
"Dimana suamiku?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri,dengan kedua matanya yang sedang sibuk mencari keberadaan sosok suaminya.
"Syukurlah..." gumam Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum lega,saat ia melihat Sebastian yang ternyata sudah tertidur,walaupun ia agak merasa kecewa karena Sebastian malah tidur diatas sofa.
Kemudian iapun segera berjalan keluar dari sana,dengan memakai jubah mandinya akibat lupa membawa pakaiannya karena biasanya ia memang hanya akan memakai jubah mandi terlebih dahulu,tapi saat ini ia bersama Sebastian.
"Dimana koperku ya...Sepertinya masih ada dibawah,bagaimana ini...?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri,sambil berjalan bingung kearah kasur.
"Bukankah ini,,,kenapa tiba-tiba saja ada disini?" tanya Jennifer lagi,dengan wajah yang tersenyum lega dan juga senang saat ia melihat koper besarnya yang ternyata sudah ada didalam kamarnya Sebastian,lebih tepatnya didalam kamar mereka.
Tanpa pikir panjang lagi,Jennifer segera mengambil sepasang piyama tidur miliknya dari dalam kopernya tersebut,dengan wajah yang terus tersenyum senang.
Ia tidak perduli,kenapa kopernya bisa ada disana, baginya yang terpenting ia bisa mengganti pakaiannya yang lebih nyaman dari pada jubah mandi tersebut.Apa lagi,ada Sebastian bersamanya, bisa-bisa wajah cantiknya akan terus memerah karena terus ditatap oleh Sebastian nanti.
"Dimana ruang gantinya?" tanya Jennifer,sambil menelisik disetiap sudut dan sisi kamar tersebut, tapi ia tidak menemukan apa-apa,ia malah kebingungan karena semuanya terlihat seperti dinding akibat warnanya yang hitam semua.
"Lagi pula,suami tampanku ini sedang tidur bukan...Jadi, aku rasa tidak masalah kalau aku bertukar pakaian disini saja...." lanjut Jennifer dengan nada ragu-ragunya dan wajah pasrahnya, karena ia tidak bisa menemui satu ruanganpun disana, padahal ia sudah menelisik ulang disekelilingnya untuk beberapa kali.
Jenniferpun mulai melepaskan jubah mandinya setelah ia sudah meletakkan sepasang piyama tidurnya keatas kasur terlebih dahulu dan juga menatap wajah terlelapnya Sebastian untuk beberapa detik,tanpa menyadari kalau suaminya telah terbangun saat mendengar suara pintu terbuka tadi karena Sebastian memang masih belum sepenuhnya tertidur.
'Apa yang sedang wanita menyebalkan ini lakukan? Kenapa malah berganti pakaian disini? ' batin Sebastian dengan kedua matanya yang langsung terbuka perlahan,lalu membulat sempurna dengan ekspresi bingung diwajahnya,saat ia melihat tubuh langsingnya Jennifer yang sudah tanpa benang sehelaipun itu,karena Jennifer yang telah melepaskan jubah mandinya begitu saja.
Ia berniat ingin bangun dan mencegah istri bod*hnya itu,tapi seluruh organ tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku dan sama sekali tidak bisa bergerak.Ia bahkan,harus menelan air liurnya dengan susah payah.
Sedangkan Jennifer,ia mulai memakai dan mengambil satu persatu,****** ********, BHnya, dan juga sepasang pakaian tidurnya tersebut.
Ia memakainya,bahkan sambil bernyanyi dengan gerakan santai dan kedua bibirnya yang tertutup rapat,jadi hanya nadanya saja terdengar dipendengarannya Sebastian.
'Wanita ini benar-benar...' Sebastian hanya terus merutuki Jennifer didalam hatinya,perasaan kesal,gugup,dan bahkan tubuhnya juga kembali mulai panas dingin.Dan Jennifer malah dengan santai memakai pakaiannya,dan juga bernyanyi lagu " love me like you do " dengan gumaman pelan dan merdunya.
Dan yang lebih parahnya lagi,sedari tadi
kedua matanya bahkan seperti tidak ingin berkedip sedikitpun, sepertinya didalam lubuk hatinya yang paling dalam,ia tidak ingin melewatkan permandangan indah yang baru pertama kalinya ia lihat itu.
