
"Tuan Muda..." panggil Billy dengan nada pelannya,sambil menelisik waspada disekitar mereka.
"Hm..." jawab Sebastian dengan singkat,sambil terus menatap punggung langsing istrinya yang sedang berjalan masuk kedalam perusahaan Daddy itu,dengan langkah tegas dan juga anggun.
"Tuan Muda...Aku rasa,mereka sedang merencanakan sesuatu..." ucap Billy dengn nada seriusnya,saat ia melihat disekitar mereka,kalau tidak ada satupun orang yang sedang mengikuti atau mengawasi mereka sedari tadi.
"Aku rasa juga begitu...Coba kamu perhatiin,yang ada diatas sana..." ucap Sebastian dengan nada tenangnya,sambil mengalihkan tatapannya kearah atas sana,setelah istrinya sudah menghilang dari pandangannya.
"Diatas yang mana,Tuan Muda?" tanya Billy dengan nada dan wajah penasarannya dan juga bingung, sambil mengikuti arah tunjuk mata Tuan Mudanya tersebut dan terus menelisik keatas sana yang ada disekitar luar mobil mereka,tapi tetap saja ia tidak bisa melihat apa yang sedang ditunjukkan oleh Tuan Mudanya tersebut.
"Auchk..." terdengar suara pekikan sakit dari mulutnya Billy,karena bukan jawaban yang ia didapatkan,tapi ia malah mendapatkan jitakan dikepalanya dari Tuan Mudanya itu.
"Tuan Muda,kenapa kamu bisa setega itu pada aku?" tanya Billy dengan nada kesalnya,sambil mengelus-elus punggung kepalanya yang masih terasa sakit itu.
"Apa karena tadi kamu terlalu sibuk memerhatikan istriku,sampai kamu tidak bisa melihat sesuatu diatas sana,hm?" tanya Sebastian balik dan mengabaikan pertanyaannya Billy,dengan nada kesalnya.
Karena sedari tadi ia bisa melihat dengan jelas kalau Billy terus saja memerhatikan Jennifer, walaupun ia sendiri yang lebih banyak memerhatikan istrinya itu,dan ia juga sangat tahu kalau tatapannya Billy tersebut hanyalah sebatas tatapan kagum saja.
Ntah kenapa sejak ia melihat kebersamaannya Jennifer dnegan Elvan hari itu,ia mulai merasa tidak suka saat ia melihat kalau ada pria lain yang sedang memerhatikan atau berdekatan dengan Jennifer.Tadi saja banyak karyawan pria yang sedang memerhatikan Jennifer yang sedang berjalan anggun masuk kedalam,tapi ia hanya mampu menahan rasa kesalnya saja karena tidak mungkin ia keluar dan tiba-tiba mengamuk diperusahaan mertuanya tanpa sebab yang jelas.
"Aku hanya mengaguminya,tidak lebih,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada dan wajah kesalnya sambil memutar kedua bola matanya dengan malas,ia baru tahu kalau Tuan Mudanya akan kekanak-kanakan seperti ini,kalau sedang merasa cemburu tapi sayangnya Tuan Mudanya masih belum menyadarinya.
"Bagiku,itu tetap menjadi sebuah pelanggaran..." ucap Sebastian dengan nada yang masih saja kesal,tanpa mengalihkan tatapannya dari petunjuk diatas yang ia tunjukkan pada Billy tadi.
"What? Sebuah pelanggaran? Sejak kapan kita memiliki pelanggaran seperti ini,Tuan Muda?" tanya Billy dengan nada dan wajah kesal yang telah bercampur bingung,saat ia mendengar kata pelanggaran dari Tuan Mudanya barusan.
"Sejak mulai saat ini..." jawab Sebastian dengan wajah tidak bersalahnya dan juga nada santainya kembali.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu menolehkan wajahnya kearah Tuan Mudanya sambil mengangakan mulutnya selama beberapa detik karena rasa kagetnya tersebut.
'What? Apakah sekarang,Tuan Muda sedang kesurupan? Dan apa ia tidak tahu aturannya? Jika pelanggarannya baru saja dibuat sejak mulai saat ini,kenapa tadi kepalaku sudah kena jitakan terlebih dahulu? Dasar...' Billy hanya mampu membatin saja,dengan gerutu-gerutuan kesalnya itu.
