
"Cukup...Memangnya kalian pikir,Sebastian akan tega untuk membunuh kalian,paling-paling Sebastian hanya akan memberi kalian sedikit pelajaran saja..." timpal Elisa dengan cepat dan nada santainya,saat ia melihat perdebatan mereka yang terlihat akan segera krmbali berlanjut.
"Tapi itu juga tidak baik untukku,sayang..." ucap Erik dengan nada seriusnya,ia tidak mungkin mengambil resiko dengan mempertaruhkan tubuhnya atau wajahnya yang mungkin saja akan terluka kapan saja,karena sahabatnya Sebastian yang akan menggila nanti.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi,idenya bestie bagus juga,untuk memberi pelajaran sama pria datar dan egois itu.Dan sepertinya,yang menjadi peran utamanya, memang harus kamu,Elvan...Jika Erik yang menjadi peran utamanya,Sebastian pasti tidak akan mempercayainya begitu saja..." ucap Elisa dengan nada serius dan panjang lebarnya, walaupun tadi ia juga ikut terbengong tapi ia sebenarnya sedang memikirkan ulang idenya Jennifer tersebut.
Hanya saja,ia dan Erik tetap dengan duduk santai mereka sedari tadi,tapi tidak dengan Elvan yang masih tetap dengan berdirinya sedari tadi.
"Kekasihku benar...Lagi pula,aku tidak ingin berselingkuh dari kekasih cantikku ini,walaupun itu hanya pura-pura saja. Tapi kalau kamu kan beda, status yang memang sedang jomblo sejati sekarang..." timpal Erik dengan nada dan wajah tersenyum semangatnya ,yang tertuju kearah Elvan, yang langsung mendengkus kesal.
Sepertinya setelah ini,Erik berpikir pasti akan ada tontonan yang seru untuk mereka nonton,saat ia memikirkan tentang perasaannya Elvan yang harus dibuang terlebih dahulu sebelum sahabatnya itu memulainya.Walaupun tidak bisa nonton sepenuhnya nanti,paling tidak mereka berdua bisa melihat sedikit banyaknya tontonan tersebut.
"Jomblo sejati alias jomblo ngenes..." timpal Elisa dengan nada dan wajah tersenyum lucunya,saat ia sepemikiran dengan sang kekasihnya itu.
"Terserah apa kata kalian,tapi aku tetap tidak mau...Kalian ini ada-ada saja,malah ikut-ikutan seperti Jennifer... Bagaimana kalau nanti,Sebastian malah mengintrogasiku dan memukulku?" tanya Elvan dengan nada dan wajah kesalnya,sambil bercekak pinggang kearah kedua sahabatnya yang malah terlihat seperti musuhnya saat ini.
Apa lagi,saat ia mendengar kata "Jomblo ngenes" dari mulutnya Elisa barusan,dan itu terdengar seperti sebuah ejekan untuk dirinya.Walaupun ia memang tidak pernah mempermasalahkannya,tapi kali ini mereka bersama Jennifer,hingga hal tersebutpun mampu membuatnya merasa sangat kesal.
"Tapi Elvan......." belum sempat Elisa menyelesaikan kalimatnya,Jennifer sudah langsung menyelanya dengan cepat.
"Cukup...Kalau kalian tidak mau membantuku dan hanya ingin bertengkar,silakan saja...Kalau begitu aku akan pulang saja..." Jennifer yang sedari tadi sedang menahan rasa kesalnya itupun langsung menyela dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,sambil berdiri dari duduknya dan berniat ingin berjalan keluar dari sana.
"Eh eh,,,bukan begitu maksudnya kami..." ucap Elisa dengan wajah bersalahnya karena telah mengabaikan keberadaannya Jennifer untuk sementara waktu,akibat terlalu sibuk ikut berdebat dengan Elvan tadi.
Begitu juga dengan Erik yang langsung ikut berdiri dari duduknya,bahkan wajahnya dan Elvan langsung jadi kebingungan saat ini,karena melihat sikap merajuknya Jennifer yang baru saja pertama kali mereka lihat itu.