Apa lagi,wanita tersebut adalah Jennifer.Jika saja itu orang lain,wanita itu pasti tidak akan berumur panjang,sebelum sempat sekamar dengannya seperti ini.
Lagi pula,bukankah Jennifer adalah istrinya,jadi wajar saja bukan,kalau ia yang melihatnya.Tapi yang membuat ia menjadi kesal,kenapa Jennifer tidak melakukannya dikamar mandi atau ruang ganti saja.
Lihatlah,tubuh langsingnya Jennifer yang memiliki warna putih kuning langsat yang bersih tersebut mampu membuat Sebastian kesulitan untuk bernapas dan panas dinginnya semakin terasa.
Ditambah lagi,dengan kedua gunung kembarnya Jennifer yang terlihat padat itu,tidak terlalu besar dan tidak kecil juga.
Tapi sekali melihat saja, Sebastian bisa tahu kalau kedua gunung kembar tersebut akan cukup dalam genggaman kedua tangan besarnya itu,mungkin saja juga akan sedikit lebih besar dari ukuran genggaman tangan besarnya itu.
Belum lagi,lekukan indah bok*ngnya Jennifer yang terlihat sangat padat juga,dan juga sedikit terangkat keatas.
__ADS_1
Dan tentang yang lebih intimnya lagi,walaupun masih terlindung dengan sedikit semak belukar yang tidak begitu lebat,tapi sudah mampu membuat Sebastian sampai gugup,berkeringat dingin, hingga kebingungan sendiri saat ini,tapi Jennifer masih saja tidak menyadarinya.
Kenapa juga,Jennifer harus membuat dirinya merasakan panas dingin seperti ini.Ia merasa kalau setelah ini setiap lekukan-lekukan indahnya Jennifer tersebut akan terus melekat dibenaknya,tanpa ada sedikitpun yang bisa ia lupakan,kecuali harta yang masih tersembunyi disebuah pulau kecil tersebut...
Iapun langsung menghela napas lega sambil menetralkan sensasi aneh yang untungnya belum sepenuhnya berhasil merasuki tubuhnya, saat ia melihat Jennifer yang baru saja selesai memakai pakaian tidurnya.
Saat ini ia merasa sangat beruntung,karena benda bawah miliknya sudah berhasil ia tidurkan kembali, karena benda bawah miliknya tadi masih belum terbangun dengan kesadaran penuh.
Sebastian segera memejamkan kedua matanya kembali,saat ia melihat Jennifer yang sedang menolehkan kepala untuk memerhatikan dirinya.
"Ternyata suamiku ini,mudah terlelap juga ya..." gumam Jennifer dengan ekspresi heran diwajahnya,sambil berjalan mendekat kearah Sebastian,setelah ia sudah melemparkan jubah mandinya tadi kedalam keranjang yang ada dikamar tersebut.
Jika saja Sebastian mampu mendengkus kesal ataupun mengumpat kesal,pasti akan ia lakukan saat ini juga.
Setelah sampai disampingnya sofa,Jennifer langsung berjongkok tepat dihadapan wajah tampannya Sebastian,sambil menyangga dagunya dengan sebelah tangannya.
Tatapannya mulai menelisik dari wajah tampannya Sebastian,lalu turun kebawah dan kebawah lagi.
Jennifer langsung mengalihkan tatapannya naik kewajah tampannya Sebastian lagi,saat wajahnya terasa panas karena ia melihat benda yang terlihat menggumpal membukit dibawahnya Sebastian yang masih dibalut dengan handuk kecil tersebut.
Hingga tatapan herannya malah melihat ada yang aneh diwajahnya Sebastian,dan wajah panasnya tadipun mulai memudar karena rasa herannya tersebut,tapi ia juga telah menepuk pelan pipinya untuk beberapa kali.
"Kenapa sedang tidur saja,keningnya bisa sampai berkeringat seperti ini?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri,dengan wajah bingungnya,sambil menyentuh keningnya Sebastian yang terlihat basah itu dengan gerakan ragu-ragunya karena merasa tidak percaya.
Dan ternyata memang benar,itu keringat.Walaupun tidak membuat wajah tampan suaminya sampai terlalu basah,tapi cukup untuk membasahi sekitar 2 3 helai tisu.
Sedangkan Sebastian,ia hanya mampu terus berusaha tetap tenang dan mempertahankan wajah lelapnya saja,sambil merutuki Jennifer yang tidak habis-habisnya menganggu dirinya.
