Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 132


__ADS_3

Sebastian yang memang telah melihatnya sedari tadi,ia langsung keluar dari dalam mobil tanpa berkata apapun.


Sebastian langsung berjongkok tepat dipertengahan jalan yang bercabang 3 tersebut, setelah ia telah berjalan sampai dipertengahan tersebut.


"****,br*ngs*k..." Sebastian langsung kembali mengumpat marah,setelah ia sudah selesai menelisik setiap aspal cabang jalan tersebut.


"Ternyata dia cerdik juga..." lanjut Sebastian lagi, karena ternyata Irfan telah memakai ke 3 3 jalan cabang tersebut dengan caranya sendiri.


Terlihat jejak-jejak yang masih sangat baru,disetiap ke 3 cabang jalan tersebut.Dan hal tersebut mampu membuat dirinya menjadi sedikit kebingungan untuk memilih harus melanjutkan pengejarannya tersebut kejalan yang mana satu diantara ke 3 cabang jalan tersebut.


"Perintahkan yang lainnya untuk segera menutupi semua bandara,bagaimanapun caranya,sampai kita sudah mendapatkan istriku..." perintah Sebastian dengan nada dan wajah tegasnya yang telah bercampur amarah itu,sambil terus memikirkan bagaimana caranya untuk mengetahui mana satu jalan yang benar untuk ia lalui saat ini.


Walaupun ia bisa menebak kalau Irfan tidak akan melakukan penerbangan apapun untuk saat ini, karena Irfan harus mengurus tentang pembayaran dan membahas yang lainnya kepada ketua geng yang telah dia sewa tersebut. Hanya saja,ia tidak mau kalau Irfan akan berubah pikiran dan membuat dirinya menjadi lebih kesulitan lagi,karena harus mengejar Irfan hingga keluar negeri.


"Baik,Tuan Muda..." jawab semuanya secara serentak,dan ada beberapa yang langsung mengeluarkan HP mereka,untuk segera melakukan tugas yang baru saja diperintahkan oleh Tuan Muda mereka tersebut.


"Jangan terlalu senang dulu,aku pasti akan menemukan kalian,bagaimanapun caranya..." lanjut Sebastian lagi,dengan nada pelannya dan wajah yang masih dipenuhi amarah,sambil berdiri dari jongkoknya dan menelepon seseorang.


Sedangkan sang supir dan yang lainnya,mereka semua hanya mampu terus memerhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Muda mereka, tanpa berani untuk memberi saran ataupun menyela sedikitpun.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo...Tuan Muda,apa ada lagi yang harus aku cari kali ini?..." terdengar suara seorang pria muda yang langsung bertanya dengan nada santai tapi juga merasa penasaran dengan panggilan telepon yang sedang ia dapatkan sekarang dan bahkan dimalam hari seperti ini,karena Tuan Mudanya ini memang tidak akan meneleponnya, jika tidak ada hal yang terlalu penting untuk dibicarakan.


"Cepat periksa dimana letak titik loķasi istriku,dari alat pelacak yang baru saja kamu beli pada hari kemaren..." Sebastian langsung memerintahkan pria muda tersebut,tanpa memberi penjelasan sedikitpun,karena dirinya memang sangat jarang akan atau tidak suka banyak bicara.


Apa lagi,saat ini ia memang tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan apapun.Karena semakin ia banyak bicara,pengejarannya semakin tidak akan mendapatkan hasil yang baik nantinya.


"Tuan Muda...Apa maksudmu? Mengapa aku harus melacak keberadaan istri............" belum sempat pria muda tersebut menyelesaikan kalimat bingungnya tersebut,Sebastian sudah langsung menyelanya dengan cepat.


"Gerry Girianza...Sekarang juga,atau aku akan ketempatmu dan melubangi jantungmu saat ini juga..." sela Sebastian dengan nada marahnya, sambil terus menarik napas dan membuangnya pelan secara berulang-ulang,untuk mengendalikan amarahnya itu yang akan selalu siap untuk meledak kapan saja.


"Ba baik,Tuan Muda..." jawab Gerry dengan cepat dan nada gugupnya karena merasa kaget sekaligus takut saat ia mendengar nada marah Tuan Mudanya tersebut,sambil segera meloncat dari duduk santainya tadi,lalu ia langsung berjalan kearah meja komputernya untuk bisa segera melacak alat kecil yang telah ia berikan kepada Tuan Mudanya pada semalam siang.


