Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 25


__ADS_3

'Dasar anak buah tidak tahu diri,kenapa dia bisa membaca pikiranku? Dan apa yang dia katakan tadi,Tuan Muda...Yang benar saja...Mau majikannya,ataupun anak buahnya,ternyata sama-sama tidak waras' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil melirik sekilas ke arah wajah kagetnya Jennifer dan meletakkan winenya kembali dengan gerakan pelan.


"Jika mau,Nona Muda bisa bertanya langsung pada Tuan Muda" lanjut anak buah tersebut lagi,dengan menahan tawa saat ia melihat wajah kesalnya Sebastian yang sedang menahan rasa malu.


"Benarkah,apa yang dikatakan oleh dia?" Jennifer langsung bertanya pada Sebastian,dengan kedua mata yang menelisik ke arah wajah tampannya Sebastian.


"Benar" jawab Sebastian dengan singkat,jujur dan nada santainya,sambil berusaha menyembunyikan rasa malunya tanpa menatap ke arah Jennifer.


"Kenapa kamu bisa tahu? " tanya Jennifer dengan wajah malunya,karena apa yang di katakan oleh Sebastian memang benar.Ia memang sedang datang bulan,dan hari ini adalah hari yang terakhirnya ia datang bulan.


'Pantasan saja,sedari tadi emosinya terus timbul tenggelam' batin Sebastian sambil melempar tisu bekas mengelap mulutnya tadi ke tong sampah,karena wine yang sudah berada didalam mulutnya tadi langsung menyembur keluar sedikit saat tadi ia mendengar jawabannya anak buah tersebut.


"Atau,,,jangan-jangan kamu memang sudah selalu mengobrol tentang hal ini bersama kekasihmu tadi...Eh salah,maksudku mantan kekasihmu tadi" lanjut Jennifer lagi,dengan nada kesalnya saat pikirannya sudah menjalar ke arah yang negatif,tentang Sebastian dan Siska.


Tapi di dalam hatinya,ia juga tersenyum lucu saat ia melihat wajah merah atau malunya Sebastian yang sudah mulai terlihat.


"Atau ,,,kamu memang selalu membantu......"


"Auchk,Hubby..." terdengar suara pekikan sakit dari mulutnya Jennifer sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimat lambatnya barusan,ia menatap kesal kearah Sebastian sambil mengelus-elus pucuk kepalanya karena pucuk kepalanya tiba-tiba saja di sentil oleh Sebastian.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak...Aku hanya menebak saja,karena biasanya kalau adik perempuanku sedang datang bulan,sikapnya pasti akan sama seperti kamu tadi,sensi gitu" jawab Sebastian dengan nada kesalnya.


'Lagi pula,kami jarang memilik waktu berdua sebelumnya dan buat apa juga aku mengobrol tentang hal itu atau yang lainnya' lanjut Sebastian dengan mengerutu kesal di dalam hatinya.


"Dan satu lagi,namaku Sebastian bukan Hubby,kalau kamu lupa..." lanjut Sebastian lagi,dengan wajah yang masih saja kesal.


"Owh,ternyata kamu memiliki adik perempuan..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum cenges-cengesan dan rasa malunyapun langsung menghilang begitu saja,saat ia mendengar dan melihat wajah kesalnya Sebastian.


'Sepertinya akan seru,kalau suatu hari nanti keinginanku sudah terkabul' lanjut Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,saat ia memikirkan akan ada satu saudari lagi yang akan bisa ia ajak ngobrol atau yang lainnya.


"Aku tidak lupa tapi aku akan terus memanggilmu Hubby sampai aku merasa bosan" lanjut Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang.


'Mungkin, aku tidak akan pernah bosan memanggilmu Hubby.Tapi sayangnya,setelah pertemuan kita ini,aku tidak akan bisa memanggilmu Hubby lagi dan kita tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu yang agak lama' batin Jennifer dengan perasaan sedihnya da tidak relanya,rasanya 1 tahun seperti 10 tahun saja.Tapi ia juga merasa senang karena sedari tadi ia sudah bisa memeluk dan juga mengobrol lama bersama Sebastian,tidak seperti sebelum-sebelumnya.


