Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 51


__ADS_3

'Kenapa aku seperti tidak melihat kalau ada nama ini,diantara semua Perusahaan yang diberikan oleh Billy padaku selama 1 minggu ini...' batin Jennifer dengan perasaan bingungnya,saat ia sudah selesai menyimpan nama Perusahaan miliknya Sebastian di HP miliknya dan kembali membaca ulang dengan gumaman pelannya untuk memastikan kalau ia tidak salah tulis.


Kemudian ia menelisik wajah tenangnya Billy untuk beberapa detik melalui cermin depannya Billy,lalu ia kembali kearah wajah datarnya Sebastian kembali,dan akhirnya ia memilih untuk mengurus Billy pada lain waktu saja.


Tanpa ia tahu,kalau sedang tersembunyi perasaan khawatir dibalik wajah tenangnya Billy tersebut karena takut kalau dirinya akan ketahuan.


"Mana No HPmu?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil menyodorkan telapak tangannya,karena Sebastian terlihat tidak berniat ingin memberi No HPnya.


"Aku rasa kamu tidak memerlukannya,Nona..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,tanpa menatap kearah Jennifer.


Memikirkan tentang Jennifer yang akan datang ke Perusahaannya setiap hari saja,pikirannya sudah mulai kacau.Sekarang ia harus memikirkan tentang Jennifer yang terus saja meneleponnya disetiap saat,ntah apa yang akan terjadi padanya nanti...


"Baiklah,aku tidak masalah kalau kamu tidak mau memberinya.Tapi jangan salahkan aku,kalau aku akan benar-benar melakukannya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,sambil kembali bersedekap dada kearah Sebastian yang langsung menjadi kesal.


Jennifer langsung tersenyum senang dibalik wajah seriusnya saat ia melihat Sebastian yang sudah mulai mengeluarkan HPnya.


"Ini..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya dan wajah pasrahnya karena Jennifer kembali mengingatkannya pada ancaman tadi, sambil meletakkan HPnya keatas telapak tangannya Jennifer dengan gerakan malasnya.


Beberapa detik kemudian...


"Apa lagi?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya yang bercampur perasaan bingung,saat ia melihat sodoran tangannya Jennifer yang sudah berisi HPnya itu masih seperti tadi,dan tidak bergerak sama sekali,dan juga tatapan matanya Jennifer yang menuntut kearahnya.


"Aku tidak mau menyimpan No HP kerjamu,karena aku hanya ingin No HP pribadimu saja,No HP yang akan terus menyala dan dibawa kemanapun kamu pergi" jawab Jennifer dengan nada santainya,sambil terus menatap penuh tuntutan kearah wajah kesalnya Sebastian.


Sedangkan Sebastian,ia langsung menghela napas kesal,sambil mengambil HPnya yang 1 lagi.Ternyata Jennifer cerdas juga,karena bisa tahu tentang dirinya yang memang memiliki 2 buah HP.


"Begini baru benar..." ucap Jennifer dengan nada senangnya,sambil mengambil HP yang baru saja Sebastian keluarkan itu,dan memberi HP kerja tersebut pada Sebastian kembali.


"Apa kodenya,Honey?" tanya Jennifer dengan nada bingungnya,saat ia tidak bisa membuka HPnya Sebastian.


"02022000" jawab Sebastian dengan singkat,dan lagi-lagi ia hanya bisa pasrah saja.


"Bukankah ini seperti tanggal......" ucapannya Jenniferpun langsung disela oleh Sebastian dengan cepat.


"Itu tanggal ulang tahunnya Stella..." sela Sebastian dengan berusaha mempertahankan wajah tenangnya,sambil memberi kode pada Stella agar berkerja sama dengannya,melalui ketukan pelan kakinya pada kursi duduknya Stella.


"Stella,benarkah begitu?" tanya Jennifer dengan kedua mata yang menelisik kearah Sebastian dan juga Stella secara bergantian.


"Benar kak..." jawab Stella dengan berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya,sambil tersenyum manis kearah Jennifer yang masih sedang menelisiknya.


Jennifer yang awalnya merasa sangat bahagia karena ia mengira kalau isi kode tersebut benar-benar tanggal ulang tahunnya,tapi nyatanya ia harus merasa kecewa dan membuang perasaan bahagianya tadi.Tapi walaupun begitu,ia tetap merasakan senang karena tanggal ulang tahunnya sama dengan Stella.