Ia juga merutuki dirinya sendiri,kenapa ia bisa sampai lupa untuk mengganti handuk kecilnya tadi dengan pakaiannya,mungkin karena rasa lelahnya tadi.Padahal,ia memang sudah biasa bersikap seperti ini,tapi kali ini harus jadi berbeda karena ada Jennifer bersamanya.
"Apakah kamu memang selalu seperti ini,saat sedang tidur? Atau apakah kamu sedang bermimpi buruk,hm?" tanya Jennifer dengan wajah penasarannya,saat ia baru saja selesai mengelap wajah keringatnya Sebastian.
'Jika saja kamu tahu,kalau ini baru kali pertamanya aku seperti ini,dan ini semua berkat dirimu sendiri...' jawab Sebastian didalam hatinya,ntah ia harus berterima kasih atau apa terhadap Jennifer.
"Kenapa kamu begitu tampan,hm? Aku tidak akan bosan,walau aku harus menatap wajah tampanmu ini selama sehari penuhpun ataupun berhari-hari..." lanjut Jennifer dengan wajah yang tersenyum malu, sambil mengelus-elus pelan keningnya Sebastian yang dikelilingi rambut hitam lebat yang ada disamping-sampingnya.
Lalu ia menjadi tersenyum geli sendiri saat ia memikirkan gombalannya barusan,itu memang bukan tipenya banget.Tapi berkat Sebastian,ia tiba-tiba bisa berubah menjadi sekonyol ini.
Sedangkan Sebastian,lagi-lagi ia hanya mampu tersenyum kesal dan juga geli,saat ia mendengar gombalannya Jennifer barusan.
Kemudian Jennifer terdiam untuk beberapa menit,sambil terus menatap bahagia kearah wajah tampannya Sebastian yang sedang terlelap itu,lalu kedua mata indahnya beralih kedadanya Sebastian yang masih telanj*ng,dan hal tersebut mampu membuat wajah cantiknya kembali mulai memerah.
Ia sendiri juga tidak menyangka,ternyata harapannya untuk menikah dengan Sebastian,bisa terwujud begitu cepat.
"Cup..." tiba-tiba saja,Jennifer langsung mendaratkan sebuah kecupan singkat kebibir tebalnya Sebastian,tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Sepertinya,aku harus tidur sekarang...Jika tidak,aku pasti akan lebih gil* dari yang ini..." lanjut Jennifer dengan nada dan wajah malunya,tadi itu refleks dari kata tubuhnya,karena merasa gemas dengan bibir tebalnya Sebastian itu,bibir tebal yang ntah sudah keberapa kalinya telah ia rasakan itu.
Kemudian Jenniferpun segera berdiri dan berjalan kearah kasur mereka sambil mengipas-ngipas cepat wajah memerahnya itu dengan tangannya, lalu ia langsung melemparkan tubuh langsingnya keatas kasur tersebut,dengan wajah malunya yang masih saja terlihat. Sepertinya, sekarang dirinya sudah lebih gil* dari suaminya sendiri.
"Dasar...Sepertinya,aku memang benar-benar harus segera tidur..." lanjut Jennifer lagi,dengan ekspresi malu yang tidak karuan diwajah memerahnya,saat ia memikirkan tingkah beraninya tadi.
Lalu ia lansung menarik selimut hingga sebatas dadanya dan menutup wajah malunya dengan bantal guling yang memang sudah tersedia diatas kasur tersebut,ia harus memaksa wajah memerahnya itu untuk segera tertidur.
Apa lagi,saat ia memikirkan tentang dada kekarnya Sebastian yang telah berbentuk sempurna itu,terlihat sangat menggoda dikedua matanya.Belum lagi,benda menggumpal yang masih tersembunyi itu.
15 menit kemudian,terdengar suara napasnya Jennifer yang sudah naik turun dengan teratur, menandakan kalau Jennifer benar-benar telah terlelap.
Sedangkan Sebastian,ia segera duduk dari tidurnya tadi setelah ia sudah mengintip Jennifer dengan sebelah matanya,dan memastikan kalau Jennifer memang sudah terlelap
Sebastian langsung menyentuh bibirnya dengan ekspresi bingung diwajah tampannya yang terlihat masih lelah dan agak kacau karena berkat semua tingkahnya jennifer tadi.
