Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 22


__ADS_3

"Dan satu lagi,hubungan kami baik-baik saja.Bukankah benar begitu,Hubby?" tanya Jennifer pada Sebastian,sambil menahan rasa gugup, malunya dan sedikit mendongakkan kepalanya ke arah wajahnya sebastian,hingga mampu membuat wajah mereka saling bertatapan dan hampir tidak berjarak.


"Jawab aku dengan kata yang benar.Dan peluk aku,atau aku akan menciummu sekarang juga..." ancam Jennifer dengan nada pelannya dan wajah seriusnya sambil menahan rasa gugup,malu yang sudah bercampur dengan rasa kesalnya,dan hanya Sebastian saja yang bisa mendengar suaranya yang sudah seperti gumaman pelan itu.


Ia kesal karena Sebastian yang tidak mau berkerja sama,padahal ia melakukan semua itu hanya untuk menyelamatkan harga dirinya pria pujaan hatinya itu saja.


"Iya,kamu benar Honey.Hubungan kami memang baik-baik saja" jawab Sebastian dengan cepat dan wajah datarnya saat ia mendengar ancaman seriusnya Jennifer barusan,sambil berusaha untuk tenang dan menggerakkan pelan kedua tangannya untuk memeluk pelan pinggul langsingnya Jennifer.


Bahkan ekspresi kaget di wajahnya yang masih tetap bertahan sedari tadi itupun langsung menghilang begitu saja, saat ia mendengar ancaman dari Jennifer barusan.


"Nona,kamu adalah wanita yang cantik dan juga berstatus tinggi.Aku sarankan,jangan mau sama pria miskin seperti dia.Nona pasti akan hidup susah kalau Nona memilih untuk menikah dengan pria miskin ini. " ucap Siska dengan wajah yang pura-pura serius dan tulus,sambil menahan rasa kesalnya tadi karena tidak mungkin ia mampu melawan Jennifer yang notabene memiliki segalanya dan kekuasaan.


"Dan apakah Nona tahu,kalau pria ini selalu mengejar cintaku,padahal dia sudah tahu kalau aku sudah memiliki kekasih" lanjut Siska lagi,dengan nada pura-pura kesalnya,ia sengaja ingin memanaskan Jennifer supaya Jennifer akan berpikir untuk meninggalkan Sebastian saat ini juga.


'Dasar wanita murahan,aku tidak akan segila itu sampai harus mengejar cintamu.Aku hanya sedikit terjatuh dalam godaanmu itu saja' batin Sebastian dengan wajah yang menahan rasa kesalnya,karena terus di fitnah oleh Siska sedari tadi.Ia menyesal karena telah jatuh cinta sama wanita yang seperti Siska.


"Iya.Dan di luar sana,masih ada banyak pria yang lebih baik lagi dari pada pria miskin ini" timpal kekasihnya Siska dengan nada kesalnya,sambil berusaha menampilkan wajah tenangnya tapi tetap saja ekspresi emosinya terlihat di wajah tenangnya.


"Benarkah? Apakah dirimu yang kamu maksudkan? Tapi maaf,dan terima kasih atas nasehat kalian berdua.Walaupun kekasihku ini semiskin apapun ,aku tetap akan memilihnya.Karena di mataku hanya kekasihku saja, pria yang terbaik untukku.Dan aku tidak membutuhkan apa-apa lagi selain cintanya" jawab Jennifer dengan nada jujur dan ekspresi yakin di wajahnya,sambil menahan rasa kesalnya pada mereka berdua dan menatap sekilas ke arah kekasihnya Siska,lalu ia segera menelisik wajah tampannya Sebastian yang masih terlihat tenang sambil menunjuk pelan dadanya Sebastian yang masih berbalut kemeja itu saat ia sudah berbicara sampai di akhir kalimat,tanpa ia tahu kalau Sebastian sedang mati-matian mengontrol degupan jantungnya yang semakin lama semakin tidak beraturan.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu membalas tatapannya Jennifer dengan berusaha terus menampilkan ekspresi tenang di wajah datarnya,sambil menahan semua rasa di dalam hatinya,rasa tidak percayanya, bingung,penasaran,gugup dan juga rasa heran yang sudah bercampur menjadi satu.


