
Sebenarnya ia juga sudah kewalahan untuk meladeni Siska yang dalam 2 bulan ini selalu saja datang ke Perusahaan dengan alasan ingin bertemu Tuan Mudanya,dan bahkan Siska terus saja memaksa.
Tapi seperti biasanya,ia sangat tahu apa yang harus dilakukan sebelum Tuan Mudanya membuka suara terlebih dahulu.
Dan iapun terus menahan langkah Siska untuk bisa masuk kedalam Perusahaan,ia juga terus mengawasi gerak-geriknya Siska yang seperti sedang mencari cara untuk bisa bertemu sama Sebastian.Bahkan ia selalu mempersiapkan beberapa pengawal yang selalu memperlihatkan senjata ditubuh mereka.
Hingga mampu membuat Siska tidak memiliki nyali untuk mencoba masuk kedalam,dan bukannya ia tidak berani membunuh atau melukai Siska.Hanya saja,ia tidak suka mengurusi masalah sepele yang seperti Siska.Lagi pula,sampai saat ini Siska masih belum melewati batasnya lagi.Dan satu lagi,masih ada Nona Mudanya yang akan cocok untuk mengurusnya.
"Apa kamu sedang merutukiku sekarang?" tanya Sebastian dengan berpura-pura nada tegasnya,tanpa menghentikan langkahnya.
"Tidak.Aku mana berani,Tuan Muda" jawab billy dengan nada malasnya,Tuan Mudanya seperti bisa membaca isi pikirannya saja,walaupun memang benar adanya.
"Apakah aku harus mempercayaimu,kali ini?" tanya Sebastian dengan nada candanya karena ia sangat tahu kalau Billy pasti sering merutuki dirinya,sambil membuka pintu mobilnya.
"Ya,tidak harus juga,kecuali jika Tuan Muda tidak merasa keberatan" jawab Billy dengan nada candanya juga,sambil ikut membuka pintu mobil pengemudi.
"Tidak.Tentu saja,aku tidak akan merasa keberatan sama sekali" jawab Sebastian dengan nada pelannya.
"Dan aku rasa,kamu sangat memerlukan kasur saat ini" lanjut Sebastian lagi,dengan wajah tersenyum tipisnya,sambil membuka HPnya dan membaca deretan chat yang berisi ucapan selamat malam yang sedari tadi dikirim dari Jennifer untuknya,tapi belum ada 1 chatpun yang ia balas.
"Iya,apa yang dikatakan Tuan Muda memang benar" ucap Billy dengan wajah yang tersenyum kesal,padahal Tuan Mudanya sendiri yang telah membuat dirinya sampai tidak memiliki waktu untuk tidur lebih.
'Tuan Muda,mungkin sekarang masih bisa bersikap cuek,tapi lihat saja nanti.Aku akan sangat menantikan saat-saat sikap cuekmu berubah menjadi lebih parah dari Nona Muda' batin Billy dengan wajah malasnya,sambil menelisik wajah Tuan Mudanya yang terus saja tersenyum tipis,dan sedang menatap layar HPnya tanpa berkedip.
Dan senyum tipis itu bukan untuknya,ia sangat tahu itu untuk siapa,siapa lagi kalau bukan untuk Nona Mudanya.
Ya,walaupun begitu,tingkah Tuan Mudanya yang jarang terlihat tersebutpun mampu membuat wajah kesalnya mulai mengurang karena merasa senang dengan senyuman tipis tersebut.
Ia juga membatin sambil terus berdoa didalam hatinya supaya Tuan Mudanya segera menyadari perasaan cintanya pada Nona Mudanya dan mengakhiri penderitaannya yang mungkin saja tidak berujung.
***
Besok paginya,Sebastian dan yang lainnya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.Kecuali Jennifer yang begitu semangat ingin membuat makan siang untuk pria pujaan hatinya,hingga ia melupakan hal-hal janggal pada Billy,untuk sementara waktu.
"Sayang,sepertinya suasana hatimu pagi ini sangat baik.Apakah ada hal yang telah membuat hatimu merasa senang? Atau siapa yang telah membuat suasana burukmu dihari-hari kemaren itu,berhasil menghilang begitu cepat? Dan apa yang sedang kamu lakukan didapur dijam segini,sayang?" tanya Mommy dengan nada penasaran dan juga menyindirnya, sambil terus berjalan mendekat kearah Jennifer yang sedang sibuk melakukan sesuatu diruang dapur.