"Bagaimana?" tanya Sebastian dengan nada tidak sabarannya sambil melangkah lebar masuk kedalam mobilnya,walaupun ia tahu kalau Gerry baru saja duduk dikursi meja komputernya tersebut.


"Sebentar,Tuan Muda..." jawab Gerry dengan cepat, sambil mulai melacak keberadaan istri Tuan Mudanya itu.


(Sedikit tentang Gerry...)...


Gerry adalah seorang pria muda,yang baru berumur sekitar 15 tahun,tapi ia memiliki IQ yang sangat tinggi dan cerdas terhadap hampir semua kode-kode tertentu. Karena berkat kecerdasannya tersebut,ia berhasil menjadi salah satu hacker paling hebat didunia ini.


Tapi hanya saja,hidupnya tidak sebahagia yang ada dibenaknya dulu ataupun seperti yang dialami oleh orang-orang yang hidup bahagia bersama keluarganya diluar sana.Ia baru saja berumur 5 tahun saat ia ditinggalin oleh kedua orang tuanya karena dirinya yang lahir dengan keadaan kedua orang tuanya yang belum menikah atau bisa dikatakan kalau dirinya dilahirkan diluar nikah, bahkan mereka belum ingin menikah dan menginginkan anak.


Hingga mengharuskan dirinya untuk melanjutkan hidupnya dengan berbagai cara sedari ia berumur 5 tahun,bahkan ia masih belum mengerti apapun pada saat itu.Tapi suatu hari,ternyata akhirnya keberuntungan mendekat kepadanya.Saat ia mengalami pemukulan dari beberapa preman jalanan dan juga hampir tertangkap oleh polisi pada 2 tahun yang lalu,Sebastian menemukannya, menolongnya,Sebastian bahkan mengajarinya tentang banyak hal.Kecuali,tentang cinta.


Dan Sebastian bahkan juga memberinya banyak keperluan yang memang ia perlukan,seperti rumah,kendaraan dan juga sejumlah uang untuknya bertahan hidup.Apa lagi,dalam 8 bulan ini,Sebastian memberinya sejumlah uang yang lumayan banyak.Bahkan telah dalam keadaan sukses sekalipun,Sebastian tidak berniat ingin melupakannya ataupun menelantarkannya seperti yang dilakukan oleh kedua orangnya padanya.

__ADS_1


Dan satu hal lagi,Sebastian tidak pernah menyembunyikan dirinya dari keluarganya Rendra. Dan ia merasa sangat beruntung dan juga bersyukur karena mereka semua bahkan sangat ramah dan senang dengan kehadirannya ditengah-tengah keluarga mereka tersebut, walaupun ia memang jarang berkumpul bersama mereka karena sibuk dengan perkerjaan dan sekolahnya. Dan hal tersebut juga hal yang paling bahagia baginya, yang pernah ia alami selama ia hidup didunia kejam ini.


(Kembali ke Sebastian...)...


Beberapa menit kemudian...


"Tuan Muda...Nona Muda ada didaerah T*****,dari jalan sebelah kirinya Tuan Muda saat ini..." jawab Gerry dengan cepat setelah ia sudah berhasil melacak letak posisinya alat pelacak tersebut, sebelum Tuan Mudanya kembali bertanya marah padanya.


Ia bahkan bisa langsung tahu dimana posisi Tuan Mudanya saat ini,tanpa perlu bertanya banyak lagi. Hanya dengan No HP Tuan Mudanya saja,ia sudah mampu melacak dimana keberadaan Tuan Mudanya saat ini.


"Tuan Muda...Dasar menyebalkan...Tapi apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa Tuan Muda bisa sampai sebegitu marah dan terdengar sedang mengkhawatirkan sesuatu?" lanjut Gerry dengan nada bingung,penasaran, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sambil terus menatap titik lokasi Nona Mudanya yang sudah tidak bergerak dari tempatnya tersebut.


(Kembali ke Sebastian..."...


"Sekarang kita ambil jalan yang sebelah kiri..." perintah Sebastian dengan nada tegasnya dan wajah datar,tegasnya,setelah ia sudah duduk baik didalam mobilnya tersebut.


"Baik,Tuan Muda..." jawab supir tersebut dengan cepat,dan langsung melajukan mobil tersebut, begitu juga dengan yang lainnya yang juga langsung masuk kedalam mobil dan mengikuti jejak mobil Tuan Muda mereka.


