
"Tapi sepertinya tadi aku mendengar,ada yang mengatakan kalau wanita itu berwujud bidadari..." ucap Elisa dengan nada menyindirnya,sambil menatap kesal ke arah Erik yang menjadi semakin bingung.
"Ma mana ada yang mengatakan seperti itu,mungkin tadi Elvan yang mengatakannya,sayang.Coba sayang lihat..." ucap Erik dengan nada gugupnya dan berusaha menampilkan ekspresi santai di wajahnya,sambil memeluk Elisa dan juga memutar pelan tubuhnya Elisa untuk menghadap ke arah Jennifer yang masih sedang duduk.
Sedangkan Elvan,ia hanya mampu mendengkus kesal saja saat ia mendengar ucapan tuduhan dari Erik untuknya barusan.
"Lihatlah,wanita itu terlihat biasa saja kan?" tanya Erik dengan nada pelannya dan wajah khawatirnya karena takut kekasihnya akan marah-marah padanya,tanpa melepaskan pelukannya dari pinggulnya Elisa.
'Ternyata wanita itu benar-benar berwujud bidadari.Dasar mata keranjang,kalau di suruh menilai wanita,dia yang paling ahli' batin Elisa dengan wajah tercengang untuk beberapa detik,lalu berubah menjadi kesal kembali.
Walaupun begitu,ia tetap mencintai kekasihnya itu karena ia tahu kalau Erik hanya di mulut saja tapi tidak dengan hatinya.
"Iya,kamu memang benar.Wanita itu memang terlihat biasa saja" jawab Elisa dengan nada santainya,ia tidak mungkin memuji kecantikan wanita tersebut di depan kekasihnya,bisa hilang harga dirinya nanti.
"Tentu saja,sayang.Karena di mataku,hanya kamu yang paling cantik" ucap Erik dengan wajah yang tersenyum lega,sambil menatap wajah kesal kekasihnya.
"Dasar gombal" ucap Elisa dengan tersenyum kesal,karena kekasihnya itu selalu saja suka mengombalnya tapi kadang juga sekalian menghiburnya dalam situasi apapun.
"Kalau begitu,ayo kita duduk dan menonton apa yang akan di persembahkan oleh MC dan keluarga kaya tersebut" ajak Erik sambil mendudukkan Elisa di kursi yang ada di meja bar tersebut dengan gerakan pelan,dan Elisapun hanya mengikuti saja apa kata kekasihnya itu.
Setelah 30 menit berlalu,MCpun sudah selesai dengan penyambutan pembukaannya tadi,lanjut sambutan doa dari kedua orang tuanya Jennifer untuk Jenniferpun juga sudah selesai.Bahkan Jennifer juga sudah selesai berdoa,meniup lilin dan membagi-bagi kue ulang tahunnya pada keluarganya dan juga para tamu.
Saat ini,Jennifer sedang duduk dan sibuk menyantap kuenya tadi dan juga hidangan mewah dari Restoran tersebut.
'Bukankah itu pria aneh yang hari itu?" batin Jennifer dengan wajah yang tersenyum senang,karena pria yang terus mengerayangi kepalanya belakangan ini sudah ia temukan.
'Tapi,kenapa wajahnya terlihat sangat datar begitu dan tatapan matanya seperti kosong saja' batin Jennifer lagi,dengan wajah yang penasaran saat ia melihat pria aneh tersebut duduk dengan wajah datar dan juga tatapan mata yang hanya lurus ke depan saja.
Kemudian ia tersenyum dengan isi kepala yang sudah di penuhi ide bagus untuk membalas rasa kesalnya hari itu yang belum sempat ia balaskan pada pria aneh tersebut.
"Kamu,cepat ke sini..." panggil Jennifer dengan nada pelannya pada salah satu anak buahnya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
Anak buahnya itupun segera berjalan mendekat dengan wajah penasarannya,lalu Jenniferpun langsung membisikkan sesuatu di daun telinga anak buahnya tersebut.
"Baik Nona Muda" jawab anak buah tersebut sambil mengangguk mengerti setelah Nona Mudanya sudah selesai membisikkan sesuatu di daun telinganya barusan.
Sedangkan adik dan Mommynya,mereka berdua tetap melanjutkan makan mereka dan sedikit mengobrol,beda dengan Daddy yang memerhatikan putrinya dalam diam.
