
Jadi semua hal yang terjadi pagi ini saja,cukup untuk membuktikan kalau ternyata sudah ada cinta didalam hatinya Sebastian untuknya.Dan sepertinya,Jennifer harus berterima kasih pada ke 3 sahabat barunya itu,walaupun kedua sahabatnya yang lainnya hanya ikut-ikut bantu begitu saja.
"Tuan Elvan...Aku sarankan,sebaiknya sekarang Tuan kerumah sakit saja.Aku takut,kalau lutut kakinya Tuan, ada yang retak atau mungkin saja akan ada yang lebih parah lagi..." saran Billy tiba-tiba,dengan nada dan wajah khawatirnya.
"Apakah sekarang kamu sedang mendoakan, supaya kakiku ini patah? Hah!" tanya Elvan dengan nada dan wajah kesalnya,sebelum Billy sempat kembali melanjutkan bicaranya.
Sedangkan sepasang pengantin baru tersebut,mereka berdua terus saja berjalan keluar dari dalam Cafe tersebut,tanpa menunggu Billy sedikitpun.
"Maaf...Aku tidak mendoakan yang seperti itu, Tuan...Dan maaf,sepertinya aku juga tidak bisa mengantar Tuan kerumah sakit,karena aku harus segera pergi.Sampai jumpa lagi,Tuan..." jawab Billy dengan nada buru-burunya dan wajah tidak bersalahnya,sambil menunduk-nundukkan pelan kepalanya sebanyak beberapa kali kearah Elvan.
Lalu ia langsung berjalan pergi dari hadapannya Elvan yang langsung mendengkus kesal,dengan berlari cepat untuk mengejar langkah kedua majikannya yang sudah hampir sampai dimobil sana.
"Cih...Atasan sama bawahan,sama saja, sama-sama menyebalkan.Siapa juga yang menyuruhmu untuk mengantarku..." Elvan kembali berdecih kesal,sambil menatap kesal kearah punggungnya Billy yang telah menjauh dari pandangannya dengan cepat karena langkah seribunya itu.
Kemudian Elvanpun menghela napas pelan dengan panjang sebanyak beberapa kali,lalu setelah itu barulah ia berdiri dari duduknya karena ia juga harus pulang.
Tapi...
"Auchk auchk..." Elvan kembali terpekik sakit, ternyata lutut kakinya masih terasa sangat sakit dan juga ngilu,saat ia ingin berdiri barusan.
Hingga membuat dirinya yang ingin menegakkan punggungnya tadipun harus kembali duduk,karena rasa sakitnya tersebut.
"Dasar sahabat tidak punya hati.Kenapa kamu tega sekali padaku..." umpat Elvan dengan nada dan wajah kesalnya,sambil kembali mengelus-elus pelan lutut kakinya yang ternyata sudah mulai membiru,karena telah sedikit bengkak.
"Ntah apa yang telah aku mimpikan tadi malam, kenapa pagi ini aku sial sekali...Apakah memang seperti ini nasibku sekarang,jika aku bersahabat dengan orang yang ...Ya sudahlah,,,sepertinya aku memang harus kerumah sakit sekarang..." lanjut Elvan dengan nada kesalnya,ia juga tidak mau membuang tenaganya,hanya untuk mengumpat sahabat egoisnya itu.
Lebih baik,ia memikirkan tentang keadaan kakinya saat ini.Akhirnya iapun berusaha untuk berdiri sendiri dengan gerakan pelan,dan ekspresi wajah yang terlihat sedikit meringis sakit dan juga ngilu, dan iapun berniat ingin berjalan keluar dari dalam Cafe tersebut.
Dan untung saja,sang pemilik Cafe tersebut langsung berbaik hati untuk membantu pria yang baru saja ia kenal beberapa hari itu,dan juga yang telah ditinggal sendiri di Cafenya tersebut.
Lihatlah,bahkan pria tersebut harus berjalan dengan tubuh yang miring karena menahan rasa sakitnya itu.Ntahlah,ia sendiri juga merasa bingung dengan persahabatan mereka tadi,tapi ia tidak berani bertanya apapun pada pria tersebut,karena ada Tuan Muda tersebut yang terlibat dalam masalah tersebut.
