
"Tidak perlu menyapa lagi...Cukup antarkan saja, segelas Milk shake untuk Tuan Muda kami..." perintah Billy dengan napas sedikit terengahnya dibalik napas tenangnya itu.
"Dimana mejanya Nona Muda Jennifer Amora Naava?" tanya Billy dengan nada dan wajah tegasnya,sebelum pemilik Cafe tersebut sempat menjawabnya,sambil memerhatikan disekitarnya.
Begitu juga dengan Sebastian yang sedang mengurangi cepat langkah tegasnya,karena ingin mencari keberadaannya istrinya.Tapi tanpa bertanyapun,kedua mata jelinya mampu mendapatkan keberadaan istrinya,hanya dalam hitungan beberapa detik saja.
"Nona Muda ada disana,Tuan..." jawab sang pemilik Cafe tersebut dengan cepat,sambil menunjuk kearah sudut Cafe sana,dimana keberadaannya Nona Muda yang memang pernah ia lihat beberapa kali dan juga ia kenal.
"Baik,Tuan..." jawab pemilik Cafe itu lagi,saat ia melihat isyarat tangan dari Billy yang menandakan kalau ia harus segera melaksanakan perintahnya Billy tadi.
Setelah selesai menjawab,iapun segera pergi dari sana dengan ekspresi wajah yang tidak setakut tadi lagi,dan tentunya juga setelah selesai menunduk hormat kearah Billy.Ia juga menghela napas lega, ternyata Tuan Muda tersebut hanya ingin datang meminum saja di Cafenya,karena sudah terjawab dari Billy yang memesan minuman padanya tadi.
"Nona Muda,aktingmu memang cukup bagus selama 4 hari ini.Tapi aku tidak yakin,kalau Nona Muda akan mampu terus-terusan melawan pesonanya Tuan Muda..." gumam Billy dengan wajah yang tersenyum kecil, saat ia melihat Nona Mudanya yang ternyata terlalu sibuk dengan aktingnya,sampai tidak menyadari kalau Tuan Mudanya sudah berada disini dan sedang berjalan kearah Nona Mudanya saat ini.
Setelah memerhatikan mereka selama beberapa detik,lalu Billypun segera berjalan dengan langkah lebarnya,untuk mengejar langkah Tuan Mudanya.
Sedangkan dimeja pengunjung disudut sana, dimana sepasang manusia masih sibuk mengobrol dan disertai sedikit canda tawa,hingga tidak menyadari kehadiran seorang pria berwajah datar diantara mereka saat ini.
Terutama Elvan yang duduk dibagian sudutnya, padahal arah pandangnya terarah kearah Sebastian.Tapi karena ia hanya fokus pada wajah cantiknya Jennifer dan mengobrol saja,iapun tidak begitu memperhatikan kearah belakangnya Jennifer lagi.
Dan tatapan fokusnya Elvan yang tertuju kearah wajah cantik istrinya itupun,mampu membuat Sebastian harus menahan rasa kesalnya terlebih dahulu dibalik wajah datarnya.
"Apakah kamu tahu? Apa makna dari rumus e \= m?" tanya Elvan dengan wajah yang tersenyum kecil,sambil terus menelisik wajah cantiknya Jennifer.
"Tidak...Memangnya apa?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan wajah yang tersenyum manis tapi ia juga merasa penasaran dengan jawabannya,sambil menyeruput jus jeruknya.
"Maknanya c^2,yaitu engkau \= manis . cantiknya emang 'kodrat' mu..." jawab Elvan dengan wajah yang terlihat tersenyum senang,tapi tanpa Jennifer dan Sebastian tahu,kalau ia sedang tersenyum geli didalam hatinya karena gombalannya sendiri.
Karena ia sama sekali tidak pernah menggombal wanita,tapi sekarang ia harus belajar menggombal,karena memang itu sudah menjadi tugasnya selama 4 hari ini.
Ia memang harus sengaja memberi obrolan yang berisi gombalan,supaya Sebastian semakin lama semakin memanas.Karena ia dan Jennifer tahu, kalau setiap video yang dilaporkan oleh Billy kepada Sebastian,selalu berserta suara-suaranya sekali.