"Terserah kamu saja"ucap Sebastian dengan wajah pasrah yang sudah bercampur ekspresi kesal,lalu ia kembali menyesap sisa winenya yang hanya tersisa 1 kali tegukan kecil itu.


Jenniferpun langsung tersenyum senang dan juga lucu,saat ia melihat wajah pasrah dan kesalnya Sebastian.

__ADS_1


"Nona Muda,sudah malam...Apa kita tidak pulang saja? Aku hanya khawatir kalau Tuan akan mencari Nona Muda sampai kesini kalau Nona Muda tidak ķemobil sekarang juga" tanya anak buah tersebut secara tiba-tiba,sambil menatap sebentar ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.


"Tunggu sebentar lagi,masih ada yang mau aku katakan pada kekasihku ini terlebih dahulu" jawab Jennifer dengan nada tegasnya,sambil berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Sebastian,ia juga tidak lupa memberi isyarat tangan pada anak bauhnya supaya segera menjauh darinya dan Sebastian.


"Baik, Nona Muda" jawab anak buah tersebut dengan cepat saat ia mendengar dan melihat isyarat tangan dari Nona Mudanya, ia juga segera mengajak teman-temannya untuk berjalan sedikit menjauh,berbalik badan dan berbaris melingkar disekitar Nona Muda dan Tuan Muda mereka,termasuk dirinya juga,karena ia ingin menjaga privasi Nona Mudanya.


Ia memang tidak tahu dengan apa yang akan diperbuat oleh Nona Mudanya.Hanya saja,yang ia tahu pasti,kalau Nona Mudanya sudah memberi isyarat,berarti hal tersebut tidak boleh diganggu ataupun dilihat.


Begitu juga dengan karyawan yang tadi dan beberapa para tamu yang masih berada di seberang sana,mereka semua mulai berjalan jauh dari sana saat mereka melihat tatapan tajam dari anak buahnya Jennifer.


"Ka kamu mau apa?" tanya Sebastian dengan nada gugupnya yang sudah bercampur kaget karena saat ia menoleh ke samping,tiba-tiba saja Jennifer sudah berada di sampingnya,hingga mampu membuat dirinya merasa kaget dan juga gugup.


"Tidak ada" jawab Jennifer dengan nada santainya,sambil menahan kedua pundaknya Sebastian yang sedang ingin berdiri


"Lalu kenapa kamu harus seperti ini?" tanya Sebastian sambil berusaha untuk tetap tenang,bahkan tubuhnya seperti tidak bisa bergerak dan hanya mengikuti arahan tangannya Jennifer yang sedang memutarkan tubuhnya hingga mereka sedang saling berhadapan saat ini.


"Aku harus mencari tempat yang lebih nyaman terlebih dahulu,sebelum aku memberitahumu sesuatu,Hubby" jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum menggoda,lalu ia langsung duduk di pangkuannya dan juga merangkul lehernya Sebastian dengan gerakan pelan,tanpa minta izin terlebih dahulu.


Hingga mampu membuat Sebastian langsung menjadi semakin kaget dan juga gugup sekaligus dengan kedua tangannya yang sudah terangkat keudara dengan cepat.


'Ya,Tuhan.Aku harus melakukan apa sekarang? Apa aku harus mendorongnya saja? Atau aku harus mengangkatnya dan melemparnya kelantai saja?' batin Sebastian dengan wajah kagetnya yang sudah mulai berubah menjadi gugup,kesal dan juga perasaan yang serba salah,sambil menatap kesal kearah semua punggung anak buahnya Jennifer.Sepertinya,tidak ada satu orangpun yang bisa membantunya selain dirinya sendiri.


"Nona,kamu akan nyaman kalau sudah duduk dikursi,bukan malah duduk disini..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,ia lebih memilih untuk terus menatap lurus kedepan dari pada ke arah wajah cantiknya Jennifer yang ada di sampingnya karena ia takut kalau detakan jantungnya akan menjadi semakin tidak karuan.


