
Ia hanya berpikir untuk menghindari masalah saja,dari pada ia harus berdekatan bersama Sebastian yang sedang bad mood.Lagi pula,perkerjaannya memang terlantar karena tadi ia sibuk dengan rasa penasarannya pada Sebastian.
'Dasar...' batin Sebastian dengan menahan senyum dibalik wajah tenangnya,saat ia melihat Elvan yang sudah menghilang dari hadapannya begitu cepat tanpa menunggu jawabannya lagi.
"Apa lagi yang kalian tunggu,hm...? Apa kalian memang tidak memiliki perkerjaan lain lagi selain berdiam diri disini saja?" tanya Sebastian dengan mengulang pertanyaannya tadi dan nada tegasnya,sambil menatap tajam kearah Erik dan juga Elisa.
"Tapi Bas......" belum sempat Erik emnyelesaikan kalimatnya,Sebastian sudah langsung menyelanya.
"Bukankah tadi sudah aku katakan,kalau saat ini aku tidak mau diganggu.Atau mungkin,kalian ingin aku ......." ucapan tegasnya Sebastian juga ikut terhenti,karena langsung disela oleh Elisa.
"Sayang,bukankah kita memang sedang banyak perkerjaan? Ayo,sekarang kita harus segera mengerjakannya.Permisi,Pak..." sela Elisa dengan cepat,sambil menahan rasa kesalnya pada Erik.Ia juga sedikit menunduk seperti Elvan tadi dan berjalan pergi dari sana dengan menyeret paksa Erik.
"Sayang,apa kamu sedang bercanda? Bahkan kita masih belum mendapatkan apa-apa..." Erik terus saja menggerutu kesal sambil mengikut langkah cepatnya Elisa dengan terpaksa,setelah ia menatap kesal sebentar kearah Sebastian.
"Apa kamu tidak bisa melihat tatapan tajamnya Sebastian saat ini,aku tidak mau mendapatkan hukuman darinya lagi,hanya gara-gara mulut berisikmu ini" jawab Elisa dengan nada pelannya,sambil terus menyeret paksa Erik.
Ia masih ingat jelas tatapan tajamnya Sebastian yang hanya akan terlihat kalau sedang merasakan rasa kesal dengan tingkat tinggi.
Dan ia tidak mau mengulangi hukuman yang diberikan oleh Sebastian hari itu.Ia dan Erik dihukum untuk membersihkan toilet secara berulang-ulang karena Sebastian telah melihat mereka terus berc**m*n diruang dapur.Dan ia tidak mau hal itu kembali terjadi padanya,bayangkan saja toilet yang sudah bersih dan mengkilap tapi harus kembali dibersihkan.
"Baiklah..." ucap Erik dengan wajah pasrahnya,saat ia merasa kalau perkataannya Elisa barusan memang benar adanya juga.
Berbeda dengan ke 3 sahabat tersebut yang sedang tidak bisa berbuat apa-apa sama rasa penasaran mereka,Sebastian malah terus tersenyum puas saat ia bisa melihat wajah kesal dan pasrah ke 3 sahabatnya tersebut.
Lalu ia langsung berjalan kearah meja bar,seperti biasanya ia akan duduk sebentar disana,baru ia akan kembali memeriksa yang lainnya lagi.
***
Pagi harinya,di kediamannya Rendra...
"Yah,bisakah kita kekamarku sebentar?Ada yang mau aku tanyakan pada Ayah sekarang juga" tanya Sebastian dengan nada pelannya,setelah ia sudah menyelesaikan sarapan paginya.
Sekarang masih jam 6 pagi lewat 30 menit,dan hari ini adalah harinya orang-orang sedang berkerja.Jadi,Restoran tidak akan begitu sibuk.Lagi pula,karena memang setiap malam ia terus saja pulang tengah malam,jadi ia tidak begitu memiliki waktu yang tepat untuk bicara sama Ayah.
"Bisa" jawab Ayah dengan nada santainya sambil memakan sisa sarapannya,walaupun ia sedang merasa penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh putranya itu,karena hal itu jarang-jarang terjadi.
"Apa kakak sedang ada masalah?" tanya Stella dengan rasa penasarannya yang sudah bertingkat tinggi,karena sudah dari semalam kakaknya menjadi aneh hingga saat ini.
