Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 98


__ADS_3

Berbeda dengan Sebastian yang masih cuek terhadap sikap anehnya Jennifer tadi pagi,dan juga mengabaikan perkataan-perkataannya Jennifer tadi pagi yang menurutnya sangat tidak waras, tidak masuk akal dan juga tidak mungkin akan terjadi.ia bahkan berkerja tanpa memikirkan istri cantiknya itu sedikitpun,karena hari ini ia memang sedang sibuk sekali dikantornya itu.


Tapi Sebastian tidak tahu saja,kalau Jennifer malah sibuk dengan misi yang telah diberi atau disarankan oleh Ibu mertuanya yang sudah seperti Ibu kandungnya itu.Karena sekarang,disore hari ini ia sudah berada diluar Restoran,dimana tempat suaminya berkerja dulu.


"Kalian tunggu diluar saja,aku hanya akan berada didalam selama 1 jam kedepan saja..." perintah Jennifer pada anak buah suaminya yang memang selalu ada untuknya, dimana, dan kapanpun, dengan nada dan wajah tegasnya, setelah ia sudah keluar dari dalam mobilnya tersebut.


"Tapi Nona Muda........." belum sempat kalimat keberatan anak buahnya tersebut selesai,suara tegasnya Jennifer langsung kembali menyambar ekspresi keberatan mereka hingga menjadi ekspresi takut diwajah mereka saat ini.


"Apa kalian ingin aku laporkan pada Daddy,hm?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah yang masih tegas,dan disertai dengan tatapan tajam kearah mereka satu persatu.


"Baik,Nona Muda..." jawab mereka semua secara serentak,dengan ekspresi takut yang bercampur pasrah diwajah mereka semua,padahal Tuan Muda mereka memerintahkan kalau mereka harus mengikuti Nona Mudanya kemana saja,kecuali kekamar mandi atau yang memang tempat dilarang seperti yang lainnya.


Tapi apalah dayanya mereka,Tuan Besar dan Tuan Muda mereka sama-sama kejam dan menakutkan bagi mereka,jadi sekarang mereka hanya mampu menuruti kata Nona Muda mereka saja.


Jennifer langsung berjalan masuk kedalam Restoran,dengan tersenyum puas didalam hatinya,saat ia mendengar jawaban dari anak buah suaminya yang termasuk anak buahnya juga.Ternyata dengan memakai Daddynya saja,selalu saja berhasil.


Setelah berada didalam Restoran...


"Jennifer..." pekik Elisa dengan nada dan wajah tersenyum senangnya,saat ia melihat siapa wanita cantik yang sedang berjalan masuk melewati pintu utamanya Restoran tersebut.


Karena pekikan senangnya Elisa yang bernada tinggi itu,semua tamu dan karyawan yang ada disana langsung menjadi kaget dan menatap bingung,dan malahan ada juga yang menatap kesal kearah Elisa.


Termasuk Erik dan Elvan yang hanya ikut tersenyum senang juga, karena mereka sudah tahu siapa yang telah membuat Elisa sampai membuat gempar Restoran tersebut dan juga sampai tersenyum senang begitu


"Ma maaf,maafkan aku Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya,kalau aku telah menganggu ketenangan kalian semua.Silakan,kalian melanjutkannya lagi.Sekali lagi,maafkan ketidak sengajaanku ini..." Elisa langsung meminta maaf dengan nada dan wajah bersalahnya,sambil menunduk-nundukkan kepalanya kearah semua orang.


Semua orang yang sedang bingung tadipun langsung tersenyum ramah,dan yang sedang kesal tadi juga langsung memudarkan wajah kesal mereka,karena permintaan maafnya Elisa yang terlihat sangat tulus dimatanya mereka.Apa lagi,sikapnya Elisa selama ini sangat sopan terhadap mereka semua.


Sedangkan Erik dan Elvan,mereka berdua hanya mampu menggeleng-gelengkan pelan kepala dengan ekspresi wajah heran mereka yang ditujukan untuk Elisa,karena Elisa seperti sudah sangat akrab saja,padahal mereka baru resmi bersahabat selama beberapa minggu saja.Dengan Jennifer yang malah langsung tersenyum lucu,karena tingkah lucunya Elisa tersebut.