10 menit kemudian...


"Berhenti disini..." perintah Sebastian dengan cepat,saat mereka sudah sampai dititik lokasinya Jennifer,Sebastian bahkan langsung keluar dari dalam mobilnya saat ia melihat sang supir yang telah menghentikan mobilnya tersebut.


Sebastian mulai memerhatikan jalan yang ada disekitarnya itu,yang terlihat gelap dan hanya dipenuhi berbagai perpohonan besar saja.Dan jika ia melanjutkan pengejaran mereka tersebut,mereka akan menemui desa T***** yang disebutkam oleh Gerry tadi.


"Dring dring dring..." terdengar nada dering pesan dari HPnya Sebastian,Sebastianpun segera membukanya karena ia sudah tahu pasti kalau itu pasti Gerry.


"Tuan Muda.Letak titik lokasinya Nona Muda,tepat ada disekitar Tuan muda sedang berdiri saat ini.Titik tersebut sudah tidak bergerak lagi,sedari 10 menit yang lalu..." Sebastian membaca isi pedan tersebut,dengan ekspresi wajah yang semakin memanas dan kacau saja.


Walaupun amarahnya semakin meningkat,tapi ia tetap melangkah untuk mencari titik lokasinya Jennifer yang dimaksudkan oleh Gerry tadi.


Beberapa detik kemudian....


"Br*ngs*k..." Sebastian kembali mengumpat marah, saat kedua mata jelinya menangkap sesuatu ditanah tepat disamping jalan dan juga kakinya itu.


Iapun langsung berjongkok,dan segera mengambil benda kecil yang ia lihat tersebut,dengan ekspresi marah yang tidak berkurang sedikitpun..


Ternyata Irfan sudah tahu tentang alat pelacak yang telah ia tempelkan dicincin pernikahannya atau cincinnya Jennifer itu malam semalam,dan Irfan bahkan langsung membuangnya begitu saja.


"Periksa desa itu,sekarang juga..." perintah Sebastian dengan nada tinggi dan wajah tegasnya,sambil terus memerhatikan keadaan yang ada disekitarnya tersebut.


"Baik,Tuan Muda..." jawab semuanya secara serentak,lalu mereka semua segera masuk kedalam mobil untuk melakukan tugasnya mereka barusan.


Desa tersebut tidak besar dan juga tidak kecil,tapi dengan ketangkasan dan jumlah mereka yang terhitung belasan tersebut,mereka akan mampu memeriksa desa tersebut dalam beberapa jam saja.


Sedangkan Sebastian,ia masih sibuk memerhatikan kesekitarnya dan kearah desa tersebut yang hanya berjarak sekitar beberapa meter itu,secara bergantian.


Kemudian ia menghela napas berat dengan panjang,lalu ia mengalihkan tatapan menelisiknya itu kearah cincin yang memang telah ada digenggamannya saat ini.

__ADS_1


"Dimana kamu,Sweety?" gumam Sebastian tanpa ia sadari,karena perasaannya yang dipenuhi rasa khawatirnya tersebut.


Ia bisa menebak dengan benar kalau Irfanlah yang telah membuang cincin tersebut,karena bagaimana kesalpun,Jennifer tidak mungkin akan membuang cincin pernikahan mereka tersebut.


"Aku harap,kamu akan baik-baik saja,sampai aku datang untukmu..." lanjut Sebastian dengan nada pelan dan wajah yakinnya,karena ia sangat yakin kalau ia pasti akan mampu menemukan istrinya sebentar lagi.


Setelah selesai bergumam dan juga menyimpan cincinnya Jennifer kedalam saku kemejanya,ia segera melangkah lebar kearah mobilnya,untuk menyusul bawahannya tadi.


Walau sebenarnya ntah kenapa langkahnya terasa sangat berat saat ia ingin pergi dari sana,tapi ia tetap memilih untuk memeriksa desa kecil tersebut terlebih dahulu.


***


Besok paginya,dikediamannya Rendra...


Ayah,Ibu,dan juga Stella,mereka ber 3 telah menunggu Sebastian sedari tadi pagi,saat mereka baru saja dikejutkan dengan kabar penculikannya Jennifer dari beberapa pengawal yang ada dirumah mereka tersebut.