"Untung saja,masih ada orang yang baik hati didunia ini.Tidak seperti pria datar itu..." Elvan langsung berucap syukur,setelah ia sudah berhasil sampai dan duduk didalam mobilnya sendiri dengan baik,walaupun dengan agak sedikit susah payah.
Dan juga setelah pemilik Cafe tersebut membantunya berjalan hingga kemobilnya,ia juga telah mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada pemilik Cafe yang sekitar berumur 40 keatas itu.
"Untung saja,tadi aku juga membawa mobilku sendiri..." lanjut Elvan dengan wajah yang tersenyum bersyukurnya,sudah kedua kalinya ia merasa beruntung pagi ini,karena biasanya Erik yang akan mengantarnya dan menjemputnya kembali,kadang juga Jennifer yang akan mengantarnya ke Restoran kembali.
Ya,kecuali yang sisanya tadi,itu bukan keberuntungan untuknya.Lagi pula,ia telah memilih untuk tidak membuang sia-sia tenaganya,hanya karena untuk merasa kesal dan mengumpat pria egois tersebut.
"Aku rasa,aku harus mencari Erik saja..." lanjut Elvan lagi,dengan nada pelannya sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan juga menghela napas berat,karena memikirkan kembali cobaan yang telah ia hadapi pagi ini.
__ADS_1
Dan ia memilih untuk mencari Erik saja,juga karena Erik sangat pandai tentang mengurut dan bengkak seperti yang dialaminya saat ini.
Dari pada ia harus kerumah sakit,dan menghabiskan uang gajinya saja.Lagi pula sakit lutut kaki yang ia derita tersebut,tidak separah yang ada didalam doanya Billy tadi.Ya,kalimat khawatir dari Billy yang menurutnya terdengar seperti doa itu.
***
Sebuah mobil yang melaju seperti biasanya,dan angkernya karena didalamnya tidak terdengar suara apapun dari siapapun yang berada didalam mobil tersebut,hanya suara angin yang lewat saja,selama dalam perjalanan mereka yang selama sekitar 30 menit itu.
Billy bahkan tidak berani,walaupun sekedar hanya untuk mengeluarkan suara helaan napasnya sedikitpun.
Jadi iapun hanya mampu menghela napas dengan sangat pelan hingga kedua majikannya itu tidak bisa mendengar helaan napasnya sama sekali, karena ia tidak mau mendapatkan amukan dari Tuan mudanya,hanya karena kesalahan kecil tersebut yang menurutnya sama sekali bukan kesalahan,tapi karena mood Tuan Mudanya yang sedang tidak bagus untuk semua orang saat ini.
"Apa lagi yang sedang kamu tunggu,hm? Cepat keluar dari sana,atau aku akan menyeretmu dari sana dengan paksa..." tanya Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat Jennifer yang terlihat tidak berniat ingin keluar dari dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan tadi,ia hanya terus sibuk menetralkan segala perasaan kesalnya,jangan sampai ia melampiaskan rasa kesalnya terhadap Jennifer,secara berlebihan nanti.
"Enak saja...Memangnya aku apaan,sampai kamu harus pakai nyeret-nyeret segala..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah memberengut kesalnya, sambil keluar dari dalam mobil suaminya dengan gerakan cepat dan juga kesal.
Walaupun sebenarnya ia juga merasa agak takut terhadap Sebastian,karena Sebastian hanya terus menampilkan tatapan tajamnya saja selama perjalanan mereka tadi,dan ia belum pernah melihat sikapnya Sebastian yang seperti sedari pagi tadi hingga sekarang itu.
"Wanita ini benar-benar...Padahal bukan aku yang bersalah didalam masalah yang menyebalkan ini,kenapa malah seperti aku yang menjadi tersangka sekarang.Dasar wanita yang sangat menyebalkan...Jangan sampai Ibu ikut campur lagi,dalam urusan kami..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,sambil menghela napas berat dan juga menatap punggung langsingnya Jennifer yang sedang berjalan masuk kedalam rumah.