Setelah ia selesai menunduk-nunduk kepalanya untuk mengganti rasa bersalahnya,dan melihat kalau semua para tamu mereka sudah kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing, Elisapun segera berjalan semangat kearah Jennifer yang juga berjalan kearahnya.


"Bestie,rasanya aku sudah sangat merindukan kamu...Kenapa kamu baru datang,hari ini?" tanya Elisa dengan nada dan wajah manja kesalnya, sambil memeluk Jennifer yang langsung membalasnya.


"Kamu ini,seperti kita sudah tidak bertemu selama berapa bulan saja.Padahal kita baru saja bertemu, pada 2 minggu yang lalu..." ucap Jennifer dengan wajah yang tersenyum geli karena wajah manja kesalnya Elisa,sambil mengikuti langkahnya Elisa yang langsung membawanya kemeja bar sana.


Apa lagi,saat ia mendengar panggilan baru yang disematkan oleh Elisa untuknya,mulai dari pertemuan terakhir mereka hari itu.


"Lagi pula,sore ini aku datang mencari kalian, karena aku sedang ingin meminta sedikit bantuan kepada kalian..." Jenniferpun langsung bicara keintinya saja,karena ia memang sudah tidak sabar,ingin melihat bagaimana reaksi suaminya nanti saat ia memulai misinya tersebut.

__ADS_1


Ia bahkan menekan kata "sedikit" pada kalimatnya barusan,tapi itu baginya,mungkin tidak bagi Elvan.


Dan ia sangat berharap,kalau Sebastian memang telah mencintainya saat ini,jadi ia tidak akan merasakan kecewa nanti.


"Meminta bantuan?" tanya Erik dan Elvan dengan nada dan wajah bingungnya,begitu juga dengan Elisa,karena saat Jennifer mengatakan hal tersebut,bertepatan dengan langkah mereka yang sudah sampai dimeja bar tersebut.


"Iya.Apa kamu sedang bercanda,bestie? Kamu kan tidak kekurangan apapun,dan juga tidak mungkin akan kekurangan tenaga bukan?" tanya Elisa dengan nada dan wajah bingungnya,sambil menunjuk kearah pengawal yang sedang berjaga diluar Restoran tersebut,melalui ekor matanya.


"Bagaimana kalau kita berbicara ditempat tertutup saja..." Jennifer langsung memberi saran dengan nada dan wajah seriusnya, sambil melihat disekitar mereka yang memang selalu terlihat ramai disetiap harinya,ia tidak mungkin bercerita tentang hal tersebut.


Ia tidak mungkin bercerita dengan leluasa diantara keramaian tersebut,ia bisa merasa malu karena cerita pribadinya akan didengar oleh orang lain, selain dari ke 3 sahabatnya Sebastian yang sudah menjadi sahabatnya itu.


Sedangkan ke 3 sahabat itu,mereka ber 3 langsung saling tatap selama beberapa detik,dengan ekspresi wajah yang heran,bingung dan juga penasaran yang telah bercampur menjadi satu.Padahal biasanya,jika mereka akan mengobrol,pasti hanya akan dimeja bar itu saja.


Apa lagi,saat mereka melihat ekspresi seriusnya Jennifer...Hingga...


"Baiklah..." jawab Elisa akhirnya,dan jawaban tersebutpun mampu membuat Jennifer langsung tersenyum senang.


Mereka ber 4 pun segera masuk kedalam ruangannya Manajer bersama-sama,ruang Sebastian dulu yang sekarang telah menjadi miliknya Erik,karena Erik memang termasuk salah satu karyawan yang terbaik,dan juga bisa dipercaya.


Dan tentunya setelah Erik sudah selesai memerintahkan beberapa karyawannya,untuk menggantikan sementara perkerjaan mereka ber 3 selama mereka berada didalam ruangan tersebut.


