
"Siapa lagi yang mengangguku dijam seperti ini..." gumam Billy dengan nada pelan dan wajah kesalnya sambil mengeluarkan HPnya setelah ia sudah selesai melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan jam 12 siang lewat 10 menit,karena sudah sering ia menerima pesan dan panggilan dari wanita-wanita yang tidak ia kenal selama 1 tahun ini.
Dan itu semua dikarenakan oleh rekan-rekan kerja wanita Tuan Mudanya yang selalu saja meminta no HP sebagai modus,tapi ujung-ujungnya malah no HPnya lah yang menjadi sasarannya.Bahkan ia sudah selalu menukarnya hitung puluhan kali,hingga ia sudah malas mau menukarnya lagi,karena hasilnya akan tetap sama saja.
Billypun langsung menghela napas beratnya,karena ternyata pesan tersebut dari Tuan Mudanya,terlihat dari pesan dilayar HPnya yang berisi pesan singkat tersebut.
Tuan Muda...
"Segera datang ke Perusahaanku"
"Sebaiknya,aku pergi makan siang terlebih dahulu,baru aku kesana.Lagi pula,Tuan muda tidak menulis batas waktunya bukan..." gumam Billy lagi dengan wajah malasnya,sambil meletakkan HPnya keatas dashboard mobil tersebut dan mulai melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
Baru saja lewat beberapa detik...
"Dring dring dring..." kembali terdengar suara nada pesan diHPnya Billy,hingga membuat Billy kembali mengambil dan membukanya dengan gerakan malasnya.
Tuan Muda...
"1 jam,jika lewat dari 1 jam,aku akan menembak kakimu tepat dilututmu saat itu juga" terlihat isi pesan kedua yang berisi ancaman tersebut,yang mampu membuat Billy langsung mendengkus kesal.
"Kenapa dia selalu saja berbuat kejam dan tidak punya hati seperti ini padaku..." gumam Billy dengan nada kesalnya,saat ia sudah selesai membaca pesan yang berisi ancaman tersebut,padahal baru saja ia berpikir untuk lebih santai santai saja.
Iapun langsung melajukan mobil tersebut sambil terus saja menggerutu kesal sepanjang perjalanannya ke Perusahaan milik Tuan Mudanya,supaya bisa segera membeli makan siangnya dan juga segera sampai di Perusahaan Tuan Mudanya dengan cepat,sebelum waktu 1 jamnya akan terlewati.
***
Di Perusahaan Sachdev J Group...
Terlihat Sebastian yang sedang berdiri dijendela transparan yang ada diruang kerjanya tersebut,ruang kerja yang berada dilantai ke 20 dari 60 lantai yang ada di Perusahaan besar tersebut.
Ia baru saja selesai makan siang tadi, sebelum ia berdiri didepan jendela tersebut,sambil terus menatap cincin yang sedang ia pegang sedari ia selesai makan siang tadi.
Cincin yang telah ia beli ketika 1 tahun yang lalu,padahal pada hari itu ia sudah berniat ingin menjualnya kembali,tapi ntah kenapa hatinya seperti merasa tidak rela,dan akhirnya cincin yang bahkan saat ini mampu ia beli sebanyak ratusan buah itupun masih tetap selalu ia simpan dan sekali-kali akan ia bawa bersama dirinya.
Ia terus saja mengingat pesan-pesannya Jennifer padanya 1 tahun yang lalu,bahkan bukan hanya 1 pesan saja,karena apa saja yang telah dikatakan oleh Jennifer padanya ketika hari itu,selalu ia ingat dan masih tidak mampu ia usir dari dalam kepalanya sampai saat ini.
Dan sudah 1 jam lamanya ia menatap cincin tersebut,bahkan ia tidak merasakan lelah dikedua kakinya sedikitpun...
Beberapa detik kemudian...
"Tok tok tok..." terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangannya,hingga mampu membuat dirinya langsung tersadar dari lamunan lamanya itu.
