
Besok paginya...
"Apa yang telah terjadi pada bibirmu,nak?" tanya Mommynya Jennifer dengan wajah penasarannya,saat ia melihat Sebastian yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
Ia sudah sedari tadi memerhatikannya,hanya saja ia lebih memilih untuk bertanya disaat seperti ini saja,saat Sebastian sudah selesai sarapan.
"Hanya sedikit terbentur sisi pintu kamar saja,Tante..." jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil meminum air putihnya dengan pelan.
"Sampai mengenai 2 sudut bibirmu?" tanya Mommy dengan kening yang mengernyit heran, saat ia mendengar jawaban dari Sebastian barusan.
Tidak mungkin kan,Sebastian yang ia dengar selalu waspada itu akan terbentur sisi pintu.Apa lagi,ia bisa melihat jelas luka di kedua sudut bibirnya Sebastian yang sudah membiru itu.
Walaupun luka tersebut tidak besar,hanya kecil saja,tapi ia bisa menebak,kalau luka tersebut pasti karena terkena bogeman mentah yang ia tidak mengerti siapa yang tega melakukan itu pada Sebastian.
"Iya,Tante.Aku tidak tahu,kalau sisi-sisi disetiap pintu yang ada disini,semuanya sangat tajam...Tapi tidak apa-apa,Tante.Lain kali,aku pasti akan lebih berhati-hati lagi..." jawab Sebastian dengan nada menyindirnya,sambil berdiri dari duduknya.
Sedangkan Daddynya Jennifer yang tahu dirinya disindir itu,ia hanya cuek saja,dan pura-pura tidak mengerti.
Begitu juga dengan Jennifer yang tidak mampu mengatakan apa-apa,karena hal tersebut akan berdampak buruk padanya,ia bahkan masih mengenakan syal dilehernya karena takut ketahuan oleh Mommynya.
Untung saja,sejak semalam Mommynya terus fokus pada Sebastian,jadi tidak begitu memerhatikan dirinya yang aneh karena memakai syal dimalam hari dan dipagi hari seperti ini.
"Tajam?" tanya Mommynya Jennifer yang malah menjadi semakin bingung,sambil menelisik wajah tenangnya putri sulung dan suaminya itu.
Sedangkan putri bungsunya,Sylvia sudah berangkat kesekolahnya sedari jam 6 lewat 20 menit tadi,dan sekarang sudah jam 7 pagi lewat 20 menit.
"Iya,tajam Tante...Untung saja,gigiku masih utuh semua.Jika tidak,mungkin saja aku perlu kerumah sakit, malam tadi juga..." jawab Sebastian dengan nada menyindirnya lagi.
"Tante,aku kehalaman belakang dulu ya...Aku ingin memeriksa perkerjaanku terlebih dahulu..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada sopannya dan wajah seriusnya sebelum Mommynya Jennifer sempat bertanya lagi,karena ia memang benar-benar ingin pergi memeriksa perkerjaannya lewat kiriman dari Aldy akibat dirinya yang tidak bisa keperusahaan.
Kemudian ia langsung berjalan pergi dari sana kearah halaman belakang Mansion tersebut, setelah ia mendapatkan anggukan pelan dari Mommy, dengan membawa laptop miliknya yang ada diruang tamu sana.
Laptop yang telah diantarkan oleh Aldy tadi pagi,Sebastian bahkan sudah berganti kemeja dengan kemeja nyaman miliknya kembali,karena Aldy juga membawa belasan pasang pakaian gantinya.
"Sayang,apa kamu bisa menjelaskannya padaku sekarang,apa maksud dari perkataannya Sebastian tadi?" tanya Mommy dengan kedua mata yang menelisik tajam kearah suaminya yang baru saja selesai sarapan,ia bisa menebak kalau pasti suaminyalah pelakunya, memangnya siapa lagi yang berani menyentuh Sebastian selain suaminya.
Berbeda dengan Daddy yang langsung tersenyum kecil kearah istrinya,Jennifer malah terus menatap punggungnya Sebastian yang sudah menghilang dibalik tembok-tembok kuat yang ada didalam Mansion tersebut.