"Apakah kamu tahu,aku merasa sangat senang dengan hal itu.Akhirnya aku memiliki sahabat,bukan, maksudku saudara untuk merayakan hari ulang tahun bersamaku.Aku tidak mengira kalau tanggal lahirmu sama denganku,lain kali kamu harus ikut denganku saat tanggal itu tiba,bagaimana?" ucap Jennifer dengan panjang lebar,sambil tersenyum senang.


"Tentang yang 1 ini,aku tidak ingin menerima penolakan,Stella" lanjut Jennifer lagi,dengan nada tegasnya saat ia melihat kalau Stella seperti ingin menolak ajakannya tadi.

__ADS_1


"Baiklah,kak " jawab Stella dengan nada dan tersenyum pasrahnya,sambil melirik sekilas kearah wajah kesal kakaknya.


"Bagus.Sekarang aku akan menyimpan No HP kakakmu terlebih dahulu..." ucap Jennifer dengan nada senangnya,sambil mengetik kode yang memang sudah ia hapal tersebut,tanpa ia dengar ulang lagi.


"Aku pikir,hanya wajahmu saja yang datar.Ternyata HPmu juga sama datarnya" lanjut Jennifer dengan nada herannya,sambil mengotak-atik isi HPnya Sebastian dengan perlahan-lahan.


Ia merasa heran,kenapa layar HPnya Sebastian hanya berwarna hitam saja,dan tidak ada apapun yang menarik didalam sana,selain aplikasi-aplikasi yang memang diperlukan saja.Dan untung saja,Sebastian tidak menyimpan foto-foto wanita lain didalam HP tersebut.


'Sepertinya,mulai sekarang hidupku akan semakin berantakan berkat wanita menyebalkan ini' batin Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil menyimpan HP kerjanya dan memerhatikan wajah senangnya Jennifer yang sedang mengetik sesuatu di HP miliknya dan sibuk menjelajah isi HPnya dengan seenaknya saja.


Dulu ia memang menyimpan tanggal lahirnya Jennifer sebagai kode di HPnya,ia hanya merasa kalau tanggal lahirnya Jennifer sangat menarik dimatanya,iapun menyimpannya begitu saja.Lagi pula,tanggal tersebut terus saja teringat didalam kepalanya semenjak acara ulang tahunnya Jennifer pada tahun lalu,lebih tepatnya semenjak Jennifer menc**mnya pada malam itu.


"Sudah.Ini aku kembalikan padamu lagi..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum puas sambil mengembalikan HPnya Sebastian,karena ia sudah berhasil menyimpan No HPnya dan mengetik sesuatu di HPnya Sebastian tadi.


Sebastianpun segera mengambil HP miliknya dengan wajah kesal dan gerakan malasnya,lalu ia langsung menyimpannya kesaku celananya kembali tanpa mengecek isi HPnya terlebih dahulu.


'Sepertinya,mulai sekarang Tuan Muda harus mempersiapkan mental pria sejatinya supaya tidak akan tergoyahkan dengan rayuan-rayuan nakal Nona Mudanya' batin Billy dengan kata-kata candanya,sambil menahan tawanya.Setidaknya tingkah Nona Mudanya selama berada didalam mobil sedari tadi,mampu membuat perasaan khawatirnya tadi sedikit mengurang,walaupun tidak sepenuhnya.


"Nona Muda,para pelaku yang menyerang kita tadi sudah selesai diurus oleh yang lainnya.Masih ada beberapa yang hidup,dan sudah langsung dibawa ketempat biasa sana"lapor Billy dengan tiba-tiba saat ia melihat kalau obrolan sepasang manusia tersebut yang sudah mulai reda,karena pesan tersebut sudah sedari 10 menit yang lalu,bawahannya mengiriminya.


"Bagus..." jawab Jennifer dengan nada tenangnya, ia berniat ingin menginterogasi mereka satu persatu nanti,tentang siapa dalang yang sebenarnya.


Kemudian ia kembali mengobrol bersama Stella,dengan wajah ceria dan senangnya. Moodnya sudah berubah menjadi sangat baik saat ini,karena ia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.Sekarang ia hanya perlu memasuki hatinya Sebastian secara perlahan-lahan saja.