"Apa yang sedang aku lakukan..." gumam Sebastian dengan nada pelan dan bingungnya,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan dan juga panjang,karena ia terus saja refleks akan langsung mengeluarkan cincin tersebut,setiap kali ia sedang mengingat Jennifer.
"Masuk..." jawab Sebastian dengan nada tegasnya,sambil kembali menyimpan cincin yang masih memiliki tempat tersebut kedalam saku celananya dengan gerakan pelan.
"Lumayan,masih ada 10 menit lagi" ucap Sebastian dengan nada pelannya,sambil berjalan pelan kearah kursi kerjanya dan menatap sekilas jam tangannya yang tepat sudah jam 1 siang.
__ADS_1
'Kenapa aku bisa sampai memiliki majikan seperti ini...' batin Billy dengan wajah yang sedang menahan rasa kesalnya.
"Tuan Muda,ada perlu apa Tuan Muda memanggilku kesini?" tanya Billy dengan nada seriusnya sambil menatap penasaran kearah punggung Tuan Mudanya yang sudah duduk dikursi kerjanya.
"Tidak ada,,,," jawab Sebastian dengan nada santainya,sambil menjeda kalimatnya dan menyandarkan pelan kepalanya kebelakang.
"Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu..." lanjut Sebastian dengan nada pelannya sambil memutarkan kursi kerjanya kearah Billy yang sudah menjadi semakin penasaran dan sedang menunggu lanjutan darinya.
"Kenapa kamu mengirimkan aku pria yang seperti itu,untuk mendampingiku?" tanya Sebastian dengan posisi yang masih sama dan tatapan yang sudah berubah menjadi tajam, kearah Billy yang langsung mulai merasakan kesal.
"Bukankah,Tuan Muda sendiri yang menginginkan seorang supir?" tanya Billy dengan wajah yang masih menahan rasa kesalnya,saat ia sudah mengerti apa maksud dari Tuan Mudanya barusan.
Dan sebenarnya sang supir tersebut,telah ia pilih dari salah satu pengawal yang keahliannya lebih bagus tentang menyetir,hanya saja pria tersebut sangat lambat dalam mencerna sesuatu atau suatu situasi.
'Benar juga ya...' batin Sebastian dengan wajah yang masih tetap tenang.
"Tidak,aku tidak menyuruhmu untuk mencarikan seorang supir.Aku hanya menyuruhmu untuk mencari pria yang bisa membawa mobil saja..." elak Sebastian dengan tatapan yang masih tetap tajam juga,tidak mungkin ia mengakui kesalahannya tersebut,dan lampias kesalnya pada Billypun langsung gagal begitu saja,walaupun dirinya memang salah dalam memerintah saat malam semalam.
'Wajar saja,pria itu sangat pandai membawa mobil' lanjut Sebastian didalam hatinya dengan wajah tenangnya,saat ia mengingat cara sang supir tersebut yang sedang menyetir mobil bersamanya tadi.
"Maafkan kesalahanku,lain kali tidak akan terjadi lagi,Tuan Muda..." ucap Billy dengan nada kesalnya,saat ini ia tidak mau berdebat sama Tuan mudanya lagi,karena waktu terus berjalan dan jam 3 sore nanti ia sudah harus berada di Mansion Tuan Besarnya.
'Padahal artinya sama saja...Apakah sebelum aku datang tadi,kepalanya Tuan Muda terbentur tembok atau mungkin yang lainnya...' lanjut Billy didalam hatinya dengan semua perasaan kesalnya.
"Tuan muda,apa masih ada pertanyaan yang lainnya lagi?" tanya Billy dengan nada herannya saat ia melihat Tuan Mudanya yang malah hanya diam saja.
'Apa aku harus bertanya tentang wanita menyebalkan itu,ntah bagaimana kabarnya sekarang.Bagaimana kalau Billy sampai berpikir yang bukan-bukan tentangku nanti...Tidak,itu tidak boleh terjadi...' batin Sebastian dengan tatapan tajam yang sudah mulai mengurang dan wajah yang terlihat sedang berpikir.
