
Tapi ia telah terbiasa dengan sikap kejam Tuan Haddennya,jadi ia lebih suka kalau Tuan Mudanya akan bersikap sama seperti Tuan Haddennya saja,jika hal tersebut telah berkaitan tentang nyawa.
Ya,walaupun Tuan Mudanya memang sudah begitu adanya,dan hanya 2 kali saja yang bersikap baik seperti ini.
"A apa yang harus aku lakukan,Tuan? Aku pasti akan melakukan semampuku..." tanya pria tersebut dengan perasaan penasaran dibalik wajah takutnya,tanpa berhenti menekan luka dilengannya supaya darah yang keluar dari lengannya tidak akan melaju.
"Kamu harus berhenti mencari uang dari hasil perkerjaan ilegal kamu ini,dan carilah perkerjaan yang bagus untuk dirimu sendiri dan juga untuk anak buahmu yang lainnya..." perintah Sebastian dengan wajah tegasnya dan juga serius.
"Ta tapi Tuan........." pria tersebut yang merasa keberatan itupun hanya mampu terdiam kembali, saat Sebastian langsung menyelanya dengan cepat.
"Jika kamu merasa keberatan...Jangan salahkan aku,kalau nyawamu ini tidak akan mampu bertahan hingga tengah malam nanti..." sela Sebastian dengan nada santainya,sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kedua saku celananya.
"Baik,baik,Tuan...Aku pasti akan melakukan apa yang telah Tuan katakan tadi..." ucap pria tersebut dengan cepat dan wajah pasrahnya,tapi ekspresi takut masih terlihat jelas diwajahnya.
"Bagus.Jika aku sampai mengetahui kalau kamu telah mengingkarinya atau kamu kembali menganggu istriku..." ucap Sebastian dengan tatapan tajamnya,tapi kemudian ia menjeda katanya diakhir kalimatnya,sambil berjalan 1 langkah untuk mendekatkan wajah seriusnya kewajah takutnya pria tersebut.
"Ingat...Jika semua itu sampai terjadi,saat itu juga aku akan segera menjemput kedua putra dan putrimu untuk membalas keberanianmu padaku. 1Setelah itu,kamu pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada mereka bukan... ?" lanjut Sebastian dengan nada tegasnya,lalu ia kembali menjauhkan wajahnya dari wajahnya pria tersebut.
Padahal ia hanya mengancam saja,karena ia tidak suka bersikap kejam pada anak-anak yang sama sekali tidak tahu apa-apa,dan ia yakin kalau ancamannya tentang kedua anak tersebut mampu membuat pria tersebut menepati janjinya
"Tidak,Tuan...Aku tidak akan pernah mengingkarinya,aku akan bersumpah dengan nyawaku sendiri,Tuan..." jawab pria tersebut dengan jujur,nada seriusnya,wajah takut,pucat dan khawatirnya yang bercampur menjadi satu,ia tidak akan pernah mau bermain-main dengan nyawa kedua anaknya yang masih berumur 10 tahun dan 12 tahun itu.
"Bagus...Seharusnya kamu bisa berpikir untuk berbuat yang terbaik untuk anak-anakmu,bukannya malah mencari uang dari hasil perkerjaan yang tidak seharusnya kamu lakukan ini,untuk anak-anakmu..." ucap Sebastian dengan singkat,sambil berbalik badan dan berjalan pergi dari sana.
"Baik,Tuan...Terima kasih,terima kasih,Tuan..." ucap pria tersebut dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,sambil menunduk hormat kearah punggung lebarnya Sebastian,walaupun wajahnya sudah terlihat pucat,tapi ia benar- benar merasa sangat senang karena telah diberi maaf oleh Sebastian.
Bukan tanpa alasan ia memaafkan pria tersebut,karena ia tidak tega terhadap kedua anaknya pria tersebut yang masih kecil-kecil.Lagi pula,ia hanya perlu mengincar dalangnya saja.
Tapi yang menjadi alasan paling utamanya,karena istrinya pria tersebut sudah meninggal pada 5 tahun yang lalu karena proses melahirkan.Jadi ia tidak tega,kalau ia harus melihat anak-anak tersebut sampai tidak memiliki seorang Ayah juga.