"Kamu diam dan kuliah saja,jangan banyak bertanya.Ini bukan urusanmu,ini urusan orang dewasa" jawab Sebastian dengan nada malasnya,sambil mengelap sisa makanan dimulutnya dan meminum air putih dengan gerakan pelannya.
Kemudian ia segera berdiri dari duduknya,lalu mengikuti langkah lebar Ayahnya yang sudah duluan berdiri dan berjalan kearah kamarnya.
"Bu,lihatlah kakak.Menyebalkan saja..." Stella langsung menggerutu kesal pada Ibu,sambil terus menatap kesal kearah punggung kakaknya.
__ADS_1
"Sudah,biarkan saja,mungkin kakakmu memang sedang memiliki masalah.Kamu akan terlambat kekampus,kalau kamu terus memikirkan tentang kakakmu..."jawab Ibu dengan nada pelan dan wajah yang tersenyum lucu,saat ia melihat wajah putrinya yang sedang memberengut kesal.
'Semoga masalah putraku tidak seserius yang terlihat' doa Ibu didalam hatinya,dengan rasa khawatir diwajah tuanya saat ia memikirkan wajah kacau yang sempat ia lihat dibalik wajah tenangnya Sebastian tadi,sambil terus menatap punggung suami dan putranya yang sudah menghilang dibalik kamarnya Sebastian.
Tapi ia yakin,kalau suaminya pasti akan mampu membantu putra mereka.Jadi,ia tidak perlu merasa begitu khawatir.
"Baiklah,bu.Kalau begitu aku akan berangkat kekampus dulu bu,cup..." ucap Stella dengan wajah kesal yang sudah mulai mengurang,lalu ia langsung mengecup sekilas pipinya wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu.
Ia berbicara sambil berdiri dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar,dan langsung diikuti oleh Ibu dari sampingnya.
Sepertinya, ia harus memaklumi sikap menyebal kakaknya untuk 2 hari ini.Lagi pula,ia sudah terbiasa dengan sikap menyebal kakaknya itu.
"Iya,pergilah.Hati-hati ya,nak..." jawab Ibu dengan wajah yang tersenyum senang karena putrinya ini memang selalu bisa menyesuaikan sikap nakalnya pada situasi yang ada.
"Oke,bu..." jawab Stella dengan wajah yang tersenyum lebar,sambil mengisyaratkan tanda oke kearah Ibu melalui tangannya juga.Lalu ia langsung berjalan keluar dari dalam rumah untuk berangkat kekampus,karena ia sendiri juga sudah selesai sarapan.
Sedangkan ibu,ia hanya terus tersenyum sambil menatap punggung putrinya yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.Setelah sudah menghilang,iapun segera masuk kedalam rumah dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
Dikamarnya Sebastian...
2 pria beda usia tersebut sedang duduk diatas kasur dengan mulut yang terus tertutup rapat untuk beberapa menit,hingga...
"Apakah kamu mengajak Ayah masuk kedalam kamarmu,hanya untuk duduk manis dan terus diam seperti ini? " tanya Ayah dengan nada kesalnya,ia menjadi kesal saat ia melihat putranya yang hanya diam saja sedari masuk kedalam kamar tadi.Dan dengan tatapan bingung putranya yang terus saja terarah padanya yang tidak tahu apa-apa.
"Apa Ayah sudah siap untuk mendengar cerita yang akan aku ceritakan nanti?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya,ia takut kalau setelah mendengar ceritanya,Ayahnya akan menjadi kesal atau mungkin akan langsung syok,atau mungkin akan terjadi hal-hal yang lainnya.
"Baiklah,baiklah,aku akan mulai menceritakannya sekarang juga" jawab Sebastian dengan cepat dan terus menampilkan wajah bingungnya,saat ia melihat Ayahnya yang berniat ingin berdiri dari duduknya.
Ayah yang sudah merasa kesal tadipun kembali mendudukkan bok*ngnya yang baru saja terangkat beberapa cm tersebut,dengan wajah kesal yang sudah mulai mengurang.
"Akhir-akhir ini,bayang-bayangan wajah seorang wanita selalu saja berada didalam kepalaku.Dan kalimat-kalimat dari wanita tersebut juga terus mengangguku,bahkan didalam tidurku sekalipun" Sebastianpun mulai bercerita dengan nada lambat,saat ia melihat Ayahnya yang sudah kembali duduk dengan tenang.