"Bestie..." panggil Elisa dengan nada dan wajah bingungnya,karena kunci permasalahannya mereka ada pada Elvan,iapun segera menyenggol pelan lengannya Erik,supaya Erik segera membujuk Elvan.
Sedangkan Erik yang memang sudah mengerti, iapun langsung menyenggol lengannya Elvan, sambil menunjuk kearah punggungnya Jennifer yang sudah hampir mencapai pintu itu,melalui ekor matanya.
"Aku akan membantumu..." ucap Elvan akhirnya, setelah ia malah semakin kebingungan selama beberapa detik dan juga mendengkus kesal.
Dan perkataannya Elvan tersebutpun,berhasil membuat langkah kesalnya Jennifer langsung berhenti,tepat dengan tangannya yang baru saja ingin memutar handle pintu ruangan tersebut.
"Benarkah?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah tidak percayanya,sambil berbalik badan dan menghadap kearah Elvan yang masih saja sedang kebingungan.
"Apakah tidak ada cara yang lain lagi?" Elvan malah balik bertanya pada Jennifer yang langsung mendengkus kesal.
"Dasar..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya kembali,lalu ia kembali berbalik badan dan berniat ingin melanjutkan kegiatan membuka pintunya tadi.
"Oke,oke,aku akan membantumu..." ucap Elvan dengan nada sedikit tingginya,lalu ia menghela napas berat dan juga panjang dengan ekspresi wajah pasrahnya.
Dan perkataan finalnya Elvan kali inipun kembali berhasil membuat Jennifer menghentikan gerakan tangannya dan langsung berbalik badan,tapi kali ini Jennifer hanya bertanya melalui tatapan kesalnya saja.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu..." ucap Elvan dengan nada dan wajah malasnya,saat ia melihat tatapan kesalnya Jennifer yang terus saja tertuju kearahnya.
Ntah mimipi apa dirinya semalam,sampai ia harus memerankan peran konyol seperti ini,bersama Jennifer nanti.
"Kali ini,aku benar-benar akan membantumu..." lanjut Elvan lagi,dengan nada dan wajah pasrahnya.
Lalu Elvanpun langsung kembali mendengkus kesal yang ntah sudah keberapa kalinya sedari tadi,saat ia melihat wajah kesalnya Jennifer yang langsung menjadi tersenyum senang.
"Nah...Begitu baru benar...Sekarang,ayo,kita membahas tentang rencana-rencana yang akan kita lakukan untuk selanjutnya..." sela Elisa dengan nada dan wajah tersenyum semangatnya,sambil menarik pelan tangannya Jennifer,untuk duduk kembali kekursinya tadi,sebelum Jennifer dan Elvan sempat berkata apapun.
"Benar...Aku sudah tidak sabar,ingin melihat pria datar itu kepanasan karena rasa cemburunya itu nanti..." timpal Erik dengan nada dan wajah yang tersenyum senang dan juga semangat seperti Elisa,sambil menarik Elvan dengan pelan,supaya Elvan duduk bersama mereka kembali dan bisa langsung lanjut membahas apa yang dikatakan oleh sang kekasihnya tadi.
Apa lagi,ia merasa kalau Elvan adalah pria yang memang cocok untuk memancing amarah cemburunya Sebastian,karena Elvan pernah jatuh cinta pada Jennifer pada hari itu.
Walaupun ia tahu kalau hanya perannya Elvan dan Jennifer saja yang akan lebih banyak bermain dari pada mereka berdua,tapi ia dan Elisa pasti akan selalu semangat untuk menunggu hasilnya.Lagi pula,mereka berdua juga tidak ingin terlalu mengorbankan diri mereka,biarlah Elvan seorang saja yang berkorban banyak untuk sahabatnya Jennifer dan Sebastian itu.
Sedangkan Jennifer,iapun langsung mengatakan rencana-rencananya untuk kedepannya,dengan wajah yang terus tersenyum senang dan juga semangat disepanjang pembahasan panjang mereka itu.
Begitu juga dengan Erik dan Elisa yang terus mengobarkan ekspresi wajah semangat mereka,tapi tidak dengan Elvan yang hanya mampu menampilkan berbagai ekspresi wajah disepanjang pembahasan panjang tersebut, pasrah,kesal,malas dan tidak berdayanya saja.