Padahal putri sulungnya sangat jarang berada didalam dapur,kecuali saat makan saja.Karena Jennifer selalu berada diruang kerja suaminya untuk mendalami keahliannya dalam memimpin sebuah Perusahaan besar milik suaminya,dan juga Jennifer tidak memiliki ketertarikan tentang dapur.
Walaupun ia masih merasa kesal,tapi pagi ini ia merasa sangat senang karena putri sulungnya itu kembali tersenyum dan tidak merepotkan dirinya akibat mood buruk yang lalu-lalu itu.
"Mom,kebetulan kamu sudah turun.Maukah Mom mengajari aku cara memasak bahan-bahan ini?" tanya Jennifer balik,dengan nada senangnya,saat ia melihat Mommynya yang sudah berada dihadapannya saat ini.
"Baiklah,Mommy akan mengajarimu.Tapi kamu harus menjawab pertanyaan Mommy tadi dulu..." jawab Mommy dengan nada santainya sambil bersedekap dada karena Jennifer mengabaikan pertanyaannya.
__ADS_1
"Mom,bahkan suasana hatiku saat ini lebih dari sangat baik.Dan aku sedang ingin membuat makan siang untuk seorang pria yang sedang aku incar saat ini" jawab Jennifer dengan nada semangatnya,sambil menatap senang kearah mommynya yang mulai menjadi kesal.
"Jennifer sayang,apa kamu sudah tidak waras.Diluar sana masih banyak pria yang sedang mengejarmu,tapi kamu malah sibuk mengejar seorang pria.Dan kamu ini putri dari seorang Arka Septian Naava,mau letak dimana wajah tebalnya Daddymu nanti,kalau sempat ada yang mengetahui tingkah memalukanmu ini?" tanya Mommy dengan nada kesal dan panjang lebarnya,sambil menghela napas berat karena tingkah memalukan putri sulungnya ini.
"Mom,jangan berlebihan seperti itu.Aku sedang mengejar seorang pria yang masih lajang,bukan yang sudah beristri.Aku rasa,itu tidak salah dan juga tidak melanggar hukum.Apa lagi,Daddy juga mendukungku.Bukankah begitu,Dad?" jawab Jennifer dengan nada kesalnya saat ia mendengar perkataan panjang lebar Mommynya,lalu ia langsung bertanya pada Daddynya yang baru saja berdiri dibelakangnya Mommy sedari 5 menit yang lalu.
Dan pertanyaannya Jenniferpun langsung mampu membuat Mommy langsung berbalik badan untuk mencari keberadaan suaminya.
"Dad..." panggil Mommy sambil menelisik wajah tenang suaminya dan masih bersedekap dada,untuk menuntut jawaban dari pertanyaannya Jennifer yang memang menjadi pertanyaannya juga saat ini.
"Kenapa kamu harus mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dikhawatirkan,sayang.Lagi pula,putri kita sudah dewasa,putri kita sudah tahu apa yang baik atau tidak buat dirinya sendiri" jawab Daddy dengan nada santainya,sambil memeluk Jennifer dari samping dengan perasaan sayang .
"Daddy,kenapa kamu malah membela Jennifer.Bukankah,kamu harus berada dipihakku?" tanya Mommy dengan wajah yang sedang mrmberengut kesal,saat ia mendengar jawaban suaminya yang terdengar sangat mendukung putri sulungnya itu.
"Memangnya siapa pria itu?" tanya Mommy dengan nada kesal yang bercampur ekspresi penasaran diwajahnya,saat ia melihat suaminya yang tidak berniat ingin menjawabnya dan hanya tersenyum manis saja kearahnya.
"Mom,kalau tentang itu...Tunggu aku mendapatkan hatinya dulu,baru aku akan memperkenalkannya pada Mommy" jawab Jennifer dengan nada lambatnya sambil memikirkan kata-kata yang bagus untuk Mommynya.
Ia ragu untuk memberitahu Mommynya,kalau pria itu adalah Sebastian,karena ia teringat pada pertemuan pertama mereka yang terlihat tidak baik saat itu.Apa lagi,ekspresi tidak suka Mommynya hari itu juga terlihat sangat jelas.