"Dan ini adalah bukti rasa cinta dari kekasihku untukku.Aku tidak akan membiarkan kekasihku ini sampai membagi cintanya pada siapapun,ataupun mempermainkan cinta orang lain,karena aku akan memastikan kalau cinta kekasihku ini hanya akan menjadi milikku seorang saja,untuk selamanya" lanjut Jennifer lagi,dengan panjang lebar dan sedikit nada menyindir,sambil menahan rasa malunya dan juga memperlihatkan cincin indah yang ada di jari manisnya itu dengan gaya memutar pelan di hadapannya Siska dan juga Irfan,lalu berhenti tepat di dada kerasnya Sebastian.


Bahkan ia tidak mau memberi kesempatan sedikitpun untuk berbicara pada Siska dan Irfan yang sedang menampilkan wajah kesal mereka,sebelum ia benar-benar sudah meluapkan semua rasa kesalnya karena Siska dan kekasihnya Siska telah merendahkan pria pujaan hatinya ini.


'Bukti cinta? Kenapa cincin ini seperti cincin milikku? Tapi kapan aku memberi cincin ini padanya? Aku rasa,aku tidak pernah memberi cincin itu pada siapapun karena cincin itu ntah sudah menghilang kemana.Atau, jangan-jangan......" batin Sebastian yang sudah kembali merasa kaget karena cincin tersebut yang sangat mirip dengan miliknya,saat ini di benaknya sudah di penuh berbagai pertanyaan untuk Jennifer nanti.


"Dan satu lagi.Untuk kamu,selamat untuk kamu Irfan,selamat karena telah move on dariku" lanjut Jennifer lagi,dengan nada santainya sambil menatap ke kekasihnya Siska yang bernama Irfan itu.Ia sengaja mengatakan seperti itu,karena ia sengaja ingin sekalian memanaskan Siska.


Sebastian yang juga mendengar perkataannya Jennifer barusan itupun langsung menampilkan wajah penasarannya saat ekspresi kagetnya tadi sudah mulai menghilang,tapi hanya untuk beberapa detik,karena ia kembali menampilkan wajah datar tenangnya tadi,sambil terus menatap Jennifer yang terus menampilkan wajah serius sedari berbicara tentang pria miskin ataupun pria baik tadi.

__ADS_1


' Apa wanita ini sedang membantuku? Atau hanya sedang iseng saja? tapi kenapa wajahnya terlihat sangat serius?' Sebastian hanya mampu terus membatin di dalam hatinya sambil terus menatap wajah cantiknya Jennifer, karena hanya itu saja yang mampu ia lakukan saat ini.


Bahkan sepertinya ia sudah tidak mampu bernapas dengan baik lagi saat ini.Karena sudah sedari tadi ia hanya lebih banyak sibuk mengontrol detakan jantungnya yang tidak beraturan tersebut,dari pada harus memikirkan perkataan-perkataan apa saja yang harus ia lontarkan untuk membungkam mulutnya Siska dan kekasihnya itu.


Di tambah lagi dengan sentuhan-sentuhan dan hembusan napasnya Jennifer yang bisa ia rasakan saat Jennifer berbicara dengan posisi wajah yang berhadapan.


Dan yang lebih parahnya lagi,kedua gunung kenyalnya Jennifer masih bisa ia rasakan walaupun sudah terhalang oleh Jas kerjanya tadi.Hingga mampu membuat dirinya semakin tidak tahu harus berbicara ataupun berbuat apa.


"Apakah itu benar,sayang?" tanya Siska dengan wajah yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi saat ia melihat tatapan memuja untuk Jennifer di kedua mata kekasihnya,bahkan ia mulai merasa malu dengan fitnahan yang sudah ia layangkan untuk Sebastian tadi.


Kalau yang ia katakan tadi adalah fitnah,tapi yang menimpa dirinya saat ini adalah kenyataan.Ia terus menatap ke arah kekasihnya yang masih saja terus menatap wajah cantiknya Jennifer.


