
Jennifer terlihat sedang berpikir,sambil melihat secara bergantian kearah layar TV dan wajah tampan suaminya.
"Menurutku,,, tentu saja Lee Jong Sukku lebih tampan darimu..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tersenyum santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun,sambil menahan tawanya saat ia melihat wajah tampannya Sebastian yang langsung berubah menjadi kesal.
"Apa kamu sedang bercanda,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur tidak percaya,sambil menyentuh sekitar wajahnya.
Ia berpikir kalau istrinya pasti telah makan salah obat tadi,sampai lebih memilih oppa yang ada didalam TV itu,dari pada dirinya sendiri.
Padahal dimanapun ia berada,tidak ada satupun wanita yang akan melewatkan wajah tampannya ini sedikitpun.Tapi sekarang,istrinya sendiri bahkan berani membandingkan dirinya dengan oppa-oppa yang menurutnya kadar ketampanannya mereka yang tidak seberapa tersebut.
"Tidak.Tapi bukankah,memang benar begitu? Lihatlah,betapa tampannya dia...Alis tebalnya yang melengkung cantik,kulit putihnya yang mulut,mata bulatnya yang begitu sempurna,bibirnya..........." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimat panjang lebarnya atau kalimat pujiannya tersebut, Sebastian sudah lebih dulu menghentikan kalimatnya dengan cepat.
"Bukankah,aku juga sudah memiliki semua ciri-ciri yang baru saja kamu sebutkan itu? Bagaimana? Bukankah,apakah aku juga terlihat lebih tampan dan cool dari pria imut-imut yang sedang kamu puji dan kamu idolakan itu?" sela Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum kesalnya, sambil berdiri dari duduknya dan menyisir rambutnya dengan tangannya dan gaya coolnya tersebut,lalu iapun langsung bergaya sok paling tampan sedunia untuk diperlihatkan pada Jennifer.
"Benar juga sih..." jawab Jennifer dengan terus bersusaha untuk menahan tawanya,sambil berpura-pura terlihat sedang berpikir keras dan memerhatikan Sebastian yang masih sibuk bergaya cool disampingnya.
"Tapi tetap saja,Lee Jong Sukku yang lebih tampan dari pada kamu..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum serius,sambil mengalihkan pandangannya dari wajah kesalnya Sebastian kearah TV karena takut kalau dirinya tidak bisa menahan tawanya tersebut.
"Dasar..." ucap Sebastian dengan nada pelannya,ia sudah tidak tahu mau mengatakan apa lagi, padahal dimana-mana wajah tampannya selalu diagung-agungkan oleh wanita manapun,tapi kali ini malah istrinya sendiri yang mengabaikan wajah tampannya tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun.
'Kalau begitu,kenapa kamu tidak menikah dengannya saja? Kenapa hari itu,kamu malah menjebakku dan menikah denganku?' Sebastian hanya mampu membatin saja,sambil duduk kembali dan juga mengendalikan segala rasa kesalnya tersebut.
'Apakah semua wanita sekarang,memang seperti itu semua? Apakah mungkin mata mereka telah mengalami penurunan penglihatan? Sampai-sampai,mereka tidak mampu membedakan,mana pria yang tulen dan mana pria yang oplas?' Sebastian kembali melanjutkan gerutuan kesalnya tersebut,sambil memerhatikan wajah tersenyum senangnya Jennifer karena sibuk menonton drama korea yang tidak ia sukai itu.
Hingga beberapa menit kemudian,ia sudah tidak tahan dengan permandangan yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Sebaiknya, kamu beristirahat dulu sekarang.Apa kamu tidak melihat,kalau sekarang sudah larut malam?" lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang berusaha tetap tenang,sambil mengambil remot TV yang ada disampingnya Jennifer,dan langsung mematikan TV tanpa minta izin atau pemberitahuan terlebih dahulu.
"Hei,ada apa denganmu? Kenapa kamu malah mematikan TVnya? Aku masih ingin menontonnya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,sambil berniat ingin merebut remot TV dari tangannya Sebastian.
