Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 32


__ADS_3

Para pria berjas tersebutpun segera mengikuti langkahnya Sebastian,dengan meninggalkan beberapa untuk mengatasi ke 3 sahabatnya Sebastian itu.


"Bas,apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sedang tidak waras? Mengikuti sembarangan orang yang tidak kita kenal,dan tanpa tahu tujuan mereka apa..." teriak Erik dengan nada khawatir,kesal dan bingungnya yang sudah menjadi satu,tapi malah diabaikan oleh Sebastian.


Ia berniat ingin mengejar Sebastian,tapi sayangnya langkahnya dihadang oleh beberapa pria berjas yang masih tinggal tadi,begitu juga dengan langkahnya Elvan dan Elisa.


"Bagaimana ini?" tanya Elisa dengan nada khawatirnya juga,ia hanya mampu menatap punggung lebarnya Sebastian yang semakin lama semakin menjauh,dan bahkan mulai menghilang.


"Apa mungkin,Sebastian memang mengenal mereka? Apa kalian tidak melihat,kalau Sebastian mengikuti mereka dengan begitu tenang dan gagah,benar-benar seperti seorang Tuan Muda yang sedang berjalan dengan beberapa pengawalnya" timpal Elvan yang memang sedikit lebih tenang dari mereka berdua,karena tidak ada rasa takut ataupun tegang yang ia lihat diwajahnya Sebastian.


"Apa tadi kalian tidak mendengar ,kalau mereka memanggilnya Tuan Muda?" tanya Elvan lagi,dengan wajah penasarannya.


"Benar juga ya...Sejak kapan,Sebastian menjadi seorang Tuan Muda?" tanya Elisa dengan wajah khawatir yang sudah berangsur-angsur mengurang saat ia mendengar perkataannya Elvan hang terdengar masuk akal itu.


"Aku juga baru tahu..." timpal Erik lagi,dengan wajah yang sama penasarannya dengan Elvan.


"Sudahlah.Lebih baik kita pergi berkerja saja,dan tunggu Sebastian pulang,baru kita akan tahu apa sebenarnya yang telah terjadi?" ucap Elvan dengan nada pelannya,sambil berjalan melewati 2,3 pria berjas yang masih tinggal tadi.


"Kamu benar.Dan kalian, bereskan kekacauan yang telah kalian lakukan tadi,atau aku akan melaporkan kalian kekantor polisi" ucap Erik dengan wajah kesalnya,sambil melirik sekilas kearah pintu ruangan tersebut yang telah rusak,lalu ia menatap kesal kearah 3 pria berjas tersebut yang masih saja berdiri tegak disekitarnya.


Lalu iapun langsung mengikuti langkahnya,dan dengan mengandeng pelan tangannya Elisa yang langsung mengikuti Erik sambil memikirkan tentang Sebastian yang ntah akan pulang dengan keadaan hidup atau tidak.


Sedangkan 3 pria berjas tersebut yang masih tinggal itu,mereka ber 3 pun segera melakukan apa yang dikatakan oleh Erik tadi,setelah mereka sudah memastikan kalau ke 3 sahabat tersebut tidak mengejar Sebastian.Lagi pula, memperbaiki pintu yang rusak tersebut termasuk salah satu alasan mereka masih berada didalam ruangan tersebut.


Diluar Restoran...


"Tuan Muda,silakan masuk..." ucap salah satu pria berjas tadi,saat ia melihat Sebastian yang terlihat tidak ingin masuk kedalam mobil.


Sebastianpun menghela napas pelan dan segera masuk kedalam mobil tersebut dengan terpaksa.Suasana hatinya masih tetap buruk sama seperti malam tadi,ditambah lagi dengan rasa ngantuknya yang masih belum hilang sepenuhnya karena tadi malam ia tidur terlalu larut malam.Sekarang,ntah kejutan apa lagi yang akan ia dapatkan.


Asisten Pak tua tersebut yang memang biasanya selalu menjadi supir untuk Pak tua tersebutpun langsung melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang,setelah ia melihat kalau Sebastian sudah masuk dan duduk dengan baik didalam mobil.