"Mom,kalau Mommy tidak mau mengajari aku memasak,aku akan masak sendiri saja" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang berpura-pura kesal dan juga merajuk sambil melanjutkan kegiatan tertundanya tadi,saat ia melihat Mommynya yang kembali ingin bertanya.
"Baiklah,baiklah,tapi kamu berjanji kalau kamu akan memperkenalkannya pada Mommy nanti..." ucap Mommy dengan nada pasrahnya,sambil menatap serius kearah Jennifer yang sudah kembali menatapnya.
"Ya,dan Mommy harap kalau pria yang sedang kamu incar itu sesuai dengan apa yang Mommy harapkan" ucap Mommy dengan wajah seriusnya,sambil melirik sekilas kearah wajah suaminya yang masih terlihat tenang.
"Kalau tentang itu,Mommy tenang saja,karena pria itu pasti memang calon menantu idamannya Mommy" ucap Jennifer dengan nada seriusnya dan wajah yakinnya,sambil menarik pelan tangan Mommynya dan juga melirik sekilas kearah jam tangannya yang ternyata sudah hampir jam 10 siang.
"Daddy akan keruang tamu saja" timpal Daddy dengan nada santainya sambil melepaskan pelan pelukannya saat ia mengerti apa yang sedang dipikirkan putri sulungnya itu,lalu ia langsung berjalan kearah ruang tamu setelah ia melihat anggukan pelan dari Jennifer dan mengabaikan tatapan kesal istrinya.
"Mom,sekarang cepat ajarin aku memasak" ucap Jennifer dengan nada semangatnya,sambil terus menarik pelan tangan Mommy untuk mendekat kemeja dapur tersebut.
Mommypun langsung menghela napas pelan,saat ia melihat sikap tidak sabaran putrinya itu.Ntah siapa yang telah mengubah putrinya menjadi semakin aneh seperti ini,sepertinya hal itu berhasil membuat rasa penasarannya semakin bertambah.
"Memangnya apa yang ingin kamu masakin,sayang?" tanya Mommy dengan nada penasarannya,sambil menelisik satu-persatu bahan yang sudah dipersiapkan oleh Jennifer,terlihat disana ada cumi-cumi dan daging sapi yang menjadi bahan utamanya.
"Aku ingin memasak daging sapi asam manis dan cumi-cumi oseng petai.Bagaimana menurut Mommy?" jawab Jennifer dengan wajah semangatnya,dan bertanya pendapat pada Mommy.
"Tapi......" ucapannya Mommy yang baru saja ingin mengeluh,terpaksa harus dihentikan karena mendapatkan selaan dari Jennifer.
"Bukankah,Daddy juga menyukai 2 macam masakan Mommy ini?" sela Jennifer dengan wajah yakinnya,untuk memastikan kalau dirinya tidak melupakan apa saja masakan yang disukai oleh Daddy.
"Iya.Tapi siapa yang membeli semua ini?" jawab dan tanya Mommy dengan wajah penasarannya,sambil melihat setumpuk bahan masakan yang lumayan sudah lengkap.
__ADS_1
"Tentu saja aku yang membelinya Mom,tadi aku pergi bersama Tante dan juga Billy" jawab Jennifer dengan jujur dan wajah yang tersenyum senang,karena ia memang benar-benar kepasar tadi selama hampir 1 jam,dan bersama Asisten rumah yang selalu menjaganya jika sedang keluar rumah.
Mommypun menatap tidak percaya kearah Putri sulungnya itu,lalu ia membali bersuara,setelah ia selesai menelisik wajah cantiknya Jennifer selama beberapa detik.
"Baiklah,sekarang ayo kita mulai.Ingat,hati-hati dengan setiap racikanmu,jangan sampai jari-jari atau tanganmu terluka lagi" ucap Mommy dengan nada khawatirnya,sambil mulai mengecek bahan-bahan yang sudah Jennifer sediain tersebut,apakah sudah lengkap atau belum.
'Dan Mommy berharap kalau pria itu juga suka makan petai,sama seperti Daddymu,karena tidak semua pria suka makan petai,sayang' lanjut Mommy didalam hatinya,dengan doa kecilnya.