"Dan ntah kenapa,detakan jantungku selalu saja berdetak tidak beraturan dan kepalaku juga selalu seperti tidak mampu berfungsi dengan baik,saat aku sedang berdekatan dengan wanita tersebut" lanjut Sebastian dengan wajah yang sedang menahan malu,sambil terus memerhatikan reaksi Ayahnya saat mendengar ceritanya.Apa lagi,saat ia mengingat kembali c**man singkat yang telah diberikan oleh Jennifer padanya malam itu.
"Apakah sekarang kepalaku sedang bermasalah? Atau mungkin seluruh organku yang sedang bermasalah sekarang,Yah?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,karena Ayahnya hanya tetap dengan ekspresi tenang diwajahnya,hingga ia tidak mampu menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Ayahnya sekarang.
'Ya,aku rasa putraku memang sedang bermasalah sekarang.Ntah aku harus merasa senang atau bersedih saat ini?' batin Ayah dengan perasaan prihatin,saat ia melihat putranya yang begitu lugu tentang percintaan.Bahkan wajah penasarannya Sebastian,malah terlihat seperti wajah bodoh dimatanya saat ini.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang apa yang selalu ia ajarkan pada putranya ini.Apakah putranya telah menjadi pria yang terlalu baik,dengan nasihat-nasihat yang ia berikan sebelum-sebelumnya.Hingga membuat putranya tidak mampu mencerna dengan baik,hal-hal yang berkaitan dengan cinta.
"Ayah,bagaimana menurut Ayah? Apakah yang aku alami tadi,termasuk gejala-gejala suatu penyakit?" tanya Sebastian dengan wajah khawatirnya,saat ia melihat Ayahnya yang hanya terus diam saja.
(Disini,saya membahas tentang Sebastian yang hanya mengerti arti tatapan cintanya Jennifer saja.Tapi ia tidak sadar,kalau benih-benih cintanya untuk Jennifer juga sudah mulai tumbuh dihatinya.).
__ADS_1
"Itu bukan masalah besar,mungkin saja sekarang kamu sedang stres" jawab ayah dengan nada santainya,saat ia melihat wajah khawatirnya Sebastian.
"Tapi perkerjaanku tidak terlalu membuat diriku sampai stres,Yah" ucap Sebastian,ia masih ragu-ragu sama jawaban santai Ayahnya barusan.Tapi ia juga mulai merasa ragu sama perkataannya barusan.
"Ya,mungkin saja kamu tidak menyadarinya.Atau bisa juga,karena kamu kurang tidur" jawab Ayah dengan asal lagi.
"Mungkin beberapa hari lagi,kamu tidak akan mengalaminya lagi" tambah Ayah lagi dengan nada yang meyakinkan,padahal dirinya sendiri juga tidak yakin dengan apa yang ia katakan barusan.
"Benarkah?" tanya Sebastian lagi,sambil menelisik wajah tenang Ayahnya,mana tahu saja Ayahnya sedang berbohong padanya.
"Tentu saja benar...Apa kamu sudah mulai meragukan keahlian kedokteran Ayah saat ini?" tanya Ayah balik dengan wajah yang berpura-pura kesal.
"Tidak juga..." jawab Sebastian dengan cepat,karena ia memang sangat mempercayai keahlian Ayahnya tersebut.
"Coba kamu ceritakan pada Ayah,apa sebenarnya yang telah terjadi padamu belakangan ini?" tanya Ayah lagi,dengan wajah seriusnya yang sudah bercampur rasa penasaran.
Apa lagi saat ia mengingat cerita awalnya Sebastian tadi,kenapa putranya malah terlihat seperti sedang jatuh cinta.Tapi karena putranya terlalu lugu,hingga membuat putranya tidak mampu menyadari keluguannya tersebut.
"I itu...Hanya masalah kecil saja" jawab Sebastian dengan wajah bingungnya kembali,sambil menggaruk-garukkan pelan tengkuk lehernya.
"Kalau kamu tidak mau menceritakannya pada Ayah sekarang juga,Ayah tidak akan mau membantumu untuk menghilangkan gangguan tidurmu itu..." ucap Ayah dengan wajah seriusnya,ia hanya berbicara asal supaya Sebastian mau menceritakan semuanya padanya.
