
Sedangkan Aldy,sang sekretaris yang memang sudah lama membantu Daddy untuk memgurus perusahaan tersebut,iapun langsung tersenyum lucu saat ia melihat wajah memberengut Nona Mudanya itu.
Karena ia memang diharuskan untuk mengikuti Jennifer hingga kedalam kantor tersebut,karena telah diperintahkan untuk menjaga Nona Mudanya, lalu iapun berjalan mendekat kearah Jennifer dengan beberapa dokumen dikedua tangannya.
"Nona Muda,disini ada beberapa dokumen yang harus Nona Muda pelajari terlebih dahulu,sebelum kita akan melakukan peresmian Presdir dan sekalian meeting nanti..." lapor Aldy dengan nada dan wajah tenangnya,sambil meletakkan beberapa dokumen tersebut disamping, diatas meja kerja Nona Mudanya.
"Hm..." jawab Jennifer dengan nada malasnya,sambil mulai membuka dokumen-dokumen tersebut satu persatu,dengan gerakan tidak bersemangatnya.
Malasnya Jennifer bukan karena dokumen-dokumen tersenut,tapi karena pria yang ia harapkan untuk menemaninya sepanjang hari ini,tidak ada bersamanya saat ini.
Karena terlalu fokus dengan malasnya itu,ia sampai tidak menyadari kalau Daddy sedang berjalan masuk keruangan yang telah menjadi miliknya itu,dan saat ini Daddy sudah berada dibelakangnya.
Aldy yang baru saja ingin menyapa Daddypun hanya langsung menunduk hormat saja kearah Daddy,karena Daddy sedang mengisyaratkan tanda diam padanya.
"Menyebalkan,menyebalkan,memang sangat menyebalkan..." gumam Jennifer dengan nada pelannya,tapi wajahnya masih saja memberengut kesal.
Sedangkan Daddy,ia langsung tersenyum lucu sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya saat ia mendengar gerutuan kesal pelan putri sulungnya itu,begitu juga dengan Aldy,dan juga dengan seorang lagi yang ada dibalik pintu sana.
"Ehem ehem ehem..." dehem Daddy dengan nada sedangnya,sambil bersedekap dada dibelakangnya Jennifer, yang langsung terlonjak kaget dan juga berdiri.
"Daddy..." pekik Jennifer dengan nada senangnya, sambil berjalan keluar dari kursinya dan langsung memeluk Daddy dengan ekspresi tersenyum senang diwajahnya.
"Daddy mengira,kalau kamu telah melupakan pria tua ini..." ucap Daddy dengan nada dan wajah tersenyum senangnya juga,sambil membalas pelukannya Jennifer dengan sayang.
"Daddy bisa saja,mana mungkin aku bisa melupakan Daddyku yang tampan ini..." ucap Jennifer dengan nada seriusnya,sambil terus tersenyum senang.
Sudah hampir 3 minggu ini ia sudah tidak bertemu dengan kedua orang tuanya,karena ia memang ingin belajar hidup mandiri pada hari itu,dan juga terlalu fokus pada suami menyebalkannya itu,tapi sekarang ia telah berubah pikiran.Dan lagi pula, rasa rindunya pada kedua orang tuanya memang juga sudah menumpuk didalam hatinya.
"Kamu ini..." ucap Daddy dengan nada pelannya,sambil mencubit pelan ujung hidungnya Jennifer dengan gemas.
"Dad,dimana Mommy? Apa Mommy tidak ikut bersama Daddy?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah herannya,sambil menjauhkan pelukan mereka dan juga mencari keberadaan Mommy yang tidak terlihat ada disekitar mereka.
Karena biasanya,jika hal tersebut berkaitan dengan dirinya,Mommy pasti akan rusuh duluan,tapi kenapa hari ini Mommy malah tidak terlihat ikut bersama Daddy.
"Tidak,Mommymu tidak ikut bersama Daddy. saat ini Mommymu masih sibuk dengan masakannya didapur sana,mungkin Mommymu tidak akan datang.Kamu sendiri tahu sendiri bukan, bagaimana Mommymu yang suka sekali berada didapurnya itu?" jawab Daddy dan sekalian bertanya dengan nada yang pura-pura seriusnya, sambil menahan senyumnya.
"Aku mengira,kalau hari ini Mommy akan datang juga untuk ikut menemaniku disaat peresmian diriku nanti..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah kecewanya,ia bahkan mengabaikan pertanyaannya Daddy barusan.
"Bukankah,Daddy sudah ada disini? Daddy atau Mommy yang menemanimu,bukankah itu sama saja,hm?" tanya Daddy dengan nada dan wajah pura-pura herannya,sambil menelisik wajah kecewa putri sulungnya itu.
