Suami Tampanku Yang Sederhana

Suami Tampanku Yang Sederhana
Bab. 133


__ADS_3

"Ibu,jangan khawatir.Aku janji,kalau aku pasti akan segera menyelamatkan Jennifer secepatnya..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah yakinnya, sambil menatap sedih kearah Ibu yang masih sibuk menangis tersedu-sedu.


Selama ini,ia hampir tidak pernah melihat Ibu bersedih,tapi kali ini ia harus melihat Ibu menangis sedih karena kecerobohannya tersebut.


Lebih tepatnya karena kecerobohannya Billy, walaupun ia juga terlibat atau termasuk penyebab dari kecerobohan tersebut.


Sedangkan Ibu,ia hanya mampu terus menangis dipelukan suaminya tersebut.Didalam benaknya saat ini,hanya terus memikirkan tentang nasib atau keadaan Jennifer disana.Ia bahkan tidak berani menebak, ntah menantu kesayangannya itu sedang disiksa atau sedang terjadi yang lebih buruk lagi disana.


"Tuan Muda,ini tasnya Nona Muda yang telah dibuang oleh Irfan tadi malam..." ucap salah satu bawahannya secara tiba-tiba dengan laporan yang ia dapatkan langsung dari Billy tadi malam,sambil mengulurkan tas kecil tersebut sedikit kebawah kearah Tuan Mudanya karena ia baru memiliki kesempatan untuk berani dan bisa berbicara.


Apa lagi,saat ia melihat Tuan Mudanya yang baru saja bersuara setelah hanya diam saja sedari tadi subuh,hingga membuat ia harus memberanikan diri untuk memberikan tas Nona Mudanya tersebut saat ini.


Sedangkan Sebastian,ia langsung mengambilnya dengan gerakan tidak bersemangatnya karena perasaan khawatirnya yang masih begitu memenuhi seisi kepalanya sedari tadi malam hingga saat ini.


"Apa gunanya kakak baru sibuk ingin menyelamatkan kakak ipar sekarang,setelah kakak ipar telah diculik.Kenapa kakak tidak pergi mengurus perkerjaan kakak saja? Aku merasa sangat kecewa dengan kakak,ternyata kakak hanya tahu memikirkan diri sendiri saja..." Stellapun kembali melanjutkan gerutuan kesal dan marahnya tersebut,sambil menatap marah kearah Sebastian yang hanya melirik sekilas kearahnya.


Apa lagi,saat ia mengingat kembali tentang semua cerita yang telah diceritakan oleh Jennifer padanya,pada 3 hari yang lalu


Tapi tentu saja,kakak iparnya itu hanya menceritakannya padanya saja.Dan hanya dirinya sendiri saja yang tahu kalau Jennifer berencana akan berangkat ke Australia malam ini,karena Jennifer tidak ingin membuat kedua mertuanya merasa khawatir atau apapun.


Lagi pula Jennifer telah berjanji padanya kalau dia akan sering-sering berkunjung nantinya,tapi ia benar-benar tidak menyangka kalau malam semalam kakak iparnya malah diculik didanau tersebut.


"Stella,jangan semakin memperburuk keadaan..." tegur Ayah dengan nada dan wajah tegasnya,tanpa mengalihkan pandangannya yang memang sedang tertuju kearah Sebastian sedari tadi.


Ia baru menyadari kalau penampilannya Sebastian saat ini,lebih parah dari pada perasaan khawatirnya mereka semua.Karena penampilannya Sebastian memang terlihat sangat kacau saat ini,rambut yang berantakan,kemeja yang sudah tidak rapi karena sepenuhnya telah keluar dari balik celananya,dan terakhir adalah wajahnya yang terlihat hampa dan kurang tidur.

__ADS_1


Berbeda dengan Ibu yang juga ikut memerhatikan penampilan kacaunya Sebastian hingga membuat Ibu bingung harus merasa senang atau marah pada Sebastian saat ini,tapi tidak dengan Stella yang malah mengabaikan semua itu karena ia telah terlanjur merasa kesal sepenuhnya terhadap kakaknya itu.


"Ayah,kenapa Ayah malah membela kakak? Bukankah kakak memang sudah keterlaluan terhadap kakak ipar?" Karena rasa kesalnya yang masih tersisa banyak itu,ia tidak lagi memperdulikan teguran tegasnya Ayah barusan.


"Jika saja,kakak tidak keterlaluan terhadap kakak ipar,terus mengabaikan kakak ipar,dan tidak pernah berusaha untuk mencintai kakak ipar.kakak ipar pasti tidak akan terus pergi kedanau,dan berniat ingin pergi ke Australia malam ini,dan sekarang kakak ipar malah diculik sama penjahat-penjahat itu..." lanjut Stella dengan panjang lebar dan suara kesalnya, khawatir dan marah yang telah bercampur menjadi satu sedari tadi.


Ia bahkan baru menyadari kalau saat ini dirinya sedang ditatap kaget oleh Ayah,Ibu,dan juga kakaknya,sedari ia berbicara panjang lebar barusan.


"Apa katamu? Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Sebastian dengan nada bingungnya dan wajah kacaunya tersebut,sambil berdiri dari duduknya dan menatap tajam kearah Stella.


Jika tadinya ia tidak berniat ingin menggubris semua kalimat-kalimat kesal yang akan dilontarkan oleh Stella karena ia sangat tahu bagaimana sikap adiknya itu,kalau sedang merasa kesal.Tapi kali ini,ia tidak akan diam saja,saat ia mendengar kalimat kesal panjang lebar terakhirnya dan membingungnya Stella barusan.