"Tapi aku hanya akan merasa nyaman kalau duduk disini,Hubby.Dan kamu,kenapa begitu kaku,hm?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya,sambil mengambil kedua tangannya Sebastian yang sedang mengudara tersebut untuk ia letakkan dipinggul dan juga di paha mulusnya.Karena dres yang ia pakai saat ini hanya sebatas diatas lutut,jadi saat ia duduk,otomatis dresnya akan sedikit terangkat.


'Wanita ini,benar-benar sudah tidak waras' Sebastian terus menggerutu didalam hatinya,sambil terus menatap kedepan dan memeluk Jennifer dengan terpaksa dan tangan kakunya.


"Kamu harus mengambil napas dan buangkan dengan perlahan,dan aku sarankan jangan terlalu tegang" lanjut Jennifer dengan menahan tawa di dalam hatinya dan mengabaikan perkataannya Sebastian barusan sambil merangkul lehernya Sebastian kembali dan terus melihat wajah gugupnya Sebastian yang semakin lama semakin gugup.


Padahal detakan jantungnya sendiri juga sedang tidak menentu,hanya saja ia masih mampu mengatasinya,berbeda dengan Sebastian yang memang sudah tidak bisa mempertahankan ekspresi tenangnya lagi.


"Apakah kamu percaya pada beberapa hal,Hubby? " tanya Jennifer dengan sedikit berbisik di daun telinganya Sebastian.


"Ter tergantung sama hal apa saja yang sedang kamu maksudkan,Nona?" jawab Sebastian dengan nada gugupnya,tanpa menatap ke arah Jennifer.


'Aku bisa mati kehabisan napas kalau terus seperti ini' batin Sebastian lagi,sambil terus mengambil napas dan buang napas kembali,untuk mengusir semua rasa gugupnya.

__ADS_1


Ia mengikuti sarannya Jennifer tadi,tapi nyatanya semua rasa gugupnya tidak juga mengurang sedikitpun.Bahkan,seluruh organ tubuhnya seperti tidak mampu ia gunakan lagi,hanya detakan jantung yang tidak menentu dan perasaan aneh yang bisa ia rasakan karena ditambah dengan hembusan napasnya Jennifer didaun telinganya.


"Orang bilang, pertemuan PERTAMA adalah kebetulan, pertemuan KEDUA adalah kepastian, dan pertemuan KETIGA adalah TAKDIR...Apa kamu mempercayai hal-hal seperti itu,Hubby?" tanya Jennifer dengan tatapan penuh cinta ke arah Sebastian,sambil mengelus pelan rahang tegasnya Sebastian dengan jari-jari lentiknya.


"Tidak" jawab Sebastian dengan asal tanpa berpikir banyak lagi,ia jadi berpikir kalau dirinya sedang ingin diperkosa oleh Jennifer saat ini.


"Tapi aku percaya...Karena banyak yang bilang,pertemuan pertama itu menumbuhkan rasa penasaran, sedangkan pertemuan kedua menumbuhkan rasa rindu, dan pertemuan selanjutnya akan meninggalkan rasa candu.Dan aku memang sedang merasakan semua itu,sedari pertemuan pertama kita hari itu hingga yang ke 3 kali ini" ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesal karena jawabannya Sebastian barusan,tapi tanpa sadar tangannya sudah mengelus hingga ke dada kerasnya Sebastian yang masih berbalut kemeja itu.


"kamu sampai menghitungnya?" tanya Sebastian dengan wajah tidak percayanya,tapi kedua matanya masih tetap menatap lurus kedepan.


"Iya.Apa kamu tidak menghitungnya?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan wajah penasarannya.


"Bisakah kamu menyingkirkan tanganmu itu,dari tubuhku?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya tapi wajah tidak percayanya tadi kembali berubah menjadi gugup, karena sentuhan didada kerasnya yang di berikan oleh Jennifer, mampu membuat tubuhnya merasakan panas dingin.


Bahkan,ia mengabaikan pertanyaannya Jennifer barusan.Lagi pula,pertanyaannya Jennifer ada-ada saja.Yang benar saja,ia harus menghitung berapa banyak mereka bertemu,seperti ia tidak punya perkerjaan yang lain saja.