Sedangkan Sebastian,ia hanya terus menelisik ekspresi wajahnya Jennifer dalam diam.


"Cukup sampai disini saja" perintah Sebastian pada Billy yang berniat ingin membawa mobilnya kedalam halamannya Mansionnya Naava tersebut,karena mereka sudah sampai di Mansionnya Naava saat ini.


"Baik,Tuan..." jawab Billy dengan cepat,tanpa menambahkan kata " Muda " yang biasanya ia sambungkan pada kata " Tuan " tersebut.


Setelah Billy menghentikan mobil,mereka semuapun langsung keluar dari dalam mobil,kecuali Stella yang disuruh tetap duduk didalam mobil sama Sebastian.


"Setelah ini,periksa siapa dalang dari pelaku para penembak tadi dengan baik" perintah Sebastian dengan gumaman pelannya,sambil berjalan melewati Billy yang langsung menjawab dengan anggukan pelan kepalanya,hingga Jennifer tidak mampu mendengar dan melihatnya dengan baik.


"Apa kamu tidak ingin masuk kedalam sebentar,Honey?" tanya Jennifer dengan ekspresi penuh harapnya,sambil terus menatap Sebastian yang sudah melewati Billy dan sedang berjalan kearah tempat duduk pengemudi.


"Tidak" jawab Sebastian dengan singkat dan nada tegasnya,sambil menghentikan langkahnya tepat dihadapannya Jennifer dan disampingnya pintu pengemudi.


"Apa kamu tidak bisa menghargai niat baikku ini,walau sedikit saja?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil bersedekap dada.


"Mungkin,lain kali saja..." jawab Sebastian dengan nada seriusnya sambil menatap datar kearah Jennifer dan juga menahan senyum dibalik wajah datarnya,saat ia melihat wajahnya Jennifer yang sedang mmeberengut kesal itu langsung berubah.


"Benarkah?" tanya Jennifer dengan wajah tidak percayanya,saat ia mendengar jawabannya Sebastian barusan yang terdengar sangat bagus menurutnya,dan karena baru ini kali pertamanya Sebastian menanggapi pertanyaannya dengan baik dan serius.


"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,sambil bersedekap dada dengan gaya tegasnya.

__ADS_1


"Baiklah,kali ini aku tidak akan memaksamu.Tapi lain kali kamu harus menepati apa yang telah kamu katakan tadi?" pinta Jennifer dengan nada seriusnya,sambil berjalan mendekati Sebastian.


"Berhenti disana,dan masuk kedalam sekarang juga.Jika tidak,aku akan menarik kembali apa yang telah aku katakan tadi" perintah Sebastian dengan nada tegasnya dan juga mengancamnya,sambil menatap tajam kearah Jennifer yang langsung menghentikan langkahnya.


Ia tidak mau kalau sampai Jennifer kembali bertingkah aneh dihadapannya Billy dan Stella,lalu membuat dirinya tidak mampu berbuat apa-apa dan pastinya akan menjadi seperti orang b*d*h.


"Baiklah,baiklah,aku akan masuk.Stella,sampai jumpa lagi ya,bye-bye..." ucap Jennifer dengan cepat dan wajah tersenyum senangnya,sambil sedikit melambai-lambaikan tangannya kearah Stella yang memang sedang memerhatikan mereka dari jendela mobil yang sudah terbuka sedari mereka keluar mobil tadi.


"Sampai jumpa juga kak,bye-bye..." jawab Stella dengan wajah yang tersenyum senang dan juga lucu,saat ia melihat tingkah lucu calon kakak iparnya itu.


Lalu Jenniferpun langsung berjalan masuk kedalam dengan wajah yang terus tersenyum senang,setelah ia selesai mengedipkan sebelah matanya dengan senyum nakalnya kearah Sebastian.


"Tuan Muda,apakah kamu tahu? Kalau Nona Muda mulai bersikap manja,aneh,nakal dan cerewet seperti itu,semenjak Nona Muda mengenal Tuan Muda..." ucap Billy dengan nada seriusnya,sambil terus menatap punggung Nona Mudanya yang sudah mulai menghilang dibalik pintu utama sana.


"Kenapa kamu tidak tambahkan saja,kata b*d*h didalam kalimatmu barusan?" tanya Sebastian dengan nada santainya,sambil mengalihkan tatapan datarnya kearah Billy.