"Tadi malam,kami berdua hanya menguji kemampuan bela diri kami masing-masing saja, sayang.Dan ternyata,kemampuan bela dirinya Sebastian masih berada dibawah kemampuanku, Sebastian tidak mampu menghindari bogeman-bogeman mentah dariku. Jadi,begitulah...Tapi bukankah tadi kamu dengar dari Sebastian sendiri,sayang...Kalau itu hanya luka kecil saja..." jawab Daddy dengan nada santainya,sambil mengelap sisa makanan yang ada disudut kedua bibirnya dengan gerakan pelannya.
'Kamu tidak tahu saja,luka kecil itu bahkan tidak mampu mempengaruhi percintaan manis mereka pada malam tadi...' lanjut Daddy dengan perasaan kesalnya,saat ia mengingat kembali adegan siaran langsung tadi malam yang tidak sengaja ia lihat itu,padahal dikedua sudut bibirnya terluka tapi Sebastian masih saja ingin melahap bibir putri sulungnya itu dengan tidak tahu malunya.
"Benarkah?" tanya Mommy dengan wajah tidak percayanya,ia berpikir kalau tenaga mudanya Sebastian tidak mungkin akan kalah sama tenaga suaminya yang sudah setengah abad ini.
"Coba saja kamu tanya putri sulung kita ini, sayang...Bukankah Jennifer juga berada didalam ruang kerjaku,bersama kami tadi malam..." jawab Daddy dengan tatapan malasnya kearah Jennifer yang terus saja menatap kearah perginya Sebastian tadi,padahal Sebastiannya sudah tidak terlihat sedari 3 menit yang lalu.
Mommy yang masih merasa tidak percaya tadipun langsung ikut menampilkan wajah malasnya,saat ia melihat Jennifer yang sedang dimabuk cinta itu,hingga tidak perduli lagi dengan orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
"Ehem ehm ehm..." dehem Mommy dengan nada tingginya,deheman itupun mampu membuat putri sulungnya langsung tersentak kaget.
"Apa yang sedang kamu lihat,nak? Seperti tidak ada cukup waktu saja,untuk melihatnya..." tanya Mommy dengan nada menyindirnya,sambil membersihkan meja makan dengan gerakan pelannya karena masih tersisa piring sarapannya Jennifer yang belum selesai.
Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu tersenyum cenges-ngesan saja sambil melanjutkan sarapannya kembali,setelah rasa kagetnya tadi sudah menghilang sepenuhnya.
"Benarkah,luka dibibirnya Sebastian itu akibat kalah duel dari Daddymu,pada saat Daddymu menguji kemampuan bela dirinya tadi malam?" tanya Mommy dengan wajah penasarannya,tanpa menghentikan kegiatan membersihnya.
"Benar Mom,ternyata Daddy masih tangguh seperti waktu muda dulu..." jawab Jennifer dengan wajah yang pura-pura serius,setelah ia sudah melirik sekilas kearah Daddy yang sedang memberi kode mata padanya.
Sedangkan Mommy,ia menghentikan kegiatannya selama beberapa detik,untuk menelisik curiga kerarah suami dan putri sulungnya itu.Setelah itu,ia kembali melanjutkan kegiatannya tersebut.
"Baiklah,sekarang Mommy ingin pergi memasak dulu..." ucap Mommy akhirnya,dengan nada santainya,ia memilih untuk mengabaikan rasa tidak percayanya saja,karena ia harus segera memasak untuk makan siang nanti.
Belum lagi,nanti sore ia ingin menyelesaikan sisa persiapan-persiapan acara kecil untuk ulang tahun putri sulungnya itu.
Kemudian iapun sekalian membersihkan piringnya Jennifer,karena kebetulan Jennifer juga sudah selesai sarapan.Lalu iapun segera berjalan pergi kearah dapur,bersama beberapa pelayannya yang sedang membantunya untuk membawa piring-piring kotor tersebut.
"Thank's Dad..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,sambil meminum pelan air putihnya.
"Hm..." jawab Daddy dengan singkat,sambil berdiri dari duduknya,karena ia juga ingin segera berangkat keperusahaannya.
"Dad,bisakah hari ini Daddy jangan berangkat kekantor?" tanya Jennifer dengan wajah penuh harapnya sebelum Daddy sempat berjalan pergi dari hadapannya, sambil ikut berdiri dari duduknya.
