Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 61


__ADS_3

"Ka kamu mau a apa,aku ha hanya bercanda sa saja..." ucap Jennifer dengan nada gugupnya sambil memundurkan wajahnya,tapi sayangnya sudah terlambat,karena tangannya Sebastian yang lainnya sudah lebih dulu menahan punggung langsingnya,dan dirinya seperti sedang terperangkap dengan jebakannya sendiri karena saat ini ancamannya tadi jadi berbalik memangsa dirinya sendiri tanpa mampu ia cegah lagi.


"Aku benaran hanya ber,,,hhmmmm...." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimatnya,akhirnya bibir tebalnya Sebastian langsung menerkamnya dengan lembut tanpa celah sedikitpun hingga mampu membuat Jennifer tidak mampu melakukan apapun lagi,selain hanya pasrah saja.


Bahkan Jennifer mulai terlena dengan belaian lidahnya Sebastian tersebut yang mulai menelusuri setiap rongga-rongga mulutnya,terlihat dari kedua matanya yang mulai terpejam karena sedang menikmati semua belaian manis dari lidah lenturnya Sebastian tersebut,dan juga dengan kedua matanya Sebastian yang terpejam duluan.


C**m*n mereka berduapun semakin memanas, tangannya Sebastian yang sedang menahan punggungnya Jennifer tadipun mulai merayap ketengkuk dan sedikit menekannya hingga c**m*n panas mereka berdua semakin dalam dan n*km*t.


Bahkan tanganya Sebastian yang digenggam oleh Jennifer tadi sudah terlepas tanpa Jennifer sadari,dan terus merayap turun naik dari punggung kepinggulnya Jennifer dengan gerakan pelannya.


Tubuhnya Sebastian yang memang sudah dikuasai oleh gairah itupun mulai tidak mampu mengendalikan dirinya lagi,bibir tebalnya mulai turun keleher mulusnya Jennifer dan menyesapnya dengan sedikit kuat.Napas mereka berduapun menjadi semakin tidak menentu karena sudah sama-sama dikuasai oleh sensasi n*km*t tersebut


"Ahh...." terdengar suara merdunya Jennifer yang masih sedikit tertahan ditenggorokannya,saat ia merasakan sensasi n*km*t yang baru pertama kalinya ia rasakan itu.


Sebastian terus saja menyesap leher mulus,dagu dan bibir lembutnya Jennifer secara bergantian, dan mengabaikan rambut rapinya yang sudah berantakan akibat remasan pelan dari kedua tangannya Jennifer.


Gairahnya Sebastianpun semakin bertambah saat pendengarannya menangkap suara merdunya Jennifer yang terus saja terdengar itu,hingga mampu membuat benda bawah miliknya langsung terbangun dengan cepat,walaupun masih belum dalam kesadaran penuh.


Dan tangannya Sebastian terus merayap disekitar punggungnya Jennnifer tadipun,langsung berhenti diresleting dressnya Jennifer tanpa ia sadari karena tubuhnya yang sudah dipenuhi gairah tersebut yang mulai mengarahkannya tanpa bisa ia kendalikan lagi.


Tapi baru saja jari besarnya Sebastian ingin membuka resleting miliknya Jennifer,suara ketukan keras dari luar pada jendela mobilnya Sebastian,mampu mengagetkan sepasang manusia yang baru saja mau mulai men*km*t* rasa surga sesungguhnya itu.


"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan keras tersebut yang ternyata dari salah satu pengawalnya Jennifer yang sedang kebingungan diluar sana karena Nona Mudanya tidak juga keluar-keluar sedari mobil tersebut berhenti tadi.


Sebastian dan Jennifer yang masih sibuk kembali saling berc**m*n itupun langsung melepaskan l*m*t*n bibir mereka dengan cepat,karena merasa kaget dengan suara tersebut.


Dan ketukan keras tersebutpun juga berhasil membuat segala sensasi n*km*t yang dirasakan oleh sepasang manusia tersebut langsung berterbangan begitu saja,sebelum mereka sempat menetralkan rasa kaget mereka,dan hanya tinggal rasa malu saja diwajah mereka masing-masing.


