Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 31


__ADS_3

"Ntahlah..." jawab Erik dengan nada pelannya,sambil meminum kopi buatannya sendiri.


"Apa kita salah,karena telah meninggalkan Sebastian tadi malam?" tanya Elvan dengan wajah bersalahnya,sambil terus menatap kearah pintu ruangannya Sebastian yang terletak agak jauh dari pandangannya itu.


"Kita bukan hanya meninggalkannya saja,tapi kita juga meninggalkan banyak masalah padanya tadi malam..." timpal Elisa dengan wajah yang juga ikut merasa bersalah,saat ia memikirkan tentang jebakan dan sisa perkerjaan yang telah mereka tinggalkan tadi malam.


"Apakah kalian merasa,kalau sahabat kita itu begitu lemah,sampai tidak mampu mengatasi semua itu dan menghadapi seorang wanita saja?" tanya Erik balik dengan nada malasnya,tanpa menatap kearah Elvan.


Ia sama sekali tidak merasa bersalah karena ia merasa kalau wanita yang seperti bidadari itu sangat serasi kalau berdampingan sama Sebastian dan ia akan sangat mendukungnya kalau hal tersebut terkabul.Apa lagi,saat ia bisa melihat jelas tatapan cintanya Jennifer untuk Sebastian tadi malam,hingga membuat dirinya semakin yakin kalau jebakan yang sengaja ia buat untuk sahabatnya Sebastian tadi malam tidaklah salah.


"Tidak.Tapi apa yang telah terjadi sama wajahnya? Kalau kedua matanya,mungkin saja kurang tidur.Tapi,,bagaimana dengan bibirnya?" jawab Elvan dengan bertanyanya kembali,sambil menyesap wine miliknya.


"Apa karena Sebastian telah berani menc**m Nona Jennifer,,,,,,Iya pasti begitu,makanya Sebastian mendapatkan luka disudut bibirnya karena Nona Jennifer marah dan menamparnya..." timpal Elisa dengan tebakannya sendiri dan wajah yakinnya.


Karena setahu dirinya,tidak sedikit wanita yang akan menampar kalau mereka menganggap itu kurang ajar ataupun memalukan.Tanpa ia tahu,kalau yang terjadi,malah sebaliknya.


"Apa kamu pernah melihat Sebastian berlaku kurang ajar sama wanita manapun?" kali ini Elvan yang bertanya dengan nada malasnya, ia sangat tahu bagaimana Sebastian,Sebastian tidak akan sebrengsek itu.Karena mereka ber 4 memang selalu bersama-sama hampir dalam semua kegiatan,selama beberapa tahun kebelakang ini.


"Bahkan sama Siska saja,belum tentu ia sentuh.Sebastian tidak akan Sebrengsek itu..." timpal Erik lagi,dengan nada seriusnya,karena ia sependapat sama Elvan.


"Benar juga sih...Tapi mungkin juga kan,,,Mana tahu saja,malam tadi Sebastian sedang khilaf..." ucap Elisa dengan kepala yang mengangguk-ngangguk pelan karena ia merasa kalau perkataannya Elvan dan Erik tadi ada benarnya juga,tapi ia juga tetap pada tebakan awalnya tadi.


"Apa kita dobrak saja pintu itu?" tanya Elvan yang sudah mulai tidak sabaran,ia juga mengabaikan perkataannya Elisa barusan.


"Jangan " jawab Erik dan Elisa dengan nada yang sedikit tinggi,dan secara serentak.


Akhirnya,mereka ber 3 pun terus saja saling beransumsi sendiri dengan beberapa tebakan mereka lagi untuk beberapa menit kedepan,dan dengan mata mereka yang terus fokus pada pintu ruangan tersebut yang masih dalam keadaan tertutup.Hingga tidak menyadari kalau salah satu karyawan sedang memanggil dengan beberapa pria berjas yang sedang mengikuti dibelakangnya...


"Pak..." panggil karyawan tersebut dengan nada tingginya dan wajah yang sedang menahan rasa kesal,karena ntah sudah berapa kali ia memanggil pria yang berkuasa atas Restoran tersebut setelah Sebastian,tapi tidak juga ada sahutan dari mereka ber 3.


