
"Semuanya baik-baik saja.Aku hanya tidur terlalu larut malam saja,makanya terlambat datang" jawab Sebastian dengan jujur ,sambil menatap para karyawan yang sudah sibuk berkerja.Karena ia tahu kalau Elvan sedang penasaran sama seperti Erik,hanya saja ia malas mau menceritakan secara detail pada 2 sahabatnya itu.
Sedangkan Erik yang masih berada di sana,ia hanya duduk diam saja sambil terus menelisik wajah tampannya Sebastian.
"Berhenti menatapku dan jangan banyak bertanya lagi" ucap Sebastian dengan nada kesalnya karena dari tadi terus di tatap oleh Erik,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Elvan karena mau membuat kopi untuk dirinya.
Erik langsung mendengkus kesal saat ia mendengar perkataannya Sebastian tadi,padahal ia masih belum puas sama jawabannya Sebastian tadi,dan Sebastian tahu itu.
"Elvan,nanti sore kamu temani aku beli Jas dan dasi ya..." ajak Sebastian pada Elvan dengan nada santainya,sambil berjalan ke tempat duduknya kembali dengan membawa segelas kopi yang sudah selesai ia buat.
"Oke" jawab Elvan dengan nada santainya,sambil berdiri dari duduknya dan ingin melayani pelanggan yang sudah kembali mulai berdatangan lagi.
"Bagaimana dengan aku?" tanya Erik dengan wajah yang berpura-pura sedih,berharap kalau Sebastian juga akan mengajaknya ikut pergi bersama.
"Siapa yang akan menjaga Restoran?" tanya Sebastian balik dengan nada santainya,sambil menghembus-hembus kopinya yang masih panas itu dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Lagi pula,ada Elisa yang menemanimu" timpal Elvan dengan wajah malasnya,karena Erik selalu saja ingin ikut jika mereka akan pergi kemana-mana.
"Baiklah,baiklah" ucap Erik dengan nada kesalnya,sambil berdiri dari duduknya,lalu ia berjalan ke arah di mana kekasihnya berada dan juga sekalian membantu yang lainnya.
Sedangkan Sebastian dan Elvan,mereka berdua hanya mampu menatap punggungnya Erik yang sudah mulai menjauh,sambil menghela napas dengan pelan karena mereka melihat tingkahnya Erik yang tidak pernah berubah sampai sekarang.
"Dalam 1 bulan ini,mungkin kita akan sangat sibuk,karena sudah ada 3 orang yang menyewa Restoran ini" ucap Elvan dengan wajah seriusnya,sambil membuat minuman untuk para tamu,lalu ia berikan pada beberapa karyawan yang sedang menunggu itu.Karyawan yang sedang bertugas mengantar minumannya ke para tamu.
"Bukankah kemaren hanya 2 orang saja?" tanya Sebastian balik,dengan wajah penasarannya,karena setahunya ia hanya mendapatkan 2 orang saja yang menyewa Restoran tersebut,untuk acara pertunangan dan juga pernikahan.
"1 lagi untuk acara ulang tahun putri mereka yang untuk ke 21 tahun.Bahkan tadi pagi,mereka sudah selesai reservarsi Restoran sama Erik.Tepat saat kamu datang tadi,mereka baru saja pulang" jawab Elvan dengan jujur,tanpa menatap Sebastian karena ia sibuk membuat minuman untuk para tamu.
Sebastian yang mendengar jawabannya Elvan itu,ia hanya diam saja sambil memikirkan Siska kekasihnya itu.
Pikirannya mulai bercabang saat ini akibat perkerjaan yang semakin hari semakin bertambah saja.Karena Restoran tempat ia berkerja ini termasuk Restoran Hotel dan juga salah satu yang terbaik di kota ini,jadi sudah di pastikan akan selalu di penuhi pengunjung dan juga berbagai acara.