Sedangkan Billy,sepertinya ia bisa menebak apa yang telah menjadi alasan Tuan Mudanya yang malah berbaik hati kali ini,karena Tuan Mudanya itu memang cerdas,akan tahu tentang apapun tanpa ia lapor sekalipun.
Dan iapun hanya mampu menatap kesal kearah punggung lebar Tuan Mudanya tersebut,saat ini ia bisa menebak kalau beberapa saat lagi,Tuan Mudanya pasti akan memberinya perkerjaan baru lagi.
"Billy,urus semua mayat-mayat ini,dan barang-barang yang ada didalam ruko ini.Dan bawa pria itu kerumah sakit,aku akan pulang duluan..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya tanpa menghentikan langkahnya,sambil melemparkan pistol milik bawahannya tadi kearah salah satu bawahannya yang sedang berjejer rapi disekitarnya.
Lalu ia mengangkat sebelah tangannya sebentar dan melambaikan beberapa kali,ia bahkan tidak berniat ingin melihat wajahnya Billy yang pasti sedang kesal saat ini.
Sebastian bahkan tersenyum senang dalam hatinya karena ia berhasil membuat Billy merasa kesal yang ntah sudah keberapa kalinya malam ini,tapi sayangnya hanya Billy seorang saja yang tahu kalau dirinya sedang tersenyum senang dibalik wajah tegasnya tersebut.
__ADS_1
Rasa senangnya karena sedikit banyak,rasa galaunya akibat sikapnya Jennifer tadi sedikit mengurang, berkat kebersamaannya dengan Billy sedari tadi.Ia bahkan sama sekali tidak memikirkan, kalau dirumahnya sana bagaimana Jennifer yang terus menunggunya untuk bisa makan malam bersama.
Sekarang ia hanya berpikir ingin pulang untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya saja,dan ntah kenapa tiba-tiba saja ia merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh istri menyebalkannya itu,dijam 10 malam keatas seperti ini.
Tanpa sadar wajah tegasnya berubah menjadi senyuman kecil,padahal ia sudah mulai merasa rindu sama istrinya tersebut,saat mereka berjauhan seperti ini.
Sedangkan Billy,ia ntah sudah mendengkus kesal yang keberapa kalinya diruko sana.Apa lagi,saat ia melihat lambaian tangan Tuan Mudanya yang terlihat mengejeknya itu,lalu tatapan kesalnya pun beralih kearah pria tersebut.
"Kamu sangat beruntung,karena kali ini Tuan Muda kami telah memaafkan kamu.Asal kamu tahu saja, kamu adalah orang kedua selama 1 tahun ini yang telah Tuan Muda kami maafkan.Dari ratusan yang lainnya, hanya tinggal nama saja.Jika tidak tinggal nama, mereka pasti telah menjadi orang yang cacat sekarang..." ucap Billy dengan nada kesalnya dan panjang lebar tapi hal tersebut memang benar adanya,sambil bersedekap dada,Billy menelisik wajah pucatnya pria tersebut yang ternyata sudah tergeletak tidak berdaya disampingnya.
"Aku akan selalu mengingatnya,Tuan..." ucap pria tersebut dengan nada lambatnya karena tubuhnya seperti sudah hampir tidak bernyawa saja,tapi didalam lubuk hatinya yang paling dalam,ia merasa sangat bersyukur karena keberuntungannya tersebut.
Ya,walaupun ia harus menghentikan perkerjaannya yang sudah selama 10 tahun ini ia geluti itu.Lagi pula,perkataan pria muda yang bernama Sebastian tadi,yang baru pertama kali ia kenal itu ada benarnya juga.Dan setelah ini,ia mungkin akan kesulitan untuk mencari perkerjaan untuknya dan yang lainnya.
"Cih...Dasar...Seharusnya aku hanya perlu meninggalkan kamu disini saja dan membakar semua ini,lalu aku bisa pergi dari sini untuk beristirahat.Tapi lihatlah sekarang,apa yang telah dilakukan oleh pria arogant itu,dasar menyebalkan..." Billy langsung berdecih kesal dan menggerutu kesal,lalu ia menghela napas dengan berat.