Karena kalaupun ia ingin berdebat ataupun melawan,ia tidak akan bisa menang melawan Tuan Mudanya itu.Jadi,iapun memilih untuk kepembahasan seriusnya saja.
"Tuan Muda,bisakah kamu menunjukkan padaku dengan memakai tanganmu saja?" tanya Billy dengan nada memohonnya,sambil menatap memelas kearah Tuan Mudanya yang langsung menatapnya.
"Buang jauh-jauh,wajah menggelikanmu itu... Rasanya,aku ingin muntah saat ini juga..." ucap Sebastian dengan nada malas dan wajah gelinya, saat ia melihat wajah memelas sekali-kalinya Billy yang langsung mendengkus kesal itu.
"Kali ini, lihat dan perhatikan baik-baik...Lihatlah kearah sana..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menunjuk keatas dengan jari telunjuknya,dimana ada sebuah cahaya kecil yang ada diatas sana,dan tatapannya Billypun segera mengikuti arah tunjuk Tuan Mudanya tersebut.
"Jangan mencoba-coba,untuk membuka jendelanya...Apa kamu ingin dia mengetahui,kalau kita tahu akan keberadaannya disana,hm?" lanjut Sebastian lagi,dengan nada tegasnya dan kesal diakhir kalimatnya,saat ia langsung menyadari kalau Billy sedang berniat ingin membuka jendela mobil mereka.
"Ba baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan juga gugup karena rasa kagetnya, akibat nada tegas Tuan Mudanya yang secara tiba-tiba itu.
"Apa kamu sudah bisa melihatnya,sekarang?" tanya Sebastian dengan nada santainya kembali,saat ia merasa kalau Billy sudah cukup menelisik kearah tempat yang ia tunjukkan tadi.
__ADS_1
Sedangkan Billy,ia masih sibuk menelisik kearah tempat yang ditunjuk oleh Tuan Mudanya tersebut, dengan kedua mata yang semakin lama semakin menyipit tajam saja.
"Aku sudah melihatnya,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada seriusnya,saat ia merasakan kalau Tuan mudanya berniat ingin menjitak kepalanya kembali,dan memang bertepatan dengan kedua matanya yang telah mampu menangkap sesuatu diatas sana.
Terlihat sebuah cahaya kecil diantara jendela-jendela hotel yang terlihat memiliki puluhan lantai tingginya,yang berada agak jauh dari tempat mobilnya mereka berada.Tapi ada yang ganjil, karena cahaya kecil tersebut mengarah kearah tempat mereka berada.
"Apa yang telah kamu lihat,disana?" tanya Sebastian dengan nada santainya,sambil menelisik wajah bingungnya Billy,dan sepertinya ia sudah bisa tahu jawabannya tanpa bertanya sekalipun.
"Bukankah itu hanya sebuah cahaya kecil saja,Tuan Muda?" tanya Billy dengan nada dan wajah herannya dan berniat ingin mengalihkan tatapannya kearah Tuan Mudanya.
Ia bertanya-tanya didalam hatinya,kenapa Tuan Mudanya malah menyuruhnya untuk memperhatikan keatas sana,hanya untuk melihat sebuah cahaya kecil saja.
Tapi baru saja kepalanya Billy hampir berhasil menghadap kearah Sebastian,sebuah suara jitakan keras kembali mendarat dikepalanya.Hingga...
"Auchk...Tuan Muda,ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu malah menjitak kepalaku lagi?..." tanya Billy dengan nada kesalnya sambil mengelus-elus kepalanya yang rasa sakitnya sudah reda,tapi harus kembali terasa sakit itu,setelah ia selesai terpekik sakit barusan.
"Cih...Hanya sebuah cahaya kecil,katamu?" Sebastian langsung berdecih kesal,dan mengabaikan pertanyaannya Billy tersebut.
Ternyata memang benar,dengan apa yang sedang ia pikirkan tadi.Asistennya itu,kadang-kadang kepala cerdasnya itu memang selalu error seperti ini.
"Lalu apa? Jika bukan hanya sebuah cahaya kecil, Tuan Muda?" tanya Billy dengan nada yang masih saja kesal,tapi wajahnya terlihat penasaran dan juga bingung dengan tanggapan Tuan Mudanya terhadap pertanyaannya itu.
