
"Jennifer,Jennifer...Hallo,hallo,Jennifer..." Sebastian terus memanggil nama istrinya dari seberang sana,dengan ekspresi khawatir yang tidak berkurang sedikitpun.
"####..." Sebastian kembali mengumpat marah, saat ia melihat kalau ternyata Jennifer telah menutup telepon mereka secara sepihak.
"Kenapa kamu begitu b*d*h? Billy? Ya,semua ini gara-gara Billy.Bukankah dia hanya perlu menuruti perintahku dengan baik saja,kenapa dia malah mengabaikan perintah-perintahku itu.Dan sekarang,lihatlah apa akibat dari perbuatan b*d*hnya itu..." lanjut Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,saat ia memikirkan tentang Billy yang ternyata telah membohonginya selama itu.
Walaupun saat ini ia juga merasa khawatir dengan keselamatannya Billy,tapi rasa khawatirnya terhadap Jennifer lebih banyak dibandingkan terhadap Billy.
'Dan apa yang sedang dibicarakan oleh Jennifer tadi? Apa ia tidak bisa lebih serius lagi,dalam situasi yang seperti ini?' lanjut Sebastian didalam hatinya,saat ia memikirkan tentang kalimat-kalimat membingungkan Jennifer tadi.
"Apa kamu tidak dengar,hah? Lebih cepat lagi..." perintah Sebastian lagi,dengan nada tinggi yang kali ini disertai bentakan dan ekspresi wajah yang sama,sambil kembali memegang pegangan tangan yang ada diatas samping kursinya tersebut.
"Baik,Tuan Muda..." supir tersebut hanya mampu terus menjawab jawaban yang sama saja,sedari ia mulai melajukan mobil tersebut tadi.
Karena hanya itu saja hal yang bisa ia lakukan sedari tadi,saat ini ia bahkan sudah tidak memikirkan nyawanya sendiri lagi,karena ia terus saja mengebut sedari tadi.
Lihatlah,bahkan duduk tidak tenang Tuan Mudanya tadi juga ikut tidak stabil,terbukti dengan Tuan Mudanya yang terkadang-kadang akan segera memegang pemegang tangan tersebut supaya bisa menahan disaat ia mendapatkan gerakan kuat akibat belokan tajam ataupun lajunya mobil tersebut.Tapi mau bagaimana lagi,Tuan Mudanya tetap juga merasa tidak puas dengan laju mobilnya tersebut.
'Semoga saja,tidak akan terjadi apapun sama kamu.Dan kamu baik-baik saja,sampai aku berada disana nanti... ' lanjut Sebastian didalam hatinya, dengan doa tulusnya tersebut,sambil melihat jam tangannya yang masih tersisa 25 menit,yang harus mereka tempuh lagi.
Lihatlah,ekspresi wajahnya terus berubah sedari tadi tanpa adanya ekspresi senyum sedikitpun, bahkan ia terus memegang erat pistolnya karena segala rasa khawatirnya tersebut.
Ia terus berdoa sambil berusaha mengendalikan segala rasa amarah,kesal dan khawatirnya tersebut,tapi nyatanya kali ini ia agak kesulitan untuk mengendalikan segala perasaan kacaunya itu.Apa lagi,saat ini yang harus ia selamatkan adalah istrinya sendiri.
Ia juga tidak lupa untuk menelepon yang lainnya supaya segera datang ketempat yang sedang ia tuju saat ini,karena ia berpikir kalau Billy saja telah tertangkap,sudah dipastikan kalau keadaan disana saat ini tidak sedang baik-baik saja.
***
"Ti......" baru saja Irfan ingin menyelesaikan angka 3 nya tersebut,suara teriakannya Jennifer berhasil menyelanya dan juga membuatnya langsung menghentikan gerakan jarinya yang sedang ingin menarik pelatuk pistolnya itu.
"Tunggu...Aku akan menyerahkan diri,sekarang kamu lepaskan dia..." ucap Jennifer dengan sedikit berteriak,sambil keluar dari samping mobilnya tersebut dan berjalan pelan mendekat kearah Irfan yang langsung tersenyum senang.