"Cepat bawa dia kerumah sakit,sekarang juga..." perintah Billy pada beberapa bawahannya,sambil memijit pelan tengkuk lehernya karena merasa sengal-sengal,ia bahkan belum sempat mengistirahatkan tubuhnya dalam 1 hari ini, walaupun hanya untuk beberapa menit saja.
"Baik,Tuan..." jawab beberapa bawahannya dengan cepat,sambil membopong pria tersebut yang hampir sekarat itu.
"Terima kasih,Tuan..." pria tersebut langsung mengucapkan terima kasih dengan tulus dan nada lambatnya,sebelum beberapa orang itu benar-benar membawanya pergi dari sana.
"Merepotkan sekali..." keluh Billy dengan nada dan wajah kesal dan malasnya,sambil mengalihkan tatapannya kearah ruko yang berlantai 3 tersebut,ia juga mengabaikan ucapan terima kasih dari pria tersebut.
Kemudian ia kembali menghela napas dengan berat,selama beberapa kali,lalu tatapannya beralih kesekitarnya.
"Apa lagi yang kalian tunggu,hah?" tanya Billy dengan nada tinggi dan wajah kesalnya,saat ia baru menyadari kalau sedari tadi semua bawahannya itu hanya terus memerhatikan dirinya.
"Baik,Tuan..." jawab mereka semua dengan cepat dan nada gugup mereka karena merasa kaget karena terlalu sibuk mendengar gerutuan kesalnya dan melihat wajah kesalnya Billy sedari tadi,lalu mereka semua segera melakukan tugas mereka masing-masing.
"Dasar arogant..." umpat Billy dengan nada kesalnya,apa lagi saat ia melihat bawahannya yang terus memerhatikan dirinya tadi,padahal dengan Tuan Mudanya tadi,mereka bahkan tidak berani mengangkat kepala sedikitpun.
Kemudian Billy mengalihkan tatapan kesalnya kearah mayat-mayat yang sedang diurus oleh bawahannya,untuk dibakar,karena memang begitulah cara kerja mereka semua.
Lagi pula,akan sangat merepotkan kalau mereka harus menguburkan satu persatu semua mayat yang telah mereka bunuh disetiap bulan atau mungkin disetiap harinya.
Billy kembali menghela napas panjang dengan berat,saat ia baru menyadari kalau sekarang sudah hampir jam 11 malam.Lalu tanpa banyak bicara lagi, iapun segera membantu mereka semua, supaya perkerjaannya cepat selesai.
Ia bahkan sama sekali tidak berniat ingin menghitung,berapa banyak kali umpatan dan helaan napas yang telah keluar dari dalam mulutnya malam ini,dan itu semua berkat Tuan Mudanya.
__ADS_1
***
Dikediamannya Rendra...
Satpam yang sedang bertugas dirumah tersebut segera membuka pagar besi besar tersebut,saat ia langsung menyadari kepulangan Tuan mudanya,dari jarak puluhan kaki tadi.
Bahkan para pengawal yang sedang berjaga segera menunduk hormat,dengan salah satu yang berlari, bersiap-siap untuk membuka pintu mobil,dan dan salah satu yang lainnya lagi berlari untuk membuka pintu rumah.
Sedangkan Sebastian,seperti biasanya,ia langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam dengan langkah dan wajah tegasnya, setelah mobilnya sudah masuk kehalaman rumahnya dengan baik.
"Syukurlah..." gumam Sebastian dengan nada pelannya sambil berjalan dengan langkah pelannya setelah ia sudah berada didalam rumah, saat ia melihat lampu didalam rumahnya terlihat sedikit redup,yang menandakan kalau semua orang sudah tidur saat ini.