Sedangkan mereka ber 3,mereka hanya mampu menghela napas malas saja,dengan perasaan tidak sabaran mereka itu.Mereka baru tahu kalau ternyata Jennifer sama saja dengan orang tuanya dan juga Sebastian,karena harus menunggu waktu terlebih dahulu,setiap akan memulai pembicaraan mereka yang serius.


"Aku memang sedang membutuhkan bantuan kalian semua,tapi yang harus lebih banyak membantuku itu adalah kamu,Elvan..." ucap Jennifer yang baru saja memulai pembicaraan yang sudah ia rangkai barusan.


"Kalian mau membantuku,kan?" lanjut Jennifer dengan nada ragu-ragunya,sebelum ke 3 sahabatnya sempat menyela perkataannya tadi.


"Jadi..." tanya ke 3 sahabat tersebut secara serentak,dengan singkat dan nada malasnya, karena Jennifer malah kembali mengulangi perkataannya saat diluar ruangan tadi.


Lagi pula,tentu saja mereka harus mendengar terlebih dahulu apa permintaannya sahabat barunya mereka ini,sebelum mereka mengiyakannya.Saat ini saja,mereka sudah mulai memikirkan yang aneh-aneh tentang permintaannya Jennifer tersebut.


"Ehem ehem ehem..." Jennifer kembali berdehem setelah ia tersenyum kecil saat ia mendengar nada malasnya sahabat-sahabatnya itu,ia juga bukan sedang gugup,hanya saja ia merasa agak malu untuk menceritakan tentang fakta keadaan hubungannya dengan Sebastian selama 2 minggu ini.


"Begini,sejak pernikahan kami hari itu,aku dan Sebastian selalu..............." Jenniferpun langsung lanjut bercerita kepokok masalahnya supaya ke 3 sahabatnya itu mengerti,ia juga menceritakan tentang segala rasa kesalnya pada Sebastian,tidak ada satupun yang terlewatkan,kecuali tentang mereka berdua yang sedang tidur terpisah tapi satu kamar itu.


Sedangkan Elisa,Erik dan Elvan,mereka ber 3 mulai mendengarkan dengan ekspresi wajah serius mereka,hingga kadang-kadang suka berekspresi bingung,bahkan mereka kadang-kadang juga harus menahan tawa karena tidak ingin membuat Jennifer merasa kesal.Apa lagi,ceritanya Jennifer masih belum selesai,dan mereka masih ingin mendengarnya hingga selesai.


"Jadi sekarang,aku ingin kalian membantuku..." lanjut Jennifer dengan nada pelannya setelah ia sudah selesai bercerita,ekspresi wajahnya bahkan terlihat sedikit malu,karena ia tahu pasti kalau ke 3 sahabatnya itu sedang menahan tawa untuknya.

__ADS_1


"Nona Muda,memangnya apa yang bisa kami lakukan untuk membantumu? Kami bahkan tidak memiliki seperempat kekayaan ataupun kekuasaan saja,dari yang dimiliki oleh kamu,Nona Muda...Apa lagi,kami harus menghadapi pria egois itu...Jika Nona Muda saja tidak mampu,bagaimana dengan kami? ..." ucap Erik dengan nada candanya dan juga jujur,sambil tersenyum tidak percaya,karena ia masih tidak percaya kalau Jennifer sedang meminta bantuan pada mereka saat ini.


Sedangkan Elisa dan Elvan,mereka berdua mengangguk-nganggukkan pelan kepala mereka, yang menandakan kalau mereka berdua sangat setuju dengan kalimat jujurnya Erik yang panjang lebar barusan.Lagi pula,mereka tidak sempat menyela juga.


"Memangnya aku mengatakan padamu,kalau aku meminta uangmu atau hartanya kalian,hm? Lagi pula,aku bukan tidak mampu,tapi aku hanya memerlukan sedikit bantuan saja, dari kalian..." tanya Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia mendengar perkataannya Erik yang malah terdengar seperti sedang mengejeknya.


Mereka ber 3 pun langsung tertawa kecil,saat mereka melihat wajah kesalnya Jennifer itu, padahal perkataannya Erik kadang-kadang ada benarnya juga.Karena rata-rata,orang yang sedang meminta bantuan,pasti tentang uang.