"I iya..." jawab Erik dengan cepat dan wajah kagetnya,karena ia langsung tersentak gara-gara suara tingginya karyawan tersebut.Bagitu juga dengan Elvan dan juga Elisa yang langsung mengelus-elus dada mereka karena rasa kaget mereka barusan.


Sedangkan karyawan tersebut,ia langsung bernapas lega saat panggilannya yang ke 6 itu sudah direspon oleh Erik.Berbeda dengan beberapa pria berjas yang berada dibelakangnya,mereka hanya berwajah datar saja.


"Ada apa?" tanya Erik sambil menatap kesal kearah karyawan tersebut karena dipanggil dengan suara tinggi tadi,lalu tatapannya beralih kearah beberapa pria berjas yang sudah ada disampingnya karyawan tersebut,dan tatapan matanyapun diikuti oleh Elvan dan juga Elisa.


"Pak,orang-orang ini bilang,mereka ingin mencari Pak Sebastian" jawab karyawan tersebut dengan cepat,sambil menatap sebentar kearah beberapa pria berjas tersebut yang mampu membuat bulu kuduknya terus merinding sedari tadi.


Mendengar jawaban dari karyawan tersebut,Erik dan yang lainnya pun langsung berdiri perlahan dari duduk mereka,tanpa mengalihkan tatapan waspada mereka kearah beberapa pria berjas tersebut.


"Ada perlu apa,kalian mencari Sebastian?" tanya Erik dengan nada tegasnya,mana tahu saja mereka itu adalah musuh.Walaupun ia tahu kalau Sebastian tidak pernah memiliki musuh,tapi tetap saja ia dan yang lainnya harus berhati-hati.


"Itu bukan urusan kalian.Sekarang,cepat panggil sahabat kalian itu keluar" jawab Salah satu pria-pria berjas tersebut dengan nada tegasnya juga.


"Asal kalian tahu,kalau semua yang berkaitan dengan sahabat kami,itu semua termasuk urusan kami juga" ucap Erik dengan nada tidak kalah tegasnya sama pria berjas tersebut,dan diangguki pelan oleh Elvan dan juga Elisa.


"Apa kalian tidak takut sama ini,ha " tanya pria berjas tersebut sambil memperlihatkan pistolnya pada ke 3 orang yang ia anggap penghalang itu.

__ADS_1


Erik,Elvan dan Elisa yang melihat pistol tersebutpun langsung menjadi takut,bingung,khawatir yang sudah bercampur menjadi satu.Sedangkan yang lainnya,mereka semua langsung merasa takut,mereka semuapun langsung menyingkir dari sana dengan jarak jauh.


"Tidak..." jawab Erik,Elvan dan Elisa secara bersamaan,dengan wajah pura-pura beraninya.Setelah berpikir selama sekitar 50 detik,mereka ber 3 pun lebih memilih untuk memberanikan diri mereka,karena lebih memikirkan nyawa sahabatnya Sebastian yang masih betah berada didalam ruangannya.


Sedangkan beberapa pria berjas tadipun,hanya mampu menghembus napas kasar saat mereka melihat tingkah berani ke 3 orang tersebut.


Ia dan teman-temannya sudah tidak memiliki waktu banyak lagi untuk meladeni ke 3 orang tersebut.Sepertinya mereka harus menerobos masuk dan mencari Sebastian,dengan cara paksa.Jika tidak,mereka semua pasti akan mendapatkan amukan dari Tuan mereka nanti.


"Baiklah,kalau itu maunya kalian" ucap pria berjas tersebut dengan wajah seriusnya,sambil berpura-pura mengangkat pistolnya,dan terlihat seperti sedang bersiap-siap akan menembak.


Hingga mampu membuat Erik,Elvan dan juga Elisa, langsung menutup kedua matanya mereka dengan cepat dan wajah pasrah mereka karena tidak sanggup melawan lagi.Dan yang lebih parahnya lagi,mereka ber 3 sama sekali tidak tahu bela diri.


Lagi-lagi beberapa pria berjas tadi kembali menghembus napas kasar karena melihat ke 3 orang tersebut yang ternyata benar-benar tidak takut mati.


Salah satu dari merekapun segera memberi isyarat,kalau mereka tidak perlu memperdulikan ke 3 orang tersebut lagi,karena mereka harus segera melakukan perintah dari Tuan mereka tadi.