Ia hanya tidak mau membuat kobaran semangat putrinya itu menghilang,kalau dirinya yang langsung mengeluh didepan putrinya itu.
Walaupun ia masih penasaran dengan siapa pria tersebut,tapi setidaknya hatinya merasa senang karena pria tersebut mampu merubah putrinya yang tidak suka masuk kedapur,sekarang Jennifer masuk tanpa paksaan sedikitpun dan tanpa takut dengan jari-jari indahnya yang mungkin saja akan terluka untuk ke 3 kalinya.
"Baik,Mom" jawab Jennifer dengan cepat,sambil mencuci bahan-bahan masakan yang akan ia perlukan untuk memasak.
Selama memasak,Jennifer terus saja memasak dengan diajarin dan bantuan dari Mommynya.Mereka berdua juga terus memasak sambil bercanda tawa tentang berbagai hal.
Sedangkan Daddy,ia hanya menonton TV dan sekali-kali memerhatikan istri dan putrinya itu dengan wajah yang tersenyum bahagia.Sepertinya kebahagiaannya akan semakin terasa,saat ia melihat putri sulungnya itu menikah dan memiliki anak.
***
Di Perusahaan Sachdev J Group...
Sebastian masih sibuk dengan perkerjaannya,ia sibuk memeriksa semua laporan dan juga dokumen yang seharusnya dibantu oleh Billy,tapi sudah selama seminggu ini,ia harus berkerja sendiri tanpa bantuan dari siapapun karena ia hanya memercayai Billy saja didalam Perusahaan itu.
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar,suara yang mampu mengacaukan konsentrasinya pada perkerjaannya,karena suara ketukan pintu tersebut terus saja terdengar untuk beberapa kali,akibat dirinya yang tidak berniat ingin menjawabnya.
"Masuk..." jawab Sebastian akhirnya,ia merasa malas menjawab karena merasa sedikit lelah dengan perkerjaannya yang lumayan menumpuk akibat Billy yang tidak bisa berada disisinya untuk sementara waktu.
"Tuan Muda,ada seorang wanita yang ingin bertemu" lapor Sekretaris pria tersebut setelah ia sudah membuka pintu dan berjalan masuk kedalam.
"Siapa?"tanya Sebastian dengan wajah penasaran tanpa berpindah posisi,karena dibenaknya saat ini hanya ada Jennifer saja.
"Nona Rebeeca Rajaksa,Tuan Muda" jawab Sekretaris tersebut dengan nada bingungnya,karena biasanya Tuan Mudanya akan langsung mengusirnya,jika mendengar nama wanita.
Sebenarnya ia menganggu Tuan Mudanya juga karena terpaksa,karena wanita tersebut terus sajap memaksa.Apa lagi,Tuan Billy sedang tidak ada saat ini,hingga membuat dirinya bingung harus melakukan apa.
"Nona Rebeeca mengatakan kalau dia ingin membicarakan tentang..........." lanjutan kalimatnya Sekretaris tersebutpun langsung terhenti,karena mendapatkan selaan tegas dari Tuan Mudanya.
"Katakan saja padanya,aku tidak bisa bertemu dengannya,karena aķu masih memiliki urusan yang lainnya lagi" sela Sebastian denga cepat,ia sengaja beralasan karena tidak suka berbicara sama wanita,kecuali wanita tersebut sopan.
Dan setahu dirinya,Rebeeca Rajaksa tersebut,menurutnya sangat tidak sopan dan lumayan genit.Jadi,ia tidak mau membuang-buang waktu untuk berbicara sama orang yang hanya memanfaatkan waktu bisinisnya saja.
"Tapi Tuan Muda,Nona Rebecca terus saja memaksa.Ia mengancam kalau Tuan muda tidak mau menemuinya,ia akan membuat keributan disini" ucap Sekretaris tersebut dengan jujur dan wajah tegangnya,jika saja Tuan Billy ada disana,ia pasti akan memilih untuk menganggu Tuan Billy saja.
__ADS_1
"Biarkan saja,memangnya keributan apa yang akan ia perbuat..." ucap Sebastian dengan nada malasnya,ia berpikir apakah wanita itu tidak mengenalinya sampai berani membuat keributan didalam Perusahaannya.