"Ah,kamu manis sekali..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum malu,tanpa menghentikan aktivitas menyeruputnya.
Padahal ia sama seperti Elvan,sama-sama merasakan geli didalam hati dengan perbuatan mereka masing-masing.
Tapi tidak dengan pria datar tersebut,karena hal-hal tersebut mampu membuat perasaan dan wajah datarnya Sebastian semakin memanas saja,dengan Billy yang baru saja sampai dibelakangnya.
Sebastian memang pernah mendengar gombalannya Elvan pada istrinya,tapi ia hanya mendengar 1 kalimat saja.Karena setelah itu, sisanya ia selalu menonton video-video tersebut tanpa suara sedikitpun.
"Aku suka dengan senyummu itu,senyummu terlihat sangat manis dimataku...Bisakah kamu terus tersenyum seperti itu untukku?" tanya Elvan dengan menahan segala rasa gelinya,sambil meminum kopi hangatnya,tapi tatapannya tetap tertuju kearah wajah tersenyum malunya Jennifer.
Ia bahkan,harus berusaha sebisa mungkin untuk memenjarakan perasaan atau hatinya untuk sementara waktu.Jika tidak,dirinya benar-bnear akan berada dalam bahaya.
Dan baru saja kopi hangat tersebut masuk melewati bibir tipisnya Elvan,tiba-tiba saja sebuah suara tegas dengan nada tinggi,berhasil mengagetkannya.
__ADS_1
"Ehem ehem ehem..." dehem Sebastian dengan nada tingginya dan masih tetap mempertahankan wajah datarnya,sambil bersedekap dada.
Sedangkan Elvan...
"Byuurrr..." Elvan langsung menyemburkan kopi hangatnya kesamping,karena rasa kagetnya barusan.Apa lagi,saat ekor matanya baru saja menyadari kehadiran sahabatnya Sebastian yang sedang berdiri dibelakangnya Jennifer.
Untung saja,semburan kopi hangatnya tidak sampai ia sembur kearah Jennifer,karena masih mampu ia kendalikan lagi.
Sedangkan Jennifer...
"Uhuk uhuk uhuk..." Jennifer malah langsung terbatuk-batuk karena tersedak jus jeruknya, akibat rasa kaget yang sama,yang dirasakan oleh Elvan.
Dengan mendengar suara dehemannya saja,Jennifer sudah bisa langdung tahu siapa pemiliknya suara tersebut.
"Apakah aku menganggu kalian,hm?" tanya Sebastian dengan nada santainya,tapi tatapan tajamnya tidak beralih dari wajah kagetnya Elvan.
"Hah! Ti tidak,tentu saja tidak..." jawab Elvan dengan cepat,sambil mengelap bibir basahnya dengan tisu yang baru saja ia ambil.
"Benarkah? Apakah kamu yakin,kalau aku benar-benar tidak menganggu sarapan pagi kalian yang romantis ini,hm?" tanya Sebastian lagi, dengan panjang lebar.Tapi diakhir kalimatnya, tatapan tajamnya beralih kearah wajah cantik cantiknya Jennifer yang sedang sibuk meminum air putih untuk meredakan batuk tersedaknya tadi.
Tapi walaupun ia terus bertanya,ia langsung saja duduk santai disampingnya Jennifer dengan posisi kedua tangan yang masih tetap sama, tanpa meminta izin lagi.
"Benar...Kamu itu memang benar-benar sangat, sangat menganggu kami...Apa kau sudah mengerti sekarang,hm?" jawab Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,setelah batuknya tadi sudah mereda.
Tapi tentu saja,itu hanya pura-pura saja,karena tanpa ada yang tahu kalau ia sedang tersenyum senang didalam hatinya saat ia melihat kedatangannya Sebastian yang tiba-tiba itu, walaupun rasa kagetnya masih tersisa.
"Oh ya...Tidak apa-apa,karena aku menyukainya..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah yang tetap santai.