Sedangkan Erik,Elvan dan Elisa yang tidak merasakan dan mendengarkan apa-apapun,segera membuka kedua mata mereka dengan perlahan-lahan.


"Dimana mereka?" tanya Elisa dengan wajah bingungnya,kenapa pria-pria berjas tadi sudah tidak kelihatan lagi dihadapan mereka.


"****..." umpat Erik dengan nada kesalnya saat ia melihat punggung-punggung pria berjas tersebut yang ternyata sedang berjalan kearah ruangannya Sebastian,lalu iapun segera berlari kearah mereka dengan wajah khawatirnya dan langsung diikuti Elvan dan Elisa yang juga baru melihat apa yang dilihat oleh Erik.


Didepan ruangannya Sebastian...


"Tok tok tok " terdengar suara pintu yang diketuk dari luar ruangan,tapi pria yang ada didalamnya tidak juga membuka pintu ataupun sekedar mengeluarkan suara saja.


"Menyingkirlah dari hadapan kami..." ucap pria berjas tersebut dengan nada kesalnya,karena lagi-lagi tugasnya dihalangi lagi.


"Tidak,aku tidak akan menyingkir,sebelum kalian pergi dari sini" jawab Erik dengan nada marah dan tatapan waspada kearah pria berjas tersebut.


"Pegang dia..." perintah pria berjas tersebut pada teman-temannya,tanpa mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang menghalanginya itu.


Tanpa banyak bicara lagi,teman-temannya pun langsung menangkap Erik dan menyeretnya agak kesamping dan mengabaikan teriakannya Erik.


"Hei,lepaskan aku.Kalian jangan macam-macam disini,aku akan segera melaporkan kalian atas tindakan paksa kalian ini.Cepat,lepaskan aku" ucap Erik dengan nada tingginya,sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman kuat mereka tapi tidak berhasil.


Sedangkan Elvan dan Elisa,mereka berdua hanya mampu berdiam diri ditempatnya,antara mau membantu Erik atau tidak.Apa lagi,saat mereka memikirkan kalau tidak ada gunanya mereka membantu,karena mereka berdua juga tidak akan mampu melawan mereka.


Beberapa detik kemudian...


"Dorr..."


"Arghhh..."


Terdengar suara tembakan dan suara pekikan kagetnya Elisa secara bersamaan,sedangkan Elvan dan Erik hanya tersentak kaget saja.


"Brak..." pria berjas yang telah menembakkan pelurunya kearah gagang pintu ruangan tersebutpun,langsung menendang pintu tersebut hingga terbuka lebar.

__ADS_1


Merekapun masuk kedalam ruangan tersebut satu persatu,termasuk Erik yang sudah dilepas,dan Elvan dan juga Elisa yang sedang sama-sama merasa khawatir sama Sebastian.


Sedangkan didalam ruangan...


"****..." umpat Sebastian dengan nada kesalnya sambil memegang kepalanya,saat ia merasakan kepalanya yang berdenyut dengan kuat karena tidurnya dibangunkan secara paksa.


Saat ia sudah selesai makan siang tadi,ia tertidur dengan posisi duduk dikursi kerjanya.Tapi saat ini ia malah terbangun dari tidurnya,saat ia mendengar suara tembakan tadi,ditambah lagi dengan dobrakan pintu barusan,hingga membuat kepalanya langsung berdenyut hebat.


"Apa-apaan kalian ini?" tanya Sebastian lagi,saat denyutan dikepalanya sudah mulai berkurang,sambil menatap satu persatu semua orang yang sudah berada dihadapannya saat ini,dengan kedua matanya yang sedikit menyipit.


"Siapa kalian?" tanya Sebastian lagi,saat ia baru melihat dengan jelas,kalau bukan hanya ke 3 sahabatnya saja yang ada didalam ruangannya.


Sedangkan Erik,Elvan dan Elisa,sedari tadi mereka ber 3 sedang berdiri sambil terus menatap tidak percaya kearah Sebastian yang sedang duduk tegak dikursi kerjanya dengan sebelah tangan yang masih memegang kepalanya dan kedua mata yang sudah terbuka sempurna.Dan yang membuat mereka tidak percaya,karena mereka melihat jelas wajah ngantuknya Sebastian yang seperti baru bangun tidur.


