tuanya juga,atau bisa jadi dari Mommynya.Kalau dipikir-pikir lagi, tidak mengherankan juga Jennifer bersikap seperti itu,namanya juga anak dari orang kaya,sedari kecil sudah terbiasa terima bersih, bersantai,merawat diri dan belajar saja.
Tapi tetap saja,ingin sekali Sebastian memarahi ataupun menyuruh istrinya pulang ke Mansion orang tuanya saja,tapi hatinya berkata lain,hatinya malah menyuruhnya untuk lebih banyak bersabar.
Dan untung saja,stok kesabaran keluarganya lebih banyak dari pada dirinya.Lihatlah,bagaimana mereka begitu sabar untuk mengajari Jennifer dalam mengerjakan perkerjaan-perkerjaan rumah satu persatu,hingga dalam 2, 3 hari belakangan ini, barulah terlihat ada sedikit perkembangan pada perkerjaan-perkerjaan yang istrinya kerjakan tersebut.
Dan saat ini sudah waktunya Jennifer istirahat,karena sudah jam 4 sore.Iapun segera ikut bergabung bersama yang lainnya dan duduk diruang tamu,untuk melepaskan lelahnya,setelah ia baru saja selesai mengepel.
__ADS_1
Sedangkan Sebastian,dalam beberapa hari ini ia sangat sibuk,hingga hanya akan pulang untuk makan malam saja,karena beberapa hari ini ia terus saja mendapatkan proyek-proyek besar.
'Aku tidak menyangka,kalau aku harus mengerjakan perkerjaan rumah sampai sebanyak ini... Ternyata capek juga...Untung saja,hanya lantai bawah dan kamar kami saja yang harus aku pel. Jika saja,aku harus mengepel seisi rumah ini, bisa-bisa aku akan masuk kerumah sakit,sebelum 2 minggu.Dan itu pasti akan sangat memalukan...' batin Jennifer dengan wajah lelahnya yang masih dibasahi sedikit keringat,sambil duduk ditengah-tengahnya Stella dan juga Ibu,dengan membawa segelas air putih ditangannya.
Lalu ia segera menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat diakhir kalimatnya,untuk mengusir kata rumah sakit dari dalam benaknya barusan. Tidak,ia tidak boleh selemah itu,ia bahkan belum mendapatkan hati pria pujaan hatinya.Dan pernikahan mereka,bahkan belum genap 1 bulan.
Kemudian ia segera mengambil tisu untuk mengelap keringatnya tersebut,setelah ia sudah meletakkan gelas kosong yang baru saja ia habiskan dalan beberapa kali teguk karena rasa lelahnya tadi,sambil menatap satu persatu Ibu dan Stella yang terlihat sedang asyik menonton drama korea di TV yang ada diruang tamu tersebut. Berbeda dengan Ayah yang hanya sedang sibuk membaca koran,dengan wajah santainya.
'Aku berkerja hampir 8 jam dalam 1 hari,tapi mereka malah asyik menonton drama korea.Enak sekali...' ngeluh Jennifer didalam hatinya,dengan wajah lelahnya,tapi sama sekali tidak ada rasa benci,kesal atau apapun terhadap Ibu dan Stella.
Karena walaupun ia berkerja lebih banyak jam,tapi itu semua karena ulah dari dirinya juga.Karena selama 2 minggu ini,Sebastian selalu saja memerintahkannya untuk membereskan kesalahan yang telah ia buat tersebut.Untung saja,beberapa hari belakangan ini ia tidak begitu banyak membuat kesalahan.
Lagi pula,keluarganya Sebastian sangat pengertian padanya,setiap harinya ia hanya perlu mengepel lantai bawah saja,membantu Ibu memasak,dan juga mencuci pakaiannya dan juga pakaiannya Sebastian saja.Karena bagian lantai atas,sudah ada asisten yang akan mengepelnya.