Berbeda dengan mereka yang telah rela menelantarkan perkerjaan mereka untuk 1 jam atau 2 jam lamanya,karena pembahasan panjang tersebut.Ditempat lainnya,seorang pria muda dan tampan malah masih sibuk dan fokus dengan perkerjaannya saja,sedari berangkat kerja tadi.
***
Saat ini Sebastian sedang sibuk meeting yang sudah hitungan ke 3 kalinya,pada hari ini.Tapi disetiap meetingnya,ia hanya akan melakukannya selama hampir 30 menit lamanya saja,karena ia memang tidak begitu suka membuang waktu emasnya dan juga basa-basi didalam ruangan meeting.
Tidak seperti perusahaan-perusahaan lainnya yang disetiap meetingnya, mereka akan melakukannya selama 1 jam lebih,bahkan 3 jam atau 4 jam lamanya.
"Tuan Muda..."panggil Billy dengan nada pelannya,saat Tuan Mudanya sudah selesai meeting dan sedang berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut,dengan ia yang langsung mengikuti langkah lebar dan tegas Tuan Mudanya itu.
" Hm... " seperti biasanya,Sebastian hanya akan menjawab Billy,dengan singkat tanpa menghentikan langkah lebarnya.
"Tuan Muda,sekarang Nona Muda sedang berada di Restoran..." ucap Billy yang menyampaikan laporan dari anak buahnya tadi.
Sedangkan Sebastian,ia langsung menghentikan langkahnya dengan kening yang mengernyit heran, tapi ia tidak berniat ingin menoleh kebelakangnya ataupun berbalik badan,dimana Billy berada.
"Apa yang sedang Nona Mudamu lakukan,di Restoran itu?" tanya Sebastian dengan nada santainya dan wajah tegasnya,sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan gerakan pelannya.
"Nona Muda pergi kesana,hanya untuk mengobrol saja,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat sambil ikut menghentikan langkahnya,sambil terus berdoa didalam hatinya untuk kebaikan dirinya sendiri,sedari tadi.
'Aku berharap,kalau aku tidak akan ikut mendapatkan dampak dari tingkah konyolnya Nona Muda nanti...' lanjut Billy didalam hatinya,ia telah telah mendapatkan pesan kerja sama dari Tuan besar dan Nona mudanyanya tadi.
"Sejak jam berapa,ada disana?" tanya Sebastian dengan nada dan posisi yang masih sama.
__ADS_1
"Sejak 2 jam yang lalu,Tuan Muda...Mungkin saja, sekarang Nona Muda sudah mau pulang..." jawab Billy dengan nada santainya.
"Sudah 2 jam yang lalu,dan kamu baru mengatakannya sekarang..Bukankah sama sekali kamu tidak perlu mengatakannya saja?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,lalu ia kembali melanjutkan langkah lebarnya tadi kearah ruangannya,tanpa menunggu jawaban dari Billy lagi.
Ia bukan merasa kesal dengan Jennifer yang telah keluar tanpa izin darinya,karena ia sama sekali tidak mempermasalahkan tempat tujuannya Jennifer tersebut.Lagi pula,ia lebih mempercayai ke 3 sahabatnya,dari pada orang yang baru saja ia kenal atau yang sama sekali tidak ia kenal.
Tapi ia merasa kesal dengan pemberitahuan dari Billy yang sangat telambat itu,dan itu adalah laporan pertama yang durasinya paling terlambat didaftarnya, karena biasanya hanya akan terlambat dalam hitungan dibawah 30 menit saja.
Untung saja,tempat tujuannya Jennifer bukan yang aneh atau yang berbahaya.Jika tidak,rasa kesalnya pasti akan lebih parah dari yang saat ini.
"Maaf,Tuan Muda..." Billy hanya mampu meminta maaf saja,sambil menatap kesal kearah punggung lebar Tuan Mudanya yang sudah berjalan menjauh dari jarak 2 langkahnya mereka tadi.
'Sangat menyebalkan...Kenapa aku terus saja, berada diantara orang-orang yang menyebalkan ini...Apakah aku harus menuliskan surat pengunduran diriku saja,nanti...' lanjut Billy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil mengikuti langkah Tuan Mudanya yang sudah tertinggal jauh itu,tapi yang diakhir kalimatnya tentu saja hanya candaan kesalnya saja.
