
"Ehm ehm ehm..." akhirnya Sebastian langsung ikut berdehem untuk mengurangi rasa malunya dengan berusaha mempertahankan wajah tenangnya,saat ia telah tersadar dari lamunan indahnya tersebut.
Dan hal tersebutpun mampu membuat semua orang yang ada disana langsung tertawa kecil,termasuk Stella, kedua orang tuanya Sebastian,Sylvia,ke 3 sahabatnya Sebastian,Mommy,Jennifer dan wajah kesalnya Daddypun juga ikut tersenyum kecil.
"Apakah sekarang,acaranya sudah bisa dimulai?" tanya Sebastian dengan nada dan wajah seriusnya sambil menahan rasa kesalnya,untuk meredakan tawa kecilnya semua orang.
"Apakah kamu sudah begitu tidak sabaran,hm?" tanya Daddy balik,sambil tersenyum menggoda,ia sengaja ingin membuat Sebastian semakin kesal.
"Cih..." Sebastian langsung berdecih kesal,sambil berusaha menetralkan rasa kesalnya,padahal dirinya tidak bermaksud seperti itu.
Dan lagi-lagi,hal tersebutpun kembali membuat semua orang tertawa kecil.
"Tuan,Tuan,Nyonya,Nona...Sekarang kita akan langsung saja memulai acaranya,supaya waktu baiknya tidak akan segera terlewati..." ucap pendeta tersebut dengan wajah yang tersenyum ramah,ia bukan ingin membantu Sebastian,tapi waktunya memang sudah lewat beberapa menit.
Akhirnya Daddypun langsung memberikan tangannya Jennifer ketangannya Sebastian yang langsung menyambutnya.
"Ingat,,,jangan pernah mencoba untuk sakiti putriku...Jika kamu tidak mampu membahagiakannya,segera kembalikan padaku. Aku akan dengan senang hati, menerimanya kembali..." pesan daddy dengan singkat,nada tegasnya,dan wajah seriusnya.
"Nak,kami titip putri nakal kami ini pada kamu ya...Tolonglah,sayangi dan cintainya seperti kami mencintai dan menyayanginya..." timpal Mommy dengan pesannya juga,sambil tersenyum bahagia dan juga menahan tangisnya.
Walaupun mereka belum tentu akan akur,tapi setidaknya putrinya telah bersama pria yang tepat menurutnya,dan ia berharap kalau putrinya akan berhasil menaklukkan hatinya Sebastian nanti.
Lalu kedua orang tuanya Jenniferpun langsung berbalik badan dan berjalan pergi dari sana,untuk berkumpul bersama yang lainnya,tanpa memberi kesempatan untuk Sebastian menjawab lagi.
Sedangkan Sebastian,ia yang tidak berkata apa-apa lagi,ia hanya mampu menatap punggungnya kedua orang tuanya Jennifer yang mulai menjauh,lalu tatapanya beralih kearah Jennifer yang terlihat sedang diam-diam menepis beberapa tetes air mata yang baru saja meluncur bebas.
'Kenapa para wanita selalu seperti ini,mereka sangat aneh? Bukankah,mereka bisa bertemu kapan-kapan saja,disaat mereka ingin...' batin Sebastian dengan wajah malasnya sambil menghela napas pelan,ia paling tidak suka melihat wanita menangis.
"Apakah kamu berniat ingin membanjiri wajahmu dengan air matamu,dipernikahan kita hari ini? Jika iya,silakan kamu kekamar mandi terlebih dahulu, dan banjirkanlah wajahmu disana sepuasmu..." ucap Sebastian tanpa sadar, dengan nada pelan dan wajah malasnya,sambil melangkah untuk mendekat kearah pendeta tersebut,dengan sekalian mengandeng Jennifer.
Lihatlah,Sebastian bahkan tidak pintar dalam menghibur wanita...
"Dasar pria menyebalkan..." walaupun ia merasa kesal,tapi ia tetap mengikuti langkahnya Sebastian,
dan segera menghentikan tangisannya yang hampir saja akan banjir itu.
Tapi walaupun begitu,rasa kesalnya langsung menjadi senyum senang diwajah cantiknya,karena walaupun perkataannya Sebastian memang menyebalkan,tapi Sebastian tetap mengandengnya.
Apa lagi,saat ia mendengar kata "Pernikahan kita" dari mulutnya Sebastian barusan.
Sedangkan pendeta tersebut,ia hanya tersenyum kecil,saat ia melihat tingkah lucunya kedua pengantin baru tersebut.Setelah mereka berdua sudah berada dihadapannya,lalu iapun langsung membaca bagiannya.
Hingga gilirannya Sebastianpun tiba,dan hal itu mampu membuat Sebastian menarik napas panjang dan melepaskannya dengan perlahan-lahan,karena rasa gugupnya yang masih belum hilang tersebut.
"Ehm ehm ehm..." lagi-lagi Sebastian kembali berdehem dengan nada pelannya sambil mengenggam tangannya Jennifer dan diletakkan diatas alkitab setelah ia melirik sekilas kearah keluarganya satu persatu,ia benar-benar berusaha menahan rasa gugupnya saat ini.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya,hanya mampu tersenyum lucu karena acaranya sedang berjalan saat ini,terutama ke 3 sahabatnya Sebastian yang memang sangat menyukai ekspresi wajahnya Sebastian yang seperti ini,terlihat tenang tapi ternyata sedang menyembunyikan kegugupannya
“Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Sebastian mengucapkan janji suci pernikahannya dengan lantang dan wajah seriusnya,tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantiknya Jennifer yang sedang tersenyum malu.
Lalu Sebastian langsung menghela napas lega,ternyata ia mampu menyelesaikan janji suci pernikahan mereka tanpa kesalahan sedikitpun, dengan tatapannya yang tidak beralih dari wajah cantiknya Jennifer ,walaupun ia harus menahan rasa gugupnya susah payah sedari tadi.
Dan sekarang tiba gilirannya Jennifer...
“Saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Jenniferpun langsung mengucapkan janji suci mereka,dengan nada pelannya sambil tersenyum malu,setelah ia sudah selesai mengambil napas panjang tadi.
Tapi walaupun pelan,suaranya masih bisa terdengar hingga kesemua orang yang ada disana.Ia bahkan mengucapkannya dengan sangat baik dan benar,karena ia memang telah banyak kali menghapalnya sedari semalam.Hanya saja, wajahnya masih terlihat malu dan sedikit gugup.
Apa lagi,saat ini rasa bahagianya lebih terasa dihatinya,dari pada rasa gugupnya.
Setelah mereka berdua sudah selesai mengucapkan sumpah suci pernikahan mereka tadi,sekarang giliran pemakaian cincin pada pasangan mereka masing-masing,mereka berdua harus saling memakaikan cincin,dengan pengantin pria terlebih dahulu.
Salah satu pengawalpun segera berjalan mendekat dengan membawa sebuah kotak cincin ditangannya, untuk Sebastian yang akan dipakaikan oleh Jennifer.
Sedangkan Sebastian,ia mulai mengeluarkan cincin miliknya dengan gerakan pelannya,karena terlalu sibuk menatap wajah cantiknya Jennifer,ia tidak sadar kalau tangannya telah mengambil cincin yang salah.Seharusnya ia mengambil yang disaku kanannya,tapi nyatanya ia malah mengambil yang disaku kirinya.
Sebastianpun langsung memakaikan cincin tersebut kejari manisnya Jennifer tanpa berpikir panjang lagi,sambil menetralkan rasa gugupnya yang sudah mulai berkurang,ia bahkan hanya melihat sekilas saja,cincin tersebut.
Jennifer sedari tadi hanya terus tersenyum malu sambil mencuri tatap kearah wajah tampannya Sebastian,tapi mata indahnya tidak sengaja tertuju kearah cincin yang sedang dipakaikan oleh Sebastian pada jari manisnya saat ini,hingga membuat senyumnya langsung semakin melebar tanpa bisa ia cegah lagi.
"Aku tidak menyangka,ternyata kamu bisa bersikap manis juga ya..." ucap Jennifer dengan nada pelan dan wajah senangnya, setelah Sebastian baru saja selesai memakaikan cincin tersebut.
"Lihat ini...Aku kira kamu sudah menjualnya ntah kemana,tapi ternyata kamu masih menyimpannya sampai sekarang,dan kamu juga baru saja memakaikannya kejari manisku...Bukankah sikapmu itu, sangat manis?" jawab Jennifer dan sekalian bertanya dengan wajah yang tersenyum senang,bahagia dan juga malu, sambil mengangkat jari manisnya sedikit keatas,supaya Sebastian bisa melihatnya dengan jelas.
Sebastianpun langsung tersadar dari salah ambil cincinnya tadi.saat ia sudah melihat jelas cincin yang telah tersemat sempurna dijari manisnya Jennifer.
"****..." umpat Sebastian dengan nada pelannya sambil merogoh sakunya kembali,tapi masih bisa didengar oleh Jennifer.
"Ada apa denganmu?" tanya Jennifer dengan nada dan wajah bingungnya,saat ia malah melihat Sebastian yang terlihat sedang mengumpat dan sibuk mengambil sesuatu didalam saku Jasnya.
"Pantasan saja..." ucap Sebastian dengan nada kesalnya,saat ia sudah mengeluarkan cincin yang tersimpan disaku kanan Jasnya tadi dan membandingkannya dengan kotak cincin yang masih berada digenggamannya dan sudah kosong tersebut.
Ternyata warna kotak cincin tersebut sama-sama merah,hingga membuat dirinya tidak begitu memperhatikannya tadi.Apa lagi,dirinya sudah tidak fokus,sedari ia melihat Jennifer mulai berjalan dialtar tadi.
"Kamu kenapa,sih...?" tanya Jennifer lagi,ekspresi wajahnya semakin bingung saja.
"Bisakah kamu mengembalikan cincin yang ada dijarimu itu padaku,sekarang? Tadi,aku salah mengambilnya..." tanya Sebastian balik,dengan nada dan wajah seriusnya,sambil menunjukkan kedua kotak cincin yang ada dikedua telapak tangannya.
"Salah mengambilnya?" Jennifer yang masih bingung itupun mencoba untuk mencerna perkataannya Sebastian barusan,sambil memperhatikan kedua kotak cincin tersebut,dan juga memikirkan tingkah anehnya Sebastian tadi.
Setelah mencerna selama beberapa detik, Jenniferpun langsung bisa mengerti.Rasa senang dan bahagianya tadipun langsung berubah menjadi kecewa.Ia menyangka,kalau Sebastian benar-benar menyimpan cincin tersebut untuknya,ternyata hanya salah ambil saja.
__ADS_1
"Bisakah kamu memberi cincinnya padaku, sekarang juga?" tanya Sebastian yang untuk kedua kalinya,sambil menyodorkan telapak tangannya kearah Jennifer yang langsung menampilkan wajah kesalnya.
Sedangkan yang lainnya,mereka semua mulai kebingungan karena lama sekali pergantian pakai cincinnya,karena seharusnya sekarang sudah gilirannya pengantin wanita yang memakaikan cincin pada jari manisnya pengantin pria.
Pendeta bahkan juga ikut merasa bingung,karena suaranya Sebastian dan Jennifer terdengar sangat pelan,seperti orang yang sedang bergumam pelan saja,hingga ia tidak mampu mendengarnya dengan jelas.Ia bahkan tidak berani,walaupun hanya sekedar untuk mendekatkan telinganya saja.
"Tidak,aku tidak mau.Anggap saja,cincin ini pemberianmu sebagai suamiku,pada hari pernikahan kita ini...Jadi aku tidak mau tahu,cincin ini sudah menjadi milikku saat ini juga,dan mulai sekarang hingga sisa hidupku..." jawab Jennifer dengan wajah yang tersenyum kesalnya,sambil menyembunyikan jari manisnya tersebut kedadanya dengan cepat.
Cincin tersebut sudah berada dijari manisnya, bahkan Sebastian sendiri yang telah memakaikannya kejari manisnya,dan ia juga sangat menyukainya.Jadi,ia tidak akan mau melepasnya lagi,walaupun ia merasa kecewa.
"Tapi......" belum sempat Sebastian mengatakan keberatannya,suara pendeta sudah mendahuluinya dan menghentikan perdebatannya mereka.
"Tuan,Nona,sekarang sudah gilirannya Nona yang akan memakaikan cincinnya pada jari manisnya Tuan..." sela pendeta tersebut dengan berusaha mempertahankan nada dan wajah tenangnya, karena ia sudah bersabar untuk beberapa menit yang lalu.
"Maaf,Pak pendeta..." ucap Jennifer dengan cepat,sambil sedikit menundukkan kepalanya kearah pendeta tersebut yang langsung tersenyum tidak masalah,Jennifer menjadi merasa bersalah karena terus berdebat dengan Sebastian.
Jennifer juga segera mengambil cincinnya dari tangan pengawal yang memang sedari tadi sudah menunggunya untuk mengambil cincin tersebut.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu mendengkus kesal,akhirnya iapun kembali menyimpan 2 kotak cincin tersebut kesaku Jasnya.
Karena terlalu sibuk terpana dengan wajah cantiknya Jennifer,tadi ia sampai melupakan letak cincin yang benar,ditambah lagi dengan warna kotak cincin yang sama.
"Jangan berani mencoba untuk mengambilnya lagi...Cincin ini,kamu sendiri yang memakaikannya pada jari manisku ini,jadi cincin ini telah menjadi milikku sepenuhnya..." peringat Jennifer dengan nada pelannya,sambil memakaikan pelan cincin yang sudah ia pegang itu,kejari manisnya Sebastian.
Lagi-lagi Sebastian hanya mampu mendengkus kesal saja,sambil terus memperhatikan cincin yang telah melekat sempurna dijari manisnya tersebut,dengan kening yang mengernyit heran.
"Kamu pasti merasa heran,bukan? Cincin ini,aku sengaja membuat desain dan bentuk yang sama seperti milikmu yang sudah menjadi milikku saat ini.Lihatlah,bukankah kita memang sangat cocok, dengan cincin couple kita yang seperti ini?" tanya Jennifer dengan nada semangatnya dan juga wajah yang tersenyum bahagia sambil mendekatkan jarinya kejarinya Sebastian
Senyumnya semakin melebar saat ia melihat cincin mereka yang terlihat sangat serasi tersebut, ia bahkan melupakan rasa kecewanya tadi,untuk sejenak.
Ia sudah memikirkannya dari jauh-jauh hari,dan iapun langsung memesannya dari 3 hari yang lalu,saat ia sudah merencanakan untuk menjebak Sebastian,ia bahkan mengancam pemilik toko perhiasan tersebut,untuk mempercepat pembuatannya.
Dan dari mana pemilik toko tersebut mampu membuatnya,karena dari ciri-ciri yang telah ia sebutkan secara rinci pada salah satu pemilik toko ternama tersebut.
"Aku masih ingat dengan jelas bagaimana desain dan bentuk cincin milikmu ini,jadi aku hanya perlu mengatakan semua ciri-cirinya saja..." lanjut Jennifer lagi,dengan nada seriusnya,saat ia melihat Sebastian yang masih menampilkan wajah herannya.
Sedangkan Sebastian,ia tidak menjawab apapun, karena pendeta sudah kembali mulai tidak sabaran.Ia hanya tersenyum kagum didalam hatinya,karena sekarang ia baru mengetahui salah satu sisi pintarnya Jennifer.
"Baiklah,cincin kalian sudah terpasang dengan baik.Sekarang,aku akan memulai doaku untuk kalian berdua..." sela pendeta dengan nada pelannya,walaupun ia merasa takut akan kemarahannya Sebastian yang mungkin saja akan ia dapatkan.
Tapi mau bagaimana lagi,waktunya terus berjalan, dan ia harus segera menyelesaikan tugasnya,dari pada ia harus menjadi patung diantara mereka.
Lagi pula,lebih cepat selesai lebih bagus bagi dirinya, karena ruangan yang biasanya menurutnya mampu mendamaikan hati siapapun yang datang itu,sekarang menurutnya terasa mengerikan dan mencekamkan dengan adanya 2 pria berkuasa tersebut.
Akhirnya pendetapun segera melakukan pemberkatan untuk kedua pengantin baru tersebut,dan para tamu dan yang lainnya langsung ikut berdiri.
__ADS_1
Sebastian dan Jenniferpun sama-sama kembali tenang dan serius dalam menjalani satu persatu syarat-syarat pernikahan mereka yang dipimpin langsung oleh pendeta tersebut,hingga selesai.