Terlihat anak buah tersebut berjalan mendekat ke arah MC yang sedang berdiri santai sambil memakan kuenya di atas panggung kecil tersebut,MC tersebutpun langsung mengangguk mengerti sambil tersenyum saat anak buah tersebut sudah selesai membisikkkan sesuatu padanya.
"Ehm ehm ehm" dehem MC tersebut dengan wajah yang tersenyum ramah.
"Maaf,kalau telah menganggu makan kalian semua.Tapi saat ini,aku sedang ingin menyampaikan sesuatu pada kalian semua" lanjut MC tersebut lagi,masih dengan wajah tersenyum ramahnya,sambil menatap ke arah semua para tamu yang sedang menatap penasaran ke arah dirinya.
"Tapi kalian semua tenang saja,kalian semua tetap bisa melanjutkan makan malam kalian dengan tenang" lanjut MC tersebut lagi,dengan nada candanya,dan itu berhasil membuat semua para tamu tertawa kecil.
"Baiklah,sekarang aku akan mengatakan pada kalian semua.Kalau Nona Jennifer akan menyanyikan sebuah lagu khusus untuk seseorang,dan kita semua bisa mendengar suara merdu dari Nona Jennifer sambil makan.Bagaimana,apa kalian setuju?" tanya MC tersebut tanpa mengurangkan wajah tersenyum ramahnya.
__ADS_1
"Setuju" jawab semua para tamu dengan serentak dan wajah yang tersenyum senang,terutama para pria yang memang sedari tadi sudah mendambakan sosok Jennifer Amora Naava.
"Baiklah,kalau begitu kita sambut,Nona Jennifer Amora Naava,silakan naik ke panggung untuk mempersembahkan lagumu pada seseorang yang telah Nona sampaikan tadi..." lanjut MC tersebut lagi,sambil menatap ke arah Jennifer yang sudah berdiri dari duduknya.
Jenniferpun segera berjalan pelan untuk naik ke atas panggung setelah selesai menatap sebentar ke arah adik dan kedua orang tuanya yang sedang tersenyum ke arah dirinya.
Dan langsung terdengar suara tepukan tangan dan sorakan senang berserta wajah antusias dari semua para tamu,termasuk Erik,Elisa dan Elvan yang sedang duduk di meja bar sana karena untuk beberapa puluh menit ke depan mereka bisa bersantai dan tugas-tugas yang lainnya akan di ambil alih oleh MC dan para karyawan.
Kecuali Sebastian yang tidak begitu mau memperdulikan keadaan di sekitarnya,bahkan suara MCpun hanya seperti suara angin lalu saja bagi dirinya.
Setelah ia sudah berada di atas panggung,Jennifer segera membisikkan sebuah nama judul lagu yang ia inginkan pada si pemain musik tersebut,lalu ia segera berjalan ke arah depan panggung dan mengambil microphone yang sedang di sodorkan oleh MC tersebut.
"Baiklah.Malam ini,aku akan mempersembahkan sebuah lagu yang hanya khusus untuk seseorang" ucap Jennifer dengan nada lambatnya dan wajah yang tersenyum ramah,sambil menatap ke arah di mana pria aneh tersebut yang masih dalam posisi yang sama.
"Seseorang yang selalu membuat aku merasa kesal dan juga selalu membuat aku kesulitan untuk tidur belakangan ini" lanjut Jennifer lagi,dengan wajah yang terus tersenyum.
Ntah mengapa ia sangat ingin menyanyikan lagu tersebut,ia hanya berpikir untuk membuat pria aneh itu merasa kesal dan mungkin lebih tepatnya ia juga sekalian bisa mencurahkan isi hatinya melalui lagu yang akan ia nyanyikan nanti.
(Di meja keluarganya Naava).
"Sayang,apa kamu mendengarnya?" tanya Mommy dengan wajah bingungnya,sambil terus menatap ke arah wajah tersenyum putrinya.
Beda dengan Daddy dan Sylvia yang sedang mengikuti arah pandangnya Jennifer,tapi karena jaraknya agak jauh dan agak ramai,jadi mereka berdua belum bisa memastikan yang mana satu pria yang sedang di tatap oleh Jennifer saat ini.