Padahal dirinya menjadi seperti itu,karena Tuan Mudanya yang terlalu sibuk hari ini,dan ditambah lagi dengan pesan-pesan rahasia berserta dengan ancaman yang seperti biasanya dari Tuan Besar dan Nona Mudanya yang telah beberapa kali masuk kekotak masuknya, sedari tadi pagi.
'Semoga saja,setelah ini kamu akan menjadi seperti cacing kepanasan,dan meliburkan diri dari perkerjaanmu ini...' batin Billy lagi,dengan doa yang terbaik untuk Tuan Mudanya.
Ia sangat berharap kalau sikap cuek Tuan Mudanya terhadap Nona Mudanya saat ini,akan segera berubah menjadi berbagai ekspresi diwajahnya nanti.
Kemudian tidak bisa fokus pada perkerjaannya,lalu Tuan Mudanya akan menghilang dari pandangannya selama beberapa hari,dan menyerahkan tugas kantor pada dirinya.
Walaupun kedua macam perkerjaan itu sama-sama terasa berat untuknya seorang,tapi jika ia disuruh harus memilih,ia pasti akan lebih memilih untuk mengerjakan tugas-tugasnya kantor.
Ia lebih baik mengerjakan setumpuk perkerjaan-perkerjaan yang ada diperusahaan Tuan Mudanya itu tanpa ribet sedikitpun,paling-paling ia hanya akan merasa capek saja,dari pada ia harus melihat dan menanggapi sikap menyebalkan Tuan mudanya itu.
Apa lagi,dari pada ia harus disuruh untuk melaksanakan 2 perintah yang berbeda sekaligus.Dan lihatlah,setelah ini,ntah apa lagi yang akan Tuan Mudanya lakukan untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap Nona Mudanya.
Dan takutnya,malah dirinyalah yang akan menjadi tempat pelampiasan Tuan Mudanya nanti. Mudah-mudahan,apa yang ia pikirkan itu tidak akan terjadi padanya nanti.
***
Setelah beberapa hari berlalu,dan hari ini tepat hari ke 4 nya,tapi semuanya masih tetap berjalan seperti biasanya.Hanya saja ada yang terus berubah dengan sikapnya Jennifer selama beberapa hari ini,secara bertahap,dan hal tersebut mampu membuat sikap cueknya Sebastian mulai terganggu.
Seperti pagi ini,Jennifer benar-benar bangun pagi-pagi sekali selama 3 hari ini karena hari pertama hari itu,ia kembali terlambat bangun.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Sebastian dengan perasaan kesalnya,sambil mempertahankan nada dan wajah santainya,dan juga melirik sekilas kearah jam tangannya yang baru saja jam 6 pagi.
Ia sudah memerhatikan tingkah istrinya sedari 30 menit yang lalu tadi,setelah Jennifer selesai membersihkan diri tadi,dan tentunya juga setelah menunggu dirinya selesai mandi,baru gilirannya Jennifer.
Dan selama 3 hari ini, ia juga telah bersabar untuk tidak bertanya pada istrinya,tentang sikap cuek istrinya terhadapnya itu yang semakin hari semakin cuek saja.Karena biasanya istrinya akan makan sambil terus memerhatikan wajahnya,saat makan siang dan makan malam,tapi dalam beberapa hari ini istrinya terus berkurang memerhatikan wajahnya.
Belum lagi,dengan tingkah aneh istrinya selama beberapa hari ini.Sarapan,bahkan makan siang terus saja diluar rumah,kecuali hanya dimalam hari saja.
__ADS_1
Dan wajah istrinya yang biasanya hanya akan dipoles sedikit make up saja,tanpa lipstik.Sekarang malah bertingkah sangat menggelikan dimatanya, karena istrinya memoles wajahnya dengan tambahan sedikit make up lagi,dan juga lisptik,tapi tidak sampai begitu menjolok.Tapi tetap saja,ia tidak suka melihatnya,karena ia lebih menyukai yang seperti biasanya saja.