__ADS_1
"Tentu saja beda,Dad.Daddy tetap Daddy,dan Mommy tetap Mommy.Jadi akan lebih baik lagi,jika kalian berdua sama-sama menemaniku..." jawab Jennifer dengan wajah tersenyum kecilnya,sambil menetralkan ekspresi kecewa diwajahnya tersebut, karena ia tidak ingin membuat Daddy ikut merasa sedih karena wajah kecewanya itu.
Sebenarnya bukan karena ia merasa takut ataupun gugup untuk memghadapi peresmian dirinya tersebut,hanya saja setidaknya dengan kehadiran kedua orang tuanya disampingnya,hal itu bisa sedikit mengurangkan rasa kesalnya karena merasa kecewa terhadap Sebastian tadi.
Lagi pula,kedua orang tuanya itu memang akan selalu mendampinginya,jika sedang melakukan peresmian seperti ini,tanpa ia minta sekalipun.
"Tapi tidak apa-apa,seperti katanya Daddy tadi. Karena sudah ada Daddy yang telah bersamaku saat ini,jadi......." belum sempat Jennifer menyelesaikan kalimatnya,tiba-tiba saja sebuah suara langsung menyelanya dengan cepat.
"Apakah ada yang sedang mencari Momny,hm?..." ucap Mommy secara tiba-tiba dari balik pintu ruangan tersebut,dengan nada senangnya,sambil berjalan masuk dengan langkah santainya.
"Mommy..." Jennifer langsung memanggil Mommy dengan nada senangnya karena ia sudah bisa langsung mengenal siapa pemilik dari suara tersebut,sambil berbalik badan dan juga langsung memeluk Mommy yang langsung membalasnya, sama seperti Daddy tadi.
"Bagaimana bisa,hari ini Mommy tidak datang untuk melihat dan melewatkan peresmian presdirnya putri cantiknya Mommy ini .." ucap Mommy dengan wajah yang tersenyum sensng,karena apa ia nantikan akan segera terlaksana,begitu juga dengan suaminya.
Karena mau bagaimanapun,tetap Jennifer yang harus mampu memimpin perusahaan milik suaminya ini,karena mereka hanya memiliki 2 orang putri saja,dan tidak memiliki seorang putrapun.
Dulu ia memang selalu mengkhawatirkan keselamatannya Jennifer jika sudah berada disaat-saat seperti ini,tapi dengan kehadiran menantunya itu,setidaknya rasa khawatirnya itu sudah tidak begitu terasa lagi.
"Ibu ini ada-ada saja,kenapa pakai sembunyi-sembunyi segala..." ucap Jennifer dengan wajah yang pura-pura kesal,sambil menjauhkan pelukan mereka dan membawa Mommy kesofa panjang sana.,dan langsung diikuti oleh Daddy.
"Kamu ini...Mommy kan hanya ingin membuat kejutan saja,untukmu..." ucap Mommy dengan nada malasnya,sambil duduk disofa tersebut, hingga mampu membuat Jennifer langsung tertawa kecil dan Daddy yang hanya tersenyum kecil saja.
"Bukan siapa-siapa Mom,hanya pria yang tidak punya hati saja..." jawab Jennifer dengan nada kesalnya,sambil memandang lurus kedepan.
"Pria tidak punya hati?" tanya Mommy dengan wajah yang terlihat sedang berpilkir,sambil melirik kearah suaminya yang hanya menanggapinya dengan senyuman santai saja.
"Jangan katakan,kalau kamu sedang mengatain suamimu sendiri,hm?" tanya Mommy dengan nada yakinnya.
"Apa saat ini kalian berdua sedang ada masalah, hm?" tanya Mommy,saat dibenaknya hanya terlintas kata masalah saja.Jika tidak,kenapa moodnya Jennifer hari ini tidak terlihat begitu baik.
Sedangkan Daddy,ia langsung menelisik wajah cantiknya Jennifer,karena ia sendiri memang tidak begitu tahu jelas dan detail dengan kehidupan putrinya disana.
"Tidak juga,,," jawab Jennifer dengan nada kesalnya yang masih saja sama,kemudian ia menjeda perkataannya diakhir kalimatnya karena merasa bingung mau bagaimana caranya ia akan menjelaskannya pada kedua orang tuanya saat ini.
"Lalu?..." tanya Mommy dengan singkat,dan tatapan menelisik yang masih tertuju kearah wajahnya Jennifer.
"Mommy,tentang yang satu itu,nanti saja baru akan kita bahaskan ya...Sekarang,lebih baik kita mengobrol yang lainnya saja,menjelang peresmian diriku nanti..." lanjut Jennifer dengan nada kesalnya yang telah bercampur dengan ekspresi seriusnya.