"Apa kamu pikir,dia masih orang yang bod*h seperti dulu? Karena dia hanya perlu mengawasi pergerakan kita dari atas sana saja,tanpa perlu mengikuti kita kemana-mana, dengan susah payah, dan takut akan ketahuan..." Sebastianpun langsung berbicara keinti pembicaraan mereka tadi,karena Billy semakin lama malah semakin terlihat bod*h saja.
"Aku sudah mengerti,Tuan Muda.Apa itu berarti, mereka sedang menggunakan teropong jarak jauh untuk mengawasi pergerakan kita dari jarak jauh seperti ini,Tuan Muda?" jawab Billy dan langsung bertanya dengan nada dan wajah seriusnya kembali,tiba-tiba saja kepala cerdasnya pulih sendiri,saat ia mendengar kata "keluar" dari Tuan Mudanya barusan.
"Iya.Bukan mereka,tapi dia,karena hanya satu orang saja yang sedang mengawasi kita saat ini..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah malasnya yang bercampur ekspresi yakinnya,saat ia kembali melihat kebod*han asistennya itu.
Sedangkan Billy, ia terlihat sedang mencerna perkataan Tuan Mudanya barusan,dengan wajah seriusnya.
"Tapi,Tuan Muda...Bagaimana Tuan Muda bisa tahu,kalau mereka hanya satu orang saja?" tanya Billy dengan nada dan wajah penasarannnya, setelah ia sudah selesai mencerna kalimat-kalimat Tuan Mudanya barusan.
'Siapa yang dimaksudkan oleh Tuan Muda,dengan dia?' lanjut Billy dengan wajah yang masih saja penasaran,karena sedari tadi ia terus saja mendengar Tuan Mudanya menyebut kata "Dia".Seperti sudah tahu saja,siapa yang sedang berada diketinggian sana.
Lagi pula,disana ada begitu banyak cahaya kecil.
Jadi bagaimana caranya,Tuan Mudanya memastikan kalau musuh tersebut sedang memakai teropong jarak jauh,dan juga mengatakan kalau mereka hanya satu orang saja.Kedua matanya saja tidak mampu melihat jelas keadaan diatas sana,bagaimana cara Tuan Mudanya bisa berbicara dengan ekspresi wajah yang yakin seperti itu.
Tapi sebenarnya bukan kepala cerdasnya yang sedang bermasalah,tapi karena tubuhnya yang sedang kelelahan saat ini,berkat ratusan dokumen yang telah ia periksa dalam beberapa hari ini.
"Tuan Muda,aku mohon,jangan menjitak kepalaku lagi..." pinta Billy dengan nada dan ekspresi memohon diwajahnya sambil sedikit menjauhkan wajahnya dari Tuan Mudanya,saat ia bisa melihat kalau Tuan Mudanya lagi-lagi ingin menjitak kepalanya.
Sedangkan Sebastian,iapun langsung menghela napas pelan dengan panjang.Kenapa hari ini, kepala cerdasnya Billy,terus saja error.
"Ambil ini,lihat sendiri,dan pikir sendiri..." ucap Sebastian akhirnya,sambil mengambil teropong merk Baigish miliknya dari belakang kursi penumpang yang ada didepannya itu,lalu iapun memberikannya pada Billy yang langsung mengambilnya.
__ADS_1
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy,dan langsung melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Tuan Mudanya,karena ia tidak mau membuat Tuan Mudanya menjadi semakin kesal.
'Pantasan saja,Tuan Muda mampu melihat dan mengatakan kalau mereka hanya 1 orang saja,tapi sispa dia yang dimaksudkan oleh Tuan Muda tadi ' lanjut Billy didalam hatinya,sambil mengarahkan teropong tersebut kearah titik masalahnya mereka tadi dengan perlahan-lahan.
Sedangkan Sebastian,ia sudah mulai tidak sabaran saat ini.Apa lagi,saat ia melihat Billy yang masih saja sibuk meneropong tanpa berbicara apapun,sedari 10 menit yang lalu.
Dan yang paling membuatnya merasa kesal,karena mereka sudah berada didalam mobil dan ditempat yang sama,selama hampir 2 jam lamanya.Dan itu semua,karena pertanyaan tidak pentingnya Billy tadi.
"Tuan Muda...Apa yang sedang kamu maksudkan, dengan dia tadi itu adalah Elvan?" tanya Billy dengan nada dan wajah seriusnya,setelah ia sudah puas meneropong.