"Hoamm..." nguap Sebastian dengan sisa ngantuknya tadi,sambil menyandarkan kepalanya kebelakang.Karena rasa ngantuknya,ia tidak menyadari kalau masih ada seseorang lagi yang sedang duduk disampingnya


"Apa kamu sebegitu ngantuknya,sampai tidak bisa melihat kalau aku sedang duduk disini?" tanya seseorang tersebut dengan nada santainya,sambil menatap heran kearah Sebastian.


Ia jadi berpikir,ternyata tingkat kewaspadaannya Sebastian masih kurang,dan itu perlu dipertingkatkan menurutnya.


"Ya,Tuhan" ucap Sebastian dengan wajah kagetnya,sambil duduk dengan tegak kembali dan mengelus-elus pelan dadanya.


"Pak tua,apa kamu perlu mengejutkanku seperti itu?" tanya Sebastian balik dengan wajah kesalnya,sambil menggusar rambutnya dengan kesal.


Ia tidak begitu memerhatikannya,karena rasa ngantuknya tadi.Lagi pula,ia sudah merasa aman saat ia melihat Asistennya Pak tua tersebut yang sedang duduk didepan kemudi dan menyetir itu.


"Salah kamu sendiri,kenapa kamu sampai tidak menyadari kalau aku ada disini,padahal tubuhku lumayan besar" jawab Pak tua tersebut dengan wajah datarnya,sambil menelisik wajah tampannya Sebastian yang terlihat agak berbeda hari ini.


"Apa tadi malam,kamu benar-benar tidur jam 5 pagi?" tanya Pak tua tersebut,dengan nada herannya,karena ia bisa melihat jelas wajah ngantuknya Sebastian saat ini.

__ADS_1


"Pak tua,dari mana kamu bisa tahu kalau aku baru tidur jam 5 pagi?" tanya Sebastian balik dengan wajah penasarannya,karena tadi malam ia memang benar-benar jam 5 pagi baru bisa tidur,tapi dari mana Pak tua tersebut bisa tahu.


Ia tidak bisa tidur karena wajah cantiknya Jennifer dan kalimat-kalimat mutiara yang telah diucapkan oleh Jennifer tadi malam,terus saja terbayang-bayang dan terngiang-ngiang didalam kepalanya.Hingga mampu membuat dirinya menjadi kesulitan tidur,tadi malam.


"Menurutmu?" tanya Pak tua tersebut balik,sambil menatap kedepan dan mengingat kembali laporan dari anak buahnya yang mengatakan kalau kamar tidurnya Sebastian terus hidup sampai jam 5 pagi.Awalnya ia tidak percaya,tapi saat ia melihat wajah tampannya Sebastian yang saat ini,ia akhirnya percaya.


Sebastian langsung mendengkus kesal saat ia sudah mengerti apa maksud dari Pak tua tersebut,iapun kembali menyandarkan kepalanya kebelakang dengan wajah kesalnya.


Tidak heran kalau Pak tua tersebut bisa tahu sebelum ia menjawab,melihat dari banyaknya anak buahnya Pak tua tersebut yang notabene seorang mafia,dan akan selalu bisa melakukan apa saja.


"Apa yang telah membuat dirimu sampai kesulitan untuk tidur,hm?" tanya Pak tua lagi,tanpa menatap kearah Sebastian.Sebenarnya ia bisa saja menebak,hanya saja ia sengaja ingin membuat Sebastian merasa semakin kesal saja.


"Semua itu gara-gara......" jawab Sebastian tapi ia berhenti menjawab,saat ia mengingat sesuatu.


'Apa aku harus menjawabnya? Tidak,tidak perlu.Itu pasti akan terdengar sangat memalukan.Pak tua ini pasti akan menertawakan aku,kalau aku menjawabnya' tanya Sebastian pada dirinya sendiri didalam hatinya,sambil menatap kesal kearah wajahnya Pak tua tersebut dari samping.


"Apakah tadi malam,telah terjadi sesuatu padamu? Sampai kamu harus tidur jam 5 pagi?" tanya Pak tua lagi,ia semakin sengaja,saat ia mendengar jawaban dari Sebastian yang belum selesai itu.


"Berhentilah bertanya hal-hal yang sudah kamu ketahui,Pak tua..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia baru menyadari ekspresi sengaja diwajahnya Pak tua tersebut.Berbeda dengan Pak tua tersebut yang langsung tersenyum lucu.