Padahal ia telah berhasil berlari hingga kemobilnya tadi, dan ia hanya perlu masuk kedalam dan melarikan diri dengan mobilnya tersebut.Tapi karena rasa patah semangatnya tadi karena Sebastian, ldan terutama karena ia harus menolong nyawanya Billy saat ini,jadi akhirnya iapun memilih untuk menyerahkan diri saja.
'Nona Muda...Apa yang telah kamu lakukan? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan kata-kataku,dan malah menyerahkan diri semudah itu.Aku bahkan sangat yakin,kalau Tuan Muda pasti sedang dalam perjalanan kesini saat ini...' batin Billy dengan perasaan khawatirnya yang masih sama,sambil memejamkan kedua matanya selama beberapa detik karena melihat Jennifer yang malah memilih untuk menyelamatkan dirinya.
Padahal walaupun nanti Tuan Mudanya tidak berhasil menyelamatkan dirinya sekalipun,ia tetap akan dengan senang hati menyerahkan nyawanya tersebut.Tapi yang sedang terjadi saat ini,malah bukan yang seperti ia rencanakan sedari awal tadi.
"Bagus.Ternyata kamu memang seorang wanita yang pemberani dan tidak takut terhadap apapun, tapi aku semakin menyukainya..." gumam Irfan dengan nada dan wajah yang terus tersenyum senang,sambil menjauhkan pistolnya dari pelipisnya Billy tadi.
Sedangkan Billy,ia hanya mampu menahan rasa kesalnya sambil memegang lengannya yang sakit dan terus mengeluarkan darah itu saja.
__ADS_1
Sepertinya saat ini hanya tinggal dirinya seorang saja yang tersisa dari banyaknya bawahannya tadi,walaupun masih ada yang hidup tapi sedang tidak berdaya tergeletak diatas tanah sana karena ada diantara mereka semua yang terkena tembakan,yang tidak begitu parah. Bahkan ada juga yang langsung mati ditempat, karena terkena tembakan yang cukup parah.
"Sekarang lepaskan dia,dan aku akan ikut denganmu..." ucap Jennifer dengan nada dan wajah seriusnya,setelah ia sudah sampai beberapa langkah dari tempatnya Irfan berdiri.
"Baiklah.Asalkan kamu berjanji padaku,kalau kamu tidak akan melarikan diri dariku..." ucap Irfan dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menelisik ekspresi wajahnya Jennifer yang masih terlihat santai dan dengan pistol ditangannya,walaupun sedang berhadapan dengannya dan juga begitu banyaknya bawahan-bawahannya yang sedang ia sewa itu.
"Baik,aku berjanji..." jawab Jennifer dengan nada dan wajah yakinnya,sambil melirik sekilas kearah bawahan-bawahan suaminya yang telah tergeletak tidak berdaya dan ada juga yang tidak bernyawa disekitarnya.
"Baiklah.Kalau begitu,cepat lepaskan dia..." perintah Irfan dengan nada senangnya dan juga tegas,sambil mengalihkan tatapannya tadi kearah anak buahnya yang sedang memegang Billy itu.
"Tapi Tuan ..." belum sempat kalimat keberatannya anak buah tersebut selesai,Irfan sudah langsung menyelanya dengan cepat.
"Tenang saja,aku akan membicarakannya pada ketuanya kalian nanti...Anggap saja,kalau ini pelajaran pertama terlebih dahulu untuknya" sela Irfan dengan cepat dan nada santainya, saat ia tahu apa yang akan dikatakan oleh anak buah teesebut.
Dirinya dan ketua dari geng tersebut memang sudah sepakat,kalau mereka akan membawa Billy untuk disiksa dan mengancam Sebastian. Kecuali, Jennifer yang telah berhasil ia pinta dari ketua geng tersebut,karena ia telah membayar harga yang sangat tinggi untuk hal itu.
"Sekarang cepat lepaskan dia,dan kita harus segera pergi dari sini,sebelum pria angkuh itu sampai kesini..." perintah Irfan lagi,sambil berjalan angkuh kearah Jennifer sana.
