Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 66


__ADS_3

"Kemejanya Daddy hanya mengecil saja,karena sudah lama tidak dipakai..." jawab Daddy dengan nada kesalnya,karena suara putri bungsunya malah terdengar seperti sedang mengejeknya,tanpa mengalihkan pandangannya pada siaran di TV yang ada dihadapannya


Begitu juga dengan Jennifer yang masih sibuk dengan mode kesalnya,dan Sebastian yang sedang menonton TV sambil memerhatikan wajah cantiknya Jennifer sekali-kali, hanya saja ia terus menajamkan pendengarannya,karena hanya itu saja hal yang bisa ia lakukan untuk saat ini,dari pada ia harus berdebat sama para wanita.


Untung saja,tontonan yang mereka tonton saat ini adalah film action,dan lucunya mereka semua suka menontonnya.


"Oh,rupanya begitu.Atau mungkin saja,otot-otot kekarnya Daddy dulu sudah dimakan usia..." ucap Sylvia dengan nada yakinnya,tanpa memikirkan perasaan Daddynya sama sekali,kedua matanya bahkan hanya terus menatap kearah kakak iparnya yang terlihat cuek saja.


Tapi lihatlah Dad, kancing-kancing kemeja itu bahkan hampir terlepas,dan mungkin saja sebentar lagi akan terlepas,jika saja kakak ipar mengeluarkan tenaga dalamnya sedikit saja..." lanjut Sylvia dengan wajah yang tersenyum kagum,tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun, hingga mampu membuat Daddy terus saja mendengkus kesal dan Momny yang langsung tertawa kecil.


'Kenapa hari ini, aku bisa bertemu dengan keluarga yang semua anggota keluarganya,menyebalkan semua.Ntah aku harus menyebutnya dengan kesialan atau keberuntungan...' batin Sebastian dengan perasaan kesalnya,saat ia melihat sikapnya keluarga tersebut yang lumayan menyebalkan.


Kecuali Daddynya Jennifer,karena aura kepemimpinannya tetap terlihat dan sisi kejamnya juga tetap terasa,walaupun tetap saja sama-sama menyebalkan dimatanya.


Ya,dan awalnya ia berniat ingin memerintahkan Aldy untuk membawa pakaian gantinya,tapi Jennifer malah memaksanya untuk memakai pakaian Daddynya saja.Jadi mau tidak mau,iapun terpaksa memakai yang ada terlebih dahulu sebelum Aldy kesini dan membawakannya pakaian.


Jadinya,ia bukan hanya merasakan tidak nyaman dengan tatapan kagum dan anehnya semua orang yang berdekatan dengannya saat ini,ia juga merasa tidak nyaman dengan kemeja tersebut yang sangat pas-pasan dan terasa sempit ditubuhnya itu, untung saja pinggangnya tidak masalah dengan celana panjang Daddynya Jennifer karena memiliki bahan karet.


"Buk..." terdengar suara bantal yang tiba-tiba saja melayang dan tepat mengenai wajahnya Sylvia dengan kuat,hingga mampu membuat Sylvia langsung terpekik sakit dan kesal...


"Auchk...Kakak,apa yang kamu lakukan?" terdengar pekikan sakit dan tanya Sylvia dengan wajah kesalnya,saat ia mendapatkan lemparan bantal yang ternyata dari kakaknya sendiri.


"Cepat jauhkan tatapan menjijikkanmu itu kearah lain,jangan terus menatap priaku..." jawab Jennifer dengan wajah kesalnya,ia memang duduk berjarak 60 cm dengan Sebastian karena rasa kesalnya tadi.


Tapi tatapan kesalnya yang lurus kedepan tadi,langsung menatap kesal kearah Sylvia saat ia melihat tatapan kagumnya Sylvia yang terus saja tertuju kearah prianya.


"Kakak,kenapa kamu ini berlebihan sekali...Aku hanya menatap kakak ipar saja,tidak ada maksud apa-apa.Mom,lihatlah kakak,aku bahkan belum menyentuhnya..." ucap Sylvia dengan wajah malasnya,tapi dengan wajah tersenyum menggoda diakhir kalimatnya.


"Coba saja,jika berani..." ucap Jennifer dengan nada tegasnya dan wajah kesalnya,sambil bersiap-siap ingin melempar bantal lagi.