"Tidak boleh,kamu harus segera beristirahat sekarang..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,sambil menahan tangannya Jennifer dan langsung melempar cepat remot TV itu kekursi sofa sana.
"Jika kamu tidak ingin menurut,aku akan meninggalkan kamu sendiri disini,dan kamu juga tidak boleh keluar dari sini... Bagaimana?" Sebastianpun langsung mengeluarkan ancaman kecilnya tersebut,saat ia melihat Jennifer yang terlihat ingin berdebat panjang dengannya.
Jenniferpun terlihat langsung bergidik ngeri,sambil memerhatikan sekitar ruangannya.Ruangannya memang cukup luas dan tidak terlihat mengerikan sedikitpun karena semuanya terang, rapi dan juga bersih.Tapi yang namanya rumah sakit dan akan ditinggal sendiri,dimalam hari seperti ini,tiba-tiba saja malah terdengar mengerikan dipendengarannya.
"Tapi dramanya sudah akan habis sebentar lagi,waktunya hanya tinggal setengah jam lagi. Sebentar lagi ya..." Jenniferpun mencoba untuk membujuk Sebastian,dengan nada dan wajah memelasnya,kedua tangannya bahkan bersatu dengan gaya memohon tepat didepan dadanya.
"Baiklah..." jawab Sebastian dengan nada santainya yang langsung berhasil menebarkan senyuman senang diwajah memelasnya Jennifer,sambil menghela napas pelan dengan panjang.
"Kalau begitu aku akan pulang terlebih dahulu, kamu bisa menontonnya sepuasnya..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah yang ia buat serius mungkin,sambil berdiri dari duduknya.
"Baiklah,baiklah,aku akan tidur saja..." ucap Jennifer dengan cepat dan wajah yang langsung memberengut kesal pasrah,sambil menahan tangannya Sebastian supaya Sebastian tidak akan pergi meninggalkan dirinya sendiri didalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Ia tidak percaya kalau Sebastian akan benar-benar tega meninggalkannya sendiri disana,tapi ia juga merasa ragu,saat ia mengingat kembali sifat-sifat cueknya Sebastian terhadapnya pada sebelum-sebelumnya.
"Baiklah.Anak pintar,sekarang kamu tidur..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yang tersenyum santainya,sambil duduk kembali ditempat duduknya dan menepuk-nepuk pelan tangannya Jennifer yang langsung menariknya kembali,karena rasa kesalnya tersebut.
"Dasar menyebalkan..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesal pasrahnya,sambil menatap kesal sebentar kearah Sebastian,lalu ia langsung memalingkan wajahnya kesamping dan juga membaringkan tubuhnya dengan gerakan kesalnya.
Sebenarnya didalam hatinya dan dimatanya masih tetap Sebastian yang paling tampan,dan oppa-oppa tersebut adalah yang kedua.Tapi ia merasa sangat kesal,karena Sebastian malah menganggu tontonannya yang sedang berlangsung tersebut.
Apa lagi,saat ini ia tidak memiliki HP atau apapun untuk menonton,karena Sebastian menutup semua akses-akses tersebut untuknya selama beberapa hari ini.
Itu semua Sebastian lakukan karena takut kalau Jennifer akan berbuat ulah lagi,atau bahkan akan menelepon kedua orang tuanya.Jadi,iapun hanya ingin memilih yang aman saja.
Sedangkan Sebastian,saat ini ia hanya mampu menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan wajah herannya saja,saat ia melihat tingkah kesalnya Jennifer tersebut.
Tapi setidaknya rasa kesalnya terhadap oppa-oppa tersebut telah berhasil ia singkirkan dengan mematikan TVnya tadi,lalu iapun segera nenaikkan selimut hingga sebatas dadanya Jennifer yang hanya menampilkan wajah memberengut kesalnya saja.
"Tidurlah.Aku akan menjagamu...." ucap Sebastian dengan suara lembutnya, sambil memijit pelan kepalanya Jennifer yang sedang sibuk menggerutu kesal,dengan gumaman pelannya tersebut.
Tapi Sebastian hanya mengabaikannya saja,ia bahkan terus tersenyum lucu saat ia mendengar gerutu-gerutuan kesal pelannya Jennifer tersebut,tanpa menghentikan pijitan lembutnya tersebut.