"Kenapa sepasang pengantin baru ini,seperti anak-anak saja...Ntahlah..." gumam Billy yang sedari tadi hanya terus memerhatikan kedua majikannya itu saja.
Billy yang memang masih memiliki banyak perkerjaan itu,iapun langsung melajukan mobil Tuan Mudanya tersebut kearah Perusahaan, setelah ia sudah selesai menggeleng-gelengkan pelan kepalanya dengan ekspresi wajah heran yang ditujukan untuk kedua majikannya tersebut.
Didalam rumah...
"Nak,kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali, pulangnya hari ini?" tanya Ibu dengan nada sedikit tingginya dan wajah bingungnya,sambil berjalan santai dari arah dapur kearah Jennifer yang baru saja berjalan masuk melewati pintu utama.
Ibu memang masih sibuk memasak dijam segini, tapi karena kebetulan ia ingin keruang makan sebentar,hingga iapun bisa melihat menantu kesayangannya itu yang ternyata sudah pulang.
"Sepertinya Ibu lebih suka,kalau menantu kesayangan Ibu ini selalu pulang sore hari?" tanya Sebastian dengan perasaan kesal dibalik wajah santaimya,sambil merengkuh pinggulnya Jennifer yang langsung menjadi kaget dan juga gugup.
Berkat langkah lebarnya yang cepat tadi,Sebastian sampai diantara mereka dengan cepat,sebelum Jennifer sempat bersuara.
"Oh,ternyata kamu juga ikut pulang.Bukankah,tadi kamu sudah berangkat kekantor?" tanya Ibu dengan nada pelan dan wajah yang malah semakin bingung saja,dan mengabaikan pertanyaannya Sebastian yang menurutnya tidak perlu ia jawab itu,karena rasa bingungnya lebih penting saat ini.
Sedangkan Ayah,ia sudah berada disamping istrinya.Padahal tadinya ia sedang sibuk menonton berita disiaran TV,tapi jiwa ingin tahunya tiba-tiba saja meronta untuk mendekati mereka,saat ia mendengar suara istrinya tadi.
"Cih...Hari ini,ada urusan yang harus aku lakukan didalam rumah terlebih dahulu.Lagi pula,dikantor sudah ada Billy yang mengurusnya..." jawab Sebastian dengan nada santainya,setelah ia sudah selesai berdecih kesal tanpa melepaskan rengkuhan tangannya dipinggulnya Jennifer.
__ADS_1
Sedangkan Ayah,ia masih setia dengan diamnya, tapi kedua matanya terus memerhatikan perubahan sikap putranya terhadap menantunya itu tanpa mengalihkan tatapannya dari sepasang manusia itu sedikitpun.
Iapun langsung tersenyum senang didalam hatinya,saat ia merasa kalau ide istrinya hari itu,sekarang sudah hampir selesai dan mungkin saja akan berhasil sebentar lagi.
"Memangnya urusan apa lagi yang harus kamu lakukan,didalam rumah ini?" tanya Ibu dengan nada dan wajah penasarannya,sambil menelisik wajah gugupnya Jennifer dan juga rengkuhan tangannya Sebastian tersebut.
"Ibu......." baru saja Jennifer ingin meminta bantuan pada Ibu,karena takut akan dihukum yang berat-berat oleh suami datarnya itu,tapi sayangnya suara dan gerakannya Sebastian lebih cepat dari pada dirinya.
"Swetty...Bukankah kita masih ada banyak urusan yang belum diselesaikan diatas sana? Sekarang sebaiknya kita keatas terlebih dahulu,supaya urusan kita yang banyak itu bisa cepat selesai..." sela Sebastian dengan cepat dan nada santainya, sambil merengkuh istrinya lebih erat lagi,hingga tubuh mereka semakin merapat saja.
"Ta tapi........." perkataan gugupnya dan keberatannya Jennifer kembali disela oleh Sebastian,dengan cepat.
"Ayah,bukankah Ibu masih banyak perkerjaan didapur sana,lebih baik Ayah membantuku untuk membawa Ibu kedapur saja.Kami akan keatas saja terlebih dahulu.Ayo,sekarang kita harus keatas duluan..." sela Sebastian lagi,dengan nada santainya dan melirik kesal sebentar kearah Ayah.