'Wanita ini dalam kesal saja,tapi masih sempat juga merasa cemburu...' batin Sebastian dengan menahan senyum dibalik wajah tenangnya


" Oke,oke,aku hanya bercanda saja kak...Mana berani aku melakukan hal yang akan merugikan diriku sendiri,kakak ini ada-ada saja.Lagi pula,kakak iparku ini terlalu tua dan tidak cocok untuk menjadi kekasihku.Lihatlah,berapa jauh jarak umur kami berdua...Dasar,kalau sudah dimabuk cinta,begini ni...Sama adik sendiripun,juga ingin dicemburui..." ucap Sylvia dengan cepat dan nada malas yang bercampur rasa kesal,ia bahkan menggerutu kesal panjang lebar sambil terus menatap waspada kearah bantal yang sudah diletakkan kembali oleh kakaknya itu.


"Tua? Kamu saja yang masih terlalu kecil..." ucap Jennifer sambil bersedekap dada dengan wajah kesalnya,ia tidak terima dengan kata tua yang disematkan oleh Sylvia pada pria pujaan hatinya.


"Sudah,kalian berdua ini seperti tiada hari tanpa bertengkar saja...Dan kamu Jennifer,apakah kamu pikir Sebastian akan tertarik pada adik kecilmu ini? Adikmu bahkan masih berbau kencur..." timpal Mommy dengan wajah malasnya,untuk menengahi pertengkaran 2 adik beradik yang menurutnya tidak penting tersebut,dan itu selalu terjadi hampir disetiap harinya.


'Dengan dirimu sendiri saja,Sebastian belum tentu akan tertarik.Ya,Tuhan.Kenapa sikapmu yang 1 ini harus menurun dariku...' lanjut Mommy didalam hatinya dengan perasaan khawatir dan juga kesal,sambil memijit pelan pangkal hidungnya yang terasa sedikit pusing karena tingkah kedua putri mereka itu.


Ia juga menelisik wajah datarnya Sebastian yang masih tetap tenang sedari tadi,dan sekarang ia berharap kalau Sebastian benar-benar akan jatuh cinta pada putri nakalnya itu dalam waktu singkat ini.


Kemudian Mommypun langsung menggeleng-gelengkan pelan kepalanya sambil menghela napas pelan,saat ia melihat kedua putrinya yang sudah diam kembali dengan kedua matanya yang berpura-pura menonton TV,mungkin saja kedua putrinya itu sedang menahan rasa kesal dan juga menahan rasa malu saat ini.

__ADS_1


"Ehm ehm...Ngomong-ngomong,kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Mommy dengan wajah seriusnya,ia sengaja ingin mengerjai Sebastian dan sekalian membuat rasa kesalnya mengurang karena melihat Sebastian yang hanya diam saja,sedari tadi.


Dan pertanyaan tidak terduga itupun,mampu membuat Sebastian yang hanya sibuk tersenyum didalam hatinya sedari tadipun langsung...


"Uhuk uhuk uhuk..." terdengar suara batuknya Sebastian karena tertelan sama lud*hnya sendiri,saat ia mendengar pertanyaan tiba-tibanya Mommy barusan.


"Honey,apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jennifer dengan wajah khawatirnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung lebarnya Sebastian.


Ia bahkan melupakan rasa kesalnya pada Sebastian,karena dirinya juga ikut merasa kaget,hanya saja rasa kagetnya tidak separah Sebastian.


"Tidak apa-apa,aku baik-baik saja.Uhuk uhuk..." jawab Sebastian dengan sisa batuk pelan diakhir kalimatnya, sambil menetralkan sisa tersedaķnya.


'Ternyata apa yang baru aku pikirkan tadi,terjadi juga...' batin Daddy dengan wajah yang tersenyum kecil,setelah ia sudah mengalihkan pandangannya dari TV kearah Jennifer dan juga Sebastian.


Sedangkan Sylvia,ia langsung tersenyum lucu,tanpa berhenti untuk mengunyah cemil-cemilan miliknya tersebut.


"Apa benar,kamu baik-baik saja,nak?" tanya Mommy dengan wajah yang berpura-pura khawatir.


"Iya.Aku baik-baik saja,Nyonya..." jawab Sebastian dengan wajah tenangnya kembali,sambil mengambil tisu untuk mengelap bibir basahnya akibat batuk ringan tadi.


"Kalau begitu,apa jawaban kalian atas pertanyaanku tadi?" tanya Mommy lagi,ia masih belum selesai mengerjai Sebastian.