Sekarang sudah jam 10 pagi,dan mereka telah menunggu Sebastian untuk meminta penjelasan sedari 3 jam yang lalu,tapi nyatanya Sebastian masih belum juga muncul dihadapan mereka sampai saat ini.


Para pelayan bahkan ikut merasa kaget dan juga sedih,karena kabar mengejutkan tersebut,mereka semua juga sampai ikut menunggu kepulangan Tuan Muda mereka.Mana tahu saja,Tuan Muda mereka akan membawa kabar baik untuk mereka semua saat pulang nanti.


Ayah,Ibu,dan Stella,mereka ber 3 langsung berdiri dari duduk gelisah mereka tadi, dan sedikit berlari kearah pintu utama saat mereka mendengar suara mobilnya Sebastian yang baru saja sampai diteras halaman rumah.


Setelah sudah mendekat,mereka langsung menyerbu dengan berbagai pertanyaan dan ekspresi wajah khawatirnya mereka,saat Sebastian baru saja keluar dari mobilnya tersebut.


"Sebastian,apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa Jennifer sampai bisa diculik oleh mereka?" Ayah langsung bertanya dengan nada dan wajah khawatirnya yang telah bercampur bingung,karena setahunya Sebastian sangat waspada terhadap apapun.Apa lagi,Jennifer adalah istrinya.


Dan ia bisa menebak kalau Sebastian pasti masih belum berhasil menemukan keberadaan menantu kesayangan mereka itu,terbukti dengan ekspresi wajah kacaunya Sebastian dan kepulangannya yang tanpa Jennifer tersebut.


"Iya,nak...Apa sebenarnya yang telah terjadi? Bagaimana hasilnya? Apa sekarang,kamu sudah berhasil menemukan Jennifer? Dimana Jennifer sekarang? Apakah Jennifer baik-baik saja?" timpal Ibu dengan nada dan wajah khawatirnya juga, sambil memerhatikan kesekitarnya,tapi nyatanya ia malah tidak menemukan keberadaan menantu kesayangannya itu sama sekali.


"Kakak,kenapa kamu malah diam saja? Apa kakak masih belum berhasil menemukan kakak ipar?" timpal Stella dengan nada kesalnya saat ia melihat kakaknya yang sedari tadi malah hanya diam saja, dan juga disertai dengan ekspresi wajah yang tidak kalah khawatirnya sama kedua orang tuanya.


"Aku belum berhasil menemukan Jennifer..." jawab Sebastian dengan nada tidak berdayanya dan wajah datarnya yang terlihat sangat kacau saat ini, blalu ia berjalan lemah kearah ruang tamu.


Bagaimana tidak kacau,malam tadi ia sudah mencari Jennifer kedesa tersebut dan juga kedua jalan yang tidak mereka lalui tadi malam,ia bahkan mencarinya sampai jam segini.Tapi nyatanya,ia tidak juga berhasil menemukan keberadaan istrinya.


Padahal ia telah menelusuri desa tersebut bersama bawahannya sampai tidak ada yang terlewati,tapi tetap saja ia tidak berhasil menemukan Jennifer.


"Ya,Tuhan...Jadi,kamu masih belum berhasil menemukan Jennifer? Bagaimana kalau mereka sampai melukai Jennifer disana?" tanya Ibu dengan nada panik dan wajah yang semakin khawatir saja,sambil mengikuti langkah kakinya Sebastian dengan Ayah yang langsung merengkuhnya.


Begitu juga dengan beberapa bawahannya Sebastian yang juga mengikuti langkahnya mereka semua,tapi ekspresi wajahnya mereka terlihat sedang mengkhawatirkan Tuan Muda mereka.


"Ini semua salahnya kakak,kakak memang sudah keterlaluan..." timpal Stella dengan nada dan wajah kesalnya yang bercampur khawatir itu,sambil duduk duluan diruang tamu tersebut.


Sedangkan Sebastian,ia hanya mengabaikan gerutuan kesalnya Stella tersebut, saat ini isi kepalanya sudah sangat kacau karena hanya memikirkan tentang keadaan Jennifer saja.


Jadi ia tidak berniat ingin menambahkan kekacauan yang ada didalam kepalanya,dengan berdebat ataupun memarahi Stella.

__ADS_1


Sebastian langsung menghela napas berat dengan panjang,saat ia melihat Ibu yang ternyata sedang menangis dipelukannya Ayah saat ini.


__ADS_2