"****...Apa yang telah aku lakukan..." umpat Sebastian dengan nada pelannya,sambil berusaha menetralkan wajah malunya dan juga sisa sensasi yang masih tertinggal sedikit tadi,sekalian juga menidurkan benda bawah miliknya yang juga ikut-ikutan merasa kaget tadi.


'Bisa-bisanya aku men*km*t*nya.Sepertinya,aku sudah gila sekarang...' lanjut Sebastian didalam hatinya,sambil melirik Jennifer yang juga sibuk menetralkan rasa malunya.Ia juga tidak habis pikir dengan dirinya sendiri,karena baru kali ini pertama kalinya ia bernafsu seperti ini saat berdekatan dengan wanita,dan Jennifer mampu merobohkan sikap anti wanitanya.


Berbeda dengan Sebastian yang sudah bisa menyembunyikan rasa malunya dibalik wajah tenangnya dengan hanya beberapa detik saja,tapi Jennifer malah masih sibuk menetralkan wajah memerahnya karena rasa malunya yang masih belum ingin menghilang itu.

__ADS_1


"Tok tok tok..." kembali terdengar suara ketukan jendela dari luar dengan lebih keras lagi,dari yang sebelumnya.


"Honey,bagaimana ini?" tanya Jennifer dengan nada pelan dan wajah malunya,sambil mengipas-ngipaskan wajahnya dengan telapak tangannya yang ternyata tidak bisa meredam ataupun menghilangkan wajah malunya.


Sebastianpun langsung menghela napas dengan berat,sambil menelisik wajah malunya Jennifer yang mampu membuat dirinya tersenyum didalam hati.Tapi wajah menahan senyumnya tersebut langsung menjadi bingung,saat tatapan menelisiknya tertuju pada leher mulusnya Jennifer yang tidak ia sangka kalau akan menjadi parah seperti itu.


'****...Kenapa aku bisa senafsu itu...' lagi-lagi Sebastian harus kembali mengumpat berkat tingkah bodohnya yang tidak terkendali itu,tapi ia hanya mampu terus merutuki dirinya sendiri didalam hatinya saja.


"Honey,apa yang sedang kamu pikirkan...Awas,kamu jangan berani pikir macam-macam lagi..."peringat Jennifer dengan nada khawatirnya sambil menutup lehernya dengan tangannya,saat ia melihat tatapannya Sebastian yang terus saja tertuju pada lehernya.


"Auchk...Kenapa kamu malah menyentil keningku lagi..." tanya Jennifer dengan nada kesalnya sambil mengelus-elus keningnya dengan sebelah tangannya,saat keningnya merasakan sakit karena kembali disentil oleh Sebastian yang ntah sudah keberapa kalinya.


"Aku atau kamu yang sedang berpikir macam-macam, hm? Kenapa isi kepalamu mesum semua,sedari kemaren?" tanya Sebastian dengan nada kesalnya,sambil mengalihkan pandangannya kesekitar luar mobilnya.


'Untung saja, mobilku ini memakai kaca jendela tidak bisa tembus pandang.Jika tidak,aku bisa habis-habisan dihajar sama Pak tua dan Tuan Arka...' batin Sebastian dengan menghela napas lega,sambil terus menelisik semua orang yang tiba-tiba saja keluar dari dalam mansion dan sedang berada diluar mobilnya saat ini karena mereka semua mendengar suara paniknya pengawal tersebut,termasuk keluarganya Jennifer,dan beberapa orang yang tidak ia kenal.


"Kamu sembarangan saja,aku tidak sedang berpikir mesum.Aku hanya...." jawab Jennifer dengan wajah malunya dan menjedanya karena bingung mau mencari alasan apa untuk tuduhannya Sebastian padanya tadi,sambil menurunkan tangannya dengan pelan,ia bahkan tidak ingin mencari tahu siapa saja yang sedang berada diluar mobil tersebut.


"Tok tok tok...Nona Muda,apa telah terjadi sesuatu didalam...? Nona Muda tolong keluarlah,kalau tidak sedang terjadi sesuatu didalam,kami semua merasa khawatir dengan Nona Muda..." kembali terdengar suara ketukan keras dari luar mobil,kali ini berserta kalimat panjang lebar dari pengawal tersebut dengan nada khawatirnya.