Apa lagi saat ia mendapatkan kode mata dari anak buah yang lainnya, yang menandakan kalau Sebastian sudah mendekat kearah mereka.Maka dari itu,ia dan yang lainnya harus bergegas pergi dari sana sekarang juga.
"Baik,Tuan..." jawab anak buah tersebut dengan cepat,sambil melepaskan Billy dengan gerakan kesal dan tidak relanya.
Mereka semua bahkan sama sekali belum sempat menyiksa Billy,hanya meninggalkan sebuah peluru dilengannya Billy tersebut.
"Sini,berikan pistolmu itu..." pinta Irfan dengan nada dan wajah tegasnya,sambil mengulurkan telapak tangannya kearah Jennifer yang mau tidak mau rerpaksa memberikan pistol tersebut padanya.
"Dan aku rasa,kamu juga tidak memerlukan semua ini lagi..." lanjut Irfan dengan nada santainya kembali,sambil mengambil pelan tas kecil yang masih tersampir rapi dipundaknya Jennifer dan melemparkannya keatas tanah begitu saja.
Sedangkan Jennifer,ia hanya berusaha menahan rasa kesalnya karena HPnya ada didalam tas kecilnya itu.Bagaimana caranya Sebastian dan Billy akan mencari keberadaannya nanti kalau HPnya saja tidak bersamanya,ia bahkan telah melupakan sesuatu yang belum sempat ia berikan pada Billy tadi.
"Karena aku masih mampu membelikan kamu tas yang lebih bagus lagi,dari pada yang ini. Ayo,sekarang kita pergi dari sini..." ajak Irafn dengan nada dan wajah yabg tersenyum senang,sambil bernita ingin merengkuh pinggangnya Jennifer.
"Kamu tidak perlu melakukan itu,aku bisa berjalan sendiri..." tolak Jennifer dengan nada kesalnya, sambil berjalan mengikuti langkahnya Irfan,setelah ia sudah selesai memberi kode mata kearah Billy yang hanya mampu terdiam pasrah saja disana.
Kode mata yang menandakan kalau ia akan baik-baik saja,dan akan menunggu untuk diselamatkan,karena dirinya sendiri tidak yakin kalau ia akan mampu melarikan diri dari genggamannya Irfan nanti.
"Oke,oke,sayang.Aku tidak akan memaksamu,sekarang..." ucap Irfan dengan nada santainya,tanpa menghentikan langkahnya.
'Tapi,tidak untuk lain kali...Apa lagi,setelah aku telah berhasil menikahimu nanti...' lanjut Irfan didalam hatinya,sambil tersenyum licik.
Sedangkan Jennifer,setelah berhasil menyelamatkan Billy,sekarang ia malah mulai mengkhawatirkan tentang dirinya,saat ia bisa melihat jelas senyum liciknya Irfan tersebut.
__ADS_1
"Tuan Muda...Kenapa sampai sekarang,kamu masih belum sampai juga..." gumam Billy dengan nada pelannya,sambil terus memegang lengannya yang masih saja terus mengeluarkan darah,dan juga terus menatap punggungnya Jennifer yang telah menghilang dibalik pintu mobilnya Irfan, hingga kemudian mobil tersebut melaju dan menghilang diganti dengan kabut malam.
Ia bahkan sudah terduduk diatas tanah saat ini,karena tubuhnya yang semakin lama semakin melemah sedari tadi.
"Tuan Besar,Nyonya Besar...Aku harap,kalian bisa memaafkan kebod*h*nku ini..." lanjut Billy dengan nada lemahnya,sambil terus berharap kalau Tuan Mudanya akan segera sampai.
Apa lagi,Jennifer terus saja memohon padanya. Karena merasa tidak tega terhadap Jennifer,ia langsung menuruti beberapa kemauannya Jennifer tersebut,hingga berakhir seperti ini.
Walau sebenarnya ia tidak mengharapkan kalau ia akan mendapatkan maaf dari mereka,tapi ia terus saja merasa bersalah sedari tadi.