"Sayang,jangan katakan kalau putri kita sedang jatuh cinta.Bahkan,kuliahnya belum tamat.Apa putrimu ini sedang tidak waras? Siapa pria itu? Berani sekali pria itu menggoda putri kita" lanjut Mommy lagi,dengan nada kesalnya dan wajah penasarannya.
"Bukankah sudah aku katakan,jangan pernah membahas tentang perjodohan konyol yang telah kamu buat atas kemauanmu sendiri itu" sela Daddy dengan nada tegasnya tapi tetap terdengar tenang,sambil mengalihkan tatapannya ke arah istrinya.
"Tapi sayang...." ucapannya Mommy kembali di sela oleh Daddy dengan cepat.
"Sayang,jangan sampai membuat aku mengulang perkataanku tadi" sela Daddy lagi,dengan nada lembutnya dan di sertai tatapan tegasnya ke arah istrinya.
"Baiklah" jawab Mommy dengan nada kesalnya dan wajah pasrahnya.
Sedangkan Sylvia,ia hanya bisa menampilkan wajah malasnya saja saat ia mendengar perkataan Mommynya tadi,sambil terus mencari pria yang di maksud oleh kakaknya tadi.Dan akhirnya ia menyerah,saat ia tidak menemukannya juga.Begitu juga dengan Daddy,tapi bedanya Daddy terus mencari hingga akhirnya ia mendapatkan keberadaan pria tersebut.
(Di meja bar).
Elisa,Erik dan Elvan yang dari tadi memang terus memerhatikan Jenniferpun,reflek langsung mengikuti arah pandangnya Jennifer.
"Sepertinya kamu akan kalah duluan sebelum kamu berperang,bro..." ucap Erik dengan wajah seriusnya,sambil menatap ke arah Jennifer dan Sebastian secara bergantian,saat ia melihat tatapannya Jennifer yang terus saja mengarah ke wajah datarnya Sebastian.
"Ya,sepertinya memang begitu" jawab Elvan dengan wajah yang tersenyum masam,karena apa yang di katakan oleh Erik barusan memang benar adanya.
Bahkan dirinya belum sempat memulai tapi tatapan cinta untuk sahabatnya Sebastian sudah terlihat di kedua matanya Jennifer.
'Untung saja benih cinta di hatiku baru saja tumbuh sedikit.Jika tidak,sudah di pastikan kalau rasa sakit di hatiku tidak akan seringan saat ini.Mungkin saja, aku akan menjadi gila atau lebih parah dari wajah datarnya Sebastian' batin Elvan dengan wajah yang tersenyum lega,lalu ia menatap ke arah wajah datarnya sebastian.
__ADS_1
Sepertinya ia akan melepaskan cintanya demi sahabatnya ini,karena sahabatnya lebih membutuhkannya dari pada dirinya.Dan ia sangat yakin pada 1 hal,kalau mereka berdua memang berjodoh,pasti tidak akan kemana-mana.Tapi kalau tidak berjodoh,mungkin jodohnya yang lain masih sedang di atur sama yang di atas.
"Lihatlah,tatapan wanita itu hanya tertuju pada wajahnya Sebastian saja.Sudah terbukti,kalau ketampanan kalian berdua masih kalah dari pada pria berwajah datar itu" ucap Elisa dengan wajah seriusnya dan nada santainya,karena ia sengaja ingin membalas pujian cantik dari kekasihnya tadi untuk wanita tersebut.
"Sayang,apa penglihatanmu sudah mulai buram sekarang? Pria yang berwajah datar seperti itu,kamu bilang tampan..." tanya Erik dengan nada kesalnya,sambil memeluk Elisa dari samping.
Berbeda dengan Elvan yang hanya berwajah santai saja,karena memang ia akui kalau Sebastian memang lebih tampan dari mereka semua.
"Buram apanya,mungkin matamu yang buram.Dan lagi pula memang itu kenyataannya kan?" tanya Elisa dengan jujur dan nada kesalnya,sambil menatap kesal ke arah wajah kesalnya Erik yang sedang berada di sampingnya.
"Iya,iya,apa yang kamu katakan tadi memang benar,sayang" jawab Erik dengan wajah yang tersenyum pasrahnya,iapun lebih memilih mengalah saja karena ia juga tidak akan bisa menang berdebat sama kekasihnya itu.