Ia sangat ingin pergi mencari kekasihnya,tapi ia sedang sibuk saat ini,chat dan telepon darinya juga tidak di tanggapi oleh kekasihnya dari semalam sampai saat ini.Mungkin ia harus mencari waktu untuk menemui kekasihnya itu,mana tahu saja kekasihnya sedang mengalami masalah saat ini.
"Aku ke dalam dulu" ucap Sebastian dengan menyembunyikan wajah galaunya di balik wajah datarnya setelah ia sudah terdiam untuk beberapa saat.
Kemudian ia segera berdiri dari duduknya,lalu berjalan ke arah ruangannya untuk mengecek sisa keuangan Restoran yang semalam punya,tanpa menunggu jawaban dari Elvan.
"Aku sudah bilang kalau wanita itu bukan wanita baik-baik,tapi kamu malah tidak.....Ah,sudahlah,biarkan saja.Aku sudah malas mau membicarakan wanita itu lagi.Membuat moodku menjadi tidak bagus saja" gumam Elvan dengan nada pelannya,sambil menatap sebentar ke arah punggung lebarnya Sebastian yang sudah mulai menghilang dari pandangannya itu,lalu ia kembali melanjutkan perkerjaannya lagi.
***
Di salah satu Hotel ternama lainnya,sepasang manusia baru saja selesai melakukan pergumulan panas di salah satu kamar Hotel tersebut.
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu angkat saja telepon dari pria itu?" tanya pria tersebut dengan wajah yang tersenyum senang karena ia baru saja selesai menuntaskan hasratnya pada kekasihnya ini.
Tapi ia agak terganggu sama suara telepon milik kekasihnya yang terus berbunyi dari tadi,dan bertepatan dengan saat mereka berdua yang sedang bercinta tadi.
"Buat apa aku mengangkat telepon dari pria miskin itu,sayang.Pria miskin itu sudah tidak memiliki uang,jadi buat apa lagi aku berhubungan dengannya" jawab wanita tersebut dengan nada manjanya,sambil menyandarkan kepalanya di dada telanjangnya pria tersebut.
Ya,wanita tersebut adalah Siska kekasihnya Sebastian.Dulu ia hanya tertarik pada ketampanannya Sebastian saja dan memanfaatkan Sebastian sebagai kartu ATMnya.
Lalu ia mencoba untuk mendapatkan hatinya Sebastian dengan berbagai cara,dan ia berhasil mendapatkannya.
Tapi ternyata kartu ATM yang ia harapkan itu tidak berjalan seperti yang ia inginkan,karena beberapa bulan kemudian Sebastian malah terus menyuruhnya untuk bersabar ketika ia meminta uang,hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua saja secara sepihak karena sudah tidak ada manfaatnya lagi bagi dirinya.
Bahkan ketika dirinya dan Sebastian sudah menjalin hubungan hari itu,jauh-jauh sebelumnya dirinya sudah memiliki kekasih yaitu pria yang sedang ia peluk saat ini.Dan yang lebih parahnya lagi,pria tersebut malah mendukung permintaan kekasihnya itu,setelah mendengar apa tujuan dari kekasihnya itu.
"Kalau begitu,ayo kita bermain lagi" ajak pria tersebut dengan nada semangatnya dan wajah mesumnya,sambil mendongakkan wajahnya Siska dengan pelan.
"Ayo" jawab Siska dengan senang hati,lalu ia langsung menc**m bibirnya pria tersebut dengan rakus,begitu juga dengan pria tersebut,dan pergumulan panas mereka tadipun kembali terulang.
(Kembali ke Sebastian).
"Kenapa kamu membawaku ke Butik mahal ini?" tanya sebastian dengan wajah yang kesal,sambil menatap salah satu Butik ternama yang sudah ada depannya.
Saat ini Sebastian dan Elvan sedang berdiri di depan salah satu Toko Butik ternama di kota ini,Elvan sedang menemaninya saat ini sesuai dengan janjinya tadi siang.