"Tunggu sebentar..." lanjut Sebastian lagi,dengan cepat sebelum Jennifer sempat membuka pintu mobil tersebut,sambil membuka Jas kerjanya saat ia baru mengingat tentang sesuatu yang sangat memalukan itu.


"Ini,pakai,dan tutup rapat lehermu.Ingat,jangan sampai ada yang melihatnya..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya,sambil memakaikan Jas kerjanya ketubuh hingga menutupi lehernya Jennifer.


"Memangnya ada apa dengan leherku,sampai harus menutup leherku seperti ini? Seperti apa saja..." tanya Jennifer dengan nada bingungnya,sambil mencari cermin kecil didalam tas kecilnya.


'Aku harus menjawab apa nanti...' batin Sebastian dengan wajah bingungnya,sambil memejamkan kedua matanya selama beberapa saat.


"Sebas,hm......" belum sempat Jennifer memekik kaget saat ia melihat bercak-bercak merah yang terpampang jelas hampir disekitar lehernya,tapi telapak besarnya Sebastian sudah terlebih dahulu membekapnya pelan untuk bisa meredam suara pekikan kuatnya Jennifer barusan.


"Apa kamu ingin mereka semua mendengar suara teriakanmu,ha? Dan mereka semua akan mengira,kalau aku sedang memperkosamu.Apa memang begitu,yang kamu harapkan,ha?" tanya Sebastian dengan wajah kesalnya,sambil melepaskan pelan bekapannya saat Jennifer sudah terlihat mau kerja sama.


"Ta tapi i itu,bagaimana bisa menjadi seperti itu.A apa yang telah kamu lakukan sama leherku,kenapa bisa menjadi sampai seperti itu?" tanya Jennifer dengan nada kesalnya dan berusaha memelankan suara kesalnya sebisa mungkin,bagaimana caranya ia menjelaskan tentang hal tersebut pada kedua orang tuanya nanti,tanpa ia sadari kalau diluar sana bukan hanya ada kedua orang tuanya saja.

__ADS_1


"Tentang itu,aku akan jelaskan padamu nanti saja..." jawab Sebastian dengan nada bingungnya sambil menyembunyikan rasa malunya,bahkan ia sendiri juga bingung mau bagaimana caranya ia menjelaskannya pada Jennifer,bahkan hal tersebut terjadi begitu saja tanpa mampu ia kendalikan.Dan hal itu terjadi,sebagian besarnya juga karena ulahnya Jennifer tadi.


"Cepat tutup rapat lehermu itu.Sekarang,kita harus keluar terlebih dahulu.Atau mungkin saja,kamu ingin pengawalmu itu mengetuk jendela mobil lagi?" tanya Sebastian dengan nada kesal dan wajah seriusnya,sambil kembali merapikan rambutnya dan juga sekalian kemejanya.


Sedangkan Jennifer,ia hanya mampu menampilkan wajah bingungnya dan menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saja,sambil menutup lehernya dengan Jas kerjanya Sebastian serapat-rapat mungkin.


"Dan satu lagi,lain kali jangan mencoba-coba untuk menggodaku lagi.Kamu bisa melihatnya sendiri bukan,apa akibat dari tingkah mesummu itu?" lanjut Sebastian lagi,dengan peringatannya dan wajah kesalnya,sambil membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana dengan gaya khasnya setelah ia berhasil menyembunyikan semua rasa dibalik wajah datarnya.


Jika saja,tadi Jennifer tidak menggodanya,ia mungkin tidak akan sampai hilang akal seperti tadi.Tapi sekarang ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Untuk kedua orang tuanya Jennifer, ia hanya bisa semampu mungkin menghadapinya saja.Terutama sama Daddynya Jennifer yang mungkin akan lebih cerdik untuk bisa ia kelabui.


"Dasar,pria menyebalkan dan munafik.Aku tidak pernah merasa,kalau aku telah menggodamu... Kenapa juga aku harus menggodamu,seperti aku wanita penggoda saja..." gumam Jennifer dengan nada pelannya,sambil menatap kesal kearah punggungnya Sebastian dibalik jendela mobil tersebut.