Karena kekuatan mereka yang seimbang tapi jumlah lawan mereka yang tidak seimbang,hingga akhirnya itulah yang terjadi,Billy berhasil dikalahkan oleh Irfan dengan waktu yang lumayan cepat.
10 menit kemudian,mobilnya Sebastian baru saja sampai.Terlihat Sebastian yang langsung keluar dari dalam mobil,dengan langkah lebar dan cepatnya itu,dan pastinya dengan pistol yang masih bertengger ditangannya sedari tadi.
"****..." Sebastian hanya mampu kembali mengumpat marah saat ia melihat keadaan yanga da didanau tersebut,tanpa menghentikan langkah lebarnya itu.
Ekpresi wajahnya semakin kacau,saat ia tidak melihat ada sosok istrinya disana,ia hanya mendapatkan Billy yang sedang sekarat disana dengan terduduk lemah.
"Dimana istriku?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah yang telah dipenuhi dengan amarah, sambil mengepalkan kedua tangannya dan juga menatap tajam kearah wajah pucatnya Billy yang juga sedang menatap lemah kearahnya.
"Mereka baru saja membawanya sedari 10 menit yang lalu,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada lemahnya dan juga ekspresi wajah bersalahnya, sambil berusaha terus tetap sadarkan diri dengan tubuh lemahnya itu.
"Kearah mana?" tanya Sebastian dengan nada marahnya,walaupun ia tahu kalau Irfan pasti akan kearah sana karena jalan yang mereka lalui tadi tidak terdapat jalan simpang satupun,tapi ia hanya ingin memastikannya saja.
"Kearah sana,Tuan Muda..." jawab Billy dengan nada yang semakin lemah,sambil menunjuk kearah berlawanan dari arah datangnya Tuan Mudanya tadi
Sebastian tidak lagi mengumpat marah saat tebakannya barusan benar,ia hanya mampu mengepalkan kedua tangannya lebih kuat lagi,hingga urat-urat biru diseluruh kedua tangannya langsung terlihat jelas.Lihatlah,bahkan tatapan tajamnya terus saja tertuju kearah Billy.
Jika saja Billy tidak sedang sekarat saat ini,ia pasti akan memukulnya hingga babak belur.Lagi pula, sekarang bukan saatnya untuk melampiaskan rasa marahnya pada Billy.
"Irfan...Aku akan membunuhmu,jika kamu sampai berani melukai istriku..." gumam Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,sambil berbalik badan dan berjalan cepat kearah mobilnya,bertepatan dengan kedatangan anak buahnya lainnya yang telah ia panggil tadi.
"Bawa Billy dan yang masih selamat kerumah sakit,sisanya ikut aku..." perintah Billy dengan nada dan wajah tegas,marahnya,saat ia sedang berjalan berlawanan dengan anak buahnya yang lain tersebut.
"Baik,Tuan Muda..." jawab mereka semua dengan cepat,sebelum Tuan Muda mereka benar-benar telah masuk kedalam mobilnya.
Dan anak buah yang baru datang,yang terhitung sekitar hampir 40 orang itupun membagi tugas mereka masing-masing dengan cepat.
Sedangkan Billy,setelah mobil Tuan Mudanya benar-benar menghilang dari pandangan buramnya itu,ia langsung menjatuhkan tubuh lemahnya dan juga memejamkan kedua matanya dengan perlahan-lahan.Karena sepertinya saat ini tubuhnya akan kehabisan darah,jika yang lainnya tidak segera membawanya kerumah sakit.
Anak buah yang lainnya tadipun segera mengangkat tubuh tidak berdayanya Billy,untuk mereka bawa kerumah sakit,berserta teman-teman mereka yang sedang mengalami cedera karena penyerangan tiba-tiba tersebut.Mereka juga tidak lupa membawa tasnya Nona Muda mereka,untuk mereka berikan kepada Tuan Muda mereka nanti.
__ADS_1
***
"Tuan Muda,didepan ada simpang 4.Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya supir tersebut dengan nada pelannya dan wajah bingungnya saat ia melihat kalau dijalan depannya memiliki cabang 3, sambil menghentikan mobil tersebut tepat ditengah-tengah persimpangan tersebut.