"Benar,dan sampai saat ini aku masih belum bisa move on dari Jennifer" jawab Irfan dengan wajah tidak tahu malunya,sambil terus menatap tidak rela ke arah Jennifer,karena ternyata Jennifer lebih memilih Sebastian dari pada dirinya.


Dan jawabannya Irfan barusanpun mampu membuat Sebastian langsung mengalihkan tatapannya ke arah Irfan,dengan perasaan penasaran dan juga sedikit perasaan tidak nyaman tanpa dirinya sadari.


"Jadi,kamu anggap apa aku ini? Apa kamu hanya menganggapku sebagai pemuas nafsu saja?" tanya Siska yang keceplosan,karena terlalu kesal dan juga emosi.Setelah selesai berbicara,ia segera berusaha menyembunyikan rasa malunya.


"Iya" jawab Irfan dengan cepat tanpa menatap ke arah Siska,karena tatapan kedua matanya hanya tertuju pada wajah cantiknya Jennifer.


Irfan menjalin hubungan bersama Siska,hanya sekedar untuk memuaskan nafsu batinnya saja saat ia sedang ingin saja dan kesepian. Lagi pula,Irfan berpikir kalau Siska memang sudah tidak memiliki label utuh lagi saat mereka berdua bercinta hari itu.


Sedangkan Siska,iapun langsung menangis tanpa suara,saat ia sudah mendengar jawaban singkat dan ekspresi wajah tidak perdulinya Irfan terhadapnya.


Padahal ia sudah mencintai Irfan dengan sepenuh hatinya dan berharap akan sampai ke jenjang pernikahan.Dan tentang Sebastian,ia pikir Irfan memang tidak mempermasalahkannya.Tapi ia salah,karena ternyata Irfan memang tidak mencintainya makanya tidak pernah mempermasalahkannya.


"Irfan,teganya kamu padaku.Aku akan membuat perhitungan padamu,lain kali" ucap Siska dengan suara yang serak,sambil menahan rasa sakit hati,kecewa,marah,malu dan juga rasa kesal yang sudah bercampur menjadi satu.


Kemudian ia menatap sebentar ke arah wajah tampannya Sebastian yang sedang menatap wajah cantiknya Jennifer dan cincin yang berada di jari manisnya Jennifer,sambil menahan rasa malunya dan rasa tidak relanya yang baru saja ia sadari.


Sepertinya sekarang ia baru saja merasakan apa yang telah di rasakan oleh sebastian ketika ia mempermainkan cinta tulusnya Sebastian padanya hari itu.

__ADS_1


"Ingat Irfan,cepat atau lambat aku akan membalasmu" ucap Siska dengan wajah yang di penuhi oleh ekspresi dendam dan suara seraknya dan juga wajah marahnya yang sudah basah dengan air matanya.Lalu ia segera pergi dari sana dengan sedikit berlari dan membawa luka di hatinya, setelah ia selesai berbicara.


"Apa kamu tidak berniat untuk mengejar kekasihmu?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya,sambil menatap ke arah Irfan yang masih saja terus menatap dirinya,hingga mampu membuat dirinya menjadi risih.


Tanpa sadar,iapun semakin memeluk Sebastian lebih erat lagi sambil menyandarkan kepalanya ke dada kerasnya Sebastian dengan pelan,untuk mengurangi rasa risihnya terhadap tatapan mesum dan memujanya Irfan padanya.


'Ya Tuhan,wanita ini.Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Sebastian lagi,dengan perasaannya yang sudah tidak menentu,sambil terus berusaha mempertahankan wajah datarnya.


"Tidak,dia hanya penghilang sepiku saja.Kamu sendiri juga tahu kan,kalau aku hanya menginginkan dirimu saja.Aku harap kamu masih mau kembali mempertimbangkan tawaran dariku pada hari itu,aku masih akan sabar menunggu jawaban darimu..." jawab Irfan dengan nada lembutnya dan masih dengan wajah tidak tahu malunya,sambil menahan semua rasa emosinya dan rasa kesalnya karena ia melihat Jennifer yang terus saja memeluk Sebastian dengan erat,seperti tidak mau melepaskannya.