Ia tidur jam 5 pagi saja tahu,ia yakin kalau Pak tua tersebut pasti sudah tahu,tentang apa saja yang telah terjadi padanya malam tadi.


"Aku tidak mengetahui secara detail,aku hanya tahu sedikit saja" ucap Pak tua tersebut dengan jujur,sambil tersenyum santai.Ia memang hanya tahu sedikit saja,karena Jennifer sangat tidak menyukai kalau hal intimnya diintai.


"Itu lebih bagus.Dan sekarang katakan padaku,apa maksudmu dengan mengutus anak buahmu untuk membawaku? Dan Pak tua, kita akan kemana sekarang?" tanya Sebastian lagi,dengan nada santainya kembali,sambil menatap penasaran kearah Pak tua tersebut.Lalu ia menelisik jalan yang sedang mereka lalui.


"Bersabarlah...Sebentar lagi,kamu juga akan tahu.Dan aku sudah katakan padamu dari awal,berhenti memanggilku Pak tua..." jawab Pak tua dengan nada santainya,sambil ikut menyandarkan kepalanya seperti apa yang sedang dilakukan oleh Sebastian tadi.


"Tidurlah dulu,perjalanannya masih ada sekitar 30 menit lagi" lanjut Pak tua tersebut lagi,tanpa membuka matanya.


Sebastian yang sudah malas berdebat dan juga memang sedang ngantuk,iapun langsung ikut memejamkan kedua matanya dengan perlahan-lahan.


30 menit kemudian...


"Nak..." panggil Pak tua tersebut dengan nada yang agak sedikit tinggi,sambil menggoyang-goyangkan pelan bahunya Sebastian yang ternyata benar-benar tertidur.


Ternyata perangkap cinta yang diberikan oleh Jennifer pada Sebastian tadi malam,hasilnya sudah mulai terlihat.


Sebastianpun langsung terbangun dari tidurnya,dengan mengucek-ngucek pelan kedua matanya yang belum tersadar sepenuh itu.


"Kita ada dimana?" tanya Sebastian setelah kedua matanya sudah bisa terbuka sempurna, sambil menelisik tempat mereka berhenti,melalui jendela mobil tersebut.


Sedangkan Pak tua tersebut,ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan ,saat ia melihat Sebastian yang terlihat sedikit kacau dengan wajah ngantuknya itu.


"Bukankah ini Bandara? Buat apa kita berada di Bandara,Pak tu,Paman?" tanya Sebastian lagi,setelah ia sudah melihat jelas tempat apa yang menjadi pemberhentian mereka saat ini.Ia juga langsung merubah panggilannya terhadap Pak tua tersebut,saat ia mengingat pesannya Pak tua tadi.


"Cobalah kamu fokus kesana..." jawab Pak tua tersebut dengan nada santainya,sambil menunjuk kearah seorang wanita cantik yang sedang berdiri diantara orang-orang yang sedang berjalan keluar masuk didalam bandara tersebut,tanpa membuka jendela mobilnya.

__ADS_1


Sebastianpun langsung menurut dan menelisik arah tunjuknya Pak tua tersebut.


Beberapa menit kemudian...


"Bukankah itu......" ucapan Sebastian langsung disela oleh Pak tua tersebut,sebelum Sebastian sempat menyelesaikan kalimatnya.


"Iya,wanita itu adalah Jennifer Amora Naava.Aku rasa,aku tidak perlu memperkenalkan kalian berdua lagi" sela Pak tua tersebut dengan cepat,sambil terus tersenyum dan menatap keponakannya yang sudah akan berangkat ke Australia.


"What?" tanya Sebastian dengan wajah tidak percayanya,sambil menatap kearah Pak tua dan Jennifer secara bergantian.


"Bagaimana? Apa kamu punya pertanyaan padaku sekarang?" tanya Pak tua balik,dengan wajah yang tersenyum lucu saat ia melihat wajah tidak percayanya Sebastian saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia hanya diam saja sambil terus menelisik kearah Jennifer dan Pak tua tersbeut secara bergantian.


"Ada hubungan apa,kalian berdua?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,setelah terdiam untuk beberapa menit.


"Aku pamannya" jawab Pak tua tersebut dengan wajah tegasnya kembali ,sambil mengetik sesuatu diHPnya untuk mengirim salam perpisahan kepada Jennifer.Ia sangat suka,sama sikapnya Sebastian yang tidak suka bertele-tele.