"Memangnya, kenapa Daddy jangan berangkat kekantor?" tanya Daddy balik,dengan wajah bingungnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama Daddy dan Mommy,tapi Mommy sedang memasak saat ini.Jadi,harus menunggu Mommy selesai masak dulu,aku baru bisa mengatakan hal tersebut pada kalian berdua..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah tenang yang berusaha menyembunyikan wajah khawatir dibalik wajah santainya.
"Ini tentang Sebastian...Tapi aku harus menunggu Mommy dulu,Daddy tahu sendiri bagaimana Mommy,bukan..." jawab Jennifer dengan nada pelannya.
"Baiklah.Kalau begitu,Daddy akan berangkat kekantor pada siang hari saja..." ucap Daddy dengan nada dan wajah pasrahnya,sambil berjalan pergi kearah ruang kerjanya untuk memerintahkan Asistennya untuk mengirim email saja padanya pagi ini.
Ia bahkan harus bertanya-tanya didalam hatinya saja,tentang apa yang sedang ingin dibicarakan oleh Jennifer.Apa lagi,tadi Jennifer mengatakan tentang Sebastian.
Dan tentang istrinya,memang seperti itu kalau sedang memasak,istrinya pasti akan mengomel panjang lebar jika diganggu pada saat sedang memasak.
Jenniferpun langsung tersenyum senang,sambil terus menatap punggung lebar Daddynya.Tapi hanya untuk beberapa detik saja,dan wajah tersenyumnya berubah menjadi khawatir,karena ia khawatir kalau ide atau apa yang akan ia katakan pada kedua orang tuanya nanti,malah tidak mendapatkan dukungan sama sekali.
Beberapa jam kemudian,Jennifer dan kedua orang tuanya sudah duduk rapi diruang tamu,mereka ber 3 masih duduk diam dan belum ada satupun yang bersuara karena Daddy dan Mommy ingin menunggu putri sulung mereka bersuara duluan.Sedangkan Jennifer...
"Jika kamu hanya ingin menghabiskan waktu Mommymu saja,jangan mengajakku kesini. Seharusnya,kamu bisa mengajak Mommy kedapur atau kepasar saja..." ucap Mommy dengan nada tidak sabarannya dan wajah kesalnya,sambil bersedekap dada.
Ia bahkan harus menunda untuk membersihkan dirinya dijam 11 siang ini,karena ingin mendengarkan apa yang sedang ingin Jennifer katakan pada mereka.Tapi Jennifer masih juga belum berbicara,padahal ia dan suaminya sudah duduk disana selama 10 menit...
"Oke,oke,aku akan mengatakannya sekarang...Tapi Daddy dan Mommy harus berjanji padaku,jangan memarahiku setelah ini..." ucap Jennifer dengan nada cepat dan wajah seriusnya,sambil menegakkan tubuh malasnya tadi.
"Baik..." jawab Mommy dan Daddy secara serentak,setelah mereka berdua sudah selesai saling bertatap mata dengan wajah bingung mereka.
__ADS_1
"Baiklah..." ucap Jennifer sambil menetralkan semua rasa gugup,khawatir dan juga ragu-ragunya.
"Dad,Mom,aku ada cara untuk membuat Sebastian akan segera menikahiku...Dan cara itu,sudah aku pikirkan sedari malam tadi..." lanjut Jennifer dengan nada pelannya dan perasaan khawatirnya yang masih belum berkurang sedikitpun.
"Caranya?" tanya Mommy dengan wajah penasarannya,sedangkan Daddy,ia hanya terus menelisik wajahnya Jennifer.
Dan ia sudah bisa menebak kalau cara yang sedang dipikirkan oleh Jennifer saat ini pasti sangat buruk,terlihat dari wajah tidak tenangnya Jennifer sedari tadi.
"Bukankah,malam ini kita akan mengadakan acara ulang tahunku yang ke 22 tahun,Mom,Dad..." jawab Jennifer dengan menatap khawatir kearah Mommy dan Daddynya secara bergantian.
Karena malam ini memang acara ulang tahunnya,hanya saja Jennifer sudah memberitahu kepada kedua orang tuanya kalau ia hanya ingin merayakan di Mansion saja dengan orang-ornag terdekatnya saja tanpa orang luar satupun.
Sedangkan Mommy dan Daddynya jennifer,mereka berdua masih bersabar ingin mendengarkan lanjutan dari Jennifer setelah menganggukkan pelan kepala mereka.