'Bilang saja,kalau hanya untuk pelampiasan nafsumu saja.Dasar pria brengsek" umpat Jennifer di dalam hatinya,dengan wajah kesalnya karena ulah pria tidak tahu malu tersebut, dan ia sama sekali tidak menyadari penderitaan yang di alami oleh Sebastian sedari tadi.


Ingin sekali ia mengumpat pria brengsek tersebut habis-habisan dengan suara tingginya,tapi ia tidak mau membuat keributan di Restoran tersebut dan pastinya ia akan membuat Daddynya datang untuk ikut campur,dan ia tidak menyukai hal itu.


"Sedari hari itu hingga saat ini,aku sudah memberikan jawabannya padamu ratusan kali,dan jawabanku kali ini masih tetap sama.Jadi,aku rasa kamu sudah cukup mengerti dengan apa yang sudah aku katakan barusan" ucap Jennifer dengan nada tegasnya,sambil mengisyaratkan melalui kedua matanya pada anak buah Daddynya yang sedari tadi sudah berdiri di jangkauan kedua matanya,untuk mendekat kepadanya.


"Dan tentang kekasihku ini,ia tidak miskin,ia hanya belum sukses saja.Apa kamu sudah mengerti sekarang?" tanya Jennifer dengan wajah kesalnya,ia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi karena sedari tadi kata miskin tersebut terus saja melekat di panggilannya pria pujaan hatinya ini.


"Baiklah,kalau begitu aku akan menjadikanmu milikku dengan caraku sendiri.Dan aku akan membunuh pria ini saat ini juga" ucap Irfan dengan wajah emosinya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi,saat ia kembali mendengar penolakan dari Jennifer terhadapnya yang sudah hitungan ratusan kali itu.


Lalu ia langsung berjalan mendekati Jennifer dan berniat ingin merebut Jennifer dari pelukannya Sebastian,tapi belum sempat ia menyentuh tangannya Jennifer,tangannya sudah di tahan oleh tangan kekarnya seseorang.


"Jangan mencoba untuk menyentuhnya,atau aku akan mengirimmu ke kantor polisi sekarang juga" ucap Sebastian dengan nada tenang dan tatapan tegasnya saat ia melihat kalau Jennifer tidak menyukai Irfan,sambil terus menahan tangannya Irfan karena ia memang tidak suka dengan adanya perkelahian.


Dan juga dengan sebelah tangannya yang masih berada di pinggulnya Jennifer,sambil terus menatap tegas ke arah Irfan yang langsung berdecih karena ucapannya tadi.


Lagi pula,bela dirinya masih belum sempurna,dan malah sedikit payah,dan ia juga tidak tahu sejauh mana bela dirinya Irfan.Maka dari itu,ia lebih memilih jalan aman saja,dari pada dirinya yang harus merasa malu atau beresiko harus di hajar habis-habisan oleh lawannya nanti.


"Lepaskan tanganku..." ucap Irfan dengan wajah marahnya,sambil menghempaskan tangannya Sebastian dengan kuat hingga membuat tangannya langsung terlepas dari genggamannya Sebastian.


'Kantor polisi? Yang benar saja...' batin Jennifer dengan wajah tenangnya, sambil menahan tawanya dan terus menatap wajah tampannya Sebastian yang terlihat sangat serius.

__ADS_1


Karena biasanya ia,Daddy,pamannya dan yang lainnya akan langsung memberi bogeman mentah ataupun tendangan maut pada orang-orang yang seperti Irfan.Kalau perlu,mereka akan mengunci orang-orang tersebut ke penjara bawah tanah pamannya dan menyiksa mereka.Hanya saja,ia dan yang lainnya hanya sekedar memukul saja dan masih memberi kesempatan pada Irfan karena permohonan maaf dari kedua orang tuanya Irfan.Makanya,Irfan masih mampu berkeliaran bebas sampai saat ini.


__ADS_2