Sebastian kembali terdiam saat ia mendengar jawaban dari Pak tua,ia sedang sibuk mencerna jawaban singkat Pak tua tersebut,sambil terus menatap kearah Jennifer yang juga sedang sibuk mengetik sesuatu diHPnya dengan wajah yang terus tersenyum.


"Apa kamu sedang bercanda,paman?" tanya Sebastian lagi,ia masih merasa tidak percaya kalau ternyata ia harus terjebak dengan 2 orang yang memiliki hubungan dekat,2 orang yang berstatus keponakan yang menyebalkan dan pamannya ini.


"Apa wajahku terlihat sedang bercanda,hm? " tanya Pak tua balik,sambil menatap kesal kearah Sebastian karena terus saja menganggap dirinya sedang bercanda.Kemudian ia tersenyum,saat ia melihat Sebastian yang tidak henti-hentinya menatap keponakannya.


"Tidak" jawab Sebastian singkat.


'Mimpi apa aku,semalam.Kenapa aku malah bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan akhir-akhir ini' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,tapi kedua matanya terus fokus kearah Jennifer yang sudah mulai berpelukan dan berpamitan pada keluarganya.


"Tapi buat apa kamu membawa aku kesini? Apa kamu membawa aku kesini,hanya untuk melihat keponakanmu saja,paman?" tanya Sebastian dengan wajah bingungnya,saat ia mengingat kembali dimana dirinya berada saat ini.


"Aku hanya ingin kamu melihat keberangkatannya Jennifer saja,supaya nanti kamu tidak akan begitu merindukannya" jawab Pak tua dengan wajah yang sedang menahan tawanya,saat ia melihat tatapannya Sebastian yang terus saja kearah Jennifer tadi, langsung beralih kesembarang arah.


"Cih...Memangnya apa peduliku? Apa kamu ini memang orang yang sangat suka bercanda,paman?" tanya Sebastian dengan cepat,sambil menatap kesal kearah Pak tua tersebut.


Walaupun memang ia akui,rasa ngantuknya langsung menghilang saat ia melihat keberadaan Jennifer tadi.Tapi apa yang dikatakan oleh Pak tua tadi,menurutnya itu sangat berlebihan.


"Apa wajahku ini terlihat sangat ramah sampai kamu terus mengatakan diriku sedang bercanda sedari tadi?" tanya Pak tua tersebut dengan wajah santainya,sambil membalas chat dari Jennifer.


Sebastian hanya diam saja dengan wajah malas dan juga kesalnya,sambil memerhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Pak tua tersebut.


"Biar aku perjelaskan,aku tidak suka bercanda.Apa lagi,kalau hal tersebut sudah menyangkut tentang keponakanku" lanjut Pak tua lagi.


"Dan apa kamu sudah benar-benar yakin,kalau kamu memang tidak peduli?" tanya Pak tua lagi,sambil mengalihkan tatapannya dan menelisik kearah wajah tampannya Sebastian,walaupun masih ada sedikit kantong mata dan sudut bibir yang sedikit membiru.


"Kenapa kamu harus balas membalas chat didalam mobil sini,padahal kamu bisa langsung kesana saja,untuk menyampaikan kata-kata manis dan berpelukan,seperti apa yang mereka lakukan disana.Dasar aneh..." ucap Sebastian,dan mengabaikan pertanyaannya Pak tua tersebut.


Ia mengerti apa maksudnya Pak tua tadi.Tapi menurutnya,hanya ada rasa sebal saja yang ia rasakan kalau berdekatan denganJennifer.Bahkan mungkin saja,ia sedang merasa senang saat ini,karena sudah dipastikan kalau mereka berdua tidak akan bertemu lagi, dalam waktu yang agak lama.

__ADS_1


"Kalau saja bisa,aku tidak akan balas chat sambil duduk didalam mobil ini" ucap Pak tua dengan wajah seriusnya,sambil mengalihkan tatapannya kearah Jennifer yang sedikit lagi akan masuk kedalam pesawat.


"Memangnya kenapa? Apa kalian berdua sedang memiliki masalah?" tanya Sebastian dengan wajah penasarannya,sambil menatap sebentar kearah Jennifer,lalu kembali kearah Pak tua tersebut.


__ADS_2