"Hmm,i itu..." Sebastian sampai kebingungan ingin menjawab apa,sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Mom,apa Mommy tidak melihat,kalau kakak dan kakak ipar sedang bertengkar tadi...Bagaimana kakak ipar akan menjawabnya,kalau kakak saja,sedari tadi tidak mau duduk berdekatan dengan kakak ipar..." timpal Sylvia dengan wajah yang tersenyum menggodanya,ia memang sengaja mengatakan semua itu karena rasa kesalnya pada kakaknya tadi masih belum menghilang sepenuhnya.


"Benarkah,nak...? Tapi tidak mungkin,pertengkaran kalian akan memengaruhi pernikahan kalian berdua,bukan? Dalam sebuah hubungan, pertengkaran itu sudah biasa,tapi jangan sampai berlarut-larut..." tanya Mommy dengan wajah pura-pura bingungnya dan sekalian memberi kata-kata petuahnya,padahal ia sudah memerhatikan hal tersebut sedari tadi.


"Iya.Tentu saja,tidak akan terpengaruh,Mom. Bukankah benar begitu,Honey...?" jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang sambil menahan rasa bingungnya.


"Hah! Be benar,Nyonya..." jawab Sebastian dengan wajah bingungnya,ia bahkan tidak mampu mencari kata-kata yang bagus untuk bisa menjawab semua itu.


Karena yang ada dibenaknya saat ini, ia sedang memikirkan,apakah Mommynya Jennifer sudah mengetahui hubungan tidak jelas mereka atau belum...Daddynya Jennifer bahkan tidak berniat ingin membantunya sedikitpun,terlihat dari wajah tenangnya yang cuek itu.


Atau mungkin saja,sepasang suami istri paruh baya itu......Ia hanya bisa menebak didalam hatinya saja,untuk saat ini...


"Jadi,kapan kalian akan menikah? Apakah kalian berdua sudah mencari hari,tanggal dan bulan yang bagus untuk pernikahan kalian nanti?" tanya Mommy dengan nada seriusnya dan mengulangi pertanyaannya tadi,lebih detail lagi.


Ia bertanya sambil menahan tawa,tapi jujur,ia juga mengharapkan pernikahan tersebut benar-benar akan terjadi.


"I itu,kami masih belum memikirkan sampai kesana,Nyonya..." jawab Sebastian dengan berusaha setenang mungkin.


"What? Memangnya kamu anggap apa putriku ini,sampai kamu masih belum memikirkan hal yang sangat penting itu? Aku tidak ingin putriku bersama pria yang tidak berniat ingin menikahinya..." tanya Mommy dengan nada tinggi dan wajah kesalnya,sambil bersedekap dada.

__ADS_1


"Tapi,Nyonya....." belum sempat Sebastian menyelesaikan kalimatnya,Jennifer malah menyelanya dengan cepat.


"Bukan begitu maksudnya Sebastian, Mom. Belakangan ini Sebastian hanya sedang sibuk berkerja saja,jadi ia tidak begitu punya banyak waktu untuk memikirkan tentang pernikahan.Tapi Mommy tenang saja,kami pasti akan memikirkannya nanti...Bukankah benar begitu,Honey?..." sela Jennifer dengan nada seriusnya,sambil memeluk sayang lengannya Sebastian yang sedang menghela napas pelan dan juga panjang.


'Kenapa Mommy menjadi terlihat begitu mendukung hubungan kami? Ntah apa yang telah dibicarakan oleh Daddy pada Mommy tadi,tapi bagus juga karena dengan begitu,kami bisa selalu berdekatan.Lagi pula,sarannya Mommy memang bagus juga...' lanjut Jennifer didalam hatinya dengan wajah yang tersenyum senang.


Ia sudah tidak perduli dengan rasa bingungnya pada Mommynya,karena hal tersebut tidak merugikan dirinya sedikitpun.Apa lagi,saat ia memikirkan tentang banyaknya wanita yang telah mengejar Sebastian tadi,termasuk Cecilia sepupunya itu.


Bisa saja beberapa wanita tersebut akan memakai cara kotor sebelum mereka berhasil saling menanam benih cinta dan menikah.


Ia juga tidak perduli dengan Sebastian yang mungkin saja akan memarahinya ataupun malah mendiaminnya,itu nanti saja baru ia pikirkan lagi, bagaimana caranya ia akan membujuk Sebastian.


"I iya,Nyonya..." jawab Sebastian dengan wajah yang menahan rasa kesalnya,setelah ia sudah menatap kesal sekilas kearah Jennifer.


'Apa Nyonya ini sedang termakan obat yang salah tadi,kenapa bicaranya terdengar begitu menginginkan pernikahan kami ini segera terlaksana saja.Apa Mamanya Jennifer sudah mulai menyukaiku atau mungkin saja sedang merencanakan sesuatu?' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil terus berpikir dengan asal menebak dan juga perasaan bingungnya.