Jennifer yang memang sedang ngantuk dan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing itupun, akhirnya iapun terlelap juga,dengan suara gerutu-gerutuannya yang menghilang secara perlahan-lahan.
Apa lagi,pijitannya Sebastian memang terasa begitu lembut dan juga menenangkan,hingga membuat dirinya langsung terlelap dengan cepat.
Tapi kemudian,secara perlahan-lahan wajah kesalnya tersebut berubah menjadi tersenyum bahagia,berkat tingkah-tingkah aneh dan wajah memberengut kesalnya Jennifer yang terlihat menggemaskan dimatanya tersebut.
Ia terus membelai pucuk kepalanya Jennifer selama beberapa menit,tanpa mengurangkan senyum bahagianya tersebut.
Sebenarnya ia ingin pergi melihat,apa yang sedang dilakukan oleh bawahannya terhadap 2 orang yang telah mengakibatkan Jennifer hampir tidak mampu sadarkan diri tersebut.Tapi tidak,kali ini ia tidak akan meninggalkan Jennifer lagi.Apa lagi,sedang seorang diri seperti ini.
"Sebaiknya,aku juga harus ikut tidur sekarang..." gumam Sebastian lagi,sambil melirik sekilas kearah jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 9 malam,lalu iapun segera naik pelan keatas ranjang dan menelusup masuk kedalam selimut bersama Jennifer yang telah terlelap pulas.
"Kamu juga harus tidur dan terus tumbuh didalam sana ya,nak..." lanjut Sebastian dengan bergumam pelan tepat disamping perutnya Jennifer sambil mengelus-elus sayang perut datarnya Jennifer dan terus mengukir senyum bahagia diwajah tampannya tersebut.
Walaupun ia tidak mengerti,apakah sang buah hatinya tersebut bisa mendengarnya atau tidak,tapi ia tetap berharap kalau sang buah hatinya telah bisa mendengar suaranya saat ini.Setelah selesai bicara,Sebastian segera membaringkan tubuhnya dan memeluk Jennifer.
Perlahan-lahan kedua matanya terpejam rapat karena rasa lelahnya selama beberapa hari ini, Sebastian bahkan terus membayangin tentang betapa bahagianya dirinya saat sang buah hatinya lahir nanti.
Setelah membayangi selama 10 menit tanpa menghentikan elusan sayangnya tersebut, Sebastianpun akhirnya terlelap dan mengikuti Jennifer memasuki alam mimpi indahnya tersebut.
***
Hari ini tepat hari ke 3 nya Jennifer berada dirumah sakit besar ini,dan Jennifer akan segera pulang kerumah pada hari ini,karena ia sudah tidak betah berada dirumah sakit.
__ADS_1
Bukan hanya karena ia tidak nyaman berada dirumah sakit,dengan bau obat-obatan yang selalu berhasil membuatnya merasa pusing dan juga ingin muntah.
Tapi peraturan baru dari suaminya yang telah melarangnya untuk tidak boleh menonton drama apapun selama beberapa hari itu,telah berhasil membuat moodnya semakin lama semakin memburuk saja.
Ia bahkan harus berdebat panjang lebar dengan Sebastian,untuk bisa pulang hari ini,seperti yang terjadi pada pagi ini...
"Apakah tidak besok saja,baru kita pulang,hm?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya yang telah bercampur khawatir,sambil menatap Jennifer yang terlihat sibuk merapikan rambut basahnya yang baru saja selesai dikeringkan olehnya, karena Jennifer baru saja selesai keramas.
Tapi tentu saja dengan bantuannya Sebastian untuk bisa kekamar mandi,dan masih tetap dengan Sebastian yang harus berbalik badan atau tunggu didepan pintu kamar mandi tersebut.
"Apa kamu tidak bosan,sedari tadi terus bertanya hal yang sama padaku?" tanya Jennifer balik, dengan nada dan wajah malasnya,sambil turun dari atas ranjangnya dengan Sebastian yang langsung menyambutnya dengan begitu hati-hati.