Lalu iapun segera membawa Jennifer kekamar mereka,dengan langkah tegasnya,tapi masih mampu diikuti oleh langkah kecilnya Jennifer.
Jennifer bahkan tidak mampu melakukan pembelaan diri apapun lagi,selain mengikuti langkah suaminya saja,dengan perasaan yang gugup dan juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sebastian padanya diatas nanti.
Tapi ia juga tersenyum senang dan malu didalam hatinya,saat ia mendengar panggilan sweety untuknya dari Sebastian tadi.Rasanya,ia ingin meloncat kegirangan saat ini juga,tapi ia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu,untuk memghadapi kekesalannya Sebastian nanti.
"Bastian,kamu mau membawa menantuku kemana? Dasar anak kurang ajar..." tanya Ibu dengan ekspresi wajah kesal, khawatirnya dan sedikit berteriak dan juga mengumpat diakhir kalimatnya,karena Sebastian sudah membawa Jennifer,hingga naik keanak tangga sana tanpa mampu ia cegah sedikitpun.
"Ibu...Biarkan saja,Sebastian yang mengatasi sendiri masalah mereka..." ucap Ayah dengan suara lembutnya tapi wajahnya terlihat tegas,sambil merangkul pundak istrinya yang berniat ingin mengejar langkahnya Sebastian.
"Tapi Yah,bagaimana dengan menantu kita? Aku takut,kalau Sebastian malah memperlakukannya dengan buruk diatas sana..." tanya Ibu dengan nada dan wajah yang masih saja khawatir,bahkan tatapan khawatirnya terus saja tertuju kearah anak tangga sana,dimana sepasang manusia tersebut yang baru saja menghilang dari pandangannya.
"Ibu,kamu ini ada-ada saja.Kamu ini,seperti tidak mengenal putramu sendiri saja.Percayalah padaku, Sebastian tidak akan melakukan perbuatan- perbuatan yang sampai melewati batas..." jawab Ayah dengan nada dan ekspresi wajah herannya,sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya sebanyak 2 kali,saat ia mendengar kalimat negatif tentang putranya dari istrinya barusan.
Dan juga dengan nada dan wajah yakinnya diakhir kalimatnya,karena ia sangat mempercayai putranya tersebut.Lagi pula,selama ini sebastian selalu mengingat nasihat-nasihat yang telah ia berikan sedari Sebastian kecil dulu.
"Apa yang Ayah katakan barusan,ada benarnya juga. Seharusnya,aku tidak perlu terlalu merasa khawatir terhadap mereka..." ucap Ibu dengan nada dan wajah khawatir yang mulai berkurang setelah ia berpikir selama beberapa detik, sambil tersenyum kecil kearah Ayah yang langsung menanggapinya dengan senyuman juga.
Sedangkan Ayah,ia langsung menghela napas lega sambil tersenyum kearah istrinya.Setidaknya sebagai seorang Ayah,ia masih bisa membantu putranya,untuk yang bagian kecil ini.
"Tapi kenapa tadi Sebastian sampai berwajah kesal begitu? Ia bahkan rela tidak pergi kekantornya... Biasanya kalau tidak pergi kekantor setengah hari saja,dia pasti akan mengeluh bosan berada didalam rumah..." lanjut Ibu lagi,dengan nada dan wajah penasarannya.
"Ayah juga tidak tahu,Bu..." jawab Ayah dengan wajah yang terlihat sedang berpikir,tiba-tiba saja mereka berdua pulang,dengan Sebastian yang terus saja menampilkan wajah kesalnya.
Dan belum sempat mereka mendengar suara cerewetnya menantu mereka,Sebastian sudah terlebih dahulu membawa menantu mereka keatas tanpa memberi mereka penjelasan apapun lagi.
"Tapi Ayah rasa mungkin saja tidak lama lagi,kita akan segera mendengar kabar baik dari mereka, Bu..." lanjut Ayah dengan nada yakinnya dan wajah yang tersenyum senangnya,sambil membawa pelan istrinya kearah dapur.
__ADS_1