Berbeda dengan pria-pria berjas tersebut yang masih tetap bersabar,dan memberi Sebastian sedikit waktu untuk menghilangkan denyutan dikepalanya.


"Bas,apa yang sedang kamu lakukan didalam sini,sedari tadi?" tanya Erik dengan nada kesalnya,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian,dan melupakan keberadaan pria-pria berjas tersebut untuk sejenak.


"Aku? Tentu saja,aku sedang tidur.Memangnya kenapa?" jawab Sebastian dengan jujur dan wajah tenangnya,saat ia mendengar pertanyaan dari Erik barusan.


"Ya,Tuhan...Padahal diluar tadi,kami terus saja mengkhawatirkan dirimu,tapi ternyata kamu sedang enak-enakan tidur didalam sini" jawab Erik dengan nada kesalnya,sambil mengusap kasar wajah kesalnya.


Elvan dan Elisapun juga ikut-ikutan merasa kesal,tapi mereka berdua hanya mampu menghela napas kesal,saat apa yang mereka pikirkan barusan memang benar adanya.Bahkan rasa bersalah mereka tadi,langsung menghilang begitu saja.


"Sebenarnya,apa yang telah terjadi padamu?" tanya Erik lagi,dengan wajah penasarannya yang sudah bercampur rasa kesal.


"Aku? Aku......" Sebastian tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena sedang sibuk memikirkan,bagaimana caranya ia mengatakan tentang tadi malam.


"Setelah apa yang telah kamu perbuat tadi malam...Sekarang kamu masih bisa bertanya padaku,apa yang telah terjadi sama aku?" tanya Sebastian lagi,setelah ia mendapatkan jawaban yang tepat,sambil menatap kesal kearah Erik yang sedang berdiri disampingnya,saat ia mengingat kembali apa yang telah dilakukan oleh Erik tadi malam.


Erikpun langsung tersenyum cenges-ngesan dan bingung mau menjawab apa,sambil menggaruk-garuk pelan tengkuk lehernya.


"Tuan Muda,sekarang tolong ikut kami sebentar..." pinta pria berjas tersebut secara tiba-tiba,hingga mampu membuat Erik dan Sebastian langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pria berjas tersebut.


"Siapa kalian?" tanya Sebastian dengan wajah bingungnya dan juga penasaran, sambil berdiri dari duduknya.Apa lagi,saat ia mendengar kata Tuan Muda dari pria berjas tersebut,mengingatkan dirinya pada pak tua.


"What? Tuan Muda?" tanya Erik,Elvan dan Elisa secara bersamaan,lagi-lagi mereka ber 3 harus menampilkan wajah tidak percaya mereka,sambil menatap pria-pria berjas dan Sebastian secara bergantian.


"Tuan Muda,kami sudah tidak punya waktu banyak lagi.Bisakah, Tuan Muda mengikuti kami terlebih dahulu?" tanya pria berjas tersebut dan mengabaikan pertanyaan ke 3 orang tersebut.


"Tidak,sebelum aku mengetahui apa tujuan kalian,dengan menyuruhku untuk mengikuti kalian saat ini.." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,ia sangat yakin kalau pria-pria berjas tersebut pasti orang-orangnya pak tua itu.


"Tuan Muda,kalau begitu,jangan salahkan kami kalau kami akan bersikap kasar..." ucap pria berjas tersebut dengan wajah tegasnya,sambil mengisyaratkan pada teman-temannya agar segera membawa paksa calon Tuan Muda mereka,karena waktu mereka hanya tinggal sedikit lagi.


"Berhenti disitu,aku bisa sendiri..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya dan wajah pasrahnya, sambil menunjuk kearah beberapa pria berjas yang berniat ingin berjalan mendekatinya.


"Aku titip Restoran pada kalian untuk sementara..." lanjut Sebastian dengan nada tegasnya,lalu ia segera berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut dengan langkah lebarnya,dan melewati ke 3 sahabatnya dan para pria berjas tersebut dengan wajah malasnya.

__ADS_1


Ia terus bertanya-tanya didalam hatinya...Apa sebenarnya,maksud dari pak tua itu,sampai harus membuat keributan ditempat kerjanya seperti ini.


__ADS_2