'Ternyata suami datarku ini bisa bersikap lembut sampai seperti ini juga,tapi kenapa yang aku rasakan malah terasa sangat menyebalkan...' batin Jennifer dengan perasaan heran dan juga segala rasa kesalnya tersebut,karena Sebastian selalu bersikap berlebihan terhadapnya,selama beberapa hari ini.
"Pelan-pelan..." peringat Sebastian dengan nada pelannya dan wajah khawatirnya,sambil terus memegang tubuhnya Jennifer dan membawanya kesofa sana untuk duduk sebentar.
"Apakah kamu yakin,akan pulang pada hari ini juga?Bagaimana dengan pusingmu? Apa sudah membaik? Apa kamu masih merasa ingin muntah?" tanya Sebastian dengan nada serius dan wajah khawatir yang masih sama,sambil berlutut dihadapannya Jennifer dan juga memegang tangannya Jennifer.
Inilah yang sebenarnya,yang sedang Sebastian khawatirkan sedari tadi.Walaupun rasa pusing dikepalanya Jennifer tidak begitu berat,dan hanya mual tapi masih belum pernah muntah-muntah,tapi tetap saja ia takut kalau tiba-tiba saja Jennifer kembali drop atau bagaimana.
"Kalau begitu,aku akan segera menelepon Daddyku,dengan cara apapun..." kali ini gantian Jennifer yang mengancamnya,sambil bersedekap dada.
"Baiklah,baiklah,kita akan pulang pada pagi ini juga..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah tersenyum pasrahnya,sambil berdiri dari berlututnya dengan gerakan lemahnya.
Lagi pula ia juga tidak mau kalau Jennifer sampai akan berubah pikiran untuk menurutinya,untuk tinggal dirumahnya selama beberapa hari ini.Padahal tanpa ia sadari,selama beberapa hari ini,ia telah dibohongi oleh istrinya sendiri,bahkan oleh keluarganya sendiri.
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan,bertepatan dengan Sebastian yang baru saja berdiri.
"Masuk..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,tanpa mengalihkan tatapan pasrahnya dari Jennifer yang sibuk tersenyum senang dan menatap penasaran kearah pintu tersebut.
"Ceklek..." terlihat sang dokter yang sedang berjalan masuk kedalam ruangan dengan ekspresi wajah yang ia buat setenang mungkin,karena setiap kali ia berhadapan dengan Tuan Mudanya ini,degupan jantungnya pasti akan berdegup lebih cepat dari pada yang normal,karena segala rasa takutnya tersebut.
Sedangkan Jennifer,rasa senangnya tadi menjadi sedikit mengurang.Ia mengira kalau ke 3 sahabatnya akan datang melihatnya,karena semalam mertuanya berkata kalau ke 3 sahabatnya itu akan datang untuk ikut mengantarnya pulang.
Tapi berbeda dengan Sebastian yang langsung tersenyum senang didalam hatinya,karena ia telah berhasil membuat ke 3 sahabatnya tidak bisa datang pada hari ini,karena Restoran tersebut telah ia buat sesibuk mungkin supaya ke 3 sahabatnya tersebut tidak mampu datang kesini.
"Tuan Muda,Nona Muda sudah bisa pulang,karena HB,tensi,dan yang lainnya,semuanya sudah sangat bagus..." ucap sang dokter,sambil memerhatikan sekitarnya dan Nona Mudanya yang terlihat sedang bersiap-siap akan pulang.
Ia bahkan tidak menyadari,kalau ternyata Tuan Mudanya tidak berniat ingin pulang,tapi dipaksa oleh Nona Mudanya.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu,aku sudah tidak apa-apa..." timpal Jennifer dengan nada dan wajah tersebut senangnya, sambil berdiri dari duduknya dan berniat ingin langsung berjalan keluar dari sana.
Karena semua alat infus yang telah terpasang dari semalam itu sudah dilepas semua,Jenniferpun tidak merasa kesulitan lagi.Tapi lagi-lagi sikap berlebihan Sebastian berhasil membuatnya merasa kesal,karena lagi-lagi Sebastian menghentikan langkahnya dan segera merengkuhnya.
__ADS_1