"Itu,mungkin termasuk juga" jawab Billy dengan nada pelannya,sambil menatap malas kearah Stella yang langsung tertawa kecil.


"Tuan Muda,apa kamu benar-benar tidak ingin masuk kedalam untuk menyapa calon mertua sebentar?" lanjut Billy dengan wajah yang tersenyum menggodanya,sambil mengalihkan tatapannya kearah wajah datar Tuan Mudanya yang mulai menjadi kesal.


"Jika kamu ingin tidak bisa bernapas lagi,teruslah bertanya yang tidak-tidak padaku..." jawab Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menatap tajam kearah Billy.


"Maafkan aku,Tuan Muda.Kalau begitu,aku akan masuk kedalam saja..." ucap Billy dengan cepat sambil sedikit menunduk hormat kearah Sebastian,lalu iapun segera berjalan masuk kedalam dengan langkah lebarnya dan mengabaikan tawa kecilnya Stella yang seperti tidak mau berhenti saja.


"Dasar,Asisten tidak tahu diri" umpat Sebastian dengan nada kesalnya,sambil membuka pintu mobil dan masuk kedalam dengan gerakan tegasnya.


"Kakak,apa kakak mencintai kak Jennifer?" tanya Stella dengan wajah penasarannya,sambil terus menelisik wajah tampan kakaknya yang sudah fokus menyetir.


"Jangan bertanya tentang yang kamu sendiri saja tidak mengerti..." jawab Sebastian dengan nada malasnya,sambil memikirkan tentang siapa sebenarnya dalang dari penembakan yang terjadi didalam Mall tadi.


'Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini...Ntah itu yang dinamakan cinta,atau hanya sekedar peduli antara sesama manusia saja...' lanjut Sebastian didalam hatinya,dengan perasaan bingungnya.


Selama 1 tahun ini ia masih bisa bersabar tentang kepalanya yang terus saja memikirkan Jennifer dan tetap bertahan dengan sikap cueknya didepan semua orang yang ia sayangi.Tapi sejak Jennifer pulang kesini hari itu,ia sudah mulai tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak memerhatikan atau tidak melihat Jennifer dari jarak dekat.


Bahkan,sekarang isi kepalanya yang berisi tentang Jennifer semua,semakin penuh dan ia hampir tidak mampu mengontrol kepalanya dengan baik lagi.Tapi walaupun begitu,ia tetap berusaha untuk mampu mengendalikan semua itu.


"Kakak,asal kamu tahu,aku sudah besar.Dan hal sekecil itu,aku sudah sangat mengerti,lebih dari apa yang kakak tahu" ucap Stella dengan nada manja yang sudah bercampur perasaan kesalnya,lagi-lagi kakaknya menganggapnya sebagai anak kecil,padahal kakaknya lebih parah dari dirinya.


"Iya,itu menurutmu.Menurutku,kamu masih tetap anak kecil dimataku" ucap Sebastian dengan nada tenangnya dan wajah yang sedang menahan tawa,saat ia mendengar nada manja adik perempuannya itu.


"Terserah kakak saja" ucap Stella yang sudah bosan berdebat tentang dirinya yang terus saja dianggap anak kecil oleh kakaknya.


"Kakak,aku bisa melihatnya dengan jelas,kalau kak Jennifer itu wanita yang baik.Dan cintanya untuk kakak sangat tulus,tidak seperti wanita yang dimasa lalu kakak itu.Jadi aku harap,kakak tidak akan menyia-siakan kakak Jennifer.Aku berani jamin kalau kakak pasti akan menyesal,kalau kakak sampai membuat wanita yang secantik dan sebaik kak Jennifer patah hati karena keb*d*han kakak sendiri" lanjut Stella dengan wajah seriusnya,sambil menelisik wajah datarnya kakaknya yang masih saja tidak mampu ia tebak.


"Aku akan tidur saja,dari pada aku harus berbicara sama pria keras kepala seperti kakak" lanjut Stella lagi,dengan nada kesalnya saat ia melihat kakaknya yang hanya diam saja.

__ADS_1


Lalu iapun segera menyandarkan kepalanya kebelakang dan memejamkan kedua matanya dengan pelan karena perjalanan mereka kerumah masih ada sekitar 20 menit lagi.


__ADS_2