Jenniferpun langsung mendengkus kesal,tapi hanya untuk beberapa detik saja,karena ia kembali menggoda Sebastian.


"Pertemuan bukanlah sesuatu hal yang menyakitkan,melainkan rancangan indah menuju pertemuan selanjutnya" ucap Jennifer dan mengabaikan pertanyaannya Sebastian,sambil terus menggerakkan pelan tangannya di sekitar dada kerasnya Sebastian tanpa memperdulikan keberatannya Sebastian sedikitpun.


"Apa kamu masih ingat,kalau tadi kamu sudah berjanji padaku ,kalau kamu akan melakukan apa saja yang aku inginkan..." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang sudah mulai serius,sambil terus menatap wajah tampannya Sebastian tanpa menghentikan gerakan tangannya.


Sedangkan Sebastian,ia hanya diam saja dengan pendengaran yang masih terpasang dengan baik, sambil terus berusaha mengusir rasa gugup dan juga desiran-desiran aneh yang sedang mulai mengerayangi tubuhnya saat ini,karena disebabkan oleh posisi duduknya Jennifer,sentuhan tangannya dan juga hembusan napas wanginya Jennifer yang tepat diwajahnya.


"Aku ingin kamu menjaga hati ini,hanya untukku seorang saja,sampai kita bertemu di pertemuan selanjutnya nanti" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah seriusnya sambil menepuk pelan dada kerasnya Sebastian untuk beberapa kali.


Walaupun ia tahu kalau aksinya ini terlihat sangat memalukan,bahkan ia harus menahan rasa malu dan detakan jantungnya yang tidak berdetak normal seperti biasanya.


Tapi ia sudah tidak punya banyak waktu untuk menjerat Sebastian dengan cintanya yang masih baru dan belum terungkap jelas itu,dan menurutnya ia harus melakukan semua ini,jadi paling tidak ia bisa sedikit lebih tenang untuk belajar di Negara sebelah sana.Karena ia yakin kalau dengan perangkap cintanya ini,Sebastian pasti akan mulai memikirkannya.


Tapi yang paling membuat ia merasa sangat senang,karena sedari awal Sebastian sama sekali tidak berkata kasar ataupun menolaknya secara terang-terangan.Lihat saja,sekarang saja Sebastian hanya duduk dengan patuh dan diam saja.


"Dan kamu tidak boleh berdekatan dengan wanita manapun,selama aku tidak ada disampingmu,karena kamu adalah milikku" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum senang dan tatapan tegasnya yang tertuju ke arah wajah gugupnya Sebastian,sambil menggerakkan elusannya kerahangnya Sebastian kembali dengan perlahan-lahan.


"Nona,apa perlu aku mengantarmu kerumah sakit? Aku rasa,kepalamu sedang......" baru saja Sebastian berbicara setelah beberapa saat hanya diam saja,tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya,Jennifer sudah menyelanya dengan cepat.


"Hubby,berhenti terus mengatai aku sedang bermasalah.Dan aku perjelaskan padamu, batin,pikiran dan fisikku 100 % semuanya sangat sehat,jadi kamu tidak perlu mengantar aku kerumah sakit" sela Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menutup mulutnya Sebastian dengan menggunakan 1 jari telunjuknya.

__ADS_1


'Wanita ini benar-benar,apa yang ia inginkan sebenarnya? Bicaranya juga sudah melantur kemana-mana' lagi-lagi Sebastian hanya mampu membatin saja,sambil menolehkan kepalanya kearah Jennifer dengan perlahan-lahan dengan jari telunjuknya Jennifer yang masih melekat di bibir tebalnya.


"Apa kamu tidak tahu,kalau aku terus menghapal apa saja dan semua yang sedang hatiku katakan sedari 3 hari yang lalu.Aku takut kalau aku akan melupakan apa yang sedang ingin aku katakan padamu,kalau kita bertemu nanti" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang sudah memberengut kesal.


__ADS_2