Ia baru saja ingin berlanjut bertanya,tapi suaranya Elvan kembali membuat perasaannya memanas.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Elvan yang baru saja teringat dengan batuk tersedaknya Jennifer tadi,tapi nada dan wajah khawatirnya kali ini benaran,tidak pura-pura seperti sebelumnya.
"Ngomong-ngomong,sejak kapan kamu pandai menggombal?" tanya Sebastian dengan menahan rasa kesalnya,sambil kembali menatap tajam kearah Elvan yang menatap santai kearahnya.
Ia hanya tahu kalau Elvan memang sangat cerdas dalam matematika,tapi ia tidak pernah tahu kalau Elvan pandai menggombal seperti tadi.Apa lagi,yang Elvan gombalin tadi,adalah istrinya.
"Sejak 4 hari yang lalu...Sejak aku mulai akrab dengan Jennifer..." jawab Elvan dengan nada dan wajah santainya,sambil meminum sisa kopi hangatnya tadi dengan pelan.
Jika saja bukan untuk membantu sahabatnya,ia tidak akan mau repot-repot harus membuang waktu, menyusahkan dan membahayakan dirinya sendiri seperti ini
"Apakah kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan itu?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil berusaha mempertahankan wajha datatnya.
"Tentu saja,aku sadar saat mengatakannya barusan.Bahkan aku sangat,sangat sadar dengan apa yang aku katakan barusan..." jawab Elvan dengan mengikuti gaya bicaranya Jennifer tadi,hingga mampu membuat Jennifer menahan tawa didalam hatinya,tapi tidak dengan Sebastian yang malah menjadi semakin kesal.
"Maaf Tuan,ini pesanannya Tuan ...." suara pelayan Cafe yang tiba-tiba muncul diantara mereka itupun mampu membuat pembicaraan mereka terhenti selama beberapa puluh detik lamanya.
__ADS_1
Sebastianpun langsung menatap tajam kearah Billy yang sedang berdiri dan menundukkan kepalanya dibelakangnya saat ini,saat ia melihat minuman apa yang telah dipesan oleh Billy untuknya, minuman yang sudah berada dihadapannya itu.
Ia bisa menebak dengan benar,kalau Billy pasti sengaja melakukan hal itu padanya saat ini,karena Billy sangat tahu apa saja minuman yang ia tidak suka minum dan yang ia suka minum, ataupun minuman yang selalu ia minum
Tapi sayangnya,saat ini ia tidak bisa melampiaskan rasa kesalnya pada Billy.Karena ia harus mengurus sepasang manusia, yang menurutnya tidak tahu diri ini terlebih dahulu
'Setidaknya rasa kesalku pada kalian semua,bisa sedikit berkurang...' batin Billy dengan tersenyum puas didalam hatinya,dengan posisi kepala yang masih tetap menunduk.
Berbeda dengan Tuan Mudanya yang sepertinya akan hanya fokus pada istrinya saja,ia malah harus memikirkan setumpuk dokumen dan juga beberapa email dari luar kota dan negara-negara lainnya yang sedang menunggunya dikantor sana.
"Apakah kamu juga sadar? Siapa yang telah kamu gombalin tadi" tanya Sebastian,setelah pelayan tersebut sudah pergi dari hadapan mereka semua.
Tidak lupa juga pelayan tersebut melirik penuh damba kearah Sebastian selama beberapa saat,hingga mampu membuat Jennifer langsung mendengkus kesal didalam hatinya.
"Sadar...Tentu saja,aku sangat sadar.Memangnya kenapa?" jawab Elvan dan sekalian bertanya dwngan wajah pura-pura bingungnya.
"Kamu masih sempat bertanya kenapa,hm?" tanya Sebastian dengan tatapan tajam yamg semakin tajam kearah Elvan.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang Elvan yang pernah jatuh cinta kepada Jennifer dulu,walaupun ia tahu kalau Elvan telah benar-benar membuang rasa cintanya yang baru bersemi tersebut,pada hari itu juga.