Tapi walaupun wajahnya masih terlihat lelah,rasa ngantuknya tadi malah langsung sirna begitu saja,sejak ia melihat tubuh indahnya Jennifer yang tadi tanpa benang sehelaipun.
"Kamu memang sudah gil* sejak lama,dan sekarang kamu telah menularkan kegil**nmu itu padaku..." gumam Sebastian dengan nada kesalnya sambil mengusap wajah kesal dan bingungnya dengan pelan,karena ia bisa mendengar dengan jelas semua perkataannya Jennifer tadi.
"Atau apakah milikku ini sudah terlalu lama terkurung ,hingga membuatnya menjadi tidak sabaran seperti ini..." gumam Sebastian lagi,sambil berdiri dari duduknya,dengan kening yang mengernyit heran kearah benda bawah miliknya tersebut.
Lalu ia segera menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,untuk mengusir pikiran mesum didalam kepalanya barusan...
"Bukankah wanita menyebalkan ini mengatakan... Tidak akan bosan,walaupun harus menatap wajahku ini sehari penuh ataupun berhari-hari... Kenapa ia malah terlelap dengan begitu mudah,dikasur empuk milikku ini...Dasar gombal..." lanjut Sebastian lagi,dengan wajah menggelikannya,sambil berjalan kearah kasurnya.
Dan juga menatap kesal selama beberapa menit kearah wajah terlelapnya Jennifer yang telah terlihat kembali karena kedua tangannya yang sedang memegang bantal tadi otomatis akan melemah,saat ia telah terlelap tadi.
"Sudahlah...Lebih baik,aku segera memakai pakaianku saja..." lanjut Sebastian akhirnya,iapun akhirnya lebih memilih pergi keruang gantinya saja,untuk memakai pakaiannya.
"Dasar mesum..." lanjut Sebastian lagi,dengan wajah yang tersenyum geli dan menggeleng- gelengkan pelan kepalanya dengan perasaan tidak percayanya,sambil berjalan kearah ruang gantinya dan kembali menyentuh sekilas bibir tebalnya,saat ia mengingat kembali kecupan singkat dari Jennifer tadi.
Tubuh kekarnya bahkan terlihat sedikit basah, karena ternyata tadi itu bukan hanya wajahnya saja yang digenangi oleh keringat tapi seluruh tubuhnya juga ikut digenangi keringat.
Hanya saja disekitar yang lainnya,keringatnya lebih sedikit dari pada bagian-bagian tubuhnya yang lainnya.Untung saja,tadi Jennifer tidak menyadarinya,jika tidak ntah wajah tenangnya akan bisa bertahan lebih lama tau tidak...
Setelah ia berada dihadapan ruangan gantinya, Sebastian langsung menekan pelan sebuah petak kecil seukuran ujung jarinya yang ada didinding , yang berada tidak jauh dari sampingnya ruangan tersebut.
Hingga akhirnya terbukalah pintu ruangan tersebut dengan pelan,dan memperlihatkan ruangan gantinya yang lumayan besar,terisi dengan semua pakaian kerja dan santainya Sebastian,dan beberapa senjata andalannya,belum lagi dengan begitu banyak pakaian dan dress untuk Jennifer yang baru saja telah Ibunya sediakan pada saat pulang tadi.
Sebastian sengaja mendesain sebegitu rupa,supaya tidak ada yang akan dengan mudah bisa memasuki ruangan gantinya.
Dan ternyata idenya itu bukan hanya mampu membuat orang tidak mudah untuk membukanya, tapi ia juga mampu membuat istrinya sampai harus bertelanj"ng didepan matanya,walaupun sebenarnya bukan itu tujuannya.
Tapi lihatlah,tadi saja Jennifer sampai tidak mampu membedakan antara mana yang dinding,dan mana yang pintu.
__ADS_1
Padahal Sebastian berpikir,kalau Jennifer bisa memakai atau berganti pakaian didalam kamar mandi saja.Tapi tanpa ia duga,mungkin saja Jennifer mengira kalau tadi dirinya benar-benar sudah terlelap,jadi tidak akan bisa melihatnya.
Kemudian Sebastian langsung berjalan masuk kedalam, tanpa menunggu pintu tersebut terbuka sepenuhnya,lalu iapun segera memakai celana panjangnya dan kemejanya.