"Ehm ehm ehm..." baru saja Sebastian ingin menaiki anak tangga pertama,tiba-tiba saja terdengar suara dehemannya seorang pria yang sedang berdiri malas disamping dindingnya ruang tamu sana,dengan kedua tangan yang bersedekap dada dan tubuh yang bersandar malas kedinding.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas pelan saat ia mengenal siapa pemilik dari suara deheman tersebut,sambil berbalik badan dengan gerakan malasnya.
"Apa kamu tidak bisa sedikit bersikap baik,terhadap istrimu yang baru saja kamu nikahi tadi pagi,hm?" tanya Ayah dengan nada kesalnya,sambil berjalan pelan kearah Sebastian yang sudah menghadap kearahnya.
"Ayah,apakah aku masih kurang baik selama 2 hari ini?" tanya Sebastian balik,dengan nada kesalnya juga,ia juga merasa bingung karena tidak biasanya, Ayahnya menampilkan wajah sekesal ini padanya.
Lagi pula dalam 2 hari ini,dirinya memang lebih banyak mengalah dan diam,dan ia juga hanya mengikuti apa saja yang mereka semua inginkan.
Ayah langsung menghela napas dengan berat dan juga kesal,saat ia melihat putra sulungnya yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya malam ini.
Sedangkan Sebastian,keningnya langsung mengernyit heran,saat ia mendengar helaan napas Ayahnya yang terdengar berat dan kesal tersebut.
"Apa kamu tahu,kalau istrimu terus saja menunggumu untuk makan malam bersama,sedari tadi...Ia bahkan terus menunggu,dan berharap kalau akan ada pangeran tampan yang akan pulang dan makan malam bersamanya,hingga ia rela menahan lapar.Dan mungkin saja,saat ini ia telah tertidur dengan perut kosongnya..." kesal Ayah dengan wajah sekesal-kesalnya dan panjang lebar, tatapan kesalnya juga tidak beralih dari wajah bingungnya Sebastian yang telah berubah tidak percaya saat ini.
"Jika kamu tidak percaya,kamu boleh tanya Ibumu dan adikmu nanti...Dasar anak tidak punya hati,tapi hanya memiliki kepala yang keras saja.Dasar tidak berguna..." lanjut Ayah dengan nada menyindirinya dan wajah yang masih kesal,saat ia melihat Sebastian yang hanya terdiam saja.
Bagaimana Ayah tidak merasa kesal,karena Sebastian,istrinya dan putri bungsunya itu juga ikut-ikutan tidak bisa makan malam karena Jennifer yang belum ingin makan,sampai akhirnya mereka menyerah dan makan malam dijam yang terlambat setelah Jennifer masuk kedalam kamar,hampir pada jam 9 malam tadi.
Walaupun mereka lebih tua,tapi saat tadi Jennifer terus saja menyuruh mereka untuk makan duluan saja, mereka juga tidak tega untuk makan duluan dengan Jennifer yang hanya terus duduk termenung saja diantara mereka dimeja makan tersebut.
Apa lagi saat mereka melihat wajah cerianya Jennifer saat turun ingin makan malam tadi,hingga wajah cerianya terus berubah menjadi cemberut berkat Sebastian yang tidak juga pulang-pulang.
Padahal,biasanya mereka tidak akan menunggu Sebastian,kecuali dihari weekend.Karena jika dihari weekend,Sebastian pasti akan pulang tepat sebelum makan siang dan malam,kadang-kadang Sebastian juga hanya berada dirumah saja,dan membawa perkerjaan kantornya kerumah.
'Apa Jennifer benar-benar menungguku,hingga belum makan sampai saat ini...' batin Sebastian dengan wajahnya yang masih saja tidak percaya.
__ADS_1
"Aku sangat heran dengan sikap keras kepalamu... Kalian baru saja menikah,dan belum sampai 1 hari 24 jam...Apakah kalian sedang bertengkar,hm?" tanya Ayah lagi,dengan nada dan wajah penasarannya,apa lagi Jennifer sendiri tidak mengatakan apa-apa pada mereka tentang Sebastian ataupun tentang pertengkaran mereka.
"Ayah,apa Ayah mengira kami ini seperti anak kecil,dikit-dikit bertengkar?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,ternyata Ayahnya suka berlebihan juga.