Tapi bisa saja bukan,kalau sekarang Elvan akan kembali jatuh cinta pada Jennifer,berkat kedekatan mereka dalam beberapa hari ini.Dan ia tidak akan membiarkan itu sampai terjadi,karena sekarang Jennifer telah menjadi istrinya,dan ia harus bisa segera mengambil sikap bukan...
"Apakah oksigen yang sedang kamu hirup didunia ini,sudah sangat banyak sekarang? Hingga kamu menjadi tidak takut pada apapun lagi, sekarang, hm?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya, sambil berusaha menetralkan segala rasa kesalnya, supaya wajah datarnya masih bisa ia pertahankan lagi.
"Bro,kami tidak melakukan apa-apa.Lagi pula kami bersahabat,jadi tidak ada salahnya kami mengobrol dan .........." belum sempat Elvan menyelesaikan kalimat pembelaan dirinya,Sebastian sudah langsung menyelanya dengan cepat.
"Dan saling melempar senyum,dan juga saling menggombal begitu?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,sepertinya segala rasa kesalnya tadi sudah tidak bisa ia sembunyikan dibalik wajah datarnya lagi.
Sedangkan Billy,sedari 5 menit yang lalu iapun segera mengamankan atau mengosongkan isi Cafe tersebut tanpa menunggu perintah dari Tuan Mudanya lagi.
Pemilik Cafe tersebutpun terus memohon maaf pada Billy sedari tadi,karena takut kalau Cafenya malah akan dihancurkan.
Tapi sekarang lihatlah,bukan hanya tersenyum lega saja,tapi pemilik Cafe tersebut juga tersenyum senang.Karena Billy bukan hanya tidak menghancurkan Cafenya saja,tapi Billy juga membayar gratis semua pesanan-pesanan yang telah dimakan tapi belum dibayar oleh para pengunjung yang telah ia usir secara paksa tadi.
"Iya.Lagi pula,semua itu sudah biasa dilakukan oleh orang-orang bersahabat yang seperti kami ini.Jadi,kamu tidak perlu berlebihan seperti ini..." timpal Jennifer dengan nada dan wajah yang masih pura-pura kesal.
"Biasa? Oh,jadi begitu ya? Kalau begitu,bagaimana kalau aku yang mengobrol bersama sahabat wanitaku, sarapan bersama,makan siang bersama, selama berhari-hari atau berturut-turut.Dan juga saling melempar gombalan,senyuman dan canda tawa...Apakah jika aku yang melakukan semua itu,menurutmu juga hal yang biasa?" tanya Sebastian dengan nada kesal dan juga menyindirnya,sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah Jennifer yang terlihat langsung kebingungan.
"Silakan saja...Lakukan saja apa yang kamu inginkan,aku sama sekali tidak akan merasa keberatan dengan apa yang akan atau ingin kamu lakukan..." jawab Jennifer setelah terdiam dan merasa bingung selama beberapa detik,sambil kembali menyeruput jus jeruknya dengan gaya santainya.
Padahal jelas-jelas ia tidak akan rela,jika hal tersebut benar-benar akan terjadi.Tapi demi misinya berhasil,ia harus melanjutkan misinya yang telah berada diseparuh jalan itu.
Sedangkan Sebastian,ia langsung mengernyit heran kearah istrinya itu.Biasanya istrinya akan langsung menampilkan wajah kesal atau tidak terimanya,tapi kali ini reaksi istrinya agak berbeda dan malah cuek saja terhadap kalimatnya tadi.
"Memangnya sejak kapan kamu memiliki sahabat wanita,bro" tanya Elvan dengan tiba-tiba dan tersenyum lucu dibalik wajah tenangnya,dan pertanyaan tersebutpun mampu mengalihkan tatapan tajamnya Sebastian kembali terarah kearahnya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Jennifer dan Billy yang baru saja kembali berada diantara mereka, setelah baru saja selesai mengerjakan perkerjaannya tadi.
Sebastian saja tidak pernah suka,jika akan didekati wanita manapun,kecuali Elisa dan keluarganya. Sebastian bahkan akan langsung mengusir mereka secara terang-terangan,jika mereka ingin atau nekad mencoba untuk mendekatinya.