'Ya,Tuhan...Kenapa kamu tidak memberiku pilihan sama sekali,karena aku lebih suka memilih untuk melawan puluhan atau ratusan penjahat sekalipun, dari pada aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bahkan diriku sendiri belum pernah memikirkannya sedikitpun.Dan hubungan kami juga sebatas saling kenal saja,kenapa mereka malah menjadi berlebihan seperti ini...' lanjut Sebastian lagi,didalam hatinya.


Ia menggerutu kesal dengan panjang lebar dan perasaan kesal,bingung dan malas yang telah bercampur menjadi satu,dan ujung-ujungnya ia hanya bisa pasrah saja.


"Kakak,kakak ipar,jangan terlalu lama berpikirnya...Pernikahan itu hal yang sangat baik,jadi kalian berdua harus secepat mungkin menikahnya..." timpal Slyvia dengan nada dan wajah senang dan juga semangatnya.


"Adik kecil...Kalau begitu,kenapa tidak kamu duluan saja yang menikahnya?" tanya Sebastian dengan wajah yang tersenyum kecil dan itupun terpaksa,sambil menahan rasa kesalnya sebisa mungkin.


Saat ini,ia sudah merasa kesal dan juga bingung,bukannya membantu tapi adiknya Jennifer malah menambah rasa kesalnya saja.


"Kakak ipar,candaanmu tidak lucu..." jawab Sylvia dengan nada kesalnya.


"Aku bukan sedang melucu,adik kecil..." ucap Sebastian dengan wajah malasnya,sambil menghela napas pelan.


'Apakah dia mengira,aku ini seorang komika?' batin Sebastian dengan terus menghela napas yang ntah sudah keberapa kalinya.


"Dad,Mom,kalian mendengarnya bukan... Sekolahku saja bahkan belum selesai,tapi kakak ipar sudah menyarankan padaku untuk menikah duluan..." ngadu Sylvia sama kedua orang tuanya dengan wajah manjanya,sambil menatap kesal kearah Sebastian yang hanya mengabaikannya saja.


Padahal ini baru pertama kalinya Sebastian berbicara padanya,tapi kenapa sudah langsung terdengar menyebalkan ditelinganya.


Mommy yang sudah tidak bisa menahan tawanya pun langsung tertawa kecil,ternyata calon menantunya ini bisa meluapkan rasa kesalnya juga.Dan lihatlah,wajah malas menantunya yang sedang menahan kesal itu,hal itu mampu membuat dirinya semakin ingin tertawa saja.


Sedangkan Daddy dan Jennifer,mereka berdua juga langsung tersenyum kecil,dan hanya terus menatap secara bergantian kearah wajah kesal manjanya Sylvia dan wajah malasnya Sebastian yang sudah berubah menjadi tenang kembali.


"Makanya,kamu nonton saja,jangan suka ikut campur dalam obrolan orang dewasa..." jawab Mommy dengan sisa tawa kecilnya tadi,hingga mampu membuat Sylvia menjadi semakin kesal tapi hanya beberapa saat saja,karena Daddy segera memberi pelukan sayang padanya,hingga akhirnya Sylvia memilih untuk melanjutkan tontonannya tadi saja.


"Apakah kalian memerlukan bantuan dari Mommy, untuk menentukan hari,tanggal dan bulan baiknya? Mana tahu saja,kalian berdua terlalu bersemangat jadi sampai bingung untuk memilihnya..." tanya Mommy setelah tawanya reda,sambil menatap serius kearah Jennifer dan Sebastian.

__ADS_1


"Tidak,tidak perlu,Nyonya.Nanti kami pasti akan mengatakannya pada kalian,kalau kami sudah selesai menentukannya..." jawab Sebastian dengan cepat,dan wajah khawatirnya karena takut kalau Mommynya Jennifer benar-benar akan turun tangan dalam pernikahan mereka,bisa-bisa ia tidak mampu berbuat banyak lagi,selain hanya menerima saja.


'Bersemangat apanya? Berpikir untuk menikah saja,masih belum terlintas lagi dibenakku sampai saat ini,sejak cinta pertamaku yang ternyata telah menjebak diriku.Tapi sekarang,ya sudahlah....' lanjut Sebastian didalam hatinya,ia sudah pasrah dengan keadaan yang menimpanya saat ini,sisanya biarlah ia pikirkan nanti saja.


__ADS_2