Lalu Jennifer yang melihat Sebastian yang sudah keluar itu,iapun terpaksa ikut keluar dengan kedua tangan yang terus saja memegang erat Jas tersebut, takut-takut kalau Jas tersebut terlepas dan ia akan merasa sangat malu nanti.Apa lagi,kalau hal tersebut sampai dilihat sama kedua orang tuanya, bisa-bisa dirinya akan dimantrai habis-habisan atau mungkin saja akan dihukum oleh kedua orang tuanya.


Sebastianpun segera melangkah tegas kesampingnya Jennifer yang baru saja keluar dari dalam mobil, sambil melirik wajahnya Jennifer yang sedang menunduk tidak berdaya karena terus sibuk memikirkan bagaimana caranya ia akan menghadapi kedua orang tuanya nanti.


"Nona Muda,apa kamu baik-baik saja?" tanya pengawal tersebut dan juga tante yang memang selalu mendampingi Jennifer itu,secara bersamaan,sambil berjalan cepat mendekat kearah Nona Mudanya dengan wajah khawatir mereka.Apa lagi,saat mereka berdua melihat Nona Muda mereka yang ditutup Jas kerja sebesar itu.


"Aku baik-baik saja,paman,tante...Aku hanya sedikit kedinginan,tadi tiba-tiba saja aku mengalami flu diluar sana.Kalian tenang saja,aku hanya perlu beristirahat saja" jawab Jennifer dengan nada lemahnya,ia bahkan sengaja berpura-pura sedang kedinginan,dan ia juga masih belum menyadari keberadaan semua orang yang ada disekitarnya.


"Benarkah? Apakah kamu perlu dibawa kerumah sakit,nak?" tanya wanita paruh baya tersebut yang ternyata adalah Mommynya Jennifer yang sedang menahan rasa kesalnya,sambil berjalan pelan kearah Jennifer.Apa lagi,saat ia melihat siapa pria yang sedang bersama putri sulungnya ini.


"Mommy..." gumam Jennifer dengan wajah kagetnya,sambil mengangkat kepala lemahnya tadi dengan cepat.


Wajah kagetnya pun langsung menjadi semakin kaget,saat ia baru menyadari kalau bukan Mommy,adiknya dan Daddynya saja yang ada dihadapannya ,tapi ternyata keluarga lengkap paman sepupu liciknya itu juga berada dihadapannya saat ini.


"Hatchiiww hatchiiww Hatchiiww..." Jennifer langsung berpura-pura bersin dengan nada tingginya,tepat saat Mommy sampai disampingnya dan langsung menyentuh keningnya.


"Oh,sayang.Ternyata putri baik Mommy ini benar-benar sedang sakit...Apa kita harus kerumah sakit saja,sekarang? Supaya Dokter bisa langsung memeriksa saraf-saraf mana saja yang masih berjalan baik didalam sana,sayang..." ucap Mommy dengan wajah yang berpura-pura sedih dan nada pelan dikalimat terakhirnya,sambil menahan segala rasa kesalnya,saat ia sama sekali tidak merasakan hawa panas dikening putri nakalnya itu.


"Ti tidak perlu,Mommy.Aku hanya perlu beristirahat didalam saja..." jawab Jennifer dengan nada gugupnya,karena ia sangat tahu kekesalan Mommynya saat ini.


Ia hanya takut dan berpikir,bagaimana kalau sempat Mommynya mengetahui apa yang telah terjadi sama lehernya itu.Ntahlah,ia sendiri tidak ingin membayangkannya...

__ADS_1


'Ternyata wanita ini,pandai berakting juga ya...' batin Sebastian dengan wajah yang sedang menahan senyum,sambil memerhatikan sekilas satu persatu,semua orang yang ada disana,kecuali kedua orang tuanya Jennifer.


Dan juga 1 wanita remaja yang bisa ia tebak, pasti adik perempuannya Jennifer,karena wajah mereka berdua yang hampir mirip.


__ADS_2