"Eitss,tunggu dulu bro.Mana tahu,ada yang cocok sama tubuh bagusmu ini.Kita masuk dulu,oke..." ucap Elvan dengan cepat dan segera merangkul pundaknya Sebastian yang belum sempat berbalik badan itu.Lalu ia langsung berjalan sambil menarik tubuhnya sebastian dengan kuat,tanpa menunggu jawabannya Sebastian lagi.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu menatap kesal ke arah Elvan yang sedang tersenyum senang,sambil terpaksa mengikuti langkahnya Elvan.Tidak mungkin ia berdebat sama Elvan di sana,karena sudah banyak karyawan-karyawan wanita yang sedang sibuk memerhatikan mereka berdua dari dalam Butik sana.
'Menyesal aku mengajaknya tadi' kesal Sebastian di dalam hati dengan wajah yang masih terlihat kesal,tapi saat sudah berjalan sampai pintunya Butik,ia segera menampilkan wajah datarnya kembali.
Padahal tadi ia berpikir untuk membeli Jas dan dasi yang agak sedikit murah saja agar tidak boros,tapi apa yang di lakukan oleh sahabatnya ini,malah membuat dirinya menjadi semakin boros.
Baru saja Sebastian dan Elvan berjalan masuk ke dalam Butik beberapa langkah......
"Achrrggg" terdengar suara pekikan tertahan dari mulutnya seorang wanita muda yang hampir saja terjatuh karena kakinya yang sedikit terlipat barusan.
Bahkan ia langsung menutup kedua matanya dengan menggunakan kedua tangannya,saat ia akan terjatuh barusan.
Tapi anehnya,tubuhnya tidak merasakan apa-apa,sakit atau apapun.Iapun segera melebarkan kedua tangannya dan juga membuka kedua matanya dengan perlahan-lahan.
Terlihat di hadapan wajahnya, wajah tampan,memiliki kedua bola mata yang berwarna abu-abu,rahang yang tegas,bibir merah yang agak sedikit tebal,hidung yang mancung,dan juga style rambutnya yang melengkapi ketampanannya itu.
Ternyata seorang pria berhasil menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh tadi,tapi wajah tampan pria tersebut yang hampir terlihat sempurna di matanya itu mampu membuat dirinya terpaku diam,karena terpesona sama wajah tampan tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu sudah selesai menatapku,nona?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,tapi ia masih tetap menampilkan wajah datarnya.
Tadi wanita itu berjalan agak buru-buru,hingga sampai menabrak dirinya yang reflek langsung menangkap tubuhnya wanita tersebut dengan cepat.Tapi setelah berhasil ia tangkap,kedua mata wanita tersebut malah terus menatapnya tanpa berkedip.
Sedangkan Elvan,awalnya ia merasa kaget,kedua tangannya juga langsung terlepas dari pundaknya Sebastian begitu saja.
Tapi ia langsung tersenyum,sambil menatap Sebastian yang sedang memeluk tubuhnya wanita yang tidak ia kenal itu,dengan posisi tubuh wanita tersebut yang sedikit miring dan kedua tangannya Sebastian yang berada di pinggulnya wanita tersebut.
Apa lagi,wajah mereka berdua yang saling berhadapan dengan jarak sekitar 6 cm itu,terlihat sangat manis di matanya.
"Hah!!" jawab wanita tersebut dengan wajah bingungnya,saat ia melihat pergerakan bibir tebalnya pria tampan tersebut.Ia terlalu sibuk mengamati wajah tampannya pria tersebut,sampai tidak mendengar apapun yang keluar dari mulutnya pria tampan tersebut.
"Apa kamu tidak menggunakan matamu,saat sedang berjalan? Aku rasa bukan matamu saja yang bermasalah,tapi pendengaranmu juga sedang bermasalah" tanya Sebastian lagi,dengan wajah kesalnya karena ia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi saat ia melihat wanita tersebut masih saja terus menatapnya dan seperti tidak ingin menjauh dari tubuhnya.
"Siapa juga yang menyuruhmu menolongku...Lagi pula aku tidak sengaja" jawab wanita tersebut dengan wajah yang memberengut kesal saat mendengar pertanyaan dari pria tampan tersebut,setelah ia sudah tersadar sepenuhnya dari lamunan manisnya tadi.