Bahkan beberapa pakaian bagusnya Sebastian harus menjadi korban dari sikap bod*hnya itu,karena ada beberapa lai yang harus ketular warna sama pakaian yang lainnya,ada juga beberapa yang terkoyak karena dirinya yang tidak sengaja menariknya terlalu kuat.
Tapi selama 2 minggu ini,ia tidak pernah mendengar suaminya memarahi atau membentak dirinya,tapi ia tahu,pasti suaminya terus saja mengumpatnya didalam hati.
"Ehm ehm ehm..." dehem Jennifer dengan pelan,saat ia melihat mereka yang hanya sibuk menonton saja,tanpa memerhatikan dirinya yang sedang duduk ditengah-tengah mereka.
Ya,walaupun barusan ada melirik sebentar dan tersenyum padanya,karena drama koreanya sedang tayang saat ini...
"Ehem ehem ehem..." Jennifer kembali berdehem,sambil menahan rasa kesalnya.
Padahal biasanya ia juga suka menonton drama korea,tapi karena dirinya yang sedang lelah saat ini dan menurutnya tidak akan seru jika ia langsung melihat pada bagian tengahnya tanpa melihat dari awal terlebih dahulu,moodnya ingin menontonpun sirna begitu saja.
Ibu dan Stella yang asyik menonton tadipun langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Jennifer dan bertanya dengan isyarat kepala mereka,tapi lagi-lagi hanya untuk beberapa saat saja,karena mereka kembali melanjutkan tontonan mereka tadi.Kecuali,Ayah yang hanya melirik sekilas saja.
"Ibu..." walaupun begitu,Jennifer tetap memanggil Ibu mertuanya dengan nada sopannya dan wajah lelahnya yang sudah mengurang sedikit demi sedikit,berkat AC yang ada diruang tamu tersebut.
"Hm..." jawab Ibu dengan singkat,tanpa menolehkan kepalanya kearah menantu cantiknya sedikitpun,dan Jennifer juga tidak masalah dengan semua itu karena ia sudah mulai terbiasa sekarang.
"Bu,bagaimana kalau kita mencari seorang asisten rumah lagi,untuk mengepel lantai bawah ini?" tanya Jennifer dengan nada pelan dan wajah yang penuh harap, hingga mampu membuat Ibu dan Stella langsung mengalihkan pandangan mereka kearahnya.
Walaupun ia memang memiliki uang yang banyak tanpa berkerja apapun,tapi keadaannya sekarang berbeda,dan ia selalu diajarin oleh kedua orang tuanya,untuk menghormati dan menghargai orang tua.Apa lagi,yang ini adalah mertuanya.
"Memangnya,kenapa kita harus mencari seorang asisten lagi?" tanya Ibu dengan wajah yang berpura-pura bingung,padahal ia sudah tahu apa yang menjadi alasannya Jennifer sampai menginginkan seorang asisten lagi.
Sebenarnya ia dan yang lainnya juga merasa tidak tega,untuk menyuruh Jennifer mengepel lantai seluas itu setiap harinya.Tapi mau bagaimana lagi,mereka telah berjanji pada Sebastian untuk tetap berkerja sama.Bahkan semuanya,atas perintahnha Sebastian,padahal biasanya ia sendiri yang menjadi ratu didalam rumahnya sendiri.
"Aku hanya ingin, perkerjaanku menjadi sedikit ringan saja.Bolehkan,Bu?" jawab Jennifer dengan nada manja dibalik wajah seriusnya,ia memang akan bersikap manja jika memang sudah tidak ada pilihan yang lain lagi,dan itu dinamakan dengan keadaan darurat olehnya.
__ADS_1
"Kakak ipar,kamu harus bertanya pada kakak,bukan malah bertanya pada Ibu..." timpal Stella dengan wajah yang tersenyum lucu,sambil menonton dan juga melirik kearah kakak iparnya itu,saat ia baru pertama kalinya mendengar nada manja kakak iparnya itu.
(Yang selama 2 minggu itu sengaja Author singkatkan,jika tidak,akan kepanjangan dan kalian akan merasa bosan...😁😊🙏...)