"Tuan Muda..." panggil Billy dengan kening yang semakin mengernyit heran,saat ia melihat Tuan Mudanya yang ntah sedang memikirkan apa.
"Tidak ada..." jawab Sebastian dengan singkat dan nada santainya sambil memutar kembali kursi kerjanya ketempat semula tadi.
'Ya,Tuhan...Kenapa pria ini menyebalkan sekali...Menyuruhku datang kesini,memberiku batas waktu,dan hanya untuk bertanya tentang si supir itu saja' batin Billy dengan wajah kesalnya.
Tapi saat ia memikir ulang tentang sikap menyebalkan Tuan Mudanya ini,sepertinya ia sudah bisa menebak apa penyebab Tuan Mudanya menjadi seperti ini.
"Tuan Muda,jika memang tidak ada pertanyaan lagi,aku akan segera pergi karena tadi Nona Muda menyuruhku untuk mengantarnya kesuatu tempat pada jam 3 sore ini" ucap Billy dengan nada seriusnya,ia sengaja ingin melihat reaksi Tuan Mudanya.
"Kemana?" tanya Sebastian dengan cepat dan wajah penasarannya,sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam 2 siang,tanpa membalikkan tubuhnya kearah Billy.
"Aku tidak tahu,Tuan Muda.Nona Muda tidak memgatakan tempat tujuannya padaku" jawab Billy dengan wajah yang tersenyum senang,karena ternyata tebakannya memang benar,kalau Tuan mudanya pasti sedang memikirkan Nona Mudanya.Terlihat dari rasa ingin tahunya,padahal biasanya Tuan Mudanya juga selalu cuek pada hal apapun.
"Pergilah,dan jangan lupa untuk laporkan padaku setiap hal apa saja yang sedang ataunakan Nona Mudamu lakukan..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya,sambil terus berpikir tentang kemana sebenarnya tempat tujuannya Jennifer sore nanti.
"Baik,Tuan Muda..." jawab Billy dengan cepat dan menunduk hormat kearah Tuan Mudanya yang masih tetap memunggungnya,lalu ia segera berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan wajah tersenyumnya.
"Tunggu..." ucap Sebastian dengan cepat, sebelum Billy sempat sampai kepintu ruangan tersebut.
__ADS_1
"Apa masih ada yang lainnya lagi,Tuan Muda?" tanya Billy dengan perasaan malasnya,sambil berbalik badan dan kembali menghadap kearah punggung Tuan Mudanya.
"Tidak ada,aku hanya ingin mengatakan sesuatu saja.Apa kamu tidak berniat ingin membersihkan wajahmu atau mulutmu terlebih dahulu?" tanya Sebastian dengan wajah yang sedang menahan senyum,sambil mengambil cermin kecil yang ada didalam laci kerjanya.
"Tuan Muda,apa maksudmu?" tanya Billy dengan wajah bingungnya,sambil berjalan kearah Tuan Mudanya dan mendekatkan wajahnya kearah cermin yang sedang dipegangkan oleh Tuan Mudanya tersebut.
"****..." umpat Billy dengan wajah kesalnya sambil berjalan pergi dari dalam ruangan tersebut dengan langkah lebarnya,saat ia melihat kalau rambutnya sedang tersangkut oleh beberapa biji nasi dan dikedua sudut bibirnya hampir dipenuhi sisa makan siang yang ia makan tadi.
Sepertinya ia harus pergi kekamar mandi lainnya yang ada di Perusahaan Tuan Mudanya ini,untuk membersihkan wajah berantakannya yang baru saja ia sadari.Dan itu semua karena waktu 1 jam dari Tuan mudanya,hingga membuat dirinya harus terburu-buru dan harus memakan makan siangnya didalam mobil sambil terus menyetir.
"Brak..." suara pintu yang tertutup sedikit kuat oleh Billy,karena rasa kesalnya sama ulah nakal Tuan Mudanya.
"Dasar..." ucap Sebastian dengan wajah yang tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya,padahal ia juga tidak akan melakukan apa-apa sama Billy kalau saja sampai Billy terlambat datang.Tapi ya begitulah,Billy tetap Billy...