Ia memberengut kesal sambil berdiri dan menjauh dari pelukannya pria tampan tersebut.Hilang sudah,rasa pesonanya pria tampan tersebut yang terlihat di matanya tadi.
"Nona muda,apa kamu baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang berumur sekitar 40 an dengan wajah khawatirnya,sambil berjalan mendekati nona mudanya setelah ia sudah meletakkan beberapa barang belanjaan nona mudanya tadi ke lantai dengan buru-buru.
"Tidak apa-apa,tante.Aku baik-baik saja" jawab wanita tersebut dengan nada santainya tapi kedua matanya sedang menatap kesal ke arah pria tampan tadi.
"Syukurlah nona" ucap tante tersebut dengan wajah yang tersenyum lega,sambil menelisik seluruh tubuh nona muda,mana tahu ada lecet di tubuh nona mudanya ini.Nona muda yang selalu menganggap dirinya seperti keluarga sendiri,walaupun dirinya hanya seorang pembantu,hingga membuat dirinya menjadi sangat menyayangi nona mudanya ini seperti putrinya sendiri.
"Dan kamu,aku selalu menggunakan kedua mataku saat sedang berjalan.Yang tadi itu bukan salahku,karena kamu yang tiba-tiba saja masuk ke dalam tanpa permisi,hingga membuat aku hampir saja terjatuh" lanjut wanita yang di panggil nona muda itu lagi dengan nada kesalnya,sambil menatap tubuh gagah pria tampan tersebut yang lebih tinggi dari dirinya,hingga mengharuskan dirinya sedikit mendongakkan kepalanya ke atas untuk bisa menatap wajahnya pria tampan tersebut.
Sebastian yang dari tadi memang sudah merasa kesal itu,ia hanya mampu menahan rasa kesalnya kembali di dalam hati saat ia mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya wanita tersebut.
Dan yang benar saja kata wanita tersebut,bagaimana caranya dirinya meminta permisi.Sedangkan pintunya Butik tersebut terbuka lebar-lebar dan tadi kedua karyawan yang sedang bertugas di luar Butik itupun juga sudah mempersilakannya dan Elvan masuk ke dalam.
Ia sedang berusaha menahan rasa kesalnya,sambil mengamati wanita tersebut dari atas hingga ke bawah dengan perlahan-lahan dan wajah penasarannya.
Wanita tersebut memang terlihat lebih cantik dari kekasihnya,di tambah dengan kedua lesung pipi di kedua pipinya tapi mulutnya terlalu berisik menurutnya.Tubuhnya wanita tersebut juga terlihat sangat langsing,dan dress indah yang di pakai oleh wanita tersebut tidak terlalu seksi tapi mampu membuat wanita tersebut terlihat semakin manis,cantik dan juga elegant.
"Apa yang kamu lihat? Aku peringatkan jangan berani macam-macam..." peringat wanita tersebut dengan nada tegasnya dan juga wajah khawatirnya sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada empuk dan padatnya itu,saat ia melihat pria tampan tersebut sedang mengamati keseluruhan tubuhnya.
"Apanya yang macam-macam? Kamu itu yang sedang berpikiran macam-macam" jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambip mengeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.
Padahal barusan dirinya sama sekali tidak memikirkan yang bukan-bukan,tapi wanita tersebut malah menuduhnya yang bukan-bukan.
Lalu ia segera melanjutkan langkahnya untuk terus masuk ke dalam Butik sambil menahan rasa malu di balik wajahnya yang sudah kembali datar.
Dan padahal ia hanya penasaran dengan wanita tersebut,karena jarang-jarang ia menemui wanita yang berani bermulut berisik seperti tadi padanya.Tapi ia malah terlalu fokus mengamati tubuhnya wanita tersebut hingga ia tidak menyadari kalau ia terlalu lama mengamati tubuhnya wanita tersebut.
__ADS_1