"Apakah Ayah yakin,kalau Ayah mampu menyembuhkan gangguan tidurku?" tanya Sebastian dengan nada ragunya,sambil menelisik wajah serius Ayahnya.
"Ya,kalau kamu tidak percaya sama Ayah.Terserahmu saja..." jawab ayah dengan wajah kesalnya karena ternyata putranya masih suka meragukan dirinya,sambil berdiri dari duduknya dan langsung berbalik badan.
"Oke,oke,aku akan menceritakan semuanya pada Ayah sekarang juga" ucap Sebastian dengan cepat,sambil ikut berdiri dari duduknya dan menahan langkah Ayahnya yang baru saja ingin melangkah.Tanpa ia tahu,kalau Ayahnya sedang tersenyum didalam hatinya.
"Baiklah,ehm ehm ehm..." lanjut Sebastian lagi,setelah ia dan Ayahnya sudah kembali duduk diatas kasur miliknya dengan baik.Ia sengaja berdehem,supaya ia bisa mulai bercerita dengan lancar tanpa kendala.
"Beberapa minggu yang lalu,aku tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita disebuah toko butik.Dan.........................." Sebastianpun langsung menceritakan tentang bagaimana dari awal ia bertemu dengan Jennifer,pertemuan mereka ketika didanau hari itu,lalu pertemuan di Restoran malam hari itu,pertemuannya dengan Pak tua semalam.Dan juga berserta,kalimat-kalimat mutiaranya Jennifer dan juga kalimat-kalimatnya Pak tua semalam,hanya saja ia sengaja melewatkan c**m*n singkatnya bersama Jennifer pada saat malam itu.
Tidak mungkin ia jujur tentang hal yang intim tersebut,bisa-bisa ia akan ditertawai oleh Ayahnya karena dirinya yang tidak berdaya saat berada dibawah godaan wanita malam itu.Dan akan dikemanakan wajah tebalnya nanti,kalau sampai Ayahnya mengetahui hal tersebut.
"Ayah..." panggil Sebastian dengan nada pelannya,saat ia belum mendapatkan satu katapun jawaban dari Ayahnya yang malah masih tetap dengan diamnya dan terus menatapnya sedari 2 menit yang lalu.
"Apakah kamu sudah menceritakan semuanya dengan benar?" tanya Ayah untuk memastikannya saja,ia berpikir mana tahu saja ada yang terlewatkan.
"Tentu saja sudah benar,Yah..." jawab Sebastian dengan cepat,sambil berpura-pura menatap serius kearah Ayahnya.
"Baiklah..." ucap Ayah setelah ia sudah selesai menghela napas dengan berat,karena mendengar dari ceritanya Sebastian tadi,ia bisa langsung mengerti kalau wanita yang bernama Jennifer tersebut sedang jatuh cinta sama putra tampannya ini.Dan tentang Pak tua tersebut...Ya,hanya hal itulah yang membuat dirinya merasa khawatir dengan ketentraman dan juga keselamatan putranya.
"Apa kamu akan menerima tawaran dari pria tua itu?" tanya Ayah dengan wajah seriusnya,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajahnya Sebastian.
__ADS_1
"Mungkin,aku tidak akan menerimanya.Apa Ayah tahu,kalau hanya beberapa puluh menit saja aku berdekatan sama wanita tersebut,kepalaku tidak akan mampu berpikir dengan baik.Bagaimana kalau kami terus berdekatan setiap hari,atau mungkin saja akan terus berdekatan setiap waktu,bisa-bisa aku akan berhenti bernapas saat itu juga" jawab Sebastian dengan nada lambat dijawabannya,dan dengan nada kesalnya diperkataan selanjutnya.
Hingga mampu membuat Ayah harus menahan tawanya karena Ayah melihat wajah kesal dan jawaban lambatnya Sebastian tadi,dan hal itu berhasil mengingatkan pada dirinya ketika dulu istrinya terus saja mengejarnya.Hingga mampu membuat dirinya terus saja merasakan kesal,tapi ternyata hal tersebut malah berakhir dengan pernikahan mereka berdua yang dipenuhi rasa cinta sampai saat ini.