Memang benar kata Tuan Mudanya tadi,kalau disana hanya berdiri satu orang saja,yang sibuk mengawasi mereka.Hanya saja,karena wajahnya tertutup oleh teropong dan juga jarak yang begitu jauh,jadi ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang sedang mengawasi mereka tersebut.
"Iya..."jawab Sebastian dengan singkat,setidaknya rasa kesalnya barusan sedikit mengurang,saat ia mendengar Billy yang sudah mengerti tanpa bertanya padanya dengan pertanyaan yang bod*h lagi.
"Sudah,jangan banyak bertanya lagi.Sekarang,kita harus segera berangkat keperusahaan,sedari tadi kamu sudah terlalu banyak membuang waktu emasku..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya,ia sudah lelah berdebat dengan Billy sedari tadi.
Dan diperusahaannya saat ini,sebentar lagi akan ada meeting.Ia tidak mau sampai terlambat,hanya karena sibuk berdebat dengan Billy.
Apa lagi rasa kesalnya itu bukan hanya karena kebod*hannya Billy saja,tapi juga karena beberapa hari ini kepalanya terus saja terbayang-bayang tentang kejadian saat ia dan Jennifer sedang mengarungi samudra yang indah hari itu.
Tapi saat ia menginginkannya,Jennifer selalu saja tertidur duluan dari pada dirinya.Padahal ia sudah berusaha untuk pulang lebih cepat dari biasanya, tapi istrinya selalu saja sudah terlelap saat ia sudah sampai rumah.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan nada kesalnya,sambil menyimpan teropong tersebut,dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Walaupun ia merasa kesal,tapi perkataan Tuan Mudanya tersebut ada benarnya.Ia bahkan melupakan meeting tersebut,karena terlalu sibuk memikirkan tentang musuh-musuh mereka. Ntahlah,ia sendiri tidak mengerti,mengapa mood Tuan mudanya hari ini terlihat sangat buruk dimatanya.
"Apakah kamu sudah menyiapkan beberapa orang kita yang terlatih,untuk berada disampingnya Jennifer,selama ia berkerja dan berada diluar rumah?" tanya Sebastian dengan nada seriusnya, sambil menyandarkan kepalanya kebelakang dan juga memejamkan kedua matanya dengan pelan.
Sepertinya mulai sekarang waktu istirahatnya akan semakin berkurang,karena mau tidak mau,waktu istirahatnya tersebut harus ia gunakan untuk fokus di kedua tempat.
"Sudah,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan perasaan malas dibalik wajah santainya,sambil fokus pada jalan dan juga melirik sekilas kearah Tuan Mudanya yang memang terlihat sedang memejamkan kedua matanya tapi pendengarannya terus saja menangkap helaan napas pelan yang ntah sebanyak berapa kali dari napas Tuan Mudanya itu, selama perjalanan mereka hingga keperusahaan.
Akhirnya mobilnya Sebastianpun melaju sedang pergi dari sana,setelah tadi sudah berdiam diri didepan perusahaan istrinya dengan sangat lama.
***
Sedangkan didalam perusahaan,Jennifer masih setia berdiri dijendela yang ada dikantor tempat biasanya Daddy berkerja,karena sibuk memerhatikan mobil suaminya sedari tadi,hingga mobil suaminya melaju pergi tanpa menoleh lagi.
Tadinya ia berharap kalau hari ini suaminya akan masuk kedalam perusahaan dan menemaninya untuk peresmian presdirnya nanti,tapi nyatanya suaminya malah pergi dari sana begitu saja.
"Aku mengira,kalau dia akan keluar dari dalam mobilnya dan menyapaku dengan ucapan selamat pagi yang manis.Tapi ternyata,,," gumam Jennifer dengan wajah memberengut kesalnya,sambil terus memerhatikan mobil suaminya hingga menghilang dari pandangannya.
"Dasar menyebalkan..." lanjut Jennifer,dengan nada kesalnya,sambil menghentak-hentakkan kakinya sebanyak beberapa kali,dengan gerakan kesalnya.
"Jadi buat apa juga,dia dan Billy berada disana selama itu.Dasar pria aneh..." lanjut Jennifer lagi,sambil berbalik badan, berjalan kearah meja kerjanya,dan duduk disana dengan gerakan kesalnya juga.
__ADS_1