"Apa kamu baik-baik saja,bro?" tanya Erik dengan wajah seriusnya,sambil menelisik wajah santainya Elvan.
"I'm fine" jawab Elvan dengan jujur,sambil tersenyum kecil ke arah Erik dan juga Elisa.
Erik dan Elisa yang memang sudah mengertipun,langsung tersenyum senang saat mereka berdua melihat wajah Elvan yang memang terlihat baik-baik saja.
"Sekarang,aku mau tanya sama kalian berdua.Apa kalian berdua tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini?" tanya Erik dengan nada seriusnya dan wajah yang tersenyum penuh arti,sambil menjauhkan pelukan mereka dan berdiri dari duduknya.
"Memangnya kami berdua cenayang,sampai bisa membaca isi pikiran kamu?" tanya Elvan dan Elisa dengan serentak,sambil menatap kesal ke arah Erik yang sedang menaik turunkan alisnya ke arah mereka berdua.
"Kalau begitu kita tos dulu..." ajak Erik dengan wajah yang terus tersenyum,sambil menyodorkan kepalan tangannya ke arah Elvan.
Walaupun Elvan dan Elisa sedang merasa bingung,tapi mereka berdua tetap menyambut tos kepalan tangan dari Erik setelah mereka berdua saling bertatap mata untuk beberapa detik.
"Sekarang kalian tunggu dan lihat saja kelanjutannya" lanjut Erik lagi,dengan nada semangatnya,lalu ia segera berjalan pergi dari sana untuk menuju ke arah MC dan mengabaikan wajah bingungnya Elisa dan juga Elvan.
"Kira-kira apa yang akan kekasihmu lakukan?" tanya Elvan dengan wajah penasarannya,sambil terus menatap punggungnya Erik yang sudah mulai menjauh.
"Aku kurang tahu juga,tapi sepertinya nanti akan ada hiburan atau akan terjadi hal yang bagus untuk bisa kita tonton" jawab Elisa dengan wajah yang tersenyum penasaran,sambil mengalihkan tatapannya dari punggungnya Erik ke arah Sebastian yang masih saja tetap dalam posisi yang sama.
"Aku juga berharap akan terjadi hal yang bagus,mudah-mudahan kekasihmu itu tidak akan melakukan hal yang akan membuat singa itu mengamuk" ucap Elvan dengan nada khawatir dan wajah seriusnya,sambil menunjuk ke arah Sebastian melalui ekor matanya dan langsung di tanggapi senyuman lucu oleh Elisa.
"Kita lihat saja nanti" ucap Elisa dengan wajah yang ikut-ikutan khawatir dan juga penasaran.
Karena mereka berdua tahu kalau yang paling nakal dan selalu suka menjebak di antara mereka adalah Erik,lalu mereka berduapun langsung menghela napas dengan pelan saat mereka melihat wajah datarnya Sebastian yang tidak berubah dari tadi.
Bahkan dari tadi mereka terus bicara pelan karena tidak mau menganggu Sebastian,padahal sudah 1 jam lebih lamanya sebastian seperti itu tapi tetap saja tidak terganggu sama obrolan pelan mereka.
"Sebaiknya,kita menjauh dari sini,sebelum kekasihmu itu membuat kita mendapatkan akibat dari perbuatannya nanti" ucap Elvan dengan wajah seriusnya,sambil keluar dari dalam meja bar tersebut dengan langkah pelannya.
Elisapun segera mengikuti langkah pelannya Elvan,sambil tersenyum lucu,apa lagi saat ia melihat Elvan yang sedang sibuk memerintahkan salah satu karyawan untuk mengganti posisinya di meja bar tersehut.
(Kembali ke Jennifer).
Jennifer langsung menggerutu kesal di dalam hatinya saat ia melihat pria aneh tersebut tidak menatapnya sama sekali.
__ADS_1
Padahal ia sudah menunggu sekitar 1 menit lebih sambil menunggu tepukan tangan para tamu selesai,karena ia ingin melihat pria aneh tersebut berbalik menatap dirinya.Tapi nyatanya sampai tepukan tangan para tamu sudah redapun pria aneh tersebut tidak juga menatapnya,malah terus sibuk dengan pikirannya dan tatapan lurusnya.