Kemudian Sebastian menegakkan tubuh bersandarnya tadi,dengan ekspresi tawa kecilnya yang sudah berubah menjadi tenang kembali.Lalu ia mengelus pelan dagunya dengan kedua tangannya diatas meja kerjanya,sambil terus memikirkan tentang apa yang telah Billy katakan tadi.
"Kesuatu tempat?" gumam Sebastian dengan nada pelannya dan wajah yang terlihat sedang berpikir keras,tapi tetap saja ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.
Setelah ia terus berpikir untuk 30 menit...
"Memangnya mau kemana,wanita menyebalkan itu?" gumam Sebastian lagi,dengan nada putus asanya.
"Kenapa juga aku malah memikirkan wanita menyebalkan itu..." gumam Sebastian lagi,dengan nada bingungnya,sambil menurunkan kedua tangannya dan mulai melanjutkan sisa perkerjaannya tadi,setelah ia sudah selesai menghela napas pelan untuk beberapa kali.
Ia sendiri juga tidak mengerti,ntah itu karena rasa bingungnya atau karena ia tidak bisa menebak kemana tempat yang akan dituju oleh Jennifer nanti.Padahal,ia juga akan tahu nanti,dari Billy.
***
Didepan Restoran tempat Sebastian berkerja dulu,sudah berdiri seorang wanita muda dan juga cantik,dengan wajah tersenyum senangnya.
Berbeda dengan seorang pria yang sedang berdiri disampingnya wanita cantik tersebut,ia hanya terus menampilkan wajah tidak percayanya dan juga semakin kagum terhadap Nona Mudanya.
Awalnya ia tidak begitu percaya saat ia mendengar cerita singkat dari Tuan Haddennya,tapi sekarang ia langsung percaya kalau ternyata Nona Mudanya memang benar-benar jatuh cinta pada Tuan mudanya.
Ya,mereka berdua adalah Jennifer bersama Billy.Ternyata Jennifer memerintahkan Billy untuk membawanya ke Restoran tersebut,ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pria pujaan hatinya itu,dan ia juga sangat berharap kalau pria pujaannya itu tidak akan selingkuh darinya,lebih tepatnya akan mencari wanita lain terlebih dahulu sebelum ia kembali.
"Ayo,kita masuk kedalam.Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah kagetnya..." ajak Jennifer dengan semangat 45 dan perasaan yang sangat senang,sambil berjalan masuk kedalam Restoran tersebut dengan kaca mata Gold & Wood 119 Diamond Glasses yang melekat dikedua matanya.
Kaca mata yang berharga 470 juta,berkombinasi unik, dan memberi kesan anggun yang luar biasa bagi pemakainya.Inilah sisi lainnya Jennifer.Kalau sudah menyangkut tentang kaca mata,ia akan memilih yang berharga fantastis,hanya saja ia akan memakainya disaat ada terik matahari yang sedang menyengat saja.
"Baik,Nona Muda" jawab Billy dengan cepat,sambil mengikuti langkah pelan,anggun dan tegas Nona Mudanya,sambil mengirim sesuatu atau sebuah pesan pada Tuan Mudanya dengan gerakan cepat.
Didalam Restoran...
"Nona,apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Erik dengan wajah penasarannya,saat ia sudah berada dihadapannya wanita cantik yang baru saja masuk kedalam Restoran tersebut.
Tapi ada yang aneh sama wanita cantik tersebut,karena wanita tersebut tidak mencari tempat duduk tapi malah terus berdiri ditengah-tengah ruangan Restoran tersebut dengan kedua mata yang seperti sedang mencari seseorang.
__ADS_1
"Kenapa aku seperti pernah melihat wanita ini saja,tapi dimana aku melihatnya..." gumam Erik dengan nada pelannya,sambil menelisik wajahnya wanita cantik tersebut yang langsung menatapnya.
"Iya,aku sedang mencari seseorang..." jawab Jennifer dengan nada senangnya,karena akhirnya ia menemukan seseorang untuk bisa ia tanyakan.