"Dasar kalian ini...Sepertinya kedatanganku kesini, hanya sia-sia saja..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah yang semakin kesal saja,karena tawa mereka ber 3 malah seperti tidak mau berhenti saja.


"Oke,oke,sekarang kami akan serius... Memangnya, apa yang harus kami lakukan untuk kamu" tanya Erik akhirnya,setelah ia sudah meredakan tawa panjangnya tadi,begitu juga dengan yang lainnya... Apa lagi,saat mereka melihat Jennifer yang sedang memberengut kesal.


"Aku ingin Elvan berpura-pura menjadi sahabat dekatku,dan.........." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimatnya,Elisa malah langsung menyelanya dengan cepat.


"Bukankah,kita semua sudah menjadi sahabat dekat.Bestie,kamu ini ada-ada saja.." sela Elisa dengan nada dan wajah tersenyum herannya, sedangkan Erik dan Elvan,mereka berdua hanya mampu menampilkan wajah bingung mereka saja.


"Makanya,tunggu aku selesai bicara terlebih dahulu,baru kamu boleh menyelanya..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya kembali, sambil menatap kesal kearah Elisa yang hanya menanggapinya dengan wajah yang tersenyum tidak bersalahnya saja.


"Maksudku,aku ingin Elvan berpura-pura ingin mendekatiku,dan aku akan menanggapi pendekatanmu itu dengan pura-pura juga.Dan kalian berdua harus berkerja sama dengan kami,jika saja,Sebastian akan bertanya pada kalian tentang hubungan kami..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya kembali,ia bahkan masih bingung tentang rangkaian kata yang telah dirinya sendiri susun tadi.


Untung saja ke 3 sahabatnya itu tidak bod*h-bod*h sangat,jadi mereka hanya perlu mencerna selama beberapa detik saja,mereka ber 3 pun sudah langsung mengerti.


"What?" tanya Elvan yang duluan berhasil mencernanya, dengan nada kagetnya,sambil berdiri dari duduknya.


"Aku ingin kamu berpura-pura mendekatiku dan menyukaiku,supaya Sebastian akan merasa cemburu dan tidak akan berani mengabaikan aku lagi..." ulang Jennifer dengan nada dan wajah kesalnya,saat ia melihat tingkahnya Elvan yang menurutnya sangat berlebihan,ia bahkan langsung memperjelaskan lagi maksudnya tadi tanpa dipinta duluan.


"Tidak,aku tidak mau...Kamu bisa menyuruh Erik saja..." jawab Elvan dengan nada dan wajah seriusnya,walaupun masih ada sedikit sisa ekspresi kaget diwajahnya tadi.


"Tidak,aku juga tidak mau...Aku tidak mau,kalau tiba-tiba saja kepalaku dilubangi oleh pria datar itu..." timpal Erik yang sedari tadi hanya terbengong diam saja,sambil menatap kesal kearah Elvan yang malah menyarankan dirinya.


Yang benar saja...Untuk melihat wajah datarnya Sebastian saja, ia malas.Apa lagi,ia harus berperang mulut dengan sahabatnya itu.


"Memangnya hanya kamu sendiri saja yang ingin tetap bernapas,aku juga ingin tetap bernapas sepertimu. Dasar..." ucap Elvan,ia juga tidak kalah kesalnya dengan Erik.


'Dan aku juga tidak mau terjebak dengan cinta segitiga,yang pasti akan membuatku menjadi tidak waras nanti...Ya,walaupun itu hanya pura-pura saja...' batin Elvan dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal.


Padahal alasan utama ia tidak mau,karena ia tidak mau kalau sampai ia kembali jatuh cinta pada Jennifer,dan ujung-ujungnya pasti ia juga yang akan mundur dan menderita. Mau maju juga,ia tidak akan mampu, memangnya siapa yang mampu melawan sahabatnya Sebastian itu.


Sedangkan Elisa,,ia hanya mampu menghela napas pelan yang panjang saja,saat ia mendengar perdebatan antara Elvan dan Erik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2