"Baiklah,baiklah.Tapi ingat,jika nanti kamu sudah ingin bercerita kepada Mommy...Datang saja kepada Mommy,Mommy pasti akan selalu ada untukmu..." ucap Mommy akhirnya dengan nada seriusnya dan wajah tersenyum tulusnya,setelah ia sudah selesai menelisik wajahnya Jennifer selama beberapa detik.
__ADS_1
"Jangan melupakan Daddymu ini,karena Daddy juga akan selalu ada untukmu..." timpal Daddy dengan nada dan ekspresi wajah yang sama seperti istrinya barusan.
Mereka berdua memang merasa penasaran dan juga khawatir,tapi saat mereka melihat ekspresi wajah putri mereka yang terlihat tidak begitu terbebani itu.Jadi mereka berpikir,kalau mungkin saja hal tersebut masih sanggup untuk dihadapi oleh putri mereka.
Lagi pula,saat semalam Daddy ditelepon oleh menantunya itu,Daddy masih bisa merasakan kalau betapa khawatirnya Sebastian terhadap keselamatannya Jennifer.
"Oke,Mom,Dad..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yang tersenyum senang,karena kedua orang tuanya ingin mengerti dengan maksudnya tadi.
Lagi pula,masalahnya dengan Sebastian memang tidak begitu parah.Hanya saja,,,ya sudahlah,untuk saat ini ia tidak ingin memikirkan hal yang akan membuat dirinya menjadi sakit hati dan juga kesal. Tapi untuk sementara ini,ia akan menggunakan waktunya ini untuk berkerja dan terus berkerja...
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan,yang mampu membuat mereka langsung menghentikan obrolan mereka tersebut.
"Masuk..." jawab Jennifer dnegan cepat dan nada tegasnya,sebelum Daddy sempat menjawabnya.
Daddy dan Mommypun hanya tersenyum kecil saja,karena mulai saat ini memang harus putri mereka yang akan menjadi pemimpinnya.
"Tuan besar,Nyonya besar,Nona Muda,semuanya sudah berkumpul..." lapor karyawan pria yang mengetuk pintu tadi,setelah pintu tersebut sudah ia buka dengan lebar.
"Sebentar lagi,kami akan kesana..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah yang sama tegasnya, sambil mengalihkan tatapan tegasnya kearah Daddynya.
"Baik,Nona Muda..." jawab karyawan tersebut dengan cepat dan juga menunduk hormat,lalu iapun segera berjalan pergi dari sana setelah ia sudah selesai menutup pintu kembali.
"Ayo,kita kesana untuk meresmikan posisimu, nak..." ucap Daddy dengan nada dan wajah tegasnya,sambil berdiri dari tempat duduknya yang masih belum panas itu,dan juga mengulurkan sebelah tangannya kearah Mommy yang langsung menyambutnya dengan wajah yang tersenyum senang.
"Ayo,Dad,Mom..." jawab Jennifer dengan nada semangatnya dan wajah tegasnya,sambil ikut berdiri dan langsung mengikuti langkah kedua orang tuanya yang sudah duluan melangkah itu.
Mereka ber 3 berjalan dengan langkah tegas dan anggun,dan juga tatapan mata yang tegas dan juga tajam yang lurus kedepan,dengan Aldy yang setia mengikuti mereka dari belakangnya mereka.
Setelah berjalan sekitar 60 langkah banyaknya, karena ruang meetingnya hanya berada disatu tingkat yang sama dengan ruangnya Presdir, akhirnya merekapun sampai diruangan meeting tersebut dengan cepat.
"Ceklek..." terdengar suara pintu ruang meeting yang telah dibuka oleh Aldy,saat majikan-majikannya sudah sampai dihadapan pintu ruang meeting tersebut.
Daddy,Mommy dan Jenniferpun langsung berjalan masuk kedalam dengan ekspresi wajah dan langkah yang tetap sama.
Semua orang yang ada didalam,yang sedari tadi memang sudah merasa tegang itupun menjadi semakin tegang,dan sekarang aura didalam ruangan tersebut sudah menjadi semakin mengcekam saja.Sebagian dari mereka bahkan sudah terlhat berkeringat dingin,tapi masih tetap berusaha untuk mempertahankan badan tegak berdiri mereka supaya tetap baik.
Berbeda dengan Jennifer yang masih tidak begitu memperhatikan semua itu karena menganggap hal itu memang sudah biasa terjadi,berkat dari kekejaman yang memang selalu melekat pada diri Daddynya.
Tapi keningnya Daddy dan Mommy malah terlihat sedang mengernyit heran,tanpa menghentikan langkah tegas mereka yang mulai melambat.
__ADS_1
Bukan permandangan itu yang telah membuat keningnya mereka berdua mengeryit heran,tapi diantara semua karyawannya,ada seorang yang mampu membuat kening mereka berdua sampai refleks mengernyit heran.