"Jadi, saat acara ulang tahunku nanti malam,aku ingin..............." lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang semakin khawatir,sambil *******-***** ujung pakaiannya.
"What?..."
"What?..."
Tanya Daddy dan Mommy secara serentak,dengan nada tinggi mereka,karena merasa sangat kaget dengan cara yang ingin Jennifer lakukan itu.
Mereka berdua bahkan langsung berdiri dari duduk mereka,dengan tatapan tidak percaya kearah putri sulungnya yang langsung memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya.
"Apakah kamu ini b*d*h,atau tidak waras?" tanya Mommy dengan wajah kesal dan juga emosi, sambil menatap marah kearah Jennifer yang baru saja ikut berdiri.
"Mom,pelankan suaramu...Bagaimana kalau nanti Sebastian mendengarnya,dan sampai turun kesini?" ucap Jennifer dengan nada pelan dan wajah kesalnya,sambil menahan rasa takutnya pada kedua orang tuanya dan juga meletakkan jari telunjuknya kebibirnya.
Inilah yang ia khawatirkan sedari tadi,dan sesuai dengan apa yang ia duga,kalau Mommynya pasti akan merutukinya.Dan lihatlah,sebentar laginpasti giliran Daddynya.
Ia juga khawatir kalau perkataan suara cempreng Mommynya itu,akan membuat Sebastian yang masih setia mengerjakan perkerjaannya sedari tadi itu akan segera keluar dari dalam kamarnya,karena memang sedari tadi,Sebastian sudah berpindah kekamarnya.
"Sudah,kita masih bisa bicarakan dengan tenang... Tidak baik untuk kesehatanmu nanti,kalau harus berbicara dengan nada tinggi seperti ini..." ucap Daddy yang sedari tadi hanya diam saja,sambil mendudukkan istrinya dengan pelan dan wajah khawatirnya.
"Apa kamu tidak berpikir dulu,baru berbicara... Lihatlah ulahmu ini..." tegur Daddy dengan nada kesal dan wajah marahnya,sambil mengelus-elus punggung istrinya yang masih saja sedikit bergetar karena rasa kesal dan emosinya, ia juga melirik sekilah kearah Jennifer yang hanya mampu menampilkan wajah bersalahnya saja.
"Apakah kamu ingin membuat Mommymu,masuk kerumah sakit sekarang?" tanya Daddy dengan nada kesalnya,tanpa menghentikan elusan tangannya.
Bukan apa-apa,dirinya masih bisa mengontrol rasa kesal ataupun rasa emosinya,tapi beda dengan istrinya yang memiliki penyakit darah tinggi. Bagaimana kalau berkat ulahnya Jennifer,istri tercintanya itu sampai kenapa-kenapa...
"Maafkan aku,Mom,Dad..." ucap Jennifer dengan nada pelannya,sambil menundukkan wajah bersalahnya.
"Tapi,aku kan sudah mengatakan pada Mom dan Dad tadi,kalau aku sudah memikirkannya sedari malam tadi,karena dikepalaku hanya itu saja satu-satu caranya supaya kami bisa menikah secepatnya..." lanjut Jennifer dengan wajah tidak berdayanya dan kedua mata yang melirik kearah kedua orang tuanya yang masih emosian.
Ia memang terus saja memikirkan hal tersebut sejak Sebastian melarangnya untuk menyentuh atau berdekatan tadi malam,tapi hanya itu saja yang terlintas dibenaknya.Mau bagaimana lagi,ia harus mencobanya,selanjutnya akan ia pikirkan nanti saja.
"Tarik napas dan buangkan dengan perlahan,kamu harus tenang,jangan membuat diriku merasa khawatir seperti ini..." ucap Daddy dengan nada lembutnya dan juga wajah khawatirnya,ia berusaha untuk membuat istrinya bisa mengontrol semua rasa emosi tersebut terlebih dahulu,ia bahkan mengabaikan pembelaan diri dari Jennifer barusan.
__ADS_1
Mommynya Jennifer langsung tersenyum bahagia,karena sikap lembut suaminya ini memang selalu mampu membuatnya merasa tenang.
Tapi senyuman senangnya itu langsung berubah menjadi kesal dan marah kembali,saat ia melihat Kearah Jennifer yang sedang menunduk tidak berdaya disana.