Ia bahkan langsung bertanya sebelum Ayah dan Ibu sempat bertanya,hingga mereka berduapun hanya diam saja,karena mereka berdua juga ingin mendengar penjelasan dari Stella atas kalimat panjang lebar tersebut.


"Mak maksudku..." Stella langsung gugup dan bingung mau menjawab apa,sambil memperbaiki duduk bersandar kesalnya tadi menjadi duduk tegak kebingungan sekaligus merasa takut dengan tatapan tajam kakaknya tersebut.


"Mak maksudku,,maksudku kakak ipar selalu pergi kedanau belakangan ini..." jawab Stella dengan nada gugupnya,sambil melirik kearah Ayah dan Ibu yang juga menatap tajam kearahnya.


Sedangkan Sebastian,ia langsung mengepalkan kedua tangannya dengan tas kecilnya Jennifer yang masih berada digenggaman kuatnya itu, karena merasa kesal dan juga marah.Stella bahkan mengetahui lebih dari yang ia tahu,dan ia bahkan malah baru menebak disaat ia menelepon Aldy tadi,dan baru tahu disaat Stella baru mengatakannya barusan.


"Beberapa hari yang lalu,kakak ipar mengatakan padaku,kalau kakak ipar ingin berangkat ke Australia malam ini.Dan untuk sementara waktu ini, kakak ipar akan menetap disana...Dan satu lagi, kakak ipar telah berencana akan,,," lanjut Stella dengan menjedakan kalimat terakhirnya,sambil menatap takut kearah Ayah,Ibu dan juga kakaknya.


"Akan apa? Cepat katakan..." ucap Sebastian dengan nada dan wajah marahnya,saat ia mendengar Stella yang malah menjeda kalimatnya tersebut.


"Kakak ipar berencana akan berpisah dengan kakak,dan mungkin saja kakak ipar bukan hanya menetap disana untuk sementara waktu saja..." jawab Stella dengan cepat dan nada takutnya, sambil memerhatikan ekspresi wajah kakaknya yang telah dipenuhi amarah saat ini.

__ADS_1


Sebastian langsung memeriksa tas kecilnya Jennifer saat ia baru teringat kalau ada tas kecilnya Jennifer yang masih berada didalam genggamannya sedari tadi,sambil mencoba untuk mengendalikan amarahnya tersebut.


"Brakk..." terdengar suara barang-barangnya Jennifer yang telah keluar berhamburan diatas meja ruang tamu tersebut,saat Sebastian langsung mengeluarkannya dengan gerakan marahnya.


Ekspresi marahnya Sebastianpun langsung menjadi semakin meningkat,saat ia melihat begitu banyaknya kartu tabungannya Jennifer yang telah ada diatas meja tersebut.


Dan keningnya langsung mengernyit heran dengan ekspresi marah diwajahnya yang masih belum berkurang,saat ia melihat kalau ternyata ada sebuah map kecil didalam tas kecilnya Jennifer tersebut.


Iapun segera mengambilnya dengan gerakan ragunya,sambil menebak-nebak apa isi yang ada didalam map tersebut.Dan didalam hatinya,ia sangat berharap kalau didalam map tersebut bukan yang sedang ia tebak saat ini.


Sedangkan Ayah dan Ibu,mereka berdua hanya mampu terus memerhatikan Sebastian sedari tadi, dan Stella yang terlihat sudah bisa menebak apa isi dari map tersebut.


"Apa-apaan ini?" tanya Sebastian dengan nada emosi dan wajah marahnya,saat ia sudah memgetahui isi map tersebut.


Ternyata memang benar dengan apa yang ia tebak barusan,isi map tersebut adalah surat cerai antara dirinya dan Jennifer,tanda tangannya Jennifer bahkan telah tercetak rapi didalam surat tersebut.


Tanpa banyak bicara lagi,Sebastian langsung menyobeknya menjadi beberapa bagian tapi masih bisa dibaca oleh Ayah dan Ibu.


"Sebastian...Apa yang sedang kamu lakukan,nak?" tanya Ibu dengan nada kesalnya dan wajah yang masih dipenuhi dengan air mata.


"Ibu dan Ayah lihat saja sendiri,apa yang telah dilakukan oleh menantu kesayangan kalian itu..." jawab Sebastian dengan nada dan wajah kesalnya yang telah bercampur rasa amarahnya tersebut,lalu ia langsung menghempaskan bokongnya kesofa dengan gerakan kasarnya setelah ia sudah melemparkan beberapa bagian surat cerai tersebut keatas meja.


Sedangkan Ayah dan Ibu,mereka berduapun segera memperbaiki bagian-bagian surat tersebut dan membacanya dengan pelan.Setelah selesai membacapun,mereka berduapun langsung menatap bingung kearah Sebastian yang sedang memijat pangkal hidungnya dengan kepalanya yang sedang menunduk kacau.


Setelah menatap bingung sebentar kearah Sebastian,Ayah dan Ibu kembali duduk dan juga menghela napas berat dengan panjang.Rasanya mereka berdua sangat ingin memarahi putra bod*hnya itu,tapi mereka menjadi tidak tega saat mereka melihat kondisinya Sebastian yang tidak jauh lebih baik dari mereka.

__ADS_1


Sedangkan Stella,ia hanya mampu duduk terdiam saja,sambil menatap sedih kearah kakaknya.Ia baru menyadari sesuatu dengan jelas,kalau ternyata didalam hati kakaknya telah tertulis nama